
.
.
.
Deg...
Saat pandangan mereka bertemu gadis itu tersentak jantungnya kembali berdetak kencang, begitu juga dengan Devan jantungnya juga berdetak lebih cepat.
"Ada apa ini? Kenapa jantungku berdetak sangat cepat? Batin Devan.
"Dev Devan...!"
"Azura...!"
Keduanya memanggil nama masing-masing serentak. Devan merasa jantungnya tidak wajar saat ini, sedangkan Azura sudah lama tidak merasakan seperti ini, dulu, dulu sekali sewaktu mereka masih sama sama sekolah, Azura memiliki perasaan cinta kepada Devan, tapi hanya bisa secara diam diam. Karena Azura tau kalau Devan hanya mencintai Nadine.
"Ehh kamu kok ada disini?" tanya Azura.
"Kamu gak apa-apa? Biar aku bawa kerumah sakit," tanya Devan. Azura menggeleng.
"Aku gak apa-apa, cuma motorku sepertinya sedikit rusak," jawab Devan.
Devan menghampiri Maminya yang masih syok didalam mobil.
"Mami baik baik saja? Tanya Devan.
"Iya, mami baik baik aja, mami hanya syok." jawab Rusita.
"Mami pulang duluan, aku mau bertanggung jawab pada cewek itu, mungkin dia terluka," kata Devan.
"Tapi mami pakai apa pulangnya, kayanya mami gak bisa nyetir deh," ucap Rusita, dan benar saja tangannya terlihat gemetar.
Devan kemudian menelepon papi nya untuk menjemput sang mami.
"Kamu bagaimana?" tanya Rusita.
"Aku baik baik saja mi, jangan khawatir." jawab Devan.
Devan kembali pada Azura yang masih terduduk diaspal. Devan mengangkat tubuh Azura yang mungil dengan tinggi badan hanya 160cm, sedangkan Devan 178cm. Devan mengangkat Azura ala bridal style, karena takut jatuh Azura melingkarkan tangannya dileher Devan, deru nafas keduanya saling beradu detak jantung keduanya saling berpacu.
"Kenapa aku baru tahu kalau dia cantik?" batin Devan.
"Oh Tuhan, mengapa aku harus bertemu dia? Sudah sekian lama aku mencoba melupakannya, sekarang Engkau menemukan kami kembali, apa rencana Mu Tuhan," batin Azura.
Devan membawa Azura ke mobil, dan mendudukkan nya dikursi penumpang. Devan kembali menghampiri motor Azura dan membawanya ke pinggir jalan. Kurang lebih satu setengah jam Rustam datang dengan seorang pria yang berpakaian satpam. Satpam itu membawa motor Azura kebengkel untuk diperbaiki, sedangkan Azura dibawa kerumah sakit oleh Devan. Rusita dan Rustam kembali kerumah.
"Sudah kubilang aku tidak apa-apa?" Azura.
__ADS_1
"Aku cuma khawatir saja, siapa tau ada luka dalam atau apa?" tanya Devan.
Saat ini mereka sudah berada dirumah sakit, Azura diperiksa dengan teliti oleh dokter, Azura tidak terluka parah hanya goresan kecil karena terkena aspal jalanan.
"Kemana saja kamu selama ini?" tanya Devan.
"Setelah kita lulus sekolah, aku kembali ke kampung halaman, dan aku tidak melanjutkan pendidikanku." jawab Azura.
"Kamu sendiri bagaimana, dan hubunganmu dengan Nadine apa berlanjut?" tanya Azura, seketika Devan berubah sedih.
"Nadine sudah ada yang punya, dan cintaku ternyata hanya bertepuk sebelah tangan." ucap Devan.
"Sabar ya, mungkin dia bukan jodohmu, tadi kamu bilang Nadine sudah berpunya? Apakah dia sudah menikah?" tanya Azura.
"Belum, kemungkinan dia sudah bertunangan, soalnya aku melihat cincin dijarinya." jawab Devan.
"Kamu sendiri bagaimana? Apakah sudah ada yang punya?" tanya Devan to the point.
"Hehe, gak ada yang mau dengan gadis miskin dan jelek sepertiku," jawab Azura.
"Ehh, kamu cantik kok, siapa bilang kamu jelek?" tanya Devan, Azura jadi blushing dipuji seperti itu, walau kedengarannya tidak ikhlas.
Setelah diperiksa, Azura diperbolehkan pulang. Kini Devan kembali mengangkat Azura, sekali lagi jantung keduanya berpacu dengan cepat.
