
.
.
.
Hari kedua Lina dirawat dirumah sakit, dua hari pula Diva dan Vera tidak pulang ke mansion. Sedangkan sikembar sudah kembali bekerja karena banyak pekerjaan yang harus dikerjakan. Meskipun mereka adalah CEO disebuah perusahaan, tapi mereka juga harus profesional. Begitu juga dengan Darmendra yang juga sudah mulai bekerja, tapi kalau malam ia akan kerumah sakit menemani istrinya.
Disekolah...
"Anak anak, siapa yang ingin ikut ibu menjenguk teman kalian?" tanya Bu Tessa.
Semua siswa siswi mengangkat tangannya, tapi tidak dengan Johan, Ansel, Rino dan Gibson. Karena mereka sudah pasti akan menjenguk Lina.
"Terasa ada yang kurang bila tidak ada Lina," gumam Lita yang terlihat lesu seperti malas ingin belajar. Begitu juga yang dirasakan oleh Lica. Karena mereka dari sejak dalam kandungan tidak pernah terpisah walau sehari saja. Kalau tidur pun terkadang mereka kumpul kadang juga sendiri sendiri.
"Iya, kita selalu bersama sama, saat salah satu tidak ada disini terasa sepi," ucap Lica.
"Bagaimana nanti kalau kita sudah kuliah?" tanya Lita.
"Ya harus sama sama dong, aku tidak mau pisah dengan kalian," jawab Lica.
"Kalian bicara apa?" tanya Ansel yang duduk didepan triple A. karena triple A kebagian kursi paling belakang.
"Gak ada, hanya saja terasa ada yang kurang," jawab Lita.
"Iya, pulang sekolah nanti kita jenguk Lina," kata Gibson.
"Ye, dia kakak kami gak perlu diajak untuk menjenguknya," ucap Lica.
"Kenapa kalian tidak memanggilnya kakak?" tanya Rino.
"Kami sudah sepakat tidak akan memanggil kakak adik, puas?" tanya Lita.
"Ye galak amat," jawab Ansel.
"Ansel, Rino, Gibson bicara apa kalian?" tegur Bu Tessa.
"Ah enggak Bu, kami hanya berdiskusi untuk membeli buah tangan untuk menjenguk Lina," jawab Ansel.
__ADS_1
"Oh iya, bagaimana kalau kita patungan untuk membeli buah?" tanya Bu Tessa.
"Gak usah patungan deh Bu, kami juga mampu beli," jawab Johan.
"Johan, kita patungan itu bukan berarti kita pelit, tapi kebersamaan kita untuk memberikan buah tangan kepada yang kita kunjungi," ucap Bu Tessa.
"Dengan begitu semua bisa merasakan indahnya berbagi," ucap Bu Tessa lagi.
"Setuju Bu," jawab salah satu siswa.
Tidak terasa jam pelajaran pun selesai, mereka mengumpulkan uang 20 ribu perorang. Rencananya mereka akan membeli buah dan cemilan sehat untuk mereka makan bersama sama nantinya. mereka ingin merasakan kebersamaan.
"Kalian bawa kendaraan masing-masing kan?" tanya Bu Tessa.
"Iya Bu," jawab mereka serentak.
Akhirnya mereka semua pun langsung kerumah sakit, tapi sebelum itu mereka singgah di supermarket dulu untuk membeli buah dan cemilan.
Berselang 30 menit mereka semua tiba di rumah sakit. Mereka minta izin terlebih dahulu kepada dokter dan petugas rumah sakit tersebut, setelah mendapatkan izin mereka pun menuju ruangan tempat Lina dirawat.
Johan, Ansel, Rino dan Gibson datang lebih dulu bersama Lita dan Lica. Karena Lita dan Lica dibonceng motor oleh Ansel dan Gibson.
"Baik, masuklah," jawab Diva.
"Mereka pun masuk, tidak berapa lama datang lagi rombongan Bu Tessa dan teman satu kelas Lina.
"Selamat siang nyonya, kami datang ingin menjenguk Lina," ucap Bu Tessa.
