
.
.
.
Mereka semua masih menunggu Lina yang belum sadarkan diri. Ditambah lagi dengan pengaruh obat yang dokter berikan membuat Lina belum sadarkan diri. Darmendra menyewa kamar lagi untuk mereka beristirahat. Meskipun Darmendra adalah investor terbesar dirumah sakit ini tapi ia tetap menjalani prosedur yang telah ditetapkan.
Darmendra tidak mau menggunakan kekuasaannya semena mena.
"Kalian pulanglah, kasihan istri kalian," ucap Darmendra.
"Tidak apa-apa Dad, kami kuat kok. Lagipula Daddy menyewa kamar untuk kami beristirahat." jawab Cahaya.
Ethan, Felix dan Gibran sudah dibawa pulang oleh orang tuanya dan besok mereka akan kembali menjenguk Lina dirumah sakit.
Diva duduk disamping ranjang putrinya, dan mengelus tangan Lina dengan lembut.
"Mommy kagum dengan keberanian mu sayang, Mommy tahu jiwa penolong yang ada pada dirimu adalah bawaan sejak lahir. Teruskan ya sayang, Mommy dan Daddy selalu mendukungmu selama tidak melenceng ke hal hal yang negatif," gumam Diva.
"Kapan Lina sadar Mom?" tanya Lica.
"Entahlah, biarkan saja dia istirahat dulu. Dan ini juga pengaruh obat jadi ia belum sadar." jawab Diva.
Sikembar dan istrinya berada diruang sebelah untuk beristirahat, sedangkan Vera dan Jordan berada diruangan Lina, mereka ingin melihat cucunya sadar.
Jam 8 malam perlahan Lina membuka matanya dan meringis menahan sakit dikepalanya yang sudah diperban dan mendapat beberapa jahitan dikepalanya itu.
"Sayang kamu sudah sadar?" tanya Diva dengan perasaan senang tapi airmata nya tidak bisa berbohong kalau ia sangat khawatir.
"Aku tidak apa-apa Mommy, jangan khawatir ya," jawab Lina.
"Dokter bilang kamu mengalami benturan dikepala, jadi jangan banyak bergerak dulu," ucap Darmendra.
"Bayi itu bagaimana keadaannya?" tanya Lina, keadaannya yang seperti itu tapi masih mengkhawatirkan orang lain.
"Bayi itu baik baik saja, sekarang ia bersama orang tuanya," jawab Lita.
"Syukurlah," ucap Lina, kemudian Lina kembali memejamkan matanya karena masih pengaruh obat jadi ia sangat mengantuk. Diva tidak memberitahukan sikembar karena tidak ingin mengganggu istirahat mereka.
Pagi hari....
Suasana kembali ramai mengunjungi Lina dirumah sakit. Bahkan Johan dan teman temannya izin tidak masuk sekolah. Mereka tidak tenang sebelum tahu pasti keadaan Lina.
__ADS_1
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Johan.
"Aku baik baik saja jangan khawatir aku kuat kok," jawab Lina.
"Kami sebagai sahabat tentu sangat mengkhawatirkan mu," kata Gibson.
"Terimakasih, tapi kenapa kalian tidak sekolah?" tanya Lina.
"Kami izin, kami tidak akan tenang sebelum mendengar melihat keadaanmu." jawab Ansel dan diangguki oleh yang lain.
"Kalian, gimana mau pintar kalau belajar aja malas," ucap Lina.
Sedangkan berita kecelakaan yang menimpa puluhan orang sudah tersebar luas dimedia dan surat kabar. Tentang Lina yang menyelamatkan wanita dan anak kecil menjadi berita terhangat saat ini. Dan terpampang judul TERIMAKASIH UNTUK WONDER GIRLS. Judul yang mereka tulis karena ungkapan suami dari wanita yang ditolong oleh Lina. Malam harinya sebelum berita itu terbit, para wartawan mendatangi rumah sakit untuk meliput berita tersebut.
Apalagi berita itu dikuatkan oleh keluarga yang Lina tolong, mereka melakukan wawancara bersama dengan para dan memuji kehebatan gadis kecil yang menolong anak dan istrinya.
Wartawan kembali mendatangi ruangan Lina tapi ditahan oleh sikembar dan tidak diizinkan untuk masuk, jadi wartawan hanya mendatangi wanita yang Lina tolong, dengan pengakuan dari suaminya dan dikuatkan oleh orang yang melihatnya wartawan sangat berpuas hati karena mendapat berita tersebut. Hingga pagi hari berita itu telah terbit menjadi trending topik halaman pertama.
