Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Menolong tidak harus diumbar umbar


__ADS_3

.


.


.


Mereka mulai menjauh dari kampung tersebut, Narti yang belum pernah bepergian jauh, apalagi sampai ke ibukota. Ia merasa terharu dan berterimakasih kepada mereka yang telah menolong. Selama ini ia hanya mengandalkan anaknya yang bekerja di ibukota.


"Nak, apa benar biaya pengobatan suami saya ditanggung?" tanya Narti yang masih belum percaya dengan apa yang baru saja ia alami.


"Benar Bun, karena kami adalah jaminannya," ucap Ram. Akhirnya Narti pun percaya sepenuhnya.


"Bunda sudah makan?" tanya Ram lagi, Narti menggeleng, sedangkan suaminya sudah tertidur dikursi penumpang. Ram kemudian singgah dirumah makan, dan membeli makanan berupa nasi bungkus. Setengah jam kemudian Ram sudah kembali dengan membawa nasi bungkus tersebut. Narti makan dengan lahap, jarang jarang mereka makan seenak ini. Apalagi ada rendang daging. Ram sengaja membeli lebih.


"Ayah makan ya," ucap Narti, kemudian ia menyuapi suaminya.


"Anak saya bekerja di ibukota, sudah lama dia tidak pulang. Hanya kirim uang untuk pengobatan ayah tapi masih belum cukup. Dan untuk makan sehari hari kami harus berhemat," ucap Narti berderai airmata.


"Aisyah yang berada didekat Narti pun memeluk wanita itu. Berniat untuk mengurangi beban yang mereka tanggung.


"Bunda yang sabar ya, nanti anak bunda kami kasih tau," ucap Aisyah.


"Bunda ada nomor teleponnya?" tanya Nadine meyakinkan seolah olah tidak mengenal anak dari wanita itu.


"Ada, nanti biar saya yang kasih tau bila sudah sampai di rumah sakit," ucap Narti.


Akhirnya mereka pun tiba dirumah sakit xxx, Ray memarkirkan mobilnya dan membawa Manto kedalam untuk pemeriksaan. Setelah dokter selesai memeriksanya, dokter pun berdiskusi dengan Ray Ram dan Ren.


"Lakukan saja yang terbaik Dok, semua biaya akan kami tanggung," ucap Ram.


"Baik, saya akan berusaha semaksimal mungkin," ucap dokter tersebut.


"Bun, kami sudah membayar semua biaya perawatan ayah, Bunda jaga ayah ya dokter sedang mengobatinya," ucap Ren.


"Dan ini ada sedikit uang untuk Bunda selama disini, kalau mau beli makanan minta tolong sama suster disini," ucap Ram. Lalu mereka menghubungi Azura untuk segera datang kerumah sakit sekaligus menemani Bundanya.


"Kami tidak bisa berlama-lama disini Bun, kami sudah menghubungi anak Bunda untuk datang kemari," ucap Nadine.


"Terimakasih banyak atas pertolongannya, semoga Allah membalas kebaikan kalian semua," ucap Narti dengan tulus.


Kemudian mereka pun pamit dan pergi meninggalkan rumah sakit tersebut. Tak lama setelah kepergian mereka, Azura datang setengah berlari memasuki rumah sakit.


"Bagaimana keadaan ayah Bun?" tanya Azura yang langsung memeluk Bundanya.


"Belum tau, dokter masih memeriksanya," jawab Narti. Azura pun menemani orang tuanya dirumah sakit.


"Bun dari mana Bunda dapat uang untuk biaya rumah sakit?" tanya Azura.

__ADS_1


"Allah telah mengirimkan orang baik untuk menolong kita, Nak." jawab Narti. Seketika Azura teringat dengan perkataan Nadine. Lalu ia mencari kontak Nadine ternyata tidak ada, nomor telepon yang lama sudah tidak bisa lagi.


"Bagaimana ciri ciri orangnya Bun?" tanya Azura.


"Tiga orang pemuda tampan, dan tiga gadis cantik. Katanya mereka dari yayasan xxx bahkan mereka juga merenovasi rumah kita," jawab Narti.


Sementara orang yang mereka bicarakan baru tiba di mansion keluarga Henderson. Mereka semua turun dari mobil dan disambut langsung oleh triple A. mereka langsung memeluk ketiga kakak iparnya itu.


"Adek, biarkan dulu kakaknya masuk," tegur Ray.


"sayang mandi dulu ya, setelah itu ganti pakaian," ucap Ram pada Cahaya. Cahaya mengangguk.


