Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Meminta maaf


__ADS_3

.


.


.


Hari berikutnya, Devan bersama Maminya datang kekediaman Nadine. Rusita berencana ingin meminta maaf atas apa yang ia lakukan tempo dulu. Saat ini keduanya sudah tiba di gerbang kompleks yang dijaga oleh mang Jono bersama Sardi.


"Selamat siang Pak," sapa Devan.


"Siang den, ada yang bisa saya bantu?" tanya mang Jono dengan ciri khasnya yang ramah.


"Mau tanya rumah tuan Sudibyo yang mana ya?" tanya Devan lagi, mang Jono memperhatikan tamu itu dengan seksama.


"Silahkan isi data nama disini den, maaf sebelumnya karena memang begitu aturannya bila hendak berkunjung kesini, untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan," ucap mang Jono ramah.


Devan pun mengisi data nama kehadiran beserta nomor KTP.


"Silahkan den, rumah tuan Sudibyo yang paling ujung nomor 57." ucap mang Jono.


"Terimakasih banyak Pak," jawab Devan.


Sejak kejadian Devan dimasukkan ke penjara, ia kapok membayangkan saja ia tidak sanggup. Devan dan Maminya menjalankan mobilnya mencari rumah yang dimaksud.


Tibalah mereka dirumah yang paling mewah diantara yang lain, lalu ia pun bertanya lagi pada satpam yang menjaga rumah itu. Satpam membukakan pintu gerbang setelah mendapatkan izin dari nyonya rumah, Devan masuk dan memarkirkan mobilnya dihalaman rumah tersebut.


Pelayan tergopoh-gopoh membuka pintu saat mendengar bunyi bel, pelayan mempersilahkan tamunya masuk. Kebetulan yang ada cuma Diana. Sudibyo belum pulang kerja, sedangkan Nadine keluar dan Keyla kuliah. Devan hari ini izin dan tidak masuk kuliah.


"Silahkan duduk nyonya, tuan muda," ucap pelayan ramah. Kemudian pelayan itu memanggil nyonya rumah, dan pelayan membuatkan minuman untuk tamunya.


"Maaf, cari siapa ya?" tanya Diana ramah, wanita yang masih terlihat cantik meski sudah berumur 40an.


"Saya Devan dan ini mami saya, kami ingin bertemu Nadine," ucap Devan sopan.


"Tapi Nadine tidak ada di rumah, ia sedang keluar. Mungkin sebentar lagi pulang," kata Diana.

__ADS_1


"Tidak apa-apa kami bisa menunggu." kata Devan.


"Oh ya jeng, kenalkan nama saya Rusita," ucap Rusita memperkenalkan diri.


"Aku Diana," jawab Diana sambil tersenyum.


Pelayan datang membawa minuman dan cemilan berupa kue, kue buatan Diana. Sedangkan toko kue miliknya di percayakan kepada karyawannya. Jadi ia bisa datang kapan saja.


Tidak berapa lama terdengar suara mobil, Diana sudah tahu pemilik mobil itu, karena hampir setiap hari mobil itu datang. Diana tidak memberitahukan kalau Nadine keluar bersama tuan muda Henderson.


"Itu anakku datang," kata Diana.


Devan berdebar mendengar Nadine sudah datang. Begitu juga dengan Rusita, mukanya menjadi tegang takut Nadine tidak memaafkannya.


Nadine masuk bersama Ray, Devan berubah muram melihat kemesraan Ray dengan Nadine, kemudian Nadine dan Ray pun duduk. Nadine berubah tidak suka kala melihat Devan bersama Maminya.


"Ada perlu apa ya datang kemari?" tanya Nadine to the point, sebisa mungkin Nadine bersikap ramah pada orang yang telah menghinanya dulu.


Rusita menatap Nadine tanpa berkedip, sangat berbeda dengan beberapa tahun lalu. Sekarang lebih cantik lebih elegan tidak seperti beberapa tahun lalu yang terlihat sangat sederhana.


"Silahkan diminum dulu Tan, biar tidak tegang." ucap Nadine yang tau raut wajah Rusita.


"Nad, aku juga mau minta maaf," ucap Devan. Ray sengaja diam karena itu bukan ranah nya.


"Maaf? Untuk?" tanya Nadine.


