Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Kecelakaan


__ADS_3

.


.


.


Melihat Lina mengeluarkan uangnya, Johan juga mengambil dompetnya dari saku celananya.


"Aku ada segini," ucap Johan mengeluarkan uang seratus ribu sepuluh lembar.


Lita dan Lica juga juga mengeluarkan uangnya dan digabungkan menjadi satu juta setengah.


"Ini dari kami berdua," ucap Lita mewakili saudaranya. Ethan, Felix dan Gibran hanya ada 500 ribu dari mereka bertiga.


"Kami bertiga cuma ada ini," ucap Ethan.


"Gak masalah, yang penting kalian ikhlas," jawab Lina. Sedangkan Ansel, Rino dan Gibson mereka bertiga mengumpulkan 2,5 juta.


"Ini dari kami bertiga, semoga bermanfaat," ucap Ansel.


"Apapun dan berapapun yang kalian berikan itu akan sangat bermanfaat bagi mereka yang memerlukan. Bukan berarti kita tidak perlu uang, kita juga sangat perlu. Tapi ada yang lebih membutuhkan dan jika kita mampu tidak ada salahnya mengulurkan tangan untuk membantu," ucapan Lina bagaikan air es melewati kerongkongan dimusim panas.


Mereka semakin kagum dengan kerendahan hati tiga gadis kecil tersebut.


"Kalian ikhlas kan?" tanya Lina.


"Kami ikhlas," jawab mereka serentak.


Lina kemudian menghampiri AA yang jualan es campur itu, sebelumnya Lina membayar es tersebut kemudian Lina menyerah amplop berisi uang yang mereka kumpulkan beberapa menit yang lalu. Ya sebelum Lina menyerahkan uang tersebut, terlebih dahulu Lina memasukkan uang itu kedalam amplop.


"Ini dari kami Bang, meskipun tidak banyak mungkin bisa mengurangi beban dan membantu biaya pengobatan dirumah sakit. Maaf tadi kami tidak sengaja mendengar pembicaraan Abang dengan istri Abang ditelepon," ucap Lina. Yang lain hanya memperhatikan dari tempat mereka duduk tadi.


"Aku jadi terharu," ucap Ansel memeluk Gibson.

__ADS_1


"Iih naj*s main peluk peluk aja," ucap Gibson menepis tubuh Ansel. Yang lain semua tertawa melihat tingkah laku keduanya.


"Sana jauh jauh, aku masih normal," kata Gibson lagi. Ansel pun menjauh dari Gibson dan mendekati Johan.


"Mau ini?" tanya Johan memperlihatkan kepalan tangannya. Ansel menggeleng lalu mendekati Rino.


"Jangan sentuh kalau masih sayang nyawa," ancam Rino, akhirnya Ansel menjauh dari mereka semua.


"Begini nih nasib kalau dibuli," gumam Ansel penuh dramatis.


Sedangkan Abang penjual es campur masih ragu untuk menerima amplop tersebut.


"Apa ini neng?" tanya Aa.


"Ini ada sedikit uang dari kami, aku dan teman teman patungan mengumpulkan uang untuk biaya rumah sakit, ambillah bang," jawab Lina.


Dengan tangan gemetar Aa mengambil amplop tersebut. Dan dibukanya dengan perlahan lahan sambil mengintip isi didalamnya. Dan betapa terkejutnya Aa melihat uang merah tersusun rapi didalam amplop tersebut. Lina tersenyum dan menoleh kearah mereka yang berdiri memperhatikan Lina dan Abang penjual es campur itu.


"Terimakasih neng, terimakasih semuanya. Semoga Allah membalas kebaikan kalian semua," ucap tulus Aa sambil menangis haru membekap amplop tersebut.


Awalnya ia sangat putus asa dan tidak tahu harus mencari uang dimana? Jualan paling laku beberapa puluh ribu saja perhari. Sedangkan anaknya dirumah sakit butuh perawatan. Padahal anaknya masih sangat kecil.


Kemudian triple A dan yang lainnya melanjutkan perjalanan mereka. Tiba dilampu merah, ternyata telah terjadi kecelakaan beruntun. Karena rambu rambu lalu lintas mengalami masalah.


"Ada apa?" tanya Lita.


"Sepertinya kecelakaan," jawab Lina.


