Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Preman jalanan.


__ADS_3

.


.


.


Sore harinya sekitar pukul 4 sore, triple A bersiap siap untuk pergi jalan jalan ketaman kota. Mungkin sampai malam, karena mereka juga ingin melihat taman dimalam hari.


"Mommy...!" teriak Lica sambil bergelayut manja dilengan Diva.


"Ada apa sayang, hmmm?" tanya Diva sambil mengelus pipi Putri bungsunya itu.


"Kita mau ketaman, mungkin malam baru pulang. Bolehkan Mom?" tanya Lica.


"Boleh, tapi jangan terlalu malam nanti bahaya," pesan Diva.


"Asik...!" teriak Lica.


"Pergi dulu Mom," ucap triple A serentak. Diva mengangguk.


"Mau kemana mereka?" tanya Vera saat melihat triple A sudah berjalan menuju pintu utama.


"Mau ketaman, melihat taman dimalam hari," jawab Diva.


"Kok diizinkan? Nanti bahaya loh?" tanya Vera.


"Mereka bisa jaga diri Mom, semoga saja tidak apa-apa," jawab Diva.


"Iya, Mommy tau mereka itu kuat, tapi mereka itu tetap masih anak anak. Perempuan lagi..!" kata Vera risau.


"Mommy tenang saja, hubby sudah menyiapkan pengawal bayangan untuk mereka. Bila terjadi sesuatu dan mereka tidak bisa mengatasinya maka pengawal bayangan akan membantu mereka," jawab Diva.


"Syukurlah kalau begitu, Mommy pikir kalian akan membiarkan mereka begitu saja," ucap Vera.


"Tidak lah Mom, waktu sikembar dulu juga ada pengawal bayangan, setelah mereka besar baru tidak lagi," ucap Diva. Vera pun manggut-manggut.


Tidak berapa lama Darmendra keluar dari kamar dan menuruni anak tangga menuju dapur dimana istri dan Mommynya berada.


"Sedang apa sayang?" tanya Darmendra.


"Buat kue hubby, daripada gak ada pekerjaan," jawab Diva.


"Sayang, kamu selalu tidak bisa diam," ucap Darmendra.


"Gak apa-apa hubby, daripada bosan dikamar terus hanya bisa buka baju," jawab Diva enteng.


"Itu lebih asik, sayang," goda Darmendra sambil menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


"Asik di kamu hubby capek di aku," kata Diva.


"Hehe, tapi kamu suka kan sayang, hmmm." Darmendra memeluk Diva dari belakang tak peduli Vera berada disitu.


"Ehhem, ehhem, uhuk uhuk," Vera berdehem dan berpura pura batuk.


"Ehh Mommy, aku kira lemari," ucap Darmendra tanpa dosa. Pletak... sendok nasi mendarat di kening Darmendra.


"Aduh, sakit Mommy. Ini namanya kdrt." ucap Darmendra.


"Salah sendiri, mau mesra mesraan tidak kenal tempat." kata Vera.


"Ada apa ini?" tanya Jordan yang baru datang kedapur.


"Daddy, Mommy melakukan penganiayaan terhadapku," jawab Darmendra dramatis.


"Kamu ada salah mungkin?" tanya Jordan, Darmendra menggeleng.


"Lebih baik hubby duduk saja, kuenya sebentar lagi matang," perintah Diva. Darmendra hanya menurut saja.


"Kemana triple A?" tanya Darmendra.


"Keluar jalan jalan, ketaman mungkin," jawab Diva.


"Kenapa dibiarkan? Apa tidak bahaya?" tanya Jordan.


"Tenang saja mereka bisa menjaga diri sendiri," ucap Diva lagi.


"Biar bagaimanapun mereka itu anak cewek, takutnya sesuatu terjadi pada mereka," jawab Jordan.


"Kami selalu memantau mereka Dad, lewat pengawal bayangan yang kami tugaskan," kata Darmendra. Jordan tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia hanya manggut-manggut saja.


Tidak berapa lama kue bikinan Diva pun matang, hanya menunggu dingin saja baru boleh dimakan.


Sementara orang yang mereka khawatir sedang asik jalan jalan menggunakan skuter milik Abang Abangnya dulu, ketiganya sedang dalam perjalanan menuju taman kota. Tidak terlalu jauh hanya sekitar 30 menit dari mansion mereka kalau menggunakan kendaraan.


