
.
.
.
Makanan yang mereka pesan pun akhirnya sudah siap, pelayan menata makanan dimeja mereka.
"Baunya sepertinya enak," kata Johan sambil menghidu bau ikan bakar yang memang menggugah selera.
"Gak nyangka, ternyata mereka anak orang kaya tapi hidup dalam kesederhanaan," batin Johan lagi.
Johan sendiri tidak pernah makan ditempat seperti ini, baginya makanan dipinggir jalan tidak higienis.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucap triple A serentak. lalu mereka menyuapi makanan kedalam mulut mereka. Nampak sangat menyelerakan. Ethan, Felix dan Gibran yang juga tidak pernah makan ditempat seperti ini merasa ragu pada awalnya. Tapi saat melihat triple A makan, mereka secara spontan menelan ludah. lalu menyuapi makanan tersebut kedalam mulut mereka sedikit, merasa enak ketiganya pun makan dengan lahapnya. Lina sengaja memesan lebih ikan bakar yang akan diberikan kepada paman sopir.
"Ini Paman," ucap Lina saat ia mengantar ikan bakar tersebut kepada paman sopir itu. Sopir itu yang bernama Bahar sangat senang menerimanya. Baru kali ini ia makan di luar, tiba tiba ia teringat pada anak dan istrinya dirumah mereka. Anak Bahar ada 2 orang yaitu lelaki dan perempuan yang berusia sekitar 7 dan 4 tahun.
"Non, boleh pesan kan untuk anak dan istri saya gak, nanti saya ganti uang nya," ucap Bahar pada Lina.
"Mau yang mana Paman? ikan apa ayam?" tanya Lina.
"Ikan non, yang seperti ini," jawab Bahar menunjukkan ikan bakarnya.
"Baik paman, paman tunggu ya aku pesan kan. Dan paman tidak perlu menggantinya," ucap Lina. Dan hal itu didengar oleh Johan dan teman temannya, mereka semakin mengagumi sosok triple A yang ternyata sangat murah hati.
"Apa lagi yang tidak aku ketahui tentang mereka? Baru segini saja aku sudah insecure." Batin Johan.
Lina kembali ke mejanya dan kembali memesan ikan bakar tersebut. Setelah setengah jam pesanannya pun siap. Lina pun membayar semua yang mereka makan.
"Ini Paman, sebaiknya paman kasih kan dulu pada keluarga Paman," kata Lina.
"Terimakasih non," ucap Bahar.
Kemudian mereka pulang dengan arah tujuan masing-masing, tapi Johan, Ansel, Rino dan Gibson masih mengikuti triple A.
"Ngapain kalian ikut kami!" tanya Lita yang mulai jengah diikuti terus.
"Kami hanya ingin memastikan kalian selamat sampai tujuan," jawab Ansel.
"Gak perlu, meskipun kami anak kecil kami bisa jaga diri," ucap Lica dan juga mulai jengah. Apalagi Lina, kalau ada karung mungkin keempat orang itu sudah dikarungin.
__ADS_1
"Sana pulang," usir Lina. Tapi mereka seolah tidak peduli dan masih terus mengikuti.
Setibanya dilampu merah, ada seorang nenek ingin menyeberang jalan, tapi nenek itu sepertinya ragu ragu. Lina dengan cepat menghampiri Nenek tersebut. Sedangkan Lica dan Lita memblokir jalan untuk sesaat agar nenek itu bisa lewat.
Lagi lagi Johan dan sahabatnya dibuat takjub dengan kebaikan dan keberanian triple A. Setelah Nenek itu lewat Lina segera menghampiri saudaranya dan mereka pun berhenti memblokir jalan.
Penasaran dengan apa mereka memblokir jalan? Dengan tubuh mereka sendiri dan merentangkan kedua tangannya dijalan untuk menghalangi mobil, yang pastinya masih sewaktu lampu merah. kalau sudah lampu hijau gak mungkin mereka berani.
Kemudian mereka melanjutkan perjalanannya. Johan, Ansel, Rino dan Gibson mengikuti mereka sampai mansion keluarga Henderson. Mereka juga orang kaya, tapi melihat mansion keluarga Henderson tentu mereka juga takjub. Sekarang mereka semakin percaya kalau triple A adalah cucu dari Jordan Henderson.
"Yuk pulang, mereka sudah masuk kedalam," ajak Johan.
