Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Penyelamatan


__ADS_3

.


.


.


Mobil terus melaju menuju perkampungan terpencil. Kampung yang dulunya ramai kini terlihat sangat sepi. Cahaya dan Adira masih belum sadarkan diri didalam mobil. Hingga keduanya dibawa melewati perkampungan tersebut dan memasuki hutan yang katanya angker itu. Mobil itu masuk kejalan setapak yang hanya bisa dilewati satu mobil, karena jalannya kecil. Ternyata didalam hutan tersebut ada sebuah rumah mewah. Rumah itu adalah markas mereka para mafia black snake.


Disini bukan cuma markas mereka, tapi juga tempat penyekapan gadis gadis kampung yang hilang beberapa waktu lalu, mereka dijadikan pem**s n*fs* dan kemudian dibu*uh dengan sadis. Mereka sudah sampai dirumah itu, tapi Cahaya dan Adira belum juga sadarkan diri, keduanya digotong dan dibawa kesebuah ruangan, nanti bila sudah ingin dipakai baru dibawa kekamar sang bos.


"Kerja bagus," ucap Roxy sang bos, dia adalah bos kedua setelah ayahnya.


Cahaya perlahan membuka matanya, dan melihat keseliling, terasa begitu asing dimatanya.


"Dimana ini?" gumam Cahaya. ia melihat Adira masih belum sadarkan diri dan juga ada beberapa orang gadis yang sepertinya baru habis disiksa.


"Aku harus bisa keluar dari tempat ini," gumam Cahaya. ia mencoba membuka pintu tapi terkunci dari luar. Cahaya menghampiri Adira.


"Dira... Dira bangun...!" kata Cahaya sambil mengguncang guncang tubuh Adira. Adira perlahan membuka matanya dan betapa terkejutnya dia karena sudah berada ditempat yang tidak ia kenali.


"Kita dimana?" tanya Adira, Cahaya menggeleng pertanda tidak tahu. Lalu Adira melihat beberapa orang yang sedang tergeletak tidak berdaya sepertinya mereka pingsan. Adira menutup mulutnya dengan telapak tangannya karena syok.


"Apa yang terjadi?" tanya Adira lagi.


"Aku juga tidak tahu, terakhir kita dari toilet lalu ada orang membekap mulutku, setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi. Saat sadar tau tau sudah ditempat ini," ucap Cahaya.


Tak lama pintu pun terbuka, nampak sosok seorang pria jangkung berwajah bule sedang menatap keduanya penuh n*fs* membuat Cahaya dan Adira bergidik ngeri.


"Sudah sadar kalian?" tanya Roxy.


"Siapa kamu? Dan apa mau mu?" tanya Adira.


"Hahaha, mauku? Simple kok cuma mau kalian," ucap Roxy sambil tertawa.


"Lepaskan kami," ucap Cahaya.


"Oooh... tidak semudah itu, sayang, kalian harus bayar mahal karena kekasih kalian sudah membuat keluargaku hancur. Perusahaan Papaku bangkrut dan sekarang adikku lumpuh," ucap Roxy.

__ADS_1


Roxy mendekat kearah Cahaya, Cahaya mundur selangkah demi selangkah hingga tubuhnya mentok kedinding.


"Mau apa kamu?" tanya Cahaya pelan. Roxy terdiam ia terus menatap wajah cantik Cahaya.


"Aku akan menjadikanmu istriku," ucap Roxy. Cahaya tersenyum lembut, perlahan ia mengusap dada bidang milik Roxy.


"Kamu tampan sekali," ucap Cahaya, Roxy tersenyum. Cahaya masih terus mengusap dada Roxy dan berpindah ke rahangnya. Saat Roxy terlena, Cahaya mengangkat lututnya dan...


Buugh... sebuah tendangan tepat di sel*ngk*ngan Roxy.


"Aakh," Roxy menjerit, Adira tidak tinggal diam, dengan cepat ia mengunci pintu ruangan tersebut dan keduanya menghajar Roxy hingga pingsan.


Cahaya mencari cari sesuatu dan menemukan lakban, kemudian Cahaya melilitkan lakban tersebut pada tangan dan kaki Roxy, juga mulutnya pun mereka lakban.


"Bagaimana caranya kita keluar, aku yakin tempat ini pasti dijaga ketat," ucap Adira.


"Kita tunggu bantuan, aku yakin mereka pasti akan datang untuk menyelamatkan kita," kata Cahaya. Keduanya pun duduk sambil menunggu bantuan, Cahaya dan Adira merasa iba melihat gadis yang belum sadarkan diri itu.


Sementara diluar ruangan tersebut, para anak buah Roxy sedang berjaga. mereka tidak tahu kalau bos mereka sudah pingsan karena kedua gadis yang mereka culik.


"Lama sekali si bos," ucap si A yang sudah tidak sabar.


Sementara sikembar dan yang lainnya sudah sampai di lokasi, mereka sedang mengatur strategi untuk melakukan penyerangan.


"Dek, kalian bawa senjata?" tanya Ray.


"Cuma bawa ini bang," jawab triple A memperlihatkan senjata mereka yang berbentuk eyeliner.


"Tidak ada yang lain?" tanya Ram, triple A menggeleng.


"Kita juga tidak tahu bakal seperti ini kejadiannya," jawab Lina.


"Ya sudah, kalian lumpuhkan dulu musuh yang berjaga, sementara kami akan melawan mereka juga. Karena kami tidak membawa senjata," ucap Ren.


Mereka pun berpencar mengelilingi rumah tersebut, tentu saja dengan cara mengendap-endap.


"Oma hati hati ya," kata Lica.

__ADS_1


"Tenang saja, Oma masih bisa melawan mereka," jawab Vera.


Jordan mengikuti dibelakang mereka. Saat sudah dekat dengan rumah tersebut, satu persatu para mafia yang berjaga diluar rumah tersebut tumbang, mereka melawan dengan cara mengendap-endap, agar tidak menimbulkan suara mulut mereka dibekap dulu baru lehernya dipelintir. Mereka masuk kedalam rumah, terlihat rumah itu sepi. Tapi mereka tetap berhati-hati.


Dor... satu tembakan melesat dari dalam rumah, beruntung Ren dengan gesit menghindar sambil menarik Aisyah untuk mepet kedinding.


"Ada musuh," teriak salah satu dari mereka yang tadi melepaskan tembakan.


Mendengar bunyi tembakan dan teriakkan temannya, yang lain pun keluar ternyata mereka masih sangat ramai. mereka menembak membabi buta kearah Ren dan Aisyah, sedangkan dari daerah lain, Ram Rakha dan Danita juga sudah masuk kedalam. Ada yang masuk dari pintu belakang, ada yang lewat jendela kaca dan ada yang dari pintu utama. Mereka mengepung para mafia tersebut. Lina Lita dan Lica menembak mereka dengan bius. Satu persatu mereka jatuh. Ram melawan mereka dengan tangan kosong, begitu juga dengan yang lain.


"Mommy hati hati kamu sudah tua," ucap Jordan pada istrinya.


"Umur boleh tua Dad, tapi semangat perjuangan masih 45." jawab Vera. Vera menendang penjahat yang menghampirinya, penjahat itu loncat loncat karena Vera menendang masa depannya. Saat penjahat itu lengah, Vera kembali menendang.


Cahaya dan Adira membuka pintu ruangan tersebut. keduanya berjalan mengendap-endap kalau kalau ada musuh. Mendengar kegaduhan, mereka tahu kalau bantuan sudah datang.


"Lewat sini," ucap Adira dan diikuti oleh Cahaya. Ternyata mereka diruang bawah. Dan ada lagi pintu yang harus mereka lewati. Perlahan Adira membuka pintu tersebut, ternyata pintu itu terhubung kekamar sang bos mafia.


"Ternyata kamar," ucap Adira. Mereka pun keluar dari kamar tersebut. Sekarang mereka bisa bergabung dengan yang lain.


"Kakak tidak apa-apa?" tanya Lica.


"Kakak baik baik saja," jawab Cahaya.


"Mari kita lawan mereka," ucap Adira.


Diva terlalu sibuk melawan mereka sehingga tidak sempat untuk bicara. Darmendra juga sibuk. Sesekali ia mengawal istrinya takut Diva kenapa kenapa.


Hati hati, mereka punya senjata api," ucap Lica. Adira dan Cahaya mengangguk.


Pertempuran masih sengit, karena musuh mereka ramai.


Prita selalu dikawal oleh Raffa, karena Prita belum begitu lihai, karena ada Raffa ia jadi lebih berani.


"Hati hati, sayang," ucap Raffa.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2