Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Jangan khawatir


__ADS_3

.


.


.


"Sepertinya Johan terluka," jawab Ansel.


"Jangan khawatir aku tidak apa-apa..." jawab Johan.


Bu Tessa mendekat kearah mereka dan meneliti keadaan mereka semua.


"Sebaiknya kalian ke rumah sakit saja, ibu khawatir dengan keadaan kalian, ibu tadi melihat lawan kalian benar benar tangguh," ucap Bu Tessa.


"Jangan khawatir Bu, kita tidak apa-apa," jawab Johan lagi.


"Jangan disepelekan, ibu tadi sempat melihat kamu keluar darah." ucap Bu Tessa yang begitu khawatir dengan keadaan siswa siswinya. Kemudian Bu Tessa berbincang dengan Pak Udin sebagai kepala sekolah dan Pak Udin juga menyarankan agar segera diperiksa bila perlu di Rontgen untuk memastikan keadaan mereka baik baik saja.


Akhirnya ujian ditunda besok hari.


Bu Tessa segera pergi keparkiran untuk mengambil mobilnya. Kemudian Bu Tessa membawa Johan ke rumah sakit, sebab Lica tidak mau pergi ke rumah sakit. Karena Lica merasa dia baik baik saja.


"kalian yakin tidak ingin kerumah sakit?" tanya Bu Tessa memastikan.


"Yakin Bu, saya tidak apa-apa..." jawab Lica.


Motor Johan terpaksa ditinggalkan di sekolah. Sedangkan Ansel, Rino dan Gibson ikut ke rumah sakit. triple A pulang ke mansion.


Di mansion...


Diva sedang menemani cucu cucu nya bermain, mereka kini sedang aktif kesana kemari merangkak membuat Diva semakin gemas.


"Sayang...!" panggil Darmendra dari arah pintu.


"Hubby....kok sudah pulang?" tanya Diva.


"Aku kangen cucu kita sayang, tadi setelah ketemu klien aku langsung pulang," jawab Darmendra.


Vera dan Jordan juga kualahan menjaga cicit mereka, tapi tidak membuat mereka lelah. Mereka malah berbahagia menemani cicit mereka.


Cahaya, Nadine, Aisyah, Adira, Danita, Keyla dan Prita hanya memperhatikan anak anaknya yang sedang bermain dengan Oma dan Opanya, serta Oma buyut dan Opa buyut.


"Aku tidak menyangka akan bisa sebahagia ini," ucap Cahaya pada Adira.


"Iya, jodoh tidak bisa ditebak," kata Adira.

__ADS_1


Tidak berapa lama datang Ram bersama Ren. mereka langsung nyelonong menghampiri anak anak mereka.


"Anak ayah," ucap Ram pada Al dan Ale. Al dan Ale yang begitu dekat dengan ayahnya pun tertawa sambil merangkak seolah mereka berlomba untuk menghampiri ayahnya. Ram segera menggendong kedua anaknya itu.


"Anak ayah sudah besar ya," tanya Ram. Al dan Ale tertawa seolah sangat senang dibilang sudah besar.


Ram mencium kedua pipi anaknya yang semakin chubby.


"Ayah cepat sekali sudah pulang, memangnya tidak ada pekerjaan?" tanya Cahaya.


"Ada banyak, aku sengaja pulang cepat karena ingin bekerja di mansion saja," jawab Ram.


Sedangkan Ren juga di interogasi oleh istrinya, Ren cuma menjawab pekerjaan tidak terlalu banyak, dan juga rindu pada kedua anaknya.


"Alasan klasik," ucap Aisyah sambil mencebikkan bibirnya.


"Daddy punya alasan apa cepat pulang?" tanya Ram.


"Ehh, kok Daddy yang ditanya?" tanya Darmendra.


"Ya iyalah," jawab Ram.


"Daddy kalian pengen menimang cucu, makanya cepat pulang," jawab Diva.


Mereka semua tertawa. Bahkan anak anak mereka juga ikut tertawa meskipun tidak mengerti apa yang orang dewasa bicarakan.


"Sayang, bagaimana kita buat adek lagi untuk triple A?" tanya Darmendra tanpa sensor.


"Tidak...!" teriak suara dari arah pintu, ternyata triple A sudah mendengarnya.


"Kami tidak ingin punya adik lagi," jawab Lica.


"Hubby, kita sudah tua, lagi pula kita sudah punya cucu," jawab Diva.


