Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Seperti di film action


__ADS_3

.


.


.


Randy memperhatikan pistol itu dengan seksama, tidak berapa lama keningnya mengernyit seketika.


"Inikan pistol mainan?" tanya Randy.


"Iya, ini memang pistol mainan tapi sudah dimodifikasi oleh Abang kami menjadi senjata yang lebih ampuh, ingat pergunakan bila kepepet dan jangan sampai meleset. Karena pelurunya itu adalah jarum yang mengandung bius," kata Lita menjelaskan.


"Awas saja kalau tidak tepat sasaran," ancam Lina.


Gleek... keduanya menelan salivanya yang terasa tercekat, mereka tidak menyangka kalau teman sekolahnya bisa sehebat itu. Jenius iya, mereka tahu kalau triple A jenius. Tapi kehebatan mereka ternyata diluar nalar orang biasa.


Alex menyeringai, karena rencananya kali ini akan berhasil untuk memaksa Ren menikahi putrinya. Alex berpikir, dengan mengerahkan pasukan inti dari kelompok mafia, Ren akan takut. Padahal Ren tidak gentar sedikitpun.


Tidak berapa lama telepon Alex berdering, Alex menerima telepon dari asistennya.


"Halo, ada apa?" tanya Alex.


"Tuan, perusahaan kita bangkrut," ucap sang asisten.


"Apa?" teriak Alex, sehingga para bawahannya menoleh serentak kearah Alex.


"Bagaimana bisa?" tanya Alex pada asistennya.


"Ada hacker misterius membobol perusahaan kita, semua data terkunci dan tidak bisa diperbaiki," jawab asisten dengan takut takut.


Kemudian Alex mematikan sambungan telepon secara sepihak.


Braak, Alex membanting ponselnya keaspal hingga hancur.


"Ada apa Pa?" tanya Jenifer.


"Perusahaan kita bangkrut," jawab Alex lemah.


"Apa? bagaimana bisa?" tanya Jenifer yang tidak terima harus jatuh miskin.


"Perusahaan dibobol oleh hacker misterius dan semua data terkunci," jawab Alex.

__ADS_1


Para bawahan Alex sudah siap berdiri disamping mobil mereka, ternyata mereka lebih ramai dari perkiraan Adam, dan mereka sudah siap untuk menunggu perintah dari tuan mereka.


"Kita berpencar," perintah Lina. Mereka pun mengangguk.


"Zaidan, kamu bisa diandalkan?" tanya Lina.


"Bisa, apa tugasku?" tanya Zaidan.


"Kamu bawa permen karet ini, kunyah sebentar dan tempelkan pada mobil mereka satu persatu." perintah Lina.


"Dan kamu Randy, kamu kawal Zaidan dari jauh, bila ada yang mendekat tembak," perintah Lina lagi.


"Siap...!" jawab Zaidan dan Randy bersamaan.


Sedangkan Lita dan Lica tidak perlu diperintahkan lagi, mereka sudah tau tugas masing-masing.


Alex yang sedang emosi memerintahkan bawahannya untuk menyerang Ren. Ren dan Adam pun keluar dari mobil, bersamaan dengan itu mobil saudaranya juga datang. Yang paling terakhir adalah mobil Darmendra bersama Diva.


"Siapa mereka?" tanya Darmendra saat mereka sudah berkumpul.


"Kelompok mafia black snake," jawab Ren.


"Bosnya rekan bisnis Ren, Dad." kata Ram.


"Karena aku menolak untuk menikahi putrinya," jawab Ren enteng.


"Tunggu apalagi? serang...!" teriak Alex. Para bawahan Alex maju untuk menyerang mereka, tapi tiba tiba...


Duarr..., sebuah ledakan mobil yang paling belakang terdengar cukup keras. Zaidan mengusap dadanya karena kaget.


"Wah keren, ternyata ini fungsi permen karet ini. Waaah seperti di film action," teriak Zaidan. Ia lupa kalau sedang berperang. Tak lama mobil yang lain pun ikut meledak, para bawahan Alex jadi panik, kesempatan ini mereka gunakan untuk menyerang. Triple A menembak satu persatu musuh. Zaidan dan Randy juga tidak ketinggalan.


"Asik ya?" teriak Zaidan, melihat musuh satu persatu tumbang membuat Zaidan semakin semangat menembak walaupun ada juga yang meleset. Sikembar tersenyum melihat kepanikan anak buah Alex.


"Pasti itu ulah triple A," gumam Ren. Yang lain mengangguk.


Ren menyerang Alex, dan saudara saudaranya menyerang bawahan Alex, Darmendra juga ikut dalam perkelahian tersebut. Sedangkan Diva menyerang Jenifer.


Jenifer menendang kearah Diva, tapi dengan gesit Diva mengelak.


