Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Keberanian gadis kecil


__ADS_3

.


.


.


Pagi hari...


Aisyah, Cahaya dan yang lainnya sudah berada di dapur. Setelah mereka melaksanakan shalat subuh mereka langsung menuju dapur untuk membuat sarapan. Diva yang biasa menyiapkan sarapan kini ia sedikit santai karena sudah ada tujuh gadis yang saat ini sedang memasak. Pelayan yang baru beranjak kedapur mendapati calon nona mudanya sudah berkutat katit didapur.


"Selamat pagi bik...!" sapa Cahaya.


"Ehh, pagi non, cepat sekali sudah bangun?" jawab bik Marni dan sekaligus bertanya.


"Iya bik, tadi habis shalat subuh langsung kemari. Dan juga kami harus cepat kembali kerumah, soalnya nanti mau kuliah juga," jawab Aisyah.


"Beruntung banget tuan muda mendapatkan gadis seperti kalian," ucap bik Aida yang kebetulan ada disitu. Tapi para gadis hanya tersenyum.


Sewaktu di London dulu, Aida lebih dulu kembali ke Indonesia, dan hanya Marni yang tinggal, tapi ketika sikembar hampir tamat kuliah Marni juga kembali lebih dulu ke Indonesia.


"Sudah ramai ternyata, masak apa?" tanya Diva yang baru turun kedapur.


"Nasi goreng aja Mom, yang gampang gampang saja," jawab Aisyah.


"Sikembar paling suka nasi goreng seafood," kata Diva.


"Benarkah, kalau begitu biar masak lebih banyak lagi," Cahaya.


Mereka semua bekerja sama untuk memasak sarapan pagi. Mereka mengerjakan tugasnya masing-masing, ada yang memotong bawang, ada yang memotong sayuran, pokoknya semua dikerjakan secara bersama-sama. Tidak berapa lama nasi goreng pun siap, Diva menyuruh mereka untuk mandi. Sedangkan pelayan hanya menata makanan dimeja makan. Mereka naik keatas dengan menggunakan lift. Sampai didepan pintu kamar sikembar, mereka mengetuk pintu kamar itu. Pintu pun terbuka dan anehnya secara serentak.


"Kok bisa kompak ya," kata Aisyah, yang lain tertawa.


"Kenapa?" tanya Ren.


"Nggak, kok kalian buka pintu bisa kompak?" tanya Aisyah.

__ADS_1


"Jangan heran, nanti juga kalau sudah menikah kami juga kompak," ucap Ren.


Aisyah dan yang lainnya pun masuk, karena mereka akan mandi, sedangkan sikembar sudah rapi dan siap untuk pergi bekerja. Tidak butuh waktu lama, Aisyah sudah keluar dari kamar mandi, rambutnya basah jadi ia tidak memakai hijab. Ren terpana melihatnya, lalu ia mengambil hairdryer yang ada di nakas untuk mengeringkan rambut Aisyah.


Aisyah merasa sangat diperhatikan, karena Ren mengeringkan rambutnya yang panjang. Perlakuan Ram begitu juga pada Cahaya, mereka merasa sangat beruntung memiliki calon suami yang begitu perhatian.


"Sudah, sekarang gunakan hijabnya," ucap Ren. Aisyah hanya mengangguk. Setelah semuanya selesai mereka pun turun kebawah, karena terlalu ramai jadi ada yang lewat tangga karena lift melewati kapasitas muatan. Dan juga lift sedang dipakai oleh sikembar tiga. Darmendra juga melalui tangga.


"Selamat pagi Dad," sapa mereka serentak.


"Pagi, kalian mau pulang hari ini?" tanya Darmendra.


"Kami ada kuliah pagi Dad," jawab Cahaya. Darmendra mengangguk.


Mereka semua sudah tiba dimeja makan, Vera dan Jordan juga sudah ada disitu. Seperti biasa, Diva melayani suaminya dan sikembar tiga. Sikembar tujuh yang biasa tidak suka dilayani sekarang malah minta dilayani.


"Bukannya kalian sudah besar, son?" tanya Darmendra menggoda putra putranya.


"Sekarang beda Dad," jawab Ram sambil tersenyum kearah Cahaya.


"Cepat makan nanti terlambat," kata Diva.