"Hah jantungku kenapa? Belum pernah seperti ini, saat dengan Nadine pun tidak seperti ini," batin Devan.
"Maaf, aku...!" perkataan Devan terhenti saat jari Azura menempel dibibir Devan. Azura menggeleng pertanda tidak apa-apa.
"Boleh kah aku jujur?" tanya Azura saat keduanya sudah didalam mobil.
"Iya, ngomong aja," jawab Devan.
"Sebenarnya aku sudah lama mencintaimu, tapi karena kamu mencintai Nadine aku mundur," ucap Azura, Devan menoleh dan menatap kearah Azura. Azura tertunduk.
Devan menghentikan mobilnya dipinggir jalan, Azura sudah berdebar debar takut Devan menurunkannya dipinggir jalan.
"Maafkan aku," ucap Azura lagi.
Devan tanpa bicara meraup bibit Azura dan menci*mnya. Azura hanya diam saja tanpa membalas. Jujur baru kali ini ia berci*man.
"Mengapa kamu mencintaiku?" tanya Devan.
"Aku tidak tau, hati ini tidak bisa untuk dibohongi," ucap Azura.
"Apa kamu cemburu bila aku lebih dekat dengan Nadine?" tanya Devan.
"Aku tidak punya hak untuk cemburu, justru aku akan bahagia bila orang yang aku cintai bahagia, walaupun aku tidak bisa memilikinya. Karena aku tau cinta tidak harus memiliki, dan cinta tidak boleh kita paksakan. Dan cinta jika kita melihat seseorang yang kita cintai bahagia walaupun pun bukan bersama kita," ucap Azura, Devan tertegun mendengar penuturan Azura.
"Seperti itukah kamu mencintaiku?" tanya Devan.
__ADS_1
"Lebih dari yang kamu tau, biarlah aku yang merasakannya, biarlah akan ku simpan perasaan ini sendiri." jawab Azura.
Devan tersenyum, "seperti inikah rasanya dicintai?" batin Devan.
"Bagaimana kalau orang yang kamu cinta juga mencintaimu?" tanya Devan.
"Aku akan menerima apapun keadaannya, begitu juga sebaliknya, ia harus menerima apapun keadaanku, cinta tidak harus memandang fisik harta dan tahta." kata Azura.
"Bagaimana kalau aku katakan sekarang aku mencintaimu?" tanya Devan.
"Hah...!" Azura cengo menatap dalam mata Devan. Karena kata orang mata tidak bisa menipu.
"Apakah kamu merasakan detak jantungku berdetak lebih cepat?" tanya Devan saat Devan meletakkan telapak tangan Azura didada bidangnya. Azura mengangguk.
"Kamu tau? selama dekat dengan Nadine aku tidak pernah merasakan detak jantung seperti ini, dan sekarang baru aku mengerti ternyata cintaku selama ini bukan pada Nadine. Aku ke Nadine hanya obsesi semata," ucap Devan.
Devan kini menyadari perasaannya, selama ini ia menganggap sangat mencintai Nadine, ternyata baru kini ia benar benar merasakan yang namanya jatuh cinta.
"Dimana rumahmu?" tanya Devan.
"Aku tinggal dikontrakkan, rumah orang tuaku ada dikampung," jawab Azura.
"Aku antar kamu pulang, sebutkan alamatnya," kata Devan.
"Dijalan xxx, gang xxx, nanti motorku gimana?" tanya Azura.
"Nanti akan diantar ke alamatmu, sekarang alamat kontrakanmu sudah kukirimkan pada orang tadi yang membawa motormu." kata Devan.
Kini mereka sudah sampai dialamat yang dimaksud, Devan memarkirkan mobilnya ditepi jalan karena mobil tidak bisa masuk ke gang tersebut.
"Sampai sini saja, maaf aku tidak bisa membawa laki laki ke kontrakan," ucap Azura.
"Hmmm, aku mengerti, Oh ya dimana kamu bekerja?" tanya Devan.
"Restoran xxxx sebagai pelayan, karena aku hanya lulusan SMA." jawab Devan.
"Masuklah aku pulang dulu," kata Devan.
Azura mencium tangan Devan, dan Devan menc*um kening Azura. Kemudian Azura melambaikan tangan hingga mobil Devan tidak terlihat lagi.
.
Kurang baik apalagi coba aku, bang Devan sama kamu, udah dapat ganti langsung ngungkapin perasaan. sukses bang Devan.
.
.
.
__ADS_1