"Beberapa tahun lalu saya pernah melarang kamu dekat dengan anak saya, bahkan saya menghina kamu karena penampilanmu," ucap Rusita.


Deg... Devan yang mendengar itu tersentak, "Pantas saja Nadine selalu menghindar dariku," gumam Devan dalam hati.


Kemudian hati Devan mencelos saat melihat cincin berlian dijari manis Nadine. Hatinya seakan luluh lantak kecewa yang sangat mendalam. Ternyata orang yang dicintainya sudah terikat oleh cincin.


"Gak apa-apa Tante, aku memang gadis miskin yang pantas dihina. Tante gak salah kok, aku yang salah Tante karena mendekati anak Tante yang terlahir dari sendok emas. Walaupun aku tidak pernah mencintainya seujung kuku sekalipun," jawaban Nadine benar benar menusuk kejantung Devan. Hatinya benar benar hancur.


"Sepertinya aku memang diciptakan bukan untuknya," batin Devan yang sebisa mungkin menahan diri untuk tidak menangis.

__ADS_1


"Tante sebentar ya," ucap Nadine, lalu Nadine bangkit dan berjalan kekamarnya, tidak berapa lama Nadine kembali dengan membawa hand sanitizer ukuran 1 liter.


"Tante setelah pulang dari sini Tante gunakan ini ya, takutnya nanti Tante terkena virus," ucap Nadine datar.


Devan semakin merasa tertusuk belati mendengar kata kata yang pernah diucapkan oleh Maminya dulu kini diucapkan oleh Nadine. Sedangkan Rusita merasa tertampar dengan kata kata yang pernah ia ucapkan ke Nadine kini berbalik kepada dirinya.


"Sesakit inikah perasaan Nadine dulu?" gumam Devan dalam hati. Sedangkan Rusita tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Kalau begitu kami permisi," ucap Devan dan langsung bangkit dari duduknya tanpa salaman atau apapun, Rusita juga bangkit menyusul putranya tanpa sepatah katapun terucap dari bibirnya.


Devan masuk kedalam mobil dan membanting pintunya, Rusita yang baru masuk sampai kaget dengan bantingan pintu mobil oleh Devan.


Devan menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, tapi setelah melewati gerbang kompleks Devan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sehingga Rusita ketakutan dengan aksi Devan menyetir mobil. Devan menyetir tanpa arah, hingga ia berhenti disuatu tempat yang sangat sunyi. Rusita sudah pucat pasi karena Devan membawa mobil dengan kelajuan yang tidak biasa. Devan keluar dari mobil menjerit sekuat kuatnya melampiaskan beban dalam dirinya yang selama ini ia pendam. Devan menangis sambil memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.


"SESAKIT INIKAH YANG KAMU RASAKAN NADINE, PANTAS SAJA KAMU LANGSUNG MENJAUH DARIKU," teriak Devan melampiaskan emosinya. Kemudian Devan bersujud ditanah sambil menagis. Sedangkan Rusita tidak kuasa melihat anaknya terpuruk seperti itu, ia tidak menduga penghinaan yang ia lakukan berdampak seperti ini.


Rusita menghampiri Devan dan merangkulnya, Devan menoleh kearah Maminya dan tersenyum kecut.


"Terimakasih mami, terimakasih banyak karena berhasil menghancurkan hatiku," ucap Devan tersenyum. Tapi airmata nya tidak bisa berbohong.


"Maafkan mami sayang, maafkan mami," ucap Rusita.


"Maaf mami tidak akan bisa mengembalikan keadaan, sekarang Nadine sudah menjadi milik orang lain, mami tidak lihat cincin berlian dijari manisnya? Itu artinya mereka sudah terikat satu sama lain," ucap Devan.


"Kita pulang ya, mami janji mami akan merestuimu walau siapa pun pilihanmu, dan mami tidak akan menghinanya lagi," ucap Devan.


Akhirnya Devan pun menurut, kali ini Rusita yang menyetir karena ia tidak ingin Devan seperti tadi. Perjalanan pulang cukup senggang, hingga tiba tiba ada sebuah motor melintas dan secara tidak sengaja Rusita menabrak pengendara motor tersebut.


Devan segera keluar dari mobil untuk mengecek keadaan pengendara motor tersebut.


"Kamu tidak ap...! Perkataan Devan terhenti saat melihat siapa orang yang mereka tabrak.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2