Tiba tiba dari arah belakang ada sebuah motor melaju kearah mereka, triple A yang mempunyai insting yang kuat merasakan kalau orang itu berniat jahat. Dan benar saja saat sudah dekat orang yang dibonceng motor itu mengulurkan tangannya hendak menggapai ras ransel yang dibawa oleh triple A.


Yang menjadi sasarannya adalah Lica, belum sempat orang itu menggapai tas ransel milik Lica, Lica lebih dulu menarik tangan orang tersebut dengan kuat, hingga orang itu terjatuh terjungkal keaspal. Sedangkan temannya yang mengendarai motor tersebut masih melaju tanpa mempedulikan temannya yang terjatuh.


Triple A menghajar orang itu hingga tidak sadarkan diri. Kemudian temannya yang kabur tadi ternyata membawa teman yang lain. 4 buah motor mengelilingi triple A yang baru saja menghajar salah satu dari mereka tadi.


"Hati hati, ternyata mereka punya kelompok," bisik Lina pada kedua saudaranya.


4 buah motor itu masih mengelilingi mereka bertiga. Lica mengeluarkan pistol mainan yang dulu pernah dipakai oleh sikembar, dan membidik kesalah satu dari mereka. Hingga satu dari mereka tumbang bersama motornya, dan yang dibonceng juga terlempar keaspal. Tiga buah motor yang lain pun berhenti dan terkejut melihat temannya terlempar dan satu pingsan dan satunya lagi tertimpa motor dikakinya.


"Apa yang terjadi?" tanya salah satu dari mereka, yang lain menggeleng karena memang benar tidak tahu apa yang terjadi?

__ADS_1


"Dia pingsan bos, ucap anak buah preman tersebut. kemudian yang tertimpa motor segera diangkat karena tidak bisa berjalan.


"Sebenarnya apa yang Paman inginkan? Mengapa menghalangi jalan kami?" tanya Lina.


"Hahaha, kami cuma mau uang kalian, cepat serahkan," perintah bos preman tersebut.


"Cih... cuma preman jalanan sok berkuasa, nih kami anak ketua mafia," ucap Lica sambil menepuk dadanya sendiri.


Gleek, bos preman itu dan anak buahnya menelan salivanya karena terasa tercekat di kerongkongan mereka.


"Bos, anak itu sepertinya tidak main-main bos. Lihat mereka juga tidak takut dengan kita," ucap salah satu anak buahnya yang mulai percaya dengan kata-kata Lica yang mengaku anak ketua mafia.


"Diam..!" bentak bos preman tersebut. Seketika anak buahnya diam.


"Mau coba paman? Lihat sudah tiga orang yang tumbang, sekarang tinggal 5 orang," ucap Lina.


"Bos...!" panggil anak buah preman itu dengan pelan.


"Diam, dan jangan takut. Mereka hanya anak kecil," jawab bos preman itu.


"Apa yang bisa kalian lakukan anak kecil?" tanya bos preman itu.


"Banyak paman, dan salah satunya membuat kalian menghilang dari muka bumi ini." ucap Lina.


"Hahaha, anak kecil bisa apa? jangan menghalu terlalu tinggi, hahaha.. aaakh." perkataan preman itu terhenti tiba-tiba karena Lina sudah menyumbat mulut preman itu dengan pistol yang mereka bawa.


"Tertawa lagi paman, tertawa terus," ucap Lina. Bos preman yang masih duduk diatas motor itu seketika terkencing dicelana saking takutnya.


"Iih, udah tua masih kencing dicelana," kata Lina jijik. Lina pun menjauh dari preman itu karena tidak tahan mencium bau Pesing.


"S*al ternyata aku dikerjain, ternyata itu adalah pistol mainan," umpat bos preman itu.


Ia turun dari motor, bersama anak buahnya untuk menghajar triple A.


"Hei hentikan," teriak suara dari belakang triple A. Lina Lita dan Lica menoleh ke sumber suara dan ternyata Randy bersama Zaidan yang juga hendak ketaman, dan tidak sengaja keduanya melihat triple A sedang dikepung oleh preman jalanan.


"Kenapa kalian bisa ada disini?" tanya Lina dengan sikap yang dingin.


.


Mohon maaf sebelumnya, kalau cerita ini membosankan mungkin aku akan tamatkan lebih awal. Terimakasih karena sudah membaca karyaku ini yang masih baru belajar.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2