"Kenapa sih kita harus mengikuti mereka sampai mansion?" tanya Gibson yang sejak tadi penasaran dan sekarang baru ia tanyakan.
"Saya cuma ingin memastikan saja, apa benar mereka itu dari keluarga terkaya di negara ini? Soalnya kalau dilihat lihat mereka seperti hidup dalam kesederhanaan." tanya Johan.
"Iya ya, mereka makan aja dipinggir jalan, lah kita yang masih dibawahnya malah gengsi untuk makan ditempat seperti itu," jawab Ansel.
"Orang seperti itu biasanya adalah orang yang rendah hati. Kalian tidak lihat tadi, dengan sopir aja mereka peduli bahkan nenek yang ingin lewat aja ditolongin. Lah kita boro boro," ucap Gibson. Akhirnya mereka meninggalkan tempat itu.
Triple A sudah masuk kedalam mansion, dan bersiap siap untuk masuk kamar. Tapi didepan pintu kamar mereka melihat Diva keluar dari kamar.
"Kalian baru pulang? kok lama?" tanya Diva.
Diva turun kebawah melalui tangga. Karena sudah sore ia ingin menyiapkan makan malam karena suaminya sebentar lagi akan pulang. Vera menghampiri Diva yang sedang sibuk mengiris bawang.
"Kapan sikembar pulang?" tanya Vera pada menantunya itu.
"Katanya malam ini, mungkin besok pagi baru mereka sampai." jawab Diva.
"Mommy sudah kangen dengan mereka, entahlah Mommy merasa telah terjadi sesuatu disana," kata Vera.
"Iya, Mommy benar mereka diserang oleh klan mafia, tapi beruntung mereka bisa mengatasinya." jawab Diva.
"Hah, jadi firasat Mommy benar?" tanya Vera dan Diva mengangguk.
"Itu terjadi beberapa hari yang lalu, dan beruntung mereka semua bisa berkelahi, ketika aku menelepon mereka bercerita tentang kejadian tersebut," jawab Vera.
"Syukurlah. Pantas saja perasaan Mommy beberapa hari ini tidak tenang," ucap Vera.
"Sudahlah Mom, mereka semua selamat. Mommy mau minum apa? Biar aku buatkan," tanya Diva mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Mommy mau jus saja, Mommy sudah tua tidak boleh minum kopi terlalu banyak," jawab Vera.
Diva pun membuat jus untuk Vera dan teh untuk Jordan serta kopi untuk Darmendra. Karena Diva tau suaminya sebentar lagi akan pulang. Dan benar saja belum sampai 10 menit Darmendra sudah datang dan langsung memeluk istrinya dari belakang.
"Kalau ingin bermesraan lihat tempat dong, untung cuma Mommy yang lihat. Bagaimana kalau anak anak kalian yang melihat?" tanya Vera.
"Ehh ternyata ada Mommy," jawab Darmendra kikuk, jujur saja ia tidak melihat keberadaan Mommy nya yang sedang duduk dimeja makan.
"Kau pikir siapa? Manekin ha...!?" tanya Vera.
"Ada apa Mom?" tanya Jordan yang baru datang langsung menghampiri istrinya.
Diva langsung menuangkan teh yang telah dibuat nya untuk mertuanya, menuangkan kopi untuk suaminya.
"Minum dulu Dad," tawar Diva.
"Untukku sayang?" tanya Darmendra.
"Ada, ini," jawab Diva sambil menyodorkan gelas yang berisi kopi.
"Mau mandi apa mau minum dulu?" tanya Diva.
"Minum dulu, nanti keburu dingin kurang enak," jawab Darmendra.
"Mommy, Daddy, Oma, Opa...!" panggil triple A serentak. mereka kemudian duduk dikursi meja makan.
"Kalian mau minum apa?" tanya Diva.
"Jus," jawab mereka serentak.
Diva kembali membuat jus alpukat kesukaan triple A.
"Kalian dari mana saja kok sore pulangnya?" tanya Vera.
"Kami tadi pulang sekolah singgah dulu kerumah makan tempat ikan bakar, Oma." jawab Lica. Vera pun mengangguk. Mereka tidak perlu khawatir tentang triple A.
"Nih jus nya," ucap Diva sambil menyodorkan gelas berisi jus masing-masing ke triple A.
.
.
__ADS_1
.