Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Ngajak dinner.


__ADS_3

.


.


.


Hari yang ditunggu tunggu oleh Ray pun tiba, siang ini Ray berada diruang kerjanya diperusahaan miliknya. Ray merasa tidak tenang, sebentar sebentar ia melihat jam ditangannya.


"Lebih baik aku telepon Ram," gumam Ray.


Ray mencari kontak adiknya diponsel miliknya dan melakukan panggilan.


"Halo," sapa Ram diseberang sana.


"Hmmm," sahutan andalan dari Ray.


"Apa? Kok cuma hmmm? kalau tidak bisa ngomong mending gak usah telepon," tanya Ram.


"Iya, aku cuma mau tanya? Bagaimana persiapan untuk dinner nanti malam?" tanya Ray.


"Semua sudah diatur, tinggal beres saja. Gak sabar banget sih? Kalau sudah kebelet minta restu sama Mommy sana biar cepat dinikahkan," oceh Ram.


"Aku cuma nanya, sensi banget sih kaya orang lagi pms aja," ucap Ram.


"Tumben banget kamu banyak ngomong, oh ya cincin sudah dipesan, siapa tau mau langsung melamar?" tanya Ram.


"What... ngapain juga pake cincin segala? Kalau dia nolak gimana? Bisa jatuh martabak ehh salah martabat ku sebagai pria tampan diantara tujuh bersaudara," Ray.


"Narsis banget, wajah kita sama kali, kalau kamu tampan berarti aku juga," Ram.


"Udah deh, aku mau lanjut kerja ntar gak kelar kelar lagi," kata Ray, kemudian sambungan telepon pun terputus.


Ray menghela nafas panjang dalam hatinya masih merasa belum tenang sebelum mendengar jawaban langsung dari Nadine.


Tidak lama pesan pun masuk ke ponselnya Ray.


"Tenang, Nadine juga cinta sama kamu, percaya dirilah dalam mengungkapkan perasaanmu nanti," Ray tersenyum membaca pesan yang dikirim oleh Ram kepadanya.


"Terimakasih saudaraku," balasan pesan dari Ray.


Ray melakukan pekerjaan dengan cepat agar nantinya tidak terlalu menumpuk, "Cepat selesai cepat bertemu pujaan hati," batin Ray


Berbeda dengan Ray berbeda pula dengan Nadine, Nadine membongkar isi lemari pakaian miliknya mencari gaun yang cocok untuk nanti malam, Nadine yang sejatinya tidak terlalu suka memakai gaun pun merasa bingung sendiri dengan pakaian yang nantinya ia pakai.


"Mau pakai apa ya? Tidak mungkin aku akan pakai celana jeans dan kaos oblong," gumam Nadine.


Tok...tok...tok... pintu kamar Nadine diketuk, ternyata sang Mama yang masuk dan terkejut melihat kamar Nadine seperti pasar lelang.

__ADS_1


"Ya Allah, ada apa ini?" tanya Diana.


"Lagi cari pakaian yang cocok, untuk makan malam nanti," jawab Nadine.


"Kenapa gak kebutik aja sih, masih banyak waktu untuk beli pakaian kebutik," ucap Diana.


"Tapi aku bingung ma soalnya aku jarang pakai gaun," kata Nadine.


"Pergi kebutik sana, pilih gaun yang cocok untukmu, anak mama kan cantik, pakai apapun tetap cantik," ucap Diana sambil tersenyum.


Lalu Nadine pun pergi kebutik untuk membeli gaun disana, Nadine mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, karena ia juga tidak terlalu terburu buru, sedangkan butik yang akan ia tuju tidak terlalu jauh dari rumahnya. Sesampainya di butik, Nadine disambut ramah oleh pelayan tersebut.


"Silahkan Nona," ucap pelayan itu sambil tersenyum, Nadine pun tersenyum pula.


"MMM, aku mau cari gaun untuk makan malam," kata Nadine.


"Mari nona," ucap pelayan itu, dan Nadine pun mengikutinya.


"Kami ada beberapa gaun untuk makan malam, silahkan nona pilih yang cocok menurut nona," kata pelayan itu. Nadine cukup kebingungan dalam memilih gaun tersebut.


"Saya rasa ini cocok untuk nona," ucap pelayan itu sambil menunjukkan salah satu gaun yang ada dimanekin.


"Hmmm, boleh dicoba dulu mbak?" tanya Nadine.