Wajah Darmendra cemberut dan itu menjadi bahan ledekan dari Ram dan Ren.


"Ingat umur Dad, apa masih sanggup manjat tebing," ejek Ram.


"Jangan jangan baru separuh jalan sudah keok," goda Ren.


Kemudian mereka pun tertawa termasuk Vera dan Jordan yang ada disitu juga tidak kuasa menahan tawanya.


"Sudahlah hubby, benar kata Ram ingat umur," ucap Diva semakin membuat wajah Darmendra cemberut.


"Nanti kita naik gunung," bisik Diva dan seketika membuat wajah Darmendra kembali ceria.

__ADS_1


"Mentang mentang dapat bisikan gaib, tiba tiba berubah cerah," ejek Jordan.


"Daddy, kalau 11, 12 denganku jangan mengejek ya," ucap Darmendra. Jordan cuma nyengir karena apa yang dikatakan Darmendra benar adanya.


"Kalian, bicara depan anak anak kok begitu," ucap Diva. meskipun triple A tidak mengerti arah pembicaraan orang dewasa itu, tapi Diva merasa bahwa obrolan seperti itu kurang pantas didepan anak anak.


"Sayang, aku mau mandi boleh siapkan airnya?" tanya Darmendra.


"Baiklah, tunggu sebentar ya hubby," jawab Diva. Kemudian Diva bangkit dari duduknya dan berjalan menaiki tangga, disusul oleh Darmendra yang juga menaiki tangga. Tiba didepan pintu kamar, Diva membukanya dengan perlahan. Diva hendak masuk tapi didorong pelan oleh Darmendra yang juga masuk.


Darmendra langsung mengunci pintu kamar mereka, langsung memeluk istrinya dengan erat.


"Aku merindukanmu sayang, apakah lukanya sudah sembuh?" tanya Darmendra. Diva tersenyum dan mengerti maksud dari suaminya itu.


"Sudah seminggu lebih loh sayang, masa sih belum sembuh?" tanya Darmendra lagi.


"Sabarlah hubby, aku sudah sembuh kok sudah dari tiga hari yang lalu," jawab Diva.


"Benarkah? Kenapa gak bilang bilang?" tanya Darmendra.


"Hubby gak bertanya," jawab Diva.


"Curang ya....." ucap Darmendra sambil menggelitik pinggang istrinya, Diva tertawa kencang karena tidak tahan digelitikin. Diva terjatuh ditempat tidur dan Darmendra juga menjatuhkan dirinya disamping Diva. Nafas Diva ngos ngosan karena habis tertawa.


"Hubby, sebentar lagi mansion ini akan sepi, triple A akan segera kuliah dan sikembar juga akan pindah rumah," ucap Diva sendu.


"Sayang, kita juga tidak bisa menghalangi keinginan mereka, meskipun kita mencintai mereka tapi sekarang sikembar sudah punya keluarga masing-masing. Dan mereka berhak menentukan kehidupan mereka. Kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung." ucap Darmendra dengan bijak.


"Iya hubby benar, kita nanti bisa sering sering mengunjungi mereka," ucap Diva dan diangguki oleh Darmendra.


"Apa triple A sudah bilang kalau mereka akan kuliah di L A?" tanya Darmendra.


"Sudah, meskipun aku berat melepas mereka untuk kuliah di luar negeri tapi aku juga tidak bisa untuk mengekang kebebasan mereka. Selama mereka masih bisa menjaga diri," kata Diva.


Darmendra perlahan mendekatkan bibirnya ke telinga Diva dan berbisik.


"Aku menginginkan nya,"


Diva tersenyum dan mengangguk, jujur Diva juga sudah merindukan sentuhan suaminya itu.


Tanpa membuang waktu, Darmendra langsung dengan aksinya dan persiapannya untuk mendaki. Mulai dari pemanasan dan kemudian mereka memulai untuk mendaki. Darmendra dan Diva sama sama ingin mencapai puncak, pendakian keduanya cukup melelahkan karena jalannya cukup menanjak dan tinggi. Sehingga keringat pun membasahi tubuh keduanya. Diva hanya pasrah saat Darmendra menggiringnya untuk menuju puncak. Sedangkan Darmendra begitu bersemangat dalam memimpin pendakian tersebut. Hingga akhirnya mereka pun sampai kepuncak dalam waktu hampir satu jam. Darmendra yang merasa lelah pun berbaring disamping Diva.


"Kita sudah sampai sayang," ucap Darmendra sambil mengecup kening dan bibir Diva.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2