
.
.
.
Preman itu kesakitan setelah kakinya ditendang balik, ia mundur beberapa langkah untuk mengambil posisi.
"Heh bocah, jangan sok jagoan kalian," kata preman yang tadi kena blokir serangannya.
"Jangan kira kami bocah lemah, bocah juga tidak mau kalah," kata Ethan dengan angkuhnya.
Ethan, Felix dan Gibran belajar taekwondo sejak umur mereka 6 tahun. Semua itu berkat anjuran dari Diva, karena orang tua tidak mungkin menemani anak anaknya selama 24 jam. Meskipun ada pengawal, tapi mereka harus dilatih untuk berani sekedar untuk membela diri dari serangan musuh. Begitulah anjuran Diva kepada anak sahabatnya itu. Karena para sahabatnya Diva tidak sekuat Diva alias tidak bisa beladiri.
Walaupun pada awalnya mereka malas untuk belajar, tapi karena terus didesak oleh triple A mereka akhirnya nurut. Sejak saat itu mereka sudah bisa berkelahi meskipun tidak sehebat triple A.
"Aku ingin lihat kemampuan kalian," kata Lina.
"Oke, siapa takut?" tanya Felix dengan sombongnya.
"Jangan sombong, dan jangan meremehkan musuh. Ingat diatas langit masih ada langit," kata Lita.
Mereka memang menghormati triple A, mungkin karena mereka menganggap triple A adalah kakak mereka. Padahal umur mereka hanya selisih beberapa bulan saja.
"Ayo hajar mereka," perintah bos preman itu.
Keempat anak buah preman itu maju, kemudian hendak menangkap Lica yang mereka anggap lemah. Salah satu dari mereka memang berhasil menangkap tangan Lica, tapi baru beberapa saat kemudian preman yang menangkap Lica sudah terjatuh ketanah. Entah bagaimana caranya Lica membanting bobot tubuh yang mungkin 3 sampai 4 kali lipat dari dirinya.
Johan dan teman temannya ternganga melihat Lica dengan mudah membanting preman tersebut.
"Apa aku salah lihat?" tanya Gibson pada temannya.
"Aku juga melihatnya, begitu mudah ia menjatuhkan lawannya," jawab Ansel.
"Benar benar tidak bisa diremehkan tuh anak," gumam Rino. Sedangkan Johan hanya geleng-geleng kepala melihat aksi mereka.
"Kita juga harus belajar ilmu beladiri seperti mereka," ucap Ansel.
"Setuju...!" jawab mereka serentak.
Preman itu menggeliatkan tubuhnya menahan sakit. Karena setelah dibanting oleh Lica preman itu menimpa pembatas jalan jadi bertambah sakit.
"Maju kalian atau kami yang maju?" tanya Gibran.
"Serang aja, pake ditanya segala," kata Lita.
__ADS_1
"bos, sepertinya mereka bukan anak kecil biasa," kata salah satu preman yang kembali menghampiri bosnya.
"Begitu saja tidak becus, biar saya turun tangan," bos preman itu maju hendak melawan Felix. Tapi Felix juga bukan bocah lemah, dengan gesit ia menghindari serangan musuh.
"Jangan main main lagi, kita sudah telat pulang sekolah. Mana sudah lapar banget nih," ucap Lina.
"Kita aja yang turun tangan Lin, aku sudah muak melihat mereka," kata Lita.
Tanpa aba-aba lagi triple A pun melawan mereka, dan dibantu oleh Ethan, Felix dan Gibran. hanya dalam sekejap preman itu sudah babak belur dibuat mereka.
"Yuk cabut," ajak Lina.
"Kakak mau kemana?" tanya Felix.
"Mau cari makan, lapar," jawab Lina singkat.
"Ikut," teriak ketiganya karena triple A sudah lebih dulu berjalan.
"Paman ikutin mereka," perintah Felix.
"Baik tuan kecil," jawab sopir itu. Johan, Ansel, Rino dan Gibson juga mengikuti mereka.
"Ngapain sih mereka ngikutin terus?" tanya Lina.
"Biarin aja, mereka juga sudah kapok untuk berbuat jahat sama kita," jawab Lica.
"Kerumah makan tempat biasa Daddy dan Mommy ngajak kita dulu, aku pengen ikan bakar," jawab Lina.
Tidak berapa lama mereka pun tiba dirumah makan yang mereka maksud, tempat sikembar yang mereka datangi.
