
.
.
.
Triple A pun pamit pulang setelah memastikan Johan baik baik saja. Sebagai teman sekelas triple A juga masih punya hati nurani untuk menjenguknya. Meskipun mereka tidak terlalu baik pada awalnya, tapi sekarang mereka sudah lebih baik dan tidak jadi nakal lagi.
Lagi pula Johan masuk rumah sakit karena ingin membantu triple A meskipun ilmu beladiri nya masih jauh dibawah triple A. Dan juga musuh yang mereka hadapi ternyata bukan orang sembarangan.
Kelompok mafia yang hanya terdiri dari 6 orang anggota yang menargetkan para gadis gadis cantik.
Meskipun anggota mereka hanya sedikit tapi kekuatan mereka sebanding dengan mafia yang mempunyai anak buah ratusan orang.
Hanya saja kelompok mafia tersebut tidak pernah menyinggung kelompok mafia lain.
"Apa kita minta jemput saja?" tanya Lica pada kedua saudaranya.
"Tidak perlu," jawab Lina dingin.
"Tapi ini sudah sore Lin," kata Lica lagi.
"Masih sempat kok, baru juga jam 5 sore," jawab Lita yang sejak tadi diam.
"Sudah, jangan buang waktu lagi," ucap Lina lalu mengeluarkan skuter nya, Lita dan Lica juga melakukan hal yang sama.
"Lomba yuk....!" teriak Lica karena ia lebih dulu jalan.
"Hei... curang," ucap Lita tak kalah berteriak karena Lica sudah menjauh.
"Hahaha... kalau tidak curang tidak akan menang," teriak Lica.
"Kekanak-kanakan," gumam Lina, tapi tidak bisa dipungkiri kalau ia juga menikmati kebersamaan mereka, Lina tersenyum tipis bahkan sangat tipis. Senyum yang sangat jarang ia perlihatkan pada orang luar. Orang orang yang melihat mereka pun takjub.
Sedangkan dijalanan ketiga gadis remaja berlomba lomba untuk sampai ke mansion. Lina yang awalnya tertinggal jauh kini berhasil mengejar kedua saudaranya.
"Kalian tidak akan bisa mengalahkan ku," ucap Lina.
"Aah, kenapa sih kamu gak mau ngalah sama saudara sendiri?" tanya Lica yang merasa tersaingi, padahal ia tadi lebih dulu sekarang malah dibelakang. meskipun tidak tertinggal jauh.
Tiba tiba Lina melihat ada seorang wanita sedang menggendong anak kecil sekitar umur 2 tahun melintas, sedangkan didepan sebuah truk bermuatan melaju kearah wanita itu. Dan wanita itu tidak menyadarinya dan masih terus menyebrang jalan.
"Awas...!" teriak Lina. Lina melajukan skuternya menghampiri wanita itu. Ketika sudah didekat wanita itu Lina melepaskan skuter nya dan menarik wanita itu.
"Aww," teriak wanita itu karena terjatuh keaspal. Akhirnya wanita itu terlepas dari bahaya.
__ADS_1
"Terimakasih ya dek, kalau tidak ada kamu mungkin kakak sudah tertabrak truk tersebut," ucap wanita itu. Beruntung anaknya tidak kenapa-kenapa.
"Lain kali hati hati kak, kalau mau menyebrang jalan lihat situasi dulu," pesan Lina.
"Terimakasih sekali lagi dek," ucap wanita itu.
Sama sama kak," jawab Lina, Lita dan Lica pun menghampiri Lina dan wanita itu.
"Kakak tidak apa-apa? Mengapa kakak berjalan seperti orang tidak tentu arah?" tanya Lita.
Tiba tiba wanita itu menangis, triple A saling pandang karena jujur saja mereka merasa sangat heran melihat wanita itu berubah drastis saat Lita bertanya seperti itu.
"Mari kita duduk dulu dan ceritakan masalah kakak," ucap Lica.
Mereka pun duduk dipinggir jalan, tanpa alas apapun tapi mereka tidak merasa jijik.
"Ceritakan lah kak," pinta Lina, wanita itu menoleh dan menatap triple A satu persatu.