"Silahkan nona," jawab pelayan itu lalu melepaskan gaun tersebut.


Nadine masuk keruang ganti untuk mencoba gaun itu, lalu ia keluar untuk minta pendapat kepada pelayan itu dan pelayan itu tersenyum saat melihat Nadine begitu cantik dengan gaun yang ia kenakan.


"Terimakasih, kalau begitu aku ambil yang ini saja," kata Nadine.


Nadine langsung membayar gaun tersebut, pelayan itu tersenyum senang karena sudah dipastikan ia akan mendapatkan bonus dari bosnya karena sudah berhasil menjual gaun mahal tersebut.


"Terimakasih nona, silahkan datang lagi," ucap pelayan itu sambil membungkukkan badannya sebagai memberi penghormatan.


Nadine didalam mobil tersenyum ia tidak membayangkan kalau bisa jatuh cinta secepat ini. Saat tiba dirumah Nadine memarkirkan mobilnya dan segera keluar dari mobil, ia berlari kekamar dan kembali mencoba gaunnya, ia berputar putar didepan cermin.


"Pandai juga mbak itu memilih gaun yang pas untukku," gumam Nadine.


"Awalnya Nadine merasa risih karena memakai gaun, tapi demi tampil cantik didepan pujaan hati Nadine rela melakukannya.


"Wah cantik banget, inikan gaun limited edition yang baru keluar kemarin?" tanya Keyla yang tiba tiba masuk.


"Kamu kebiasaan deh kalau masuk tidak ketuk pintu bikin orang kaget saja," ucap Nadine.


"Ehh, tunggu tunggu. Kamu pakai gaun memang ada pesta ya?" tanya Keyla.


"Ray ngajak dinner," ucap Nadine.

__ADS_1


"Jadi kalian sudah resmi?" tanya Keyla yang tingkat kepo nya makin tinggi.


"Entahlah, dia belum nembak aku," jawab Nadine.


"Kamu sendiri bagaimana?" tanya Nadine.


"Gue?" kenapa dengan gue?" tanya Keyla balik.


"Kalian udah jadian apa belum?" tanya Nadine lagi.


"Udah dong, sepertinya dia sangat serius pada gue," jawab Keyla.


"Iya, Ray juga sepertinya tidak main-main, apa yang ia ucapkan selalu ia tunaikan," kata Nadine.


"Ya sudah gue mau mandi dulu, udah lengket nih habis dari kampus." ucap Keyla lalu keluar dari kamar Nadine.


Hari sudah sore, Nadine sudah berdandan cantik, dan ia memoles wajahnya dengan make-up waterproof yang sengaja ia beli sewaktu diluar negeri.


"Kok aku jadi grogi sih, udah kaya mau pergi kencan aja," batin Nadine.


"Calm down Nadine, calm down kamu pasti bisa," gumam Nadine.


"Sudah siap?" tanya Keyla tiba tiba masuk.


"Astaghfirullah, ngagetin aja." ucap Nadine.


"Lo kenapa selalu kaget gitu?" tanya Keyla.


"Aku grogi Key," jawab Nadine.


"Tuh, dibawah sudah ada pangeran tampan menjemput sang putri," ucap Keyla menggoda Nadine.


"Benarkah? Secepat itu?" tanya Nadine.


"Sekarang sudah jam berapa? Mungkin dia mau makan malam romantis ditempat yang romantis pula, mungkin ke pantai atau tempat tempat romantis lainnya," tanya Keyla.


"Ya sudah antar aku turun," jawab Nadine.


Nadine dan Keyla menuruni anak tangga, terlihat diruang tamu Ray sedang duduk bersama Sudibyo yang sedang asik ngobrol tentang bisnis. Saat Nadine menghampirinya Ray menengadah dan terpana melihat kecantikan Nadine, pandangan Ray hanya tertuju pada satu titik yaitu gadis pujaannya.


"Ehhem," suara deheman membuyarkan Ray dan menoleh kearah suara itu, ya Sudibyo diam diam memperhatikan Ray yang mengagumi putrinya.


"Ehh, sudah siap? Yuk berangkat," tanya Ray.


Nadine mengangguk dan keduanya pun berpamitan, Diana menghampiri suaminya yang masih tersenyum senang karena akan berbesan dengan keluarga Henderson. Bukan karena keluarga itu kaya raya, tapi karena kedermawanan keluarga tersebut membuat semua orang ingin putri mereka berpasangan dengan tuan muda keluarga Henderson itu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2