Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Tidak apa-apa.


__ADS_3

.


.


.


Sore harinya triple A pergi kerumah sakit mereka hendak mengunjungi Johan yang sedang dirawat dirumah sakit. Triple A langsung keruangan perawatan Johan, karena sebelumnya mereka sudah diberitahu kalau Johan dirawat diruang VIP 2.


Triple A membuka pintu ruangan tersebut dan melihat ternyata didalam Sana ada Pak polisi yaitu Irwan dan Bu Tessa juga ada, tadi Bu Tessa pulang sebentar dan sekarang datang lagi untuk memastikan anak muridnya baik baik saja atau tidak.


Mama Johan yang mendengar kabar kalau Johan masuk Rumah sakit segera pergi kerumah sakit untuk menemui anaknya.


"Selamat sore semuanya," ucap triple A serentak. Laura yang melihat triple A langsung terperangah, cukup lama ia tidak berkedip.


"Selamat sore nyonya," sapa Lina sopan.


"Ahh iya selamat sore," jawab Laura tanpa mengalihkan pandangannya dari arah triple A. Lina, Lita dan Lica yang ditatap seperti itu biasa biasa saja. Karena ini bukan pertama kalinya bagi mereka ditatap seperti itu.


"Johan bagaimana keadaanmu?" tanya Lica.


"Aku baik baik saja, tidak ada luka yang serius." jawab Johan.


"Kamu yakin tidak apa-apa?" tanya Lina.


"Yakin lah, wong dokter yang bilang begitu," jawab Johan.


"Sudah di Rontgen?" tanya Lita.


"Sudah, bahkan Bu Tessa sendiri yang menjadi saksinya, iya kan Bu?" tanya Johan pada Bu Tessa demi meyakinkan triple A.


"Ini sedikit buah buahan," ucap Lina lalu meletakkan buah tersebut diatas meja disamping ranjang rumah sakit.


"Kalian kembar tiga?" tanya Laura mamanya Johan.


"Iya nyonya, namaku Lina dan ini kedua saudaraku Lita dan Lica," ucap Lina.


"Kalian cantik sekali, tapi kok kaya gak asing ya?" tanya Laura.


"Mereka yang Mama tonton di video viral itu ma," jawab Johan.


"Aaaaahh, iya baru saya ingat," ucap Laura tanpa sadar ia menjerit.


"Mama... Ini rumah sakit bukan hutan," kata Johan, Laura yang malu hanya nyengir saja.


"Terimakasih ya, berkat kalian Paman yang dapat nama dan pangkat," ucap Irwan menimpali.


"Gak usah dibahas Paman, Paman juga berjasa dalam hal ini," jawab Lina.

__ADS_1


"Bagaimana dengan penjahat itu Paman?" tanya Lica.


"Mereka masih dirawat, kemungkinan besar mereka lumpuh, dan ternyata target mereka adalah gadis gadis muda dan cantik yang mereka culik dan dijual ke luar negeri," jawab Irwan.


"Pantas saja mereka menargetkan kami," ucap Lina.


Laura yang tidak mengerti dengan pembicaraan mereka hanya diam saja mendengarkan. Tapi diam diam Laura mengagumi ketiga gadis kecil itu.


"Jadi kalian satu kelas dengan putra saya?" tanya Laura. Dulu sewaktu Johan masuk rumah sakit, Laura tidak tahu karena ia berada di luar negeri saat itu. Sekarang baru mereka beritahu oleh mereka sehingga membuat Laura cemas. Dan bergegas ke rumah sakit.


"Benar nyonya," jawab Lina.


"Jangan panggil nyonya dong, panggil Tante atau aunty juga boleh," kata Laura.


"Baik aunty," jawab triple A serentak.


"Senangnya punya anak kembar, aunty sudah tidak bisa punya anak lagi, hanya Johan lah satu satunya anak aunty," ucap Laura.


"Kalian mengingatkan aunty pada seseorang, tapi mungkin cuma kebetulan saja," kata Laura. triple A tersenyum.


"Wajah kami mirip Mommy, sedangkan Abang Abang kami mirip Daddy. Apakah aunty kenal dengan Mommy kami?" tanya Lina.


"Siapa Mommy kalian?" tanya Laura.


"Divya Dewi Aurora," jawab Lina.


Deg...


Flashback...