"Terimakasih karena sudah menjenguk anakku, Oya jangan panggil nyonya, sepertinya kita tidak beda jauh, panggil aku kakak saja," jawab Diva. Bu Tessa tersenyum, tidak pernah terbayang olehnya kalau nyonya dari keluarga Henderson seramah ini, ia pikir orang terkaya di negara ini akan sombong dan arogant.
"Pantas saja sikembar 7 dan kembar 3 sangat rendah hati, ternyata ibu mereka juga begitu," batin Bu Tessa.
Mereka semua masuk dan bersalaman dengan Lina dan Vera yang ada diruangan itu. Awalnya mereka sangat kikuk melihat Vera tapi beberapa menit kemudian mereka sudah bisa mengendalikan diri karena apa yang mereka khawatirkan tidak sesuai dengan apa yang mereka alami. bahkan Vera tidak segan segan bergaul bercanda dengan mereka, begitu juga dengan Diva. Hanya dalam sekejap mereka sudah lebih akrab. Mereka duduk lesehan diruang itu sambil memakan buah dan cemilan yang mereka bawa.
Mereka tertawa karena mereka membeli buah tersebut untuk memberikannya kepada Lina, tapi malah mereka yang memakannya.
"Gak apa-apa, lebih baik kita makannya bersama sama daripada nanti membazir kalau aku makan sendiri," ucap Lina yang masih berbaring diatas ranjang rumah sakit.
Tidak terasa sudah 2 jam mereka diruang rawat Lina, kemudian mereka pun pamit pulang. Bu Tessa juga harus segera pulang karena ia mengkhawatirkan anak anaknya. Oya anak Bu Tessa ada dua, semua laki laki, satu umur 5 tahun, dan satu berumur 2 tahun.
__ADS_1
Awalnya Bu Tessa setelah menikah ingin resign dari pekerjaannya, tapi Pak Udin melarang karena Bu Tessa termasuk guru yang terbaik diantara guru guru yang lain. Kebetulan sang suami yang seorang polisi tidak mempermasalahkan hal itu, selama ia tidak melalaikan tanggung jawabnya sebagai ibu dan istri sekaligus.
Mereka pun pulang, dan hanya menyisakan Johan, Ansel Rino dan Gibson.
"Cepat sembuh ya, gak asik gak ada kamu," ucap Johan.
"Terimakasih, karena kalian begitu peduli dengan aku." ucap Lina.
"Seharusnya kami yang berterimakasih, sejak mengenal kamu dan kedua saudaramu kami jadi berubah," ucap Gibson.
"Bukan aku yang merubah kalian, tapi kalian sendirilah yang merubah diri kalian. Karena yang bisa merubah sifat seseorang itu adalah diri mereka sendiri. Kalau mereka tidak mau berubah seribu orang baik yang datang menasehati mereka tidak akan mampu merubah sifat mereka, begitu juga dengan kalian." jawab Lina.
Mereka semua tertegun mendengar penuturan Lina, apa yang dikatakan Lina ada benarnya. Tapi entah mengapa setelah bertemu dengan triple A mereka bisa berubah?.
"Tapi kalian yang telah menyadarkan kami, mengajarkan kami untuk selalu rendah hati." ucap Johan. Lina tersenyum.
"Sebenarnya kalian itu anak anak baik, hanya saja pergaulan terkadang membuat jiwa kita rusak," ucap Diva.
Tidak berapa lama kemudian datang lagi Ethan, Felix dan Gibran. mereka baru habis sekolah dan langsung kerumah sakit. Saat mereka masuk, mereka sudah dicecar pertanyaan oleh Diva.
"Kalian tidak pulang dulu? Apa orang tua kalian Tidak risau nantinya?" tanya Diva.
"Tante, kami sudah minta izin sama Mama sama Papa, dan mereka tidak keberatan," jawab Ethan.
"Tante cuma takut seperti waktu itu, mama kalian berkali kali nelpon Tante karena kalian belum pulang," ucap Diva.
"Tante tidak mau kalian menjadi anak nakal dan salah dalam pergaulan," ucap Diva lagi.
"Sudahlah, mereka juga tidak kemana mana, mereka cuma ingin menjenguk Lina," ucap Vera yang seketika membuat Diva terdiam.
"Mom, kapan aku bisa pulang?" tanya Lina.
"Mungkin dua hari lagi sayang," jawab Diva.
.
.
.
__ADS_1