"Hoh ho, ternyata bisa beladiri juga kamu," ucap Jenifer merendahkan Diva.

__ADS_1


Tapi Diva tidak menjawab, ia tidak mau terkecoh oleh lawan. Jenifer kembali menendang tapi kali ini Diva menangkis tendangan tersebut dengan tangannya. Jenifer semakin emosi. kemudian Jenifer melayangkan tinjunya kearah Diva, Diva menangkap tangan itu dan memelintirnya.


"Aakh...!" teriak Jenifer karena Diva berhasil memelintir tangannya. kemudian Diva menendang lipatan kaki Jenifer hingga lutut Jenifer menyentuh aspal. Dengan tangan sebelahnya, Jenifer berusaha melawan, hingga kuncian Diva terlepas.


Jenifer mengeluarkan pistol dari balik pakaiannya, dan menodongkannya kearah Diva. Diva tidak gentar sedikitpun, hal itu sudah terbiasa ia alami.


"Kali ini saya pastikan kamu tidak akan selamat, wanita tua," ucap Jenifer. Diva hanya tersenyum tipis saja.


Diva mencari celah untuk menjatuhkan pistol tersebut, saat Jenifer semakin mendekat peluang itu tidak disia siakan oleh Diva, dengan gerakan cepat Diva menendang tangan Jenifer hingga pistol yang dipegangnya terlepas, kemudian Diva berlari kearah pistol tersebut dan menendangnya hingga pistol itu tidak terlihat lagi karena gelapnya malam. Ditempat mereka bertarung, cahaya lampu jalan menerangi mereka jadi bisa terlihat satu sama lain.


Diva menyerang Jenifer tanpa jeda, sehingga Jenifer terkapar diaspal dengan wajah banyak darah karena dihajar oleh Diva, setelah itu Jenifer pun pingsan.


Sementara Zaidan sedang keasikan menembak para musuhnya hingga banyak yang terkapar pingsan.


"Hebat juga benda ini,"gumam Zaidan. Saat ia lengah satu tendangan mendarat sempurna diperutnya Zaidan terlempar beberapa meter dari tempatnya berdiri. Seketika itu juga iapun pingsan.


Randy dan triple A juga sedang sibuk bertarung melawan para bawahan Alex. Sikembar dan Darmendra juga masih melawan, beruntung mereka semua tidak menggunakan pistol.


Ren masih bertarung melawan Alex, ternyata Alex lawan yang cukup kuat. Diva menghampiri Ren dan membantu melawan Alex. Keduanya bekerjasama demi mengalahkan musuhnya. Alex yang diserang bertubi-tubi pun kualahan, nafasnya sudah mulai tidak teratur. Diva dan Ren saling pandang, seolah tau apa yang akan mereka lakukan, hingga tiba tiba Diva mengangkat kakinya menendang memutar tepat mengenai telinga Alex, konsentrasi Alex menjadi buyar, dan kesempatan itu Ren gunakan untuk mengalahkan Alex. Ren menendang memutar beberapa kali hingga Alex pun tumbang dan tersungkur keaspal. kemudian keduanya bertos ria.


"Masih banyak musuh," ucap Darmendra disela sela bertarungnya. Padahal musuh sudah banyak yang tumbang karena ulah Zaidan yang masih belum sadarkan diri.


Kini musuh tinggal tersisa 10 orang, mereka semua berkumpul dan maju bersama. Darmendra dan Diva, sikembar triple A dan Randy. Tidak ketinggalan juga Adam setelah ia mengalahkan banyak musuh. Musuh yang tersisa mundur perlahan, tapi dari segala sisi musuh itu telah dikepung oleh mereka, hingga tidak ada yang bisa lari. Akhirnya mereka menghajar musuh tersebut hingga pingsan.


"Akhirnya selesai juga," ucap Diva.


Randy menoleh ke kiri dan kanan karena tidak ada Zaidan menghampirinya. Lalu Randy berjalan kearah Zaidan tadi berada, dan benar saja Zaidan masih tergeletak disitu dan belum sadarkan diri.


"Tolong, temanku pingsan," teriak Randy. Sikembar Darmendra Diva Adam dan triple A segera ketempat Randy.


"Cepat bawa dia kerumah sakit," perintah Ren.


Akhirnya mereka semua pun membawa Zaidan kerumah sakit, karena Zaidan juga berjasa membantu mereka untuk mengalahkan musuh.


.


Mohon maaf tidak bisa membalas komentar kalian satu persatu, tapi komentar kalian sangat membantu untuk aku terus menulis.


Sebisa mungkin aku akan menyenangkan hati kalian, saat kalian meminta ada konflik, hanya ide ini yang terlintas di pikiranku.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2