
.
.
.
Ketiganya menghitung uang yang sudah mereka kumpulkan beberapa tahun ini. Pecahan guci tempat penyimpanan uang milik Felix masih berantakan dan belum dibersihkan. Atas perintah Aryana pelayan dirumah itu segera membawa sapu untuk membersihkan pecahan guci tersebut. Ya Felix menyimpan uangnya didalam sebuah guci yang tidak terlalu besar. Tapi kalau isinya penuh uangnya juga lumayan banyak.
"Biar aku saja bik, semua ini karena ulahku jadi aku yang bertanggung jawab membereskan nya," ucap Felix mengambil sapu ditangan pembantunya itu.
"Jangan tuan muda, nanti nyonya marah karena itu memang pekerjaan saya tuan muda," ucap pelayan itu takut takut.
"Tidak apa-apa bik. Bibik istirahat saja ini sudah malam," kata Felix. Satu lagi perubahan dari putranya yang membuat Jhon dan Aryana tercengang. Biasanya putranya tidak pernah begitu kepada pelayan.
"Bibik istirahat saja ya, besok baru kerja lagi," ucap Felix dengan lembut. Biasanya kalau ia memerintahkan pelayan pasti dengan nada sedikit membentak. Tapi setelah mendengar perkataan triple A kalau kita harus menghargai orang lain meskipun seorang pembantu rumah tangga, dan kata kata itu ternyata cukup membekas dibenaknya.
Lalu Felix membersihkan pecahan guci tersebut dan membuangnya ketempat sampah. Jhon dan Aryana hanya diam dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sebenarnya Felix mengikuti orang tuanya yang seenaknya memerintah pelayan karena merasa sudah membayar gaji mereka. Tidak seperti Diva yang meskipun sudah membayar mahal gaji pelayan kalau bisa dikerjakan sendiri, kenapa tidak? Dan hal itulah Diva terapkan kepada anak anaknya. Pembantu juga manusia bukan robot yang harus diperintahkan seenaknya, begitulah pesan Diva kepada anak anaknya sehingga anak anak Diva begitu mandiri.
Berbeda dengan sahabat Diva yang hanya bisa mengandalkan pembantu dalam mengurus rumah tangga.
"Berapa banyak uang nya yang ada?" tanya Felix saat ia sudah selesai membersihkan pecahan guci tersebut.
"Punyaku 15 juta, dan punya Gibran 12 juta dan punya kamu 13 juta," jawab Ethan.
"Jadi kalau digabung menjadi 40 juta?" tanya Felix, Ethan mengangguk.
"Bagaimana?" tanya Felix lagi.
"Begini saja, kita sumbangkan 30 juta selebihnya kita masih bisa bisa membeli PlayStation dan kita mainkan bersama sama," mereka berpikir sejenak atas usulan Gibran.
"Apakah boleh begitu?" tanya Felix lagi.
"Kata kak Lina kan berapapun kita mau menyumbang kuncinya adalah keikhlasan. Dan kebahagiaan tidak bisa diukur dengan harta, kalian masih ingatkan kata kata itu?" tanya Gibran. Keduanya pun mengangguk.
"Kak Lina bilang sedekah tidak akan membuat kita miskin karena sebagian harta yang kita miliki adalah hak mereka," ucap Gibran lagi. Aldo dan Anisa merasa tertampar dengan kata kata tersebut, mereka tidak pernah mengajarkan anaknya untuk bersedekah dan berbagi pada orang lain. Tapi triple A telah mengajari anaknya untuk berbuat kebaikan. Muka Anisa memerah dan merasa malu karena anaknya dinasehati oleh anak kecil bukan dari orang tuanya. Anisa memeluk tubuh suaminya dan menangis.
"Kita benar benar sudah melalaikan tanggung jawab kita sebagai orang tua, sehingga anak kita dapat pengajaran dari orang lain yang hanya seorang anak anak," kata Anisa kepada Aldo. Aldo hanya mengangguk.
"Ya, mulai sekarang kita harus introspeksi diri dan memperbaiki semuanya. Kita akan ajarkan anak anak kita berbuat kebaikan. Dan tentunya kita sendiri sebagai orang tua. Karena anak akan mengikuti perilaku orang tuanya." ucap Aldo sambil mengelus rambut panjang Anisa.
__ADS_1
Akhirnya Ethan, Felix dan Gibran memutuskan untuk menyumbangkan uang 30 juta tersebut kepada panti asuhan.
"Kita akan minta bantuan kak Lina untuk mencari panti asuhan," kata Felix, Ethan dan Gibran mengangguk setuju.