"Berita tentangmu sudah tersebar dimedia sosial dan surat kabar," kata Rino. Lina tersenyum.
"Biarkan saja, aku menolong bukan untuk mencari ketenaran atau pujian dari orang lain, aku hanya tidak tega membiarkan orang terluka, meskipun aku tidak bisa mengobatinya tapi setidaknya bisa meringankan bebannya," ucap Lina.
Jordan dan teman temannya keluar, Vera Jordan Diva dan Darmendra pun masuk. Begitu juga dengan sikembar mereka masuk bersama istri istri mereka.
"Sudah lebih baik kak," jawab Lina. Mereka memeluk Lina satu persatu.
Tidak berapa lama masuk seorang pria bersama istrinya yang sedang duduk dikursi roda sambil memangku anaknya.
"Apa kabar dek?" tanya wanita itu.
"Baik nyonya," jawab Lina.
"Jangan panggil nyonya, panggil kakak saja," ucap wanita itu.
"Baik kak," jawab Lina.
"Kami kemari untuk menemuimu, sekaligus ingin mengucapkan terimakasih karena telah menyelamatkan anak dan istri saya," ucap pria itu.
"Tidak perlu berterimakasih, aku ikhlas menolong. Dan aku juga tidak tega membiarkan bayi tersebut dalam bahaya. Awalnya aku tidak tahu kalau ada mobil yang terlempar dari jalan, tapi suara tangis bayi membuatku tergerak mendekati mobil tersebut." ucap Lina.
"Tuan, aku sangat bangga dengan keberanian putrimu," ucap pria itu kepada Darmendra.
"Iya, tuan Chandra aku juga sangat bangga," jawab Darmendra.
__ADS_1
"Istrimu apakah terluka parah?" tanya Diva pada Chandra.
"Istri saya mengalami lumpuh untuk sementara karena kakinya terbentur yang lain tidak kenapa kenapa," jawab Chandra.
"Kalau begitu kami permisi untuk kembali keruangan, istri saya begitu ngotot ingin bertemu penyelamatnya, dan kebetulan saya juga ingin bertemu dengan orang yang telah menyelamatkan anak dan isteri saya," ucap Chandra.
Darmendra dan Diva pun mengangguk, yang lain duduk di sofa hanya memperhatikan mereka.
Aida datang bersama Agus membawa makanan dan pakaian ganti untuk mereka, karena sejak semalam mereka tidak berganti pakaian, lalu Diva menyuruh Aida membawakan pakaian, soal makanan Aida berinisiatif sendiri tanpa diminta oleh majikannya itu. Subuh subuh sekali Aida sudah menyiapkan sarapan untuk dibawa kerumah sakit.
"Gak perlu repot-repot bik," ucap Ram.
"Tidak apa-apa tuan muda, hanya ini yang bisa bibik lakukan," jawab Aida.
Mereka pun makan, meskipun tadi mereka sudah makan dikantin rumah sakit, tapi demi menghargai usaha pelayan mereka pun memakan makanan tersebut, terlebih lagi para bumil yang doyan makan. Mereka sangat lahap makannya membuat Aida merasa senang dan merasa dihargai.
Kemudian setelah mereka selesai makan, Aida pun pamit pulang dan membawa rantang yang ia bawa tadi. Aida sangat bahagia hidup bersama suaminya meskipun tidak dikaruniai anak.
Johan dan teman temannya sudah pulang sejak tadi, karena mereka tidak ingin menganggu keluarga tersebut.
"Kita jadikan menemui kak Lina?" tanya Ethan, karena mereka hari ini izin sekolah.
"Jadilah, kita pamit dulu kepada orang tua," jawab Gibran.
Orang tua mereka tidak melarang mereka izin, karena mereka tahu kedekatan anak anaknya dengan Lina akhir akhir ini.
"Kalian mau kerumah sakit?" tanya Anisa, karena saat ini mereka berkumpul dirumah Gibran.
"Iya ma," jawab Gibran.
"Mama dan Papa juga mau ikut," kata Anisa.
"Emang Papa tidak kekantor?" tanya Gibran.
"Tidak, Papa hari ini tidak kekantor," jawab Aldo yang baru keluar dari dalam kamar.
"Kalau begitu kita sama sama pergi kerumah sakit," ucap Ethan.
.
.
.
__ADS_1