
.
.
.
Para MUA yang merias pengantin wanita tersenyum melihat hasil karya mereka, karena tidak perlu bersusah payah pasang ini itu lagi, seperti bulu mata hanya tinggal diberi maskara saja.
"Sangat beruntung tuan muda memiliki nona muda," kata MUA yang lain.
"Kami yang beruntung mbak, dapat pangeran yang menjadi incaran para gadis maupun wanita manapun." jawab Nadine.
"Iya mbak, kami yang dari golongan bawah bisa berdampingan dengan mereka yang dari kalangan atas, dan mereka menerima kami dengan sangat baik. Juga keluarganya menerima Kami dengan baik," kata Cahaya.
"Keluarga Henderson memang terkenal sangat dermawan, pernah satu ketika dulu. tuan muda sewaktu masih kecil dan memenangkan kompetisi dan hadiahnya senilai 1 juta dolar, tapi tuan muda tidak menerima hadiah tersebut dan malah menyumbangkan uang tersebut kepada orang yang tidak mampu. Termasuk keluarga kami sendiri. Waktu itu kehidupan kami sangat susah. Berkat bantuan dari mereka akhirnya kami bisa bangkit seperti sekarang ini," kata MUA si D sambil meneteskan airmata mengingat ingat kebaikan sikembar dari dahulu hingga sekarang mereka tidak pernah berubah.
"Tapi jangan coba coba menghianati atau mengusik mereka atau keluarganya, maka mereka tidak segan segan menghab*si orang itu," ucap si B yang juga seorang MUA.
"Benar, saya bisa menjadi MUA juga berkat bantuan dari mereka," kata si A.
Mereka jadi bergosip ria tentang kebaikan yang telah dilakukan sikembar dimasa lalu.
"Sebab itu saat saya mendapat tawaran untuk menjadi MUA dihari bahagia mereka, aku langsung menerima walau tanpa dibayar sekalipun," ucap si A lagi.
"Kalian tidak dibayar?" tanya Aisyah yang sejak tadi diam.
"Itu hanya perumpamaan nona, dan kami dibayar dengan harga yang sangat mahal," jawab si A, yang takut nanti nona nya salah faham.
Acara sebentar lagi akan dimulai, para tamu undangan sudah mulai berdatangan. Berbagai seleksi dilakukan untuk menjaga keamanan dan menghindari sesuatu yang tidak diinginkan. Para pengawal juga berjaga di setiap penjuru hotel tersebut. Ada yang terlihat dan ada yang tidak terlihat, maksudnya pengawal bayangan yang selalu bersembunyi dalam melakukan tugasnya.
"Bagaimana dengan keamanan disini?" tanya Darmendra saat ini mereka berkumpul diruang ganti pria. Pengantin prianya sudah rapi dan sudah siap semuanya.
"Penjagaan diperketat Dad, demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan." jawab Ram.
"Bagus deh kalau begitu," kata Darmendra.
"Mommy kekamar sebelah ya, mau lihat menantu Mommy," kata Diva.
"Perlu ku temani sayang?" tanya Darmendra.
"Gak usah, lagian cuma bersebelahan kok," jawab Diva.
Diva pun keluar dan masuk kedalam kamar sebelah. Semua menoleh kearah pintu yang terbuka.
__ADS_1
"Bagaimana? Sudah siap semuanya?" tanya Diva.
"Sudah Mom," jawab mereka serentak.
"Kalau begitu yuk, acaranya sudah mulai," kata Diva.
Mereka pun keluar dari ruangan itu bersamaan dengan sikembar juga keluar. Sikembar sengaja berbaris berjejer melihat pasangan mereka apakah mengenali mereka?
Pakaian sama dan wajah yang sama serta tinggi badan juga sama membuat mereka sulit dibedakan bagi orang yang belum terbiasa dengan mereka.
"Kalian bisa kan mengenali mereka?" tanya Diva.
"Bisa Mom," jawab mereka serentak.
"Bagus deh jangan sampai ketukar nantinya," kata Darmendra menggoda mereka.
Mana rela sikembar kalau sampai pasangan mereka tertukar?
"Dad meskipun kami kembar, tapi banyak perbedaan antara kami," jawab Ram.
"Iya, iya Daddy tau kok," kata Darmendra sambil tertawa.
"Sudah, sekarang kita turun kebawah," kata Diva.
