Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Kita masih kecil


__ADS_3

.


.


.


"Lin...!" merasa dipanggil namanya, Lina pun menoleh. Ternyata yang memanggilnya adalah Randy.


"Bisa kita bicara?" tanyanya. Lina hanya mengedikan bahu.


"Aa..aku, A aku mmm," Randy merasa gugup, Lina hanya diam saja. Lalu melangkahkan kakinya lagi, tapi baru beberapa langkah ia berhenti lagi karena mendengar pernyataan Randy.


"Aku menyukaimu," ucap Randy spontan lalu ia tertunduk.


Lina menghampirinya dan mengangkat dagu Randy sehingga ia mendongak sedikit, meskipun Randy lebih tinggi dari Lina. Dan perbedaan usia mereka terpaut sekitar 5 tahun.


"Apa kamu bilang?" tanya Lina untuk memastikan ungkapan Randy.


"Aku menyukaimu," ulang Randy.


"Kamu tau kan? Kita masih kecil?" tanya Lina. Randy mengangguk.


"Belajar yang benar, jika kamu bisa mengalahkanku dan menjadi juara 1 nanti, maka akan aku pertimbangkan. Tapi bila tidak bisa mengalahkanku maka kamu sudah tahu jawabannya. Dan satu lagi, jika aku ingin mencari pasangan suatu hari nanti aku mau orang yang mandiri. Cam kan itu," ucap Lina lembut tapi sangat tajam.


Randy hanya terdiam dan tertunduk, memang benar mereka masih kecil tapi perasaan tidak bisa dipungkiri. Kemudian Lina dan kedua saudaranya meninggal tempat dimana Randy masih berdiri mematung. Hingga sebuah tangan menepuk pundak Randy dan seketika ia kaget.


"Itu artinya dia menyuruhmu berjuang bro," ucap Zaidan sambil merangkul pundak Randy.


"Iya aku tau, tapi aku tidak mungkin mengalahkan dia, sejak dia masuk sekolah ini posisiku sebagai juara 1 disekolah telah bergeser." ucap Randy.


"Hmmm, kata katanya memang terdengar tajam tapi renungkan lah dan kamu akan menemukan maksud dari kata katanya itu," ucap Zaidan.


"Pertama ia menantang kamu untuk mengalahkan ia nanti saat kelulusan sekolah. Dan kedua ia ingin mencari pasangan yang mandiri, itu artinya kamu harus berjuang," ucap Zaidan bijak.


"Aku harus berjuang sampai aku sukses suatu hari nanti." tekad Randy.


Sedangkan triple A sudah dijemput oleh Agus, karena sejak tadi mereka sudah menelepon Agus lebih dulu.


Orang tua Zeline baru saja datang, dan terburu buru karena tadi mendapat kabar bahwa anaknya tidak sadarkan diri sewaktu bermain. Zeline menceritakan kejadiannya yang sudah pasti ditambah tambahin, membuat orang tua Zeline emosi mendengarnya. Sedangkan Zeline tersenyum puas, karena ia tau kalau orang tuanya tidak akan tinggal diam.


"Papa akan buat anak itu membayar semuanya," ucap Papa Zeline, Papa Zeline adalah seorang ketua gangster dulunya, tapi setelah menikah dan punya anak ia pun pensiun. Tapi anak buahnya masih tetap setia kepadanya. Triple A tau siapa Papa Zeline? karena mereka adalah hacker tidak sulit bagi mereka untuk mencari informasi tentang siapa saja lawannya? Termasuk Zeline.

__ADS_1


Dengan perasaan marah Papa Zeline mengepalkan tangannya kuat, lalu kemudian iapun menelepon anak buahnya untuk menculik triple A, Papa Zeline yang bernama Roger itu mengirimkan foto ke anak buahnya yang didapat dari Zeline.


"Jadi anak ini yang telah menganiaya putriku?" Batin Roger.


"Kamu tenang saja sayang, sebentar lagi anak itu akan lenyap dari muka bumi ini," ucap Roger dengan nada emosi. Zeline tersenyum karena usahanya untuk menyingkirkan Lina akan berhasil.


Sedangkan Mama Zeline yang bernama Zarina hanya diam saja, sejujurnya ia tidak setuju dengan tindakan suaminya. Tapi ia juga tidak bisa melawan kehendak suaminya itu.


"Kamu sudah tidak apa-apa Sayang?" tanya Zarina pada Putrinya, Zeline mengangguk.


"Kalau begitu kita pulang ya?" tanya Zarina.


