
.
.
.
Dihari berikutnya di negara ini, mereka semakin terlihat begitu bahagia, apalagi Ram dan Ray, saudara mereka yang lain pun merasa heran, saat ini mereka sedang berkumpul disebuah restoran. Siang ini mereka ingin makan, di hotel ini banyak pengusaha yang menginap. Karena hotel ini adalah hotel yang paling digemari oleh para pengusaha atau yang lainnya. Seperti mereka yang sedang honeymoon sudah pasti mereka akan memilih hotel ini.
"Kenapa kalian berdua?" tanya Rakha penasaran.
"Kenapa? Kita gak apa-apa? masih seperti biasa," tanya Ram balik. Sedangkan Ray hanya tersenyum senyum tidak jelas.
"Ini pasti ada yang gak beres nih," sela Roy.
"Nanti kalian juga akan tahu sendiri setelah merasakan nya," jawab Ray yang sejak tadi senyum senyum. Hingga membuat saudaranya bergidik karena tidak biasanya Ray seperti itu.
"Kalian sudah...?" tanya Rasya dan dijawab anggukan oleh Ram dan Ray.
"Wah, curang nih kalian. Gak kompak banget," kata Raffa. Sedangkan Cahaya dan Nadine sudah memerah menahan malu.
"Jangan mentang-mentang kita kembar ya, hingga dalam segala hal harus kompak," sahut Ram.
"Ya kali aja begitu," ucap Rakha tanpa dosa. Ray mencebikkan bibirnya mendengar saudara saudaranya yang harus kompak.
"Apa sih yang kalian bicarakan," kata Aisyah menyela.
"Nanti kita praktekan ya sayang, biar tahu apa yang mereka bicarakan?" tanya Ren.
"Ah makin membuatku tidak mengerti saja, sayang." jawab Aisyah. Pesanan mereka pun datang, para pelayan menata makanan dimeja tempat mereka duduk. Pelayan wanita curi curi pandang kepada sikembar.
"Kami kembar mbak," kata Ram seolah tahu tatapan pelayan itu. Pelayan itu pun menjadi kikuk.
"Maaf, soalnya kalian terlihat seperti sama aku jadi keliru," kata pelayan itu malu malu. kemudian pelayan itu pun pergi setelah selesai dengan tugas mereka.
"Mari makan, setelah ini kita kemana?" tanya Ren.
"Kami mau dikamar saja dulu, lagi malas jalan jalan," jawab Ram. Cahaya mendelik tajam menatap kearah Ram, tapi Ram cuek cuek saja. Mereka pun makan dengan khidmat sambil bercanda, tapi kalau di mansion mereka kalau makan tidak ada yang bersuara, apalagi kalau bercanda?
Tidak berapa lama mereka pun selesai makan, saat Ram mengangkat gelas yang berisi jus, tiba-tiba gelas itu pecah. Dan mereka semua kaget, dengan spontan mereka menarik pasangan masing-masing untuk tiarap kelantai. Ram menoleh kearah dinding ternyata peluru dengan senapan jarak jauh. Lalu Ram menoleh kearah datangnya peluru itu, dan benar saja ada seorang pria bertopeng sedang mengarahkan senapan laras panjang. Sudah bisa ditebak bahwa itu adalah sniper.
__ADS_1
Tak lama suasana di restoran hotel tersebut pun ricuh, karena segerombolan orang bertopeng datang dengan menembakkan senjata api mereka dