Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Ada ulat bulu


__ADS_3

.


.


.


Hari kedua mereka berbulan madu, kini mereka sedang menikmati indahnya negara tempat mereka berada sekarang.


"Honey pernah kesini?" tanya Cahaya kepada Ram, Ram pun menggeleng.


"Belum, kenapa?" jawab Ram dan balik bertanya.


"Tapi honey kok bisa tau tempat tempat disini?" tanya Cahaya lagi.


"Hmmm, nebak aja sih," jawab Ram.


"Nebak tapi kok benar semua?" tanya Cahaya lagi. Ram terkekeh mendengarnya.


"Mau hampiri mereka gak?" tanya Ram, Cahaya menggeleng.


"Gak ah, nanti mengganggu mending kita berpacaran saja," jawab Cahaya.


"Sayang, kapan kita gitu?" tanya Ram.


"Gitu? Apa?" tanya Cahaya polos.


"Gitu," jawab Ram sambil menyatukan kedua ujung jarinya. Cahaya tersipu malu.


"Aku takut honey, kata orang kalau untuk pertama kalinya akan sangat sakit," jawab Cahaya polos


"Tapi jujur saja aku juga penasaran," kata Cahaya lagi sambil tertunduk malu. Ram tersenyum mendengar hal itu.


"Nanti kita coba pelan pelan ya," ucap Ram dan Cahaya mengangguk.


"Hai...!" keduanya menoleh kearah suara, Ram seketika berubah tidak suka.


"Kesana yuk, disini tempatnya kurang bagus ada ulat bulunya," kata Ram, lalu keduanya pun bangkit dari duduknya dan berjalan, tapi baru beberapa langkah mereka dihadang oleh beberapa orang yang mereka tidak kenal.


"Tangkap perempuan itu, dan yang pria bagianku," perintah Sabrina.


"Kamu bawa senjata sayang?" tanya Ram pada Cahaya, Cahaya mengangguk dan memperlihatkan eyeliner pemberian Lina yang katanya untuk berjaga-jaga.

__ADS_1


"Siap untuk menghajar mereka?" tanya Ram sambil berbisik.


"Siap dong, bila perlu kubuat cacat tuh si ulat bulu," jawab Cahaya.


Orang suruhan Sabrina mendekat untuk menangkap Cahaya, dan tangan Cahaya dapat mereka tarik lebih tepatnya Cahaya pura-pura mengikuti mereka. Saat salah satu orang suruhan Sabrina merangkul tubuh Cahaya, saat itu pula secara diam-diam Cahaya menembakkan eyeliner tersebut ketubuh pria itu, hanya dalam hitungan detik pria itu tersungkur ketanah. Yang tersisa menatap heran pada temannya yang pingsan tersebut. Cahaya kembali mendekati Ram, lalu bergelayut manja dilengan Ram.


"Ternyata benda ini benar benar ampuh," kata Cahaya, Ram mengangguk.


"Sekarang bagianku," kata Ram sambil mengecup mesra bibir Cahaya. Membuat Sabrina menjadi panas.


"Kamu bereskan yang pria, honey bagianku si ulat bulu itu," tunjuk Cahaya pada Sabrina.


Ram pun melawan dua orang yang tersisa, sedangkan Cahaya maju menghampiri Sabrina.


Sabrina menatap Cahaya penuh kebencian, lalu mengangkat tangannya untuk menampar pipi Cahaya, tapi sebelum tangan Sabrina menyentuh pipi Cahaya....


PLAAK... sebuah tamparan mendarat sempurna dipipi Sabrina, siapa lagi pelakunya kalau bukan Cahaya sendiri. Sabrina kalah cepat dari Cahaya.


"Itukan yang kamu inginkan?" tanya Cahaya.


"S*alan kamu," umpat Sabrina sambil mengelus pipinya yang sudah diberi merek oleh Cahaya.


"Kamu...!" belum sempat Sabrina bicara, tapi sudah lebih dulu dipotong oleh Cahaya.


"Biar yang kanan tidak iri. Kalau diberi yang kanan yang kiri harus diberi juga dong," ucap Cahaya santai sambil menyunggingkan senyum mengejek.


"Kuliah itu yang benar, jangan jadi p*l*c*r," kata Cahaya pedas. Sedangkan Ram setelah ia mengalahkan kedua orang itu Ram hanya memperhatikan Cahaya mengurus si ulat bulu tersebut, Ram yakin Cahaya bisa membasminya.


"B*nuh saja sayang, dan mayatnya buang ke laut biar jadi santapan hiu,' ucap Ram santai.


