Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Maaf Mobilnya hancur


__ADS_3

.


.


.


Mereka kini kembali ketempat semula, tidak lupa Irwan mengamankan barang barang yang ada didalam mobil tersebut. Irwan membawa motor milik Ansel, karena mobilnya sudah dibawa oleh rekannya. Sebenarnya Irwan ingin pulang untuk menemui keluarganya, karena ada kejadian tidak terduga terpaksa ia juga turun tangan. Sebagai seorang polisi yang bertanggung jawab apapun dan dimana pun ia tidak akan menutup mata melihat kejadian tersebut.


"Ini barang barang Bapak," ucap Irwan setelah mereka tiba ditempat pria paruh baya tadi.


"Terimakasih banyak, karena telah menyelamatkan saya," ucap pria itu yang bernama Suryo.


"Berterimakasih lah kepada mereka, karena mereka yang telah meninggalkan perampokan tersebut. Dan maaf mobilnya hancur bagian depannya," ucap Irwan.


"Kalau tidak ada apa-apa lagi, kami permisi," ucap Lina.


"Sebentar nak, ini ada sedikit uang untuk jajan kalian," Suryo memberikan segepok uang mungkin sekitar 5 jutaan.


"Maaf paman, kami ikhlas menolong dan tidak mengharapkan imbalan," tolak Lina dengan halus.


"Kalau begitu apa yang kalian inginkan?" tanya Suryo. Triple A tersenyum saja.


"Paman, mereka itu cucu Jordan Henderson," jawab Johan.


"Haah, benarkah? Pantas saja kalian tidak ingin uang, ternyata cucu dari keluarga terkaya," ucap Suryo terkejut.


"Bukan begitu Paman, memang kami tidak ingin imbalan apa apa, kami ikhlas menolong," jawab Lina.


"Sebaiknya paman kerumah sakit, kelihatannya Paman terluka," ucap Lica mengalihkan pembicaraan.


Sedangkan Irwan sudah pulang menggunakan taksi karena ia sudah tidak sabar ingin bertemu keluarganya dirumah.


Triple A, Johan dan sahabatnya juga pulang, karena urusan mereka sudah selesai. Triple A menolak saat Johan dan sahabatnya ingin mengantarkan mereka pulang. Mereka tidak ingin merepotkan jadi mereka memilih menggunakan skuter saja.


"Baru saja sembuh, sudah ada saja yang buat ulah," ucap Lina pada saudaranya.


"Sepertinya nasib kita tidak beda jauh dengan Abang kembar, Mommy bilang Abang dulu juga begitu bahkan sampai sekarang," jawab Lica.


"Aku jadi haus," ucap Lita menyela.


"Yee, itu karena kamu melihat penjual es tebu, bilang aja mau beli," kata Lica.


Merekapun singgah di gerobak penjual es tebu. Padahal mereka membawa air mineral kemasan botol.


"Bang es tebu tiga bungkus," kata Lina. Kemudian mereka duduk ditempat teduh karena cuaca sudah mulai panas.


"Ehh, ternyata sudah jam 11 siang," ucap Lica saat melihat jam tangannya.


"Wajarlah, perjalanan kita sudah sangat jauh," ucap Lita. Tidak berapa lama es tebu yang mereka pesan pun siap. Lina langsung membayar dengan uang seratus ribu.

__ADS_1


"Maaf dek belum ada kembalian, soalnya adek adek ini orang yang pertama membeli," ucap Abang penjual es tebu.


"Gak apa-apa bang, ambil aja," jawab Lica.


"Tapi dek, ini kebanyakan," kata Abang itu.


"Gak apa-apa, itu rezeki Abang jangan ditolak," ucap Lina.


Hanya dalam sekejap es tebu yang mereka minum sudah habis, kemudian mereka melanjutkan perjalanan mereka untuk pulang.


"Kalau begini kita seperti petualang saja," ucap Lica.


"Iya, tapi seru loh," jawab Lita.


"Dasar bocah," ucap Lina.


Akhirnya mereka tiba di mansion, pintu gerbang pun terbuka, mereka langsung masuk setelah menyapa penjaga gerbang tersebut.


"Sebab itulah aku betah bekerja disini, semua keluarga ini ramah," ucap penjaga gerbang.


"Iya, aku juga," jawab temannya.