"Iya sayang, mari Papa gendong," ucap Roger. Lalu Roger pun menggendong putrinya sampai ke mobil. Hal itu dilihat oleh Randy dan temannya.


"Kenapa kamu memperhatikannya seperti itu?" tanya Zaidan pada Randy, Randy menggeleng dan segera berjalan keluar sekolah. Sampai didepan sekolah, Randy dicegat oleh Roger.


"Kamu yang bernama Randy?" tanya Roger. Randy mengangguk.


"Kamu tau apa yang terjadi pada Zeline?" tanyanya lagi.


"Tau Om, mereka bermain voli dan Zeline kalah. Lalu Zeline tidak terima dengan kekalahannya dan berpura pura pingsan seolah olah dia dianiaya," jawab Randy sedikit berbohong.


"BOHONG...!" teriak Zeline dari dalam mobil. Zeline keluar menghampiri Randy.


"Karena memang dia tidak bersalah, yang salah itu kamu." jawab Randy.


Buugh... satu pukulan mendarat di wajah Randy. Dan itu pelakunya adalah Roger. Randy terdiam dan mengusap bibirnya yang berdarah.


"PAPA," teriak Zeline. Randy seketika tersenyum dan berlalu pergi dari tempat itu.


Zaidan mengejar Randy yang sudah berada diparkiran motor miliknya.


"Mengapa tidak melawan?" tanya Zaidan.


"Biarkan saja, anggap saja ini latihan," jawab Randy enteng.


"Kadang aku tidak mengerti dengan sikapmu, dulu kamu seperti menyukai Zeline tapi sekarang malah menyukai Lina," ucap Zaidan.


"Sejak kapan aku menyukai Zeline? Gak pernah sedikitpun aku menyukai Zeline dari dulu sampai sekarang. Cuma dia aja yang terus ngintilin aku dan mengaku ngaku pacarnya," Randy.


"Sudah jalan yuk, mending kamu belajar lebih giat lagi agar kamu sukses kedepannya. Gak apa-apa sekarang kamu tidak mendapatkan Lina, semoga suatu hari nanti kamu akan mendapatkannya. Jodoh tidak kemana bro," ucap Zaidan tulus.

__ADS_1


"Aamiin, kamulah sahabat sejatiku." jawab Randy. Kemudian mereka pun pergi meninggalkan sekolah tersebut.


Sedangkan triple A sudah tiba di mansion, mereka keluar dari mobil setelah Agus memarkirkan mobilnya di garasi mobil.


"Oma, Opa...!" panggil triple A serentak, kebetulan Vera dan Jordan sedang diruang tamu.


"Kok cepat pulang?" tanya Vera sambil mengelus rambut panjang Lica dibungsu.


"Tidak ada pelajaran Oma, dan mulai besok kami libur dan Senin depan baru masuk lagi langsung ujian," jawab Lita. Vera pun mengangguk.


"Kita kekamar dulu ya Oma," pamit Lina.


"Hmmm, baiklah. Kalian keringatan habis ngapain?" tanya Vera yang merasakan baju triple A basah.


"Tadi kami olahraga Oma, latihan bermain voli," jawab Lica.


"Ya sudah mandi dulu sana, setelah itu kita jalan jalan, mau?" tanya Vera.


"Benarkah Oma?" tanya Lica dan Vera mengangguk.


Ketiganya pun berlari menuju lift dan berebut memasuki lift, Vera yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala.


"jadi teringat sikembar waktu kecil ya, Dad?" tanya Vera.


"Iya, kelakuan mereka persis Darmendra kecil dulu," jawab Jordan sambil memeluk tubuh istrinya. Dan kemudian mencium kening istrinya.


"Apa masih kuat jalan jalan?" tanya Jordan.


"Kuat dong, Mommy sering olahraga biar selalu sehat biar bisa menimang cicit nantinya," ucap Vera tersenyum membayangkan bakal menimang cicit.


"Menikah aja belum sikembar. Masih lama baru menimang cicit," jawab Jordan.


"Mudah mudahan umur kita panjang Dad, agar bisa menimang cicit," ucap Vera.


"Aamiin," jawab mereka serentak.


Keduanya pun tertawa, sudah lebih 50 tahun mereka membina rumah tangga tapi tidak pernah bertengkar yang bisa memicu pada perceraian, maksudnya tidak pernah bertengkar secara besar besaran. keduanya selalu akur, dan Vera sebagai istri yang patuh kepada suami selama suami tidak diluar batasan.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2