Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Semua merasa lega


__ADS_3

.


.


.


Kekacauan akhirnya bisa teratasi berkat sikembar dan istri istrinya. Manager hotel menggratiskan penginapan dan makan selama mereka berada disini, sebagai bentuk ucapan terimakasih karena telah menyelamatkan banyak orang.


"Tidak perlu segitunya tuan, kami datang kemari hanya untuk berbulan madu," ucap Ram saat manager menawarkan penginapan dan makan gratis.


"Tidak apa-apa Nak, saya merasa berhutang budi, berkat keberanian kalian semua tempat ini kembali aman," kata manager hotel tersebut.


Sikembar tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya pasrah saja, karena manager hotel tersebut begitu kekeh untuk memberikan layanan gratis di hotel ini.


"Akhirnya semuanya sudah aman, aku benar benar merasa lega," ucap Cahaya saat ini mereka sedang berkumpul sebuah taman.


"Iya, tadi sewaktu gelas yang pegang oleh Ram tiba-tiba pecah karena tembakan, aku benar benar cemas," kata Adira.


"Ada manfaatnya kita belajar ilmu beladiri, bisa membela diri sendiri dan menolong orang lain," ucap Aisyah.


"Beruntung dulu aku ikut Nadine masuk kelas taekwondo, awalnya aku malas malasan tapi akhirnya terbiasa," kata Keyla.


"Ternyata kalian disini," kata Ram, lalu memeluk istrinya.


"Sayang...!" panggil Ren pada Aisyah. Aisyah menoleh.


"Jangan dekat dekat sama orang bucin, sayang," kata Ren lagi sambil melirik kearah Ram dan Cahaya.


"Cih, bilang aja iri," ucap Ram.


"Yuk sayang kita kembali kekamar," ajak Ren. Aisyah hanya bisa mengikuti suaminya.


Ray, Rakha, Raffa, Rasya dan Roy juga menjemput istri istri mereka. Kini hanya tinggal Ram bersama Cahaya yang berada ditaman dekat hotel tersebut.

__ADS_1


Pelayan tersenyum ramah saat pasangan pengantin baru melewati mereka. keenam pasangan tersebut berjalan memasuki lift, mereka harus bergantian karena kapasitas muatan lift tidak memungkinkan untuk mereka naik sekaligus.


Ren tiba didepan kamar mereka, dan kemudian membawa Aisyah untuk masuk. kali ini Ren sudah ingin menunggu lama lagi, sudah beberapa hari disini masih belum melakukan malam pertama. Padahal mereka adalah pengantin baru.


Ren langsung memeluk Aisyah saat pintu sudah terkunci. Aisyah tentu saja tidak menolak. Sebenarnya Aisyah sudah siap kapanpun kalau Ren meminta haknya, tapi Ren nya aja yang belum memulai, Aisyah sebagai seorang gadis tentu ia akan sangat malu kalau harus dia yang mulai.


"Sayang bolehkah?" tanya Ren. Aisyah mengangguk. Ren pun melakukan pemanasan sebelum melakukan pendakian. kalau tidak pemanasan dulu takutnya nanti kram sebelum mencapai puncak.


Aisyah menggeliat dengan sentuhan lembut dari Ren. Perlahan Ren menc*um bibir Aisyah, Aisyah dengan lembut membalas c*uman tersebut. Ren semakin memperdalam c*uman mereka.


"Kamu siap sayang?" tanya Ren, Aisyah mengangguk malu malu. Akhirnya siang ini mereka pun melakukan pendakian.


Ren memimpin pendakian tersebut dan membawa Aisyah menelusuri tebing dan lembah, kemudian mendaki tanjakan yang cukup tinggi sehingga membuat nafas keduanya menjadi ngos ngosan. Tapi Ren tetap semangat untuk terus mendaki hingga kepuncak. Cukup melelahkan juga, sehingga keringat membasahi tubuh keduanya.


Setelah lebih kurang satu jam, akhirnya keduanya pun mencapai puncak, Ren merebahkan tubuhnya disamping Aisyah sambil tersenyum. Ia membelai rambut panjang Aisyah lalu mengecup keningnya.


"Terimakasih sayang, sudah bersedia menerimaku sebagai suamimu," ucap Ren.


"seharusnya aku yang berterimakasih, my husband." ucap Aisyah. Lalu keduanya pun berpelukan.