"Gak ah, aku mau patahkan saja tangan dan kakinya, setelah itu aku rusak mukanya yang ia bangga banggakan itu," ucap Cahaya.


Gleek... Sabrina dengan susah payah menelan salivanya mendengar percakapan dua sejoli yang seperti seorang psikopat. Sabrina mundur perlahan lahan, tapi karena tidak hati hati dan juga heelsnya terlalu tinggi membuat ia terjatuh ketanah, dan kakinya terkilir.


Cahaya dengan tanpa hati menginjak kaki Sabrina yang terkilir itu, jeritan pun terdengar sangat kencang sehingga para pengunjung disana menoleh keasal suara tersebut, tapi mereka tidak peduli sama sekali bagi mereka itu hal yang sudah biasa terjadi.


Cahaya semakin bersemangat untuk membuat kaki Sabrina patah, Cahaya sudah terlihat seperti psikopat sungguhan. Jeritan kesakitan tidak dihiraukan oleh Cahaya.


"Aku paling benci kalau milikku diganggu," ucap Cahaya menyeringai. Bukan cuma itu, Cahaya meminta kepada Ram untuk menghancurkan perusahaan keluarga Sabrina di Indonesia. Dengan senang hati Ram menunaikan permintaan pujaan hatinya itu. Perusahaan kecil milik orang tua Sabrina seketika hancur.


"Sudah puas sayang?" tanya Ram setelah Cahaya melepaskan kakinya dari kaki Sabrina.

__ADS_1


"Sudah honey, yuk kita pergi," jawab Cahaya. Sedangkan Sabrina hanya bisa menangis menyesali dirinya, karena berurusan dengan orang yang salah. Ponsel Sabrina berdering pertanda panggilan masuk.


"Hal..." belum sempat Sabrina berbicara sudah terdengar suara marah marah dari seberang telepon. Sabrina menjatuhkan ponselnya ketanah saat mengetahui kalau perusahaan orang tuanya bangkrut.


"Siapa sebenarnya mereka? Mengapa mereka mudah sekali membuat perusahaan papa hancur?" gumam Sabrina. Kemudian ia menoleh kearah orang suruhannya yang tergeletak pingsan. Sabrina mencoba bangkit tapi tidak bisa.


"Akh, sepertinya kakiku patah," gumam Sabrina. Kemudian ia menelpon baby sugar nya.


"Halo sayang, tolong saya," ucap Sabrina. Mendengar Sabrina minta tolong pria paruh baya itu segera ketempat Sabrina berada.


"Apa yang terjadi sayang?" tanya pria itu.


"Saya dihajar sayang, dipukuli sampai tidak bisa berjalan," ucap Sabrina.


"Siapa yang melakukannya?" tanya pria itu. Sabrina pun memperlihatkan foto sikembar yang sedang makan.


"Oh my God, bagaimana bisa kau berurusan dengan mereka? Maaf aku tidak bisa membantumu, aku tidak mau ikut hancur," tanya pria itu lalu pergi meninggalkan Sabrina.


Sabrina meraung raung menangis memanggil baby sugar nya itu, tapi tidak dihiraukan sama sekali.


"Aah, br*ngs*k kalian semua," umpat Sabrina.


Sedangkan Ram dan Cahaya sudah kembali ke hotel. Ram memeluk tubuh istrinya dari belakang dan mendusel duselkan hidungnya pada leher Cahaya. Cahaya menggeliat karena geli. Ram semakin bersemangat untuk menjahili Cahaya, akhirnya Cahaya tidak tahan juga.


"Honey harus bertanggung jawab," ucap Cahaya, karena Cahaya sudah berkabut g*ir*h jadi ia tidak peduli lagi.


Ram tersenyum penuh kemenangan, entah sejak kapan keduanya sudah dalam keadaan polos, keduanya tidak menyadari hal itu.


"Bolehkan?" tanya Ram berbisik ditelinga Cahaya, Cahaya pun mengangguk. Lalu keduanya melakukan pendakian demi mencapai puncak.


Untuk pertama kalinya bagi keduanya mendaki jadi sedikit kesulitan. Ram memberi banyak tanda agar tidak tersesat nantinya. Pendakian mereka terus berlanjut. Hingga tanpa mereka sadari sudah hampir satu jam pendakian tersebut hingga keduanya pun mencapai puncak.


"Terimakasih sayang," ucap Ram saat mereka sudah sampai. Cahaya tidak menjawab karena masih mengatur pernafasan dan keringat masih mengucur ditubuh keduanya.


Ram berbaring disamping Cahaya kemudian memeluk tubuh Cahaya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2