Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Pemberani.


__ADS_3

.


.


.


Bos penjahat itu menyerang dengan membabi buta, tapi Lina santai saja menghindar menangkis serangan tersebut. Hingga akhirnya Lina tidak ingin main-main lagi, dan....


Bruuk..."aakkkhh" jeritan bos itu terdengar menyayat hati saat telur kebanggaannya ditendang oleh Lina. Pria itu langsung tersungkur ditanah sambil mengapit kedua lutut dan pahanya. Airmata pria itu lolos keluar dari sudut matanya karena menahan rasa sakit yang luar biasa. Tidak sampai disitu, Lina dengan tanpa hati menginjak dada pria itu dan berkata.


"Penjara adalah tempat yang tepat untuk kalian," setelah itu penjahat itupun pingsan.


Polisi datang bersamaan dengan Agus juga datang menjemput mereka.


"Tangkap mereka Pak, mereka hendak menculik anak di sekolah ini. Beruntung cepat kami gagalkan," ucap Lica.


"Terimakasih, kalian memang anak anak pemberani. Perhatian semuanya seharusnya kita mencontoh keberanian anak ini. Dan untuk kalian semua sebisa mungkin harus belajar ilmu beladiri untuk menjaga diri sendiri," ucap komandan polisi dengan lantang pada mereka yang sejak tadi menjadi penonton, termasuk para guru yang juga ada disitu.


Mereka semua terdiam, tidak tahu berkata apa-apa. Memang benar apa yang dikatakan oleh komandan polisi tersebut. Polisi memang menjaga keamanan tapi kejahatan bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Tugas polisi menangkap penjahat bila ada laporan, dan tidak 24 jam berapa disisi mereka.


"Terimakasih atas kerjasamanya," ucap komandan polisi tersebut. Penjahat yang pingsan sudah diangkat kedalam mobil. Triple A termasuk orang yang kejam bila menyangkut kejahatan, tapi sesungguhnya hatinya sangat baik dan lembut apabila ada yang butuh pertolongan.


Setelah semuanya selesai triple A pun masuk kedalam mobil, Agus tidak berani bertanya apa apa ia hanya menduga duga saja kalau majikan kecilnya telah menumpas kejahatan.


Agus menjalankan mobilnya perlahan keluar dari area sekolah. Setelah itu baru Agus melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata rata. Agar mereka cepat sampai di mansion.


Di kampus...


Ram menemui kekasih hatinya, dengan santai ia berdiri disamping mobil miliknya. Tiba tiba ada seseorang menghampirinya, seorang wanita yang juga mahasiswi di kampus tersebut.


"Boleh kenalan gak?" tanya wanita itu, wanita itu terkenal dengan wanita penggoda.


Ram tidak menggubris sama sekali, tidak berapa lama datang Rasya. Melihat mobil mewah milik Rasya, wanita itu menghampiri Rasya yang baru keluar dari mobil.


"Hai, kalian kembar ya? Kok sama?" tanya wanita itu.


Rasya juga sama tidak menggubris wanita tersebut, dan malah berjalan mendekati Ram.


"Sudah lama?" tanya Rasya.


"Belum, baru beberapa menit tapi udah bikin badmood," jawab Ram.


"Kenapa emang?" tanya Rasya.

__ADS_1


"Tuh, ada cewek g*la," jawab Ram sambil menunjuk menggunakan mulutnya. Rasya tersenyum.


Tidak berapa lama keluar Cahaya bersama Adira. Dan Azura juga sudah mulai kuliah disini, tapi mereka tidak berteman satu sama lain mungkin karena belum terlalu kenal. Keduanya menghampiri kekasihnya yang sudah menunggu. Wanita tadi tanpa rasa malunya menggoda Rasya didepan Adira.


"Maaf Sop," panggil Adira pada wanita itu yang bernama Sopie. Wanita itu menoleh dengan tatapan tajam karena dipanggil sop.


"Apa Lo bilang?" tanya wanita itu dengan muka memerah marah.


"Nama Lo Sopie kan? Jadi gue panggil Sop, salahnya dimana coba?" tanya Adira.


"Sudah gue bilang, gue gak suka dipanggil Sop, nama gue Sopie." ucap Sopie menekankan kata katanya.


"Kalau tidak mau di panggil Sop, suruh orang tua Lo ganti nama Lo, Maimunah kek, juminten kek, atau jal*ng juga bisa," ucap Adira tanpa dosa.