"Heh si miskin," kata Laura saat Diva berjalan sendiri. Diva hanya menoleh dan berlalu, tapi Laura yang tidak berpuas hati langsung menjambak rambut Diva. Diva tidak melawan sama sekali karena ia ingin mempertahankan beasiswa yang hanya tinggal satu tahun lagi.


Merasa tidak ada perlawanan dari Diva, Laura dan geng nya semakin menjadi jadi.


Hingga suatu hari Diva bertemu dengan Anisa, dan cuma Anisa yang mau berteman dengannya. Setelah beberapa bulan berteman dengan Anisa, Diva dan Anisa semakin akrab, hingga datang lagi siswi baru yaitu Adefa dan Aryana yang juga berteman dengan Anisa dan Diva.


Laura dan geng nya sedikit demi sedikit berkurang membully Diva. karena dibantengi oleh mereka.


"Kenapa lo gak lawan sih Div?" tanya Adefa sewaktu mereka dikantin.


"Aku malas mau cari ribut, dan juga aku sayang dengan beasiswaku yang hanya beberapa bulan lagi," jawab Diva.


Anisa, Adefa dan Aryana tidak tahu kalau Diva orang kaya, harta warisan orang tuanya sangat banyak untuk Diva.


Mereka mengira Diva adalah gadis sederhana dan kebawah yang hanya mengandalkan beasiswa untuk bersekolah. Padahal beasiswa yang Diva dapatkan adalah berkat kepintarannya. meskipun demikian mereka masih tetap mau berteman dengan Diva.


Singkat cerita hari kelulusan sekolah pun tiba, saat Laura dan gengnya kembali membully Diva, saat itulah Diva melawan dan menunjukkan taringnya, dan saat pesta perpisahan sekolah Diva mengendarai mobil sport miliknya dari situlah Anisa, Adefa dan Aryana tahu kalau Diva sebenarnya orang kaya.

__ADS_1


Flashback end...


Ada yang ingat Laura? Kalau tidak salah ada dibahas di novel sebelumnya, yang berteman dengan Rebecca dan Reina.


"Apakah saudaramu yang kembar tujuh itu?" tanya Laura.


"Benar aunty," jawab Lina.


Deg...


Sekali lagi jantung Laura berdegup kencang mendengar kenyataan bahwa anak dari musuhnya berada dihadapannya.


"Apa kabar ibumu sekarang?" tanya Laura basa basi menetralkan perasaannya.


"Mommy baik aunty, aunty kenal dengan Mommy?" tanya Lina.


"Iya, Mommy kalian seangkatan sewaktu sekolah dulu," jawab Laura. Gak mungkin dia mengatakan kalau mereka dan Diva musuhan.


Hanya karena orang yang mereka suka menyukai Diva, seorang gadis lugu karena penampilan sederhananya. Tapi terlihat menarik dimata pria.


"Tapi tidak terlalu akrab, sebab Mommy kalian hanya berteman dengan Anisa, Adefa dan Aryana, kalian pasti mengenalnya kan?" tanya Laura.


"Kenal aunty, bahkan sampai sekarang mereka tetap akur," jawab Lina polos. Laura tersenyum kecut mendengarnya.


"Dan kami juga sudah seperti saudara dengan anak aunty Nisa, aunty Defa dan aunty Yana," jawab Lita yang memang tidak tahu masalah Mommy nya dengan orang yang mereka ajak bicara.


"Oh ya, sayang. Mama pulang dulu ya, nanti Mama kesini lagi," kata Laura sambil mengelus rambut Johan dan mengecup kening putranya.


"Ternyata mereka anak musuh lamaku," batin Laura.


Laura sengaja pulang ingin menghindari triple A, takut ia akan keceplosan kalau terus bicara lama lama.


"Cepat sembuh ya, agar bisa mengikuti ujian," ucap triple A serentak. Johan tersenyum.


"Kalau begitu kami juga permisi, sudah sore nanti dicariin sama orang tua," ucap Lina.


"Hmmm baiklah, terimakasih karena sudah mau menjenguk aku," ucap Johan.


Johan sekarang sudah menggunakan aku kamu kalau ngomong, karena mengikuti triple A.


.


Gak nyangka kan? Ternyata Johan anak dari musuhnya Diva sewaktu sekolah dulu.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2