"Kakak kekamarku aja ya," ucap Lina pada Cahaya.


"Boleh deh, tapi pakaian kakak dikamar Abang kalian," kata Cahaya.


"Biar Lina ambilkan." ucap Lina.


"Kalian datang?" tanya Diva yang baru keluar dari kamar mereka.


"Iya Mom, kami mau mandi dulu Mom." jawab Aisyah. Mereka pun mandi dikamar Lina Lita dan Lica. Sebenarnya kamar tamu ada, tapi mereka ingin bersama kakak ipar mereka.


Sikembar sedang berkumpul dikamar Ray, mereka membicarakan tentang orang yang mereka tolong.


"Kenapa harus berbohong sih?" tanya Roy.


"Kenapa gak terus terang saja, kan gak perlu repot-repot harus pakai drama," ucap Rakha.


"Menolong orang tidak harus diumbar umbar," kata Ram.


Tok...tok, pintu kamar Ray diketuk Ray bergegas membuka pintu yang ternyata adalah Diva.


"Mommy, masuk Mom," ajak Ray.


Diva masuk dan duduk diantara anak anaknya, "Apa yang kalian sembunyikan?" tanya Diva.


"Tidak ada?" jawab sikembar serentak.


"Benar tidak ada? Mommy kenal kalian bukan satu atau dua tahun, tetapi sudah belasan tahun. Sekarang ceritakan ke Mommy," ucap Diva.


"Sebenarnya kami baru datang dari kampung xxxx, teman Nadine terkena musibah ayah nya sakit. Jadi kami mencoba untuk menolong." ucap Ram.


"Hal sebesar itu kalian sembunyikan?" tanya Diva.


"Kami tidak bermaksud menyembunyikan nya Mommy, kami hanya tidak mau menolong orang diumbar umbar, kami ikhlas walau harus berbohong," jawab Ram.


"Berbohong? Apa maksudnya?" tanya Diva.

__ADS_1


"Kami mengaku dari yayasan xxx, karena kami tidak punya alasan lain. Semua pengobatan dan juga perbaikan rumah mereka." ucap Ram.


"Apakah menolong orang harus ada alasan?" tanya Diva.


"Mommy, tidak mungkin kami tiba tiba datang sedangkan mereka tidak mengenal kami, harus ada alasan juga." jawab Ren.


"Baiklah, sekarang kita turun, kita makan malam dulu," ucap Diva. Diva keluar lebih dulu, barulah sikembar menyusul.


Dimeja makan sudah berkumpul keluarga mereka, hanya sikembar yang baru datang. Aisyah melayani Ren, Nadine melayani Ray dan Cahaya melayani Ram.


"Kalau begini rasanya pengen cepat cepat menikah," ujar Ray.


"Kenapa? Udah kebelet nikah?" tanya Darmendra.


"Belum sih, tapi kalau ada istri ada yang melayani," bukan Ray yang menjawab tetapi Ren.


"Kalian mau nikah serentak atau gimana?" tanya Jordan.


"Pengennya sih begitu, biar hemat waktu dan tempat. Hanya sekali mengadakan pesta," jawab Ram.


Aisyah Nadine dan Cahaya sudah tertunduk malu, wajah ketiganya memerah. Mereka tidak bisa berkomentar apa-apa.


"Sudah, jangan bahas itu dulu ketika akan makan," kata Diva. Mereka kemudian pun senyap.


Setelah selesai makan mereka berkumpul diruang keluarga, berbincang bincang ringan tentang pelajaran anak anaknya dan tenang pekerjaan juga. Sedangkan para gadis hanya menjadi pendengar, mereka tidak ada yang mau dibahas.


"Mommy kami kekamar dulu ya," ucap triple A. Karena mereka besok mau sekolah.


"Kalian istirahatlah," perintah Diva pada calon menantunya.


"Baik Mommy, kebetulan kami sangat capek," jawab Aisyah. Sikembar juga ikut ikutan kekamar, meskipun mereka tidak tidur sekamar.


"Kami juga capek Mom," ucap Ram.


"Alasan kalian terlalu klasik," ucap Darmendra.


"Hubby, mereka benar benar capek, mereka baru datang dari kampung xxxx," kata Diva.


Sikembar tersenyum mengejek Daddy nya, karena dibela oleh Mommy nya.


"Ya sudah kalau begitu kita kekamar juga ya sayang," kata Darmendra sambil menggendong istrinya ala bridal style.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2