Sopie yang sudah emosi pun mengangkat tangannya hendak menampar Adira, tapi dengan cepat Adira menendang tulang kering Sopie hingga ia terjingkrak jingkrak kesakitan.


"Emang enak," ucap Adira mengejek. Semakin marahlah Sopie.


"Mari kita pergi daripada melayani cewek g*la nanti ikutan g*la," ucap Ram, wajah Sopie sudah semakin merah ditambah lagi dengan dikatakan cewek g*la.


"Aaaaaakkh," jeritan Sopie menggema dikawasan kampus tersebut, sementara kedua pasangan tersebut sudah berlalu dari kampus ini.


"Kemana kita?" tanya Cahaya.


"Ke KUA yuk," ajak Ram tanpa menoleh kearah Cahaya.


"Emang nikah itu main main?" tanya Cahaya.


"Setelah menikah kita bisa main main," jawab Ram.


"Dasar mes*m, pikiran kesitu aja." ucap Cahaya.


"Yang mes*m itu siapa? Main main maksudnya banyak, pikiran kamu aja yang menjurus kesitu," tanya Ram. Seketika Cahaya jadi malu, memang benar pikirannya sudah menjurus kearah lain. Padahal yang dimaksud Ram main main itu bukan kearah itu.


"Sudah, nyetir yang benar," ucap Cahaya menetralkan perasaan malunya.


Mobil mereka pun melaju dijalan raya, dengan kecepatan sedang. Sedangkan Rasya dengan Adira entah kemana tujuan mereka. Yang penting mereka sedang mencari tempat untuk makan.


"Kita mau kemana sebenarnya?" tanya Cahaya.


"Mau kebutik cari gaun," jawab Ram.


"Untuk apa? Pakaianku juga masih banyak?" tanya Cahaya.

__ADS_1


"Untuk pesta nanti malam, ada rekan bisnis kami dahulu dan anaknya menikah," jawab Ram.


"Boleh kita makan dulu gak, aku lapar," ucap Cahaya.


"Boleh, dimana?" tanya Ram.


"Jalan xxxx, disana makanan juga enak," jawab Cahaya. Lalu keduanya menuju rumah makan tersebut, mereka orang kaya tapi jarang makan di restoran mewah.


Tidak butuh waktu lama mereka pun tiba dirumah makan tersebut, ternyata disana sudah ada Rasya bersama Adira yang juga baru sampai.


"Kalian juga kesini?" tanya Adira.


"Iya, disini makanannya enak." jawab Cahaya.


"Selamat datang tuan," ucap pemilik rumah makan tersebut. mereka hanya mengangguk. Pemilik rumah makan tersebut tidak heran lagi dengan sikap seperti ini, baginya mereka mau datang kemari pun sudah cukup membuatnya senang. Dan sebisa mungkin bersikap ramah pada pengunjung.


"Mau makan apa atau minum?" tanyanya lagi.


"Hmmm, Seblak ceker pedas dan minumnya teh es manis," jawab Cahaya.


"Sama deh," jawab Adira.


"Samain aja Pak," kata Ram. Akhirnya mereka memesan menu yang sama.


"Ehh Pak, sop iga kambing juga ya empat porsi," ucap Ram karena ia melihat ada gambar sop dan bertuliskan sop iga kambing. Bapak itupun mengangguk.


"Kalian sudah membeli gaun?" tanya Ram, Rasya menggeleng.


"Gaun? Untuk apa?" tanya Adira.


"Nanti malam kita akan menghadiri pesta pernikahan seseorang, anak dari rekan bisnis kami," jawab Rasya.


"Tapi aku tidak pernah kepesta orang orang kaya," ucap Adira.


"Maka dari itu kita datang, masa kami harus ngajak cewek lain," ucap Rasya lagi.


"Nggak," jawab Adira dan Cahaya serentak. Mereka tidak rela pujaan hatinya pergi dengan cewek lain.


"Kami akan pergi, apapun yang terjadi," kata Adira mantap.


Ram dan Rasya tersenyum senang karena berhasil memancing kekasihnya itu. Tidak berapa lama pesanan mereka pun tiba, pemilik rumah makan tersebut mengantarnya menggunakan nampan besar, dan istrinya juga ikut mengantarkan pesanan tersebut.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2