
.
.
.
"Gue tantang kalian," ucap siswi itu.
Triple A saling pandang lalu saling mengangguk, mereka memberi kode pada diri masing-masing. Tanpa harus berbicara mereka tau apa yang akan mereka lakukan?.
"Gimana? Takut?" tantang siswi itu yang bernama Zeline, dan dua sahabatnya bernama Samira dan Vania.
"Kenapa kamu menantang kami?" tanya Lina.
"Jangan sok lugu deh, kamu telah merebut Randy dari gue. Gue udah lama suka sama dia tapi setelah ada Lo perhatiannya berubah ke gue." ucap Zeline.
"Ha ha ha, lucu. Masih kecil udah kegatelan," ucap triple A serentak sambil tertawa.
"Oke, kami terima tantangan kalian," kata Lina lantang.
"Cih... kalian gak bakalan menang, kami juara voli putri antar sekolah. Dan kalau kalian kalah kalian jauhi Randy." ucap Zeline.
"Heh.. siapa juga yang naksir cowok model begitu, uang saja masih minta pada orang tua," ledek Lina.
"Seujung kuku pun aku tidak akan tertarik," ucap Lina lagi.
Seseorang mendengar perdebatan mereka dipojokkan sana, dan seketika wajahnya berubah sedih. Ya dialah Randy teman sekelas mereka cowok yang paling tampan disekolah ini. Memang Dia ada perasaan pada Lina, tapi setiap kali ia mencoba mendekati Lina, Lina terus saja menghindar. Sekarang Randy mendengar langsung penolakan Lina beserta alasannya.
"Masih kecil udah kegatelan, mau pacaran," ejek Lita.
"Kamu...!" tunjuk Zeline pada Lita.
"Apa? Mau ku patahkan itu jari? Sembarangan tunjuk tunjuk orang," tanya Lita.
Gleek... Zeline dan dua sahabatnya menelan ludah mendengar jari mereka akan di patahkan.
"Datanglah kelapangan voli kalau kalian berani," tantang Zeline menutupi kegugupannya.
"Huh... three Angel tidak pernah takut, walau dengan mafia sekalipun," ucap Lina.
Randy yang disudut ruangan tertunduk, tanpa sadar airmata nya menetes dari pelupuk matanya. Randy terkejut saat ada tangan menepuk pundaknya dan dengan cepat ia mengusap airmata nya.
__ADS_1
"Zeline menantang triple A untuk bertanding voli, kamu tidak ingin melihat mereka?" tanya Zaidan.
"Boleh, yuk," jawab Randy menyembunyikan perasaannya yang sedang kecewa.
"Sadar Randy, kamu tidak layak untuk Lina," batin Randy menyadarkan dirinya.
Kini mereka sudah berkumpul di lapangan voli, karena pertandingan ini diumumkan oleh Zeline jadi para murid dan juga guru turut menyaksikan. Sebelumnya Zeline sudah dinasehati oleh guru agar tidak berurusan dengan keluarga penguasa itu tapi Zeline bersikeras, masih dengan kesombongannya.
"Bersiaplah untuk kekalahanmu, Lina," ucap Zeline sambil mengacungkan jari jempolnya kebawah. Lina cuma tersenyum tipis. Triple A memang tidak pernah ikut kegiatan olahraga seperti voli dan yang lainnya, tapi bukan berarti mereka tidak tahu apa-apa.
"Kalian cuma tiga orang, sedangkan tim Zeline enam orang," ucap Pak Rahmat yang ditunjuk sebagai wasit.
"Gak apa-apa Pak, biar kami kalah dengan begitu Zeline akan puas," ucap Lica mewakili saudaranya.
"Tapi ini pertandingan tidak seimbang loh, mana bisa begitu?" tanya Pak Rahmat.
"Ini bukan pertandingan antar sekolah Pak, gak apa-apa tidak seimbang." jawab Lina.
"Baiklah kalau begitu," ucap Pak Rahmat.
Pluit pun ditiup pertanda pertandingan segera dimulai. 3 lawan 6 memang tidak seimbang, tapi jangan remehkan kemampuan triple A.
"Kita lihat saja, aku yakin triple A bukan orang sembarangan, lihat saja cara mereka bermain," ucap siswa B.
Penonton bersorak karena dari sejak melakukan servis pertama bola tidak jatuh ketanah. Meskipun perlawanan tidak seimbang tapi triple A dapat mengimbangi keenam orang tersebut.
