
.
.
.
Keduanya sudah sampai di kampus, Cahaya menatap wajah tampan kekasihnya itu. Rasanya ia tidak ingin berpisah terlalu lama, apalagi mereka jarang sekali bertemu hanya beberapa kali dalam seminggu, tidak bisa setiap hari. Tapi mereka sering chatingan lewat aplikasi berlogo hijau, bahkan hampir setiap malam mereka melakukan panggilan video.
"Kenapa?" tanya Ram.
"Aku akan selalu merindukan kakak," jawab Cahaya.
"Bagaimana kalau nikah aja? yang pastinya pacaran secara halal lebih mengasyikkan, dan kita bebas ngapain aja," tanya Ram to the point.
"Apa tidak apa-apa? Kita masih muda dan lagi saudara kakak belum ada yang menikah," tanya Cahaya.
"Kalau kita mampu dan hati sudah mantap, kenapa harus takut untuk nikah muda?" tanya Ram balik.
"Bagaimana dengan saudara kakak? Apa mereka tidak keberatan kalau dilangkahi?" tanya Cahaya.
"Kurasa tidak..! Paling mereka iri adik mereka lebih duluan laku," jawab Ram enteng.
"Narsis...!" kata Cahaya sambil mencolek hidung mancung milik Ram.
"Boleh aku menciummu?" tanya Ram, Cahaya tertunduk dan mengangguk pelan.
Tanpa aba-aba Ram mendekatkan bibirnya pada bibir Cahaya, Ram mengangkat dagu Cahaya hingga sejajar dan bibir mereka pun bertemu, setelah merasa cukup Ram melepaskan ciumannya.
"Ini ciuman pertamaku," ucap Cahaya malu-malu.
"Ini juga ciuman pertamaku, ternyata beginikah rasanya?" tanya Ram.
"Rasa apa?" tanya Cahaya balik.
"Rasa pengen lagi," ucap Ram.
Saat Ram mendekatkan kembali bibirnya tiba tiba kaca mobil mereka diketuk, siapa lagi pelakunya kalau bukan Rasya?.
"Cih.. mengganggu kesenangan orang saja," gumam Ram.
Cahaya pun keluar dari mobil, dan ternyata Adira sudah ada didalam mobil mereka. Adira memperhatikan bibir Cahaya dengan seksama. Cahaya yang diperhatikan seperti itu merasa canggung seperti orang yang sedang ketahuan mencuri.
"Mengapa menatapku seperti itu?" tanya Cahaya.
__ADS_1
"Hmmm gak apa apa sih? Seperti ada yang berbeda dengan bibirmu?" tanya Adira.
Hal itu semakin membuat Cahaya salah tingkah, malu ketahuan oleh sahabat rasa saudaranya itu.
"Aku ada yang mau ku ceritakan kekamu," kata Adira lagi.
"Apa?" tanya Cahaya penasaran, Ram menghampiri Cahaya untuk berpamitan, jadi pembicaraan antara Cahaya dengan Adira terjeda.
Ram mengecup kening Cahaya dan Cahaya mencium tangan Ram membuat Ram merasa sangat bahagia.
"Hati hati..!" pesan Cahaya dan diangguki oleh Ram. Kemudian Ram pun berlalu dari situ.
"Aku kembali ke kantor," kata Rasya pada Adira, Adira yang tadinya didalam mobil pun kembali keluar, Rasya mencium kening Adira dan mengecup bibirnya membuat Adira sangat malu.
"Hati hati..!" pesan Adira, Rasya hanya tersenyum.
Setelah kepergian kekasihnya Cahaya dan Adira pun masuk kedalam mobil dan segera pergi dari tempat itu. Diperjalanan Adira menceritakan tentang Rasya yang menembak dirinya, Rasya berani mengungkapkan perasaannya karena merasa sudah menemukan orang yang tepat dalam hidupnya.
"Apa jawaban mu saat ia nembak kamu?" tanya Aya.
"Ya ku terimalah, cowok setampan dan setajir itu mau disia siakan rugi banget," jawab Dira tanpa sensor.
"Banyak cowok tampan dan kaya dekati kamu, tapi kenapa selalu kamu tolak?" tanya Aya.
"Gimana ya, setiap cowok yang dekati aku gak ada yang buat aku berdebar, tapi sekalinya dengan Rasya berbeda dari cowok cowok yang lain." jawab Dira jujur.
"Maaf aku keceplosan, soalnya tadi aku tidak bisa nahan diri," ucap Dira lagi.