Kalau ada yang bertanya triple A dimana? Jawabnya triple A sedang memantau situasi, mereka seperti seorang mata mata untuk memantau ada musuh atau tidak. Setiap gerak gerik para tamu undangan yang hadir tak luput dari pantauan triple A. Mereka juga memasang alat yang bisa mendeteksi senjata api atau senjata tajam lainnya. Sejauh ini belum ada tamu yang mencurigakan.
"Memang sepadan sekali ya" kata salah satu tamu sambil berbisik kepada teman temannya.
"Iya, sangat serasi. Tampan dan cantik," ucap yang lain.
Pengantin sudah berada diatas pelaminan. Mereka duduk dikursi pelaminan yang memang sudah disediakan. Nanti bila para tamu undangan memberikan ucapan selamat barulah mereka akan berdiri.
Disudut lain, orang tua pengantin wanita sedang berkumpul duduk dikursi khusus untuk mereka. Mereka tidak menyangka bahwa putri mereka akan menikah dengan tuan muda Henderson.
Fatimah mengusap air matanya, begitu juga dengan Wardina.
"Aku bahagia mbak, sehingga airmata ini jatuh dengan sendirinya," kata Wardina pada Fatimah. Ya semenjak acara lamaran waktu itu mereka menjadi lebih akrab. Begitu juga dengan orang tua Prita dan orang tua Adira.
"Sudah tidak perlu menangis, hari ini hari bahagia putri kita," kata Diana yang duduk bersebelahan dengan mereka. Fatimah dan Wardina mengangguk. Tidak berapa lama Darmendra dan Diva menghampiri mereka.
"Maaf besan, baru bisa gabung," kata Diva ramah.
"Tidak apa-apa nyonya," jawab Wardina.
__ADS_1
"Loh kok nyonya sih, sekarang kita adalah besan tidak ada derajat tinggi atau rendah, semua sama." kata Diva. mereka tersenyum canggung.
"Jangan seperti itu, kita sekarang adalah keluarga." kata Diva lagi.
Kemudian mereka pun ngobrol dengan lebih akrab, para pria ngobrol sesama pria dan para wanita sesama wanita.
"Boleh saya gabung," kata seorang wanita bermata sipit, ya dia adalah istri dari rekan bisnis Darmendra dan sikembar yaitu tuan Akira. Istri tuan Akira sampai bela belain untuk belajar bahasa Indonesia demi bisa akrab dengan keluarga Henderson. Kemudian datang lagi Vera dan Jordan yang sedang bergandengan tangan bergabung juga disitu. Alhasil mereka sekeluarga berkumpul bersama.
"Boleh, mari silahkan," kata Diva. Meskipun istri tuan Akira belum terlalu lancar berbahasa Indonesia tetapi bisa mereka fahami.
Sedangkan dipelaminan, pengantin mulai menyambut tamu undangan yang sedang mengantri untuk memberi ucapan selamat kepada tujuh pasangan pengantin.
Satu persatu mereka bersalaman sambil memberikan ucapan.
Setelah memberikan ucapan selamat mereka pun turun dengan teratur. Ada yang langsung ketempat stand makanan dan ada pula yang duduk kembali karena menunggu antrian panjang.
Sahabat Diva dan Darmendra datang bersama keluarga besar mereka. Dan mereka pun langsung bergabung dengan Diva, sedangkan anak anaknya gabung dengan triple A.
"Kakak ngapain disini?" tanya Gibran.
"Memantau musuh," jawab Lina enteng.
"Cih galak amat sih," kata Felix.
"Biarin, yang penting tempat ini aman," ucap Lina.
"Kalian ngapain kesini?" tanya Lita.
"Iya, biasa juga selalu mengekor dibelakang Mama dan Papa kalian," ucap Lica.
"Tidak lagi, kami sudah besar sebentar lagi akan masuk SMP," jawab Ethan.
"Kakak sudah mau masuk SMA ya?" tanya Gibran. Triple A menggangguk.
"Wah masih kecil sudah SMA," kata Felix.
Pletak... Lina menggetok kepala Felix sehingga siempunya meringis.
"Aww..aku jamin gak akan ada cowok yang dekati kakak nanti," kata Felix sambil mengusap usap kepalanya.
"Bodo amat," jawab Lina ketus.
.
__ADS_1
.
.