"Ini hanya masalah rumah tangga, suami kakak selingkuh dan membawa selingkuhannya kedalam rumah, kakak mencoba untuk bertahan dan mempertahankan pernikahan kami. Tapi suami kakak lebih memilih orang baru daripada kakak yang menemaninya dari nol. Dan terakhir kakak diceraikan dan diusir dari rumah," ucap wanita itu sambil menangis.
"Boleh kami tahu apa nama perusahaan mantan suami kakak?" tanya Lina.
"Perusahaan xxxx," jawab wanita itu.
"Sekarang kakak mau kemana?" tanya Lina.
"Oh ya kak, dijalan xxx ada kontrak kan murah. Mungkin kakak bisa mengontrak rumah disana," ucap Lica.
"Tapi kakak tidak punya uang, bahkan sejak pagi kakak dan anak kakak tidak makan apa-apa," jawab wanita itu.
Triple A saling pandang, lalu ketiganya mengeluarkan uang dari tas ransel mereka masing-masing. Dan setelah terkumpul ternyata ada 5 juta. Lina pun menyerahkan uang tersebut kepada wanita itu.
"Kami hanya punya ini kak, kakak cari tempat tinggal dulu, kalau ada sisanya kakak bisa buat modal usaha kecil-kecilan." kata Lina.
Wanita itu semakin menangis, disaat terpuruk seperti ini ternyata ada orang baik yang mau menolong meskipun tidak kenal.
"Terimakasih banyak, aku tidak bisa membalas kebaikan kalian semoga Allah lah yang membalasnya," ucap wanita itu.
"Kalau begitu kami pamit, nanti terlalu malam sampai rumah," ucap Lita. Wanita itu mengangguk.
Kemudian triple A melanjutkan perjalanan mereka, kali ini mereka tidak berlomba lagi. Tapi menaiki skuter dengan santai.
Sementara di S R Entertainment....
"Tuan...!" panggil seorang artis pendatang baru, Raffa yang sedang berada diruang kerjanya tidak menggubris sedikitpun.
__ADS_1
Nama Elviza yang baru direkrut sebulan yang lalu diperusahaan milik Raffa, sebagai model.
Sejak melihat Raffa, Elviza sudah terpikat tanpa tahu atau lebih tepatnya tidak mau tau kalau bosnya itu sudah beristri.
"Siapa yang mengizinkanmu masuk?" tanya Raffa dengan nada dingin, tapi terdengar s*ksi ditelinga Elviza.
"Saya hanya membawakan minuman ini tuan," jawab Elviza.
"Minum lah sendiri, aku sedang tidak ingin minum," ucap Raffa masih dengan sikap dinginnya.
"Oya, siapa yang merekrutnu menjadi model disini?" tanya Raffa.
"Tuan Endy, tuan," jawab Elviza.
"Sekarang panggil dia, aku ingin bicara," perintah Raffa.
"Ba..baik tuan," jawab Elviza gugup.
"Huh, kalau ada tuan Endy bisa gagal rencanaku untuk menjebak tuan Raffa." batin Elviza.
Kopi yang diantar oleh Elviza masih berada diatas meja kerja Raffa. tidak berapa lama kemudian Endy sang asisten pun masuk bersamaan dengan Elviza tadi.
"Duduk...!" perintah Raffa.
"Kau tau mengapa aku memanggilmu kemari?" tanya Raffa.
"Tidak tuan," jawab Endy.
"Model seperti apa yang kamu rekrut hah?" bentak Raffa dengan menggebrak meja.
"Sa.. saya hanya menerima model tersebut sesuai kriteria," jawab Endy.
"Sesuai kriteria apanya? kau tau? Dia bekerja disini punya maksud lain," ucap Raffa.
"Ma.. maaf tuan, sa.. saya tidak tahu," jawab Endy gugup.
"Sekarang suruh dia meminum air itu," tunjuk Raffa pada secangkir kopi diatas meja. Elviza seketika pucat. Karena disuruh minum kopi buatannya sendiri.
Elviza tidak tahu kalau seluruh pergerakan digedung ini dilengkapi cctv tersembunyi yang terhubung langsung dengan ponsel milik Raffa. Tidak ada yang bisa terlepas dari pengawasan Raffa.
"Ta.. tapi tuan, kopi itu untuk tuan biar tuan segar saat bekerja," ucap Elviza gugup.
"Aku tidak suka kopi buatanmu dan juga aku tidak minta dibuatin kopi," ucap Raffa.
.
__ADS_1
.
.