Triple A sudah tiba didepan pintu, kemudian mereka pun masuk dan berlarian layaknya anak kecil. Kalau dilihat seperti ini, sepertinya mereka anak anak yang tidak bisa apa-apa?.


"Kami pulang," teriak triple A serentak. Vera dan Diva yang berada diruang tamu segera menoleh.


"Loh kok sudah pulang? Memangnya tidak ada pelajaran?" tanya Vera.


"Kakak...!" Lica segera memeluk Nadine yang baru keluar dari lift.


"Sudah pulang? Sudah makan?" tanya Nadine, mereka menggeleng.


"Kita makan bareng yuk," ajak Nadine.


Kemudian keluar lagi Aisyah, Cahaya, Adira, Danita, Keyla dan Prita. Triple A juga langsung memeluk mereka satu persatu.


"Ada apa ini?" tanya Cahaya.


"Gak ada, cuma pengen peluk," ucap Lina sambil mengelus perut Cahaya yang sudah sedikit menonjol.


"Masih lama ya kak baru lahiran?" tanya Lina.


"Mmm, 8 bulan lagi katanya," jawab Cahaya.


"Sudah tidak sabar pengen lihat dedek bayinya," ucap Lina. Cahaya tersenyum melihat tingkah manja adik iparnya itu.


"Kalau dilihat begini, kalian seperti bukan gadis tangguh," ucap Cahaya.


"Kakak juga, kelihatannya lemah lembut, tapi sekalinya marah bikin ngeri," ucap Lina, mereka yang mendengarnya semua tertawa.

__ADS_1


"Jangan terlalu jujurlah," ucap Cahaya tersipu malu.


"Nyonya, makanan sudah siap," ucap Aida. Kemudian mereka pun bangkit dari duduknya masing-masing dan berjalan menuju ruang makan.


Semenjak menantunya hamil, Diva melarang menantunya untuk masak dan melakukan pekerjaan berat. Mereka dilayani dengan sangat baik di mansion ini. mereka sangat bersyukur dipertemukan dengan pria sebaik sikembar.


Saat mereka hendak menyuapkan nasi kedalam mulutnya, sikembar datang bersamaan, kemudian disusul oleh Darmendra yang juga pulang dari kantor.


"Loh kok sudah pada pulang?" tanya Vera.


"Kerjaan tidak terlalu banyak Mom," jawab Darmendra. Sedangkan sikembar langsung mengambil nasi dan lauk yang akan mereka makan. Istri istri mereka hendak melayani tapi dicegah oleh sikembar.


"Tidak perlu sayang," ucap Ren pada Aisyah.


"Lanjutkan saja makannya biar aku ambil sendiri," ucap Ram pada Cahaya.


Sedangkan yang lain juga seperti itu, istri istri mereka tidak jadi melayani mereka.


Selesai makan, mereka berkumpul sebentar diruang keluarga, sedangkan triple A langsung masuk kedalam kamar karena mereka hendak mandi. Sebab tadi mereka makan dulu karena sudah kelaparan sehabis kejar kejaran dengan perampok.


Selesai mandi telepon Lina berdering menandakan panggilan masuk. Lina melihat nama pemanggil ternyata dari Ethan.


"Halo, ada apa?" tanya Lina to the point.


"Kakak dimana? Kami kesekolah kakak tapi tidak ada," ucap Ethan.


"Kami sudah pulang sejak tadi," jawab Lina.


"Ya sudah, kalau begitu kami juga pulang," jawab Ethan lalu mematikan sambungan teleponnya.


"Ada ada saja tuh anak," gumam Lina sambil tersenyum, kemudian iapun masuk keruang ganti. Hanya dalam sekejap ia keluar dari ruangan tersebut dengan pakaian lengkap.


"Haah," Lina menghela nafas lalu membaringkan tubuhnya diatas ranjang dan mengambil ponselnya karena berdering kembali.


"Nomor tidak dikenal?" batin Lina, karena penasaran iapun menjawabnya.


"Hal...!" belum sempat Lina melanjutkan kalimatnya suara dari seberang sana sudah lebih dulu berbicara.


"Apa kabar?" tanya suara itu, tentu saja suara itu sangat Lina kenal. Lina terdiam sejenak mendengar suara itu.


"Loh kok diam?" tanya suara itu.


"Aku harus ngomong apa?" tanya Lina.


"Apa saja yang penting buat kamu senang," jawab suara itu. Lina kembali terdiam.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2