(mohon maaf kalau sedikit berlebihan)
Lina memberi kode kepada Lita, dan Lita memberi umpan ke Lina, Lina melompat setinggi dada orang dewasa dan melakukan smash, bola menghujam ketanah dan tidak dapat ditangkis oleh tim lawan sehingga skor satu kosong untuk tim triple A. Para siswa siswi dan guru bersorak melihat aksi triple A yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.
"Cis baru segitu sudah bangga," ucap Zeline tidak terima.
Triple A tidak menanggapi, kemudian permainan berlanjut. Permainan semakin memanas, skor antara mereka berbeda jauh. Tim Zeline 2 dan tim triple A 15.
"Gimana masih mau lanjut?" tanya Lina dengan senyum mengejek.
"Gue tidak terima kekalahan," jawab Zeline.
"Tapi skor kalian tertinggal jauh," ucap Lita menimpali.
"Aah," teriak Zeline emosi. Triple A semakin memanas manasi agar lawannya semakin emosi dan kehilangan konsentrasi.
__ADS_1
Permainan berlanjut, Lina melakukan servis dengan tajam, sehingga bola tidak dapat ditahan oleh tim Zeline sehingga menghasilkan lagi skor berikutnya.
Kali ini Lica melakukan servis dengan sedikit lembut hingga bola bisa ditangkis, terjadilah keseruan karena sudah beberapa menit bola tidak juga jatuh ketanah. Para guru sangat kagum dengan kehebatan triple A, mereka tak bosan bosannya memuji kehebatan anak kembar itu.
"Benar benar multitalenta," decak kagum Pak Rahmat.
Bola masih dioper kesana kemari dan belum juga jatuh ketanah. Masih mempertahankan posisi bola agar tidak jatuh. Beberapa kali Zeline melakukan smash tapi dapat ditangkis oleh tim triple A. Zeline adalah ketua tim di bidang olahraga voli. Itu sebabnya ia sangat yakin bisa mempermalukan Lina dengan cara menantang mereka bermain voli.
Kali ini Lina memberi kode pada Lica untuk melakukan umpan, Lica mengangguk dan melakukan umpan dengan begitu cantik dan kesempatan itu digunakan Lina untuk melakukan smash yang keras dengan tenaga Lina dan bruugh...bola tepat mengenai kepala Zeline dan seketika Zeline pun pun pingsan. Permainan terpaksa dihentikan karena suasana berubah menjadi kacau, Pak Rahmat berlari kelapangan dan menggotong tubuh Zeline yang tidak sadarkan diri. Zeline dibawa keruang UKS. Dokter yang bertugas di sekolah ini memeriksa keadaan Zeline.
"Apa kamu sengaja melakukannya?" tanya Lita pada Lina.
"Hmmm, kasih sedikit pelajaran biar gak ngelunjak. Mentang-mentang ketua tim sudah sombongnya selangit. Bagus juga enggak permainannya, udah sombong aja," jawab Lina tanpa merasa bersalah.
Kemudian triple A mendatangi Pak Rahmat untuk meminta maaf, karena tidak sengaja membuat Zeline seperti itu.
"Itu bukan salah kalian, kecelakaan dalam permainan itu biasa jangan merasa bersalah," ucap Pak Rahmat yang menganggap semua itu adalah kecelakaan.
"Tapi gara gara bermain dengan kami dia jadi seperti itu," ucap Lita.
Pak Rahmat tersenyum, "kalian memang anak yang baik dan rendah hati."
Kemudian dokter yang memeriksa Zeline pun keluar, dan memberitahu bahwa Zeline tidak apa-apa, hanya syok saja. Pak Rahmat dan teman satu tim Zeline merasa lega.
"Sudah Bapak bilang, bukan kesalahan kalian," ucap Pak Rahmat.
"Iya benar bukan salah kalian, hanya saja Zeline terlalu memaksakan diri hingga dia tidak fokus," jawab siswi A teman satu tim Zeline.
"Sekarang semua sudah selesai, dan kalian boleh pulang kerumah masing-masing," ucap Pak Rahmat.
Siswa siswi SMP tersebut pun membubarkan diri, sedangkan Zeline dijemput oleh orang tuanya karena ditelepon oleh Pak Rahmat tadi.
.
Keren gak balasan triple A pada Zeline yang menantang mereka?
.
.
.
__ADS_1