"Sayang...!" panggil Roy.


"Hmmm," Danita sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena Roy sudah membuatnya tidak berkutik padahal baru pemanasan sebelum pendakian.


"Kamu siap?" tanya Roy, Danita mengangguk. Perlahan tapi pasti Roy pun mulai melakukan pendakian bersama Danita, karena keduanya ingin mencapai puncak bersama sama. Dan melihat keindahan pemandangan disana.


Roy dengan gagahnya memimpin pendakian tersebut dan membawa Danita hingga keatas sana.


"Kalau begini rasanya, aku tidak ingin berhenti," batin Roy. Keduanya terus mendaki dan mendaki. Meskipun capek tidak mereka hiraukan sama sekali. Karena ini pengalaman pertama mereka dalam mendaki. Roy melenguh saat sudah tiba kepuncak, begitu juga dengan Danita. Dengan nafas ngos-ngosan Roy bangkit dan menyamping lalu berbaring disamping istrinya. Roy kemudian memeluk tubuh Danita, meski keringat membasahi tubuh keduanya tapi tidak mereka hiraukan. Roy menc*um bibir Danita dan m*l*m*t nya. Danita hanya pasrah saja. Setelah itu Roy bangkit dan berjalan menuju kamar mandi, Roy mengisi air dalam bathtub dan memberinya sabun cair. Kemudian Roy kembali menghampiri Danita dan langsung mengangkat tubuh Danita. Roy tau kalau Danita pasti merasa kesakitan saat mereka sedang mendaki, dari ekspresi wajah Danita yang berubah ubah membuat Roy mengerti.


"Aku bisa sendiri," ucap Danita saat Roy mengangkat tubuhnya, tapi Roy masih saja mengangkat tubuh Danita dan membawanya kedalam kamar mandi lalu meletakkannya didalam bathtub.


"Aakh, perih..!" teriak Danita tanpa sadar. Roy pun merasa kasihan melihatnya.

__ADS_1


"Sakit?" tanya Roy. Danita mengangguk.


"Nanti diobati ya, ada salep dalam koper," kata Roy, Danita kembali mengangguk. Cukup lama mereka berendam hingga Roy kembali mengangkat tubuh Danita dan membawanya ke shower untuk membilas busa sabun.


Setelah itu mereka pun menyudahi mandinya, Roy lagi lagi mengangkat tubuh Danita, membuat Danita merasa sangat dicintai oleh Roy.


"Terimakasih suamiku, kau sungguh baik sekali," ucap Danita saat mereka sudah berada diruang ganti. Kini keduanya sudah berpakaian lengkap


"Tidak perlu berterimakasih sayang, memang sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang suami melayani istrinya saat sakit atau apapun," kata Roy. Roy mengeringkan rambut Danita yang basah, setelah selesai mereka kembali berbaring diatas ranjang, Roy memeluk tubuh Danita.


"Bagaimana kalau nanti kita punya anak?" tanya Roy, Danita menatap wajah tampan suaminya.


"Kenapa bertanya seperti itu? Setiap keluarga dan pasangan suami istri pasti menginginkan anak," tanya Danita balik.


"Ya aku cuma bertanya saja," jawab Roy.


"Tentu saja aku akan sangat bahagia, suamiku." kata Danita.


"Bagaimana kalau anak kita kembar juga?" tanya Roy lagi.


"Bagus dong, gak heran sih karena dari gen kamu bisa saja anak kita nanti kembar," jawab Danita.


Keduanya terus memperbincangkan masalah anak yang belum jadi. Tapi mereka sudah berencana sangat jauh.


"Anak adalah sumber kebahagiaan dalam rumah tangga. Anak juga bisa menjadi pengikat hubungan suami istri." ucap Danita.


"Kamu benar sayang, kebahagiaan kita akan bertambah dengan kehadiran mereka diantara kita. Setelah pulang dari sini, aku ingin mengajakmu melihat rumah baru kita," kata Roy.


"Loh, memangnya kita tidak tinggal bersama Mommy Daddy Oma dan Opa?" tanya Danita.


"Tidak sayang, aku sudah membangun rumah untuk kita tinggal. Aku ingin hidup mandiri bersama keluarga kecilku nanti," ucap Roy, Danita hanya diam dan akan mengikuti kemanapun suaminya membawanya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2