"Kenapa kesini kak?" tanya Ethan pada Lina.
"Makan," jawab Lina singkat.
"Iya itu aku tau, tapi Papa mama kami melarang makan ditempat sembarangan," jawab Ethan lagi.
"Iya, kalian anak orang kaya sana makan di restoran mewah, jangan disini. Nanti kalian sakit," ucap Lina pedas.
"yuk masuk, jangan pedulikan mereka," ajak Lita.
Mereka pun masuk kedalam rumah makan tersebut dan ternyata pengunjungnya cukup ramai.
"Selamat datang dek, silahkan duduk dan mau makan apa?" tanya pelayan dirumah makan itu.
"Kami mau ikan bakar," jawab Lina.
__ADS_1
"Oh silahkan dipilih dulu ikannya, mari." ajak pelayan itu dan mengantarkan mereka ketempat kolam ikan. Tidak ada pilihan lain Ethan, Felix dan Gibran pun ikut masuk. Sedangkan sopir menunggu didalam mobil. Johan, Ansel, Rino dan Gibson heran melihat triple A makan ditempat seperti ini.
"Padahal mereka anak orang kaya, mengapa mereka ketempat ini? Aku pikir mereka akan memilih restoran mewah," tanya Johan, tapi temannya hanya mengedikan bahu.
"Daripada penasaran mending masuk." saran Ansel.
Lalu mereka berempat pun masuk dan langsung duduk didekat triple A yang sudah selesai memilih ikan.
"Mana paman sopir?" tanya Lina pada Ethan karena tidak melihat sopir mereka masuk.
"Nunggu dimobil," jawab Ethan.
"Kenapa gak diajak?" tanya Lita.
"Ngapain? Lagian cuma sopir kok," jawab Felix.
"Kak bungkuskan nasi ayam geprek satu beserta air minumnya," kata Lina.
"Apa kalian tidak diajarkan oleh orang tua kalian untuk menghargai orang lain?" tanya Lica. Ketiganya menggeleng.
"Jangan mentang-mentang Paman itu hanya seorang sopir kalian bisa seenaknya? Kalau bukan karena beliau mengantar jemput kalian kesekolah kalian bisa apa?" tanya Lina. ketiganya terdiam.
"Jangan mentang-mentang kalian terlahir dari sendok emas, kalian bisa seenaknya meremehkan pekerjaan orang lain? Pelayan, sopir dan segala jenis pekerjaan mereka melakukannya dengan ikhlas. Jangan merendahkan orang lain hanya karena pekerjaan mereka. Bagaimana kalau posisi kalian dibalik?" Tanya Lita dengan kata kata pedas menohok. Pelayan rumah makan yang mendengar pembicaraan mereka pun terharu. Ia teringat dengan bocah kembar tujuh yang selalu baik dengan orang lain. Perlahan pelayan itu mengusap air matanya.
"Ini dek pesanan nya," ucap pelayan itu.
"terimakasih kak," ucap Lina, dan mengambil nasi bungkus dan air minumnya.
"Nih, berikan kepada paman. Jangan sampai karena menunggu kalian ia kelaparan." ucap Lina. Ethan pun bangkit dari duduknya dan memberikan nasi bungkus itu kepada sang sopir.
"Kalian mau makan?" tanya Lina pada Johan.
"Iy.. iya..!" jawab Johan gugup karena ia sempat melamun memikirkan kata-kata triple A. Johan sendiri masih suka semena mena pada pelayan dirumahnya.
"Sana pesan," titah Lita.
"Kalian pesan apa?" tanya Ansel.
"Ikan bakar, tapi harus pilih sendiri di kolam sana," tunjuk Lica kearah belakang. Mereka pun pergi kebelakang rumah makan tersebut dan melihat banyak sekali ikan besar untuk dibakar. Ethan yang sudah kembali dari mengantar makanan pada sang sopir pun menyusul mereka.
Betapa senangnya sang sopir menerima makanan tersebut, meski makanan sederhana tapi cukup menggugah selera. Dan untuk pertama kalinya anak majikan mereka memberikan makanan tersebut. Biasanya sudah sampai rumah barulah sopir itu makan. karena ia juga harus berhemat untuk keperluan keluarga mereka. Dan kalau makan dirumah majikannya akan ditanggung.
.
.
__ADS_1
.