"Mommy Daddy Oma Opa, kami berangkat, kakak ipar daah," sikembar tiga pun menyalami mereka satu persatu termasuk Abang Abangnya.


Sedangkan sikembar tujuh juga pamit, dan para gadis juga pamit dan tidak lupa mencium tangan orang tua didepan satu persatu. Sikembar tujuh mengantarkan mereka pulang kerumah lebih dulu, baru setelah itu mengatar kekampus.


Sementara sikembar tiga saat ini dalam perjalanan menuju ke sekolah mereka. Tapi diperjalanan mereka melihat seorang wanita paruh baya sedang menangis karena dipukuli oleh beberapa orang pria.


"Paman berhenti sebentar," perintah Lina.


"Baik nona kecil," jawab Agus.


Lina Lita dan Lica turun dari mobil, sedangkan Agus hanya memperhatikan mereka, Agus teringat sikembar tujuh yang selalu membantu orang dan membela yang lemah.


"Gadis kecil yang berani, kebaikan orang tuanya memang mereka warisi," gumam Agus yang mengagumi keberanian gadis kecil itu.

__ADS_1


"Ada apa ini?" tanya Lina dengan suara dinginnya. Ya Lina bila berhadapan dengan orang luar maka sikapnya akan dingin. Berbeda bila dengan keluarganya, maka sifat manjanya akan keluar.


"Hajar aja Lin," ucap Lita mengompori.


"Heh anak kecil jangan ikut campur," ucap salah satu dari lima pria tersebut.


"Kami tidak akan ikut campur kalau Paman tidak berbuat kejahatan," ucap Lina.


"Sukanya menindas orang lemah," ucap Lita.


"Cih hanya ban*i yang memukuli wanita," ucap Lica.


Pria itu emosi, dan bruuk... pria itu terpental beberapa meter kebelakang karena tendangan Lina yang tidak main-main. Ternyata saat pria itu hendak memukul Lica, Lina sudah bertindak lebih dulu. Pria itu terlempar hingga terkapar dan nembentur pembatas jalan, kepalanya pecah dan berdarah, tidak berapa lama pria itu pingsan.


"Maju kalian," perintah Lita. Pria itu saling pandang, lalu mengangguk dan mengambil langkah seribu, tapi Lina, Lita dan Lica tidak tinggal diam, mereka menembak keempat pria itu dengan alat yang mereka ciptakan, sedetik kemudian keempat pria itu pingsan.


Sikembar tiga mendekati wanita itu, wajah nya memar karena habis dipukuli. Sikembar tiga memang tidak memiliki perusahaan seperti Abang Abangnya, tapi bukan berarti mereka tidak punya uang, diam diam mereka mendapatkan upah yang sangat banyak bahkan sampai miliaran dalam sekali transaksi, karena mereka mendapatkan bayaran dari perusahaan yang mereka lindungi daripada dibobol oleh hacker yang tidak bertanggung jawab. Sikembar tiga menciptakan sebuah aplikasi yang bisa melindungi sebuah perusahaan dari serangan musuh. Bahkan uang jajan mereka tidak pernah mereka gunakan, bahkan hanya mereka tabung. Sikembar tiga selalu menyembunyikan kejeniusan mereka, orang tuanya saja tidak tahu kalau sikembar tiga menjadi seorang hacker.


"Nenek tidak apa-apa?" tanya Lina yang seketika berubah lembut. mereka memanggil wanita itu Nenek karena terlihat tua.


"Iya Nak, terimakasih telah membantu," ucap wanita itu.


"Ini ada sedikit uang untuk Nenek berobat, maaf kami tidak bisa banyak memberi Nenek uang," ucap Lita.


Mereka bertiga masing masing memberikan satu gepok uang, yang berjumlah dua juta satu gepok, 3 gepok berarti 6 juta. Bagi mereka bertiga itu sedikit, tapi bagi wanita itu sangat banyak. Wanita itu pun mengambilnya.


"Kami permisi Nek, nanti telat kesekolah," ucap Lina. Kemudian mereka pun pergi dari tempat itu dan masuk kedalam mobil.


"Cepat Paman, kita sudah telat," perintah Lina.


Agus pun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, beruntung mereka belum terlambat tiba di sekolah, masih ada waktu 5 menit.


"Alhamdulillah," ucap mereka serentak. kemudian mereka masuk kedalam sekolah.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2