Orang orang yang ada disana bukannya menolong malah sibuk membuat konten memvideokan kejadian tersebut. Lina mendekat diantara kerumunan orang. Ada yang terluka parah dan ada yang luka ringan.


"Apakah sudah dipanggilkan Ambulans?" tanya Lina. Orang orang yang ada disitu malah cuek dan sibuk merekam. Lina merampas ponsel orang yang merekam dan membantingnya keaspal hingga hancur.


Orang itu syok melihat ponsel bermerek apel digigit itu hancur. Lina tidak peduli, lalu ia menelpon ambulans untuk segera datang.

__ADS_1


Melihat triple A dan teman temannya menolong orang yang kecelakaan dan mengeluarkan mereka dari dalam mobil karena sudah ada yang tidak sadarkan diri karena terluka parah. Orang orang yang ada disitu baru berinisiatif untuk menolong juga.


"Jangan takut, ponselmu nanti aku ganti," ucap Lina tanpa menoleh orang tersebut yang diam mematung. Tidak mungkin ia marah sebab ia tau siapa triple A.


Lina mengeluarkan seorang pria yang sepertinya terjepit kakinya, karena kesulitan Lina meminta bantuan Johan dan teman temannya.


"Bantu aku mengeluarkan Bapak ini," ucap Lina, sedangkan Bapak itu sudah tidak sadarkan diri. Yang terluka ringan bisa keluar sendiri.


Tiba tiba Lina mendengar suara tangis bayi dari arah kiri jalan, Lina menajamkan pendengarannya dan melihat ada sebuah mobil yang terlempar cukup jauh dari jalur. Lina mendekat dan suara tangis bayi semakin jelas. Sedangkan mobil tersebut sudah terbalik. Lina berlari mendekati mobil tersebut dan melihat seorang wanita muda dikursi kemudi dan seorang bayi dikursi belakang.


"Gimana ini? Pintunya terkunci," batin Lina, yang lain masih sibuk mengurus beberapa orang yang kecelakaan. Lina menggedor kaca mobil tapi wanita yang didalam sepertinya sudah pingsan, sedangkan suara tangis bayi semakin melemah. Lina menoleh kesegala arah dan berharap ada yang bisa digunakan untuk memecahkan mobil tersebut. Matanya tertuju pada batu bata yang ada dipinggir jalan. Dengan cepat Lina mengambil batu bata tersebut dan memukulnya dengan kuat kekaca mobil.


Kaca itu berhasil dipecahkan. Lina segera menarik wanita tersebut untuk mengeluarkannya. Setelah beberapa meter Lina mengeluarkan wanita itu, kemudian Lina kembali untuk mengeluarkan bayi tersebut. Bayi yang diperkirakan usia satu tahun pun segera Lina keluarkan.


Lina merasa lega karena telah berhasil mengeluarkan bayi tersebut, tapi bayi itu juga sudah terlihat sangat lemah. Saat Lina mengeluarkan bayi tersebut, Lina tercium bau bensin yang tumpah dari mobil. Dengan cepat Lina pergi dari tempat itu, tapi belum sempat menjauh mobil itu meledak.


Duarr... bunyi ledakan mengejutkan orang yang ada disitu. Lina yang tidak sempat melarikan diri hanya bisa melompat, tapi ia masih sempat berbalik badan agar bayi yang digendongnya tidak terbentur.


"Lina...!" teriak Ansel, Johan, Rino dan Gibson secara bersamaan. Sedangkan Lita dan Lica hanya bengong melihat kakaknya terkena ledakan mobil. Ethan, Felix dan Gibran tidak bisa berkata apa-apa karena syok. Lina terlempar cukup jauh, tapi masih merangkul bayi yang digendongnya tadi. Sedangkan wanita yang Lina tolong tersadar dari pingsannya dan meraung melihat mobilnya meledak.


"Putriku, putriku didalam mobil itu," tunjuk wanita itu sambil meraung raung menangis. Beberapa orang menahan wanita itu agar tidak kemobil yang terbakar.


"Anakku," ucap wanita itu bersimpuh diaspal sedetik kemudian wanita itu pingsan lagi.


Mobil ambulans dan mobil polisi pun datang ke lokasi kejadian. Beberapa buah mobil ambulans begitu sibuk mengurus orang yang terluka parah, sedangkan yang luka ringan tidak dibawa menggunakan mobil ambulans.


"Lina... apa yang terjadi dengan Lina?" teriak Johan.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2