"Sekarang kalian boleh pulang, aku mau istirahat. Dan uang itu kamu yang pegang dan jangan lupa masukkan dalam amplop," perintah Felix pada kedua temannya, mereka bukan hanya teman tapi sudah seperti saudara. Karena mereka sejak lahir selalu berdekatan. mereka hanya beda usia berapa bulan saja, dan Gibran yang tua diantara mereka.
Keesokan harinya...
"Ada apa kalian mau bertemu kami?" tanya Lina.
"Kami mau minta tolong, antarkan kami kepanti asuhan," kata Ethan.
"Hmmm, boleh. Tapi apa kalian sudah benar benar ikhlas?" tanya Lina.
"Ya kami sudah memantapkan hati kami untuk menyumbangkan uang kami yang ada," jawab Felix.
"Kalau kalian benar benar ikhlas, uang yang telah kalian sumbangkan tidak boleh diumbar umbar ke publik atau orang lain," kata Lita.
"Tapi orang tua kami sudah tahu," kata Ethan.
"Gak masalah, yang penting orang tua kalian tidak melarang, dengan uang yang ada kita bisa meringankan beban orang lain," ucap Lica.
"Oke, sekarang kita pergi kepanti asuhan." ajak Lina.
Mereka semua masuk kedalam mobil, karena mobilnya cukup besar jadi muat untuk mereka berenam. Sedangkan Johan mengikuti mereka, dari sejak tadi mereka keluar dari sekolah. Karena Ethan, Felix dan Gibran menemui triple A disekolah mereka.
"Ngapain sih mereka ngikutin kita terus?" tanya Lica.
Mereka semua menoleh kebelakang dan melihat empat buah motor sedang mengikuti mobil mereka.
"Mungkin mereka kurang kerjaan," jawab Lita enteng.
"Biar sajalah, selama mereka tidak menggangu kita," ucap Lina.
"Siapa mereka kak?" tanya Ethan.
"Teman sekelas kami, dulu mereka badboy dan sangat nakal disekolah, kayanya sekarang sudah insyaf deh," jawab Lica.
"Pasti kakak yang buat mereka insyaf?" tanya Felix.
__ADS_1
"Yo ii, mereka nakal kami hajar," jawab Lita tanpa beban.
"Bisa diam gak? Pusing aku dengan celoteh kalian," ucap Lina. Bagai api disiram air mereka semua terdiam.
"Paman, berhenti dirumah makan sebentar ya, aku mau beli makanan untuk anak anak panti," ucap Lina.
"Baik nona muda," jawab Bahar.
Bahar pun memarkirkan mobilnya ditempat parkir, Lina masuk kedalam rumah makan tersebut dan memesan 100 porsi nasi beserta lauknya. Sekitar 30 menit pesanan Lina pun siap, ia meminta tolong kepada Bahar untuk mengangkat nasi bungkus tersebut. kemudian mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju panti asuhan.
Akhirnya mereka pun tiba ditempat yang dituju, Bahar menghentikan mobilnya didepan panti asuhan tersebut. Anak anak panti berlarian menyambut kedatangan Lina dan teman temannya.
Johan hanya memperhatikan dari kejauhan, mereka semakin mengagumi sosok triple A yang begitu dermawan. Peduli terhadap sesama.
"Begitu banyak yang tidak aku ketahui tentang kalian," gumam Johan.
"Ngapain kita kesini?" tanya Ansel.
"Kamu gak lihat, tuh anak anak panti begitu senang menyambut kedatangan mereka, berarti ini bukan yang pertama kalinya mereka kesini," ucap Gibson.
"Iya, banyak sekali yang tidak kita ketahui tentang mereka, terutama yang satu ini," kata Rino.
"Apa perlu kita samperin?" tanya Ansel.
"Jangan sekarang," jawab Johan.
"Kenapa emang?" tanya Gibson.
"Aku begitu malu dan belum siap, nanti kalau aku sudah punya banyak uang baru kesini lagi," jawab Johan.
"Hey bro, kalau mau berbuat kebaikan dan menolong orang atau memberikan sumbangan tidak perlu menunggu banyak uang, yang penting keikhlasan hati," ucap Gibson menunjuk dadanya sendiri.
"Benar bro, kalau kita tidak ada niat untuk membantu uang segudang pun tidak akan pernah cukup, tapi kalau kita ada niat 1000 perak pun bisa." ucap Rino menimpali.
"Iya, saya tau, sebaiknya kita pulang saja. Kita sudah tahu tujuan mereka," ajak Johan.
.
.
__ADS_1
.