"Pantas saja kamu memperhatikan bibirku seperti itu?" tanya Aya.
"Tapi kamu dicium juga kan? Jangan bohong aku tau kalian udah ciuman," tanya Dira, Aya pun mengangguk.
"Terimakasih Aya, kamu telah mengenalkan aku dengan dia," ucap Dira.
"Gak perlu terimakasih, seperti yang sudah aku bilang, kalau gak cocok gak usah dilayani, tapi sepertinya kalian sangat cocok." ucap Aya.
Tak terasa mereka sudah sampai dirumah Aya, rumah Aya dan rumah Dira tidak terlalu jauh, jadi Dira hanya jalan kaki saja untuk pulang kerumahnya.
Kita pantau Ray dengan Nadine dulu ya...
Ray mengantar Nadine sampai rumah, sebelum Nadine keluar dari mobil, Ray menarik tangan Nadine pelan.
"Ada apa?" tanya Nadine, ia ingin cepat cepat keluar dari mobil karena ia sudah tidak kuat menahan detak jantungnya yang berdetak lebih cepat.
__ADS_1
"Hari Sabtu aku ingin ngajak kamu kepantai, kita melihat sunset, terus kita juga makan malam ditepi pantai itu," ucap Ray yang juga berusaha menetralkan detak jantungnya.
"Apakah aku harus berdandan cantik?" tanya Nadine.
"Terserah kamu, bagiku kamu tetap cantik meski tidak berdandan," ucap Ray, Nadine menjadi blushing mendengar gombalan receh Ray.
"Kamu maukan?" tanya Ray, hatinya sudah was was takut Nadine menolak.
"Ya, aku mau," jawab Nadine, Ray bersorak kegirangan tanpa sadar memeluk Nadine dan mencium pipi kening dan terakhir bibir, meskipun singkat cukup membuat Nadine jantungan.
"Setelah itu aku akan mengenalkan mu ke orang tuaku," ucap Ray. Nadine terdiam dan segera keluar dari mobil itu.
Ray dengan perasaan senang segera menjalankan mobilnya untuk kembali keperusahaan nya.
Nadine masuk kedalam rumah, dan dilihatnya sang mama sedang berada dibalik pintu, tadi ia mengintip dua sejoli itu, karena keasikan ngintip Diana tidak sadar kalau Nadine sudah hampir masuk rumah, jadi Diana tidak sempat lagi untuk berpindah dan terpaksa bersembunyi.
"Mama ngapain?" tanya Nadine.
"Mama lagi nungguin Papamu, katanya mau ngajak makan bareng," ucap Diana mencari cari alasan.
"Ya sudah, aku kekamar dulu," kata Nadine, dan diangguki oleh Diana. Diana merasa lega karena Nadine mempercayai perkataannya.
Nadine masuk kedalam kamar mandi, dan perlahan melepaskan pakaiannya, lalu menghidupkan shower dan mengguyur tubuhnya disana. Nadine terbayang wajah tampan Ray yang tanpa ia sadari telah mengisi relung hatinya. Karena pertemuan yang tidak disengaja akhirnya berlanjut meskipun sering berdebat.
"Dia ngajak aku dinner? Rasanya tidak percaya, dan dia akan mengenalkan aku pada orang tuanya," batin Nadine.
"Berarti dia benar benar serius, kenapa aku jadi deg degan ya," gumam Nadine.
Berbeda dengan Ray, saat ini ia sudah tiba di perusahaannya, Ray langsung masuk kedalam lift tanpa mempedulikan sapaan dari karyawannya, begitu sampai diruangannya Ray langsung masuk tanpa menghiraukan Ben yang menyapanya. Ben pun dibuat bengong dengan sikap bosnya akhir-akhir ini.
Ray masuk kekamar pribadinya dan langsung menghempaskan diri diatas ranjang.
Senyumnya tidak luntur dari bibirnya. Sambil membayangkan makan malam yang telah ia rencanakan.
"Apa aku langsung melamarnya saja ya? Rasanya aku sudah tidak sabar ingin menjadikan dirinya guling bernyawa yang bisa membalas bila dipeluk. Gak apa-apa kali ya kalau nikah muda, lagi pula aku sudah mampu menafkahi secara lahir batin." gumam Ray.
"Aaaaaaa... Mommy Ray ingin nikah," teriak Ray, beruntung kamar itu kedap suara.
.
Udah kebelet ya Bang....😂😂😂ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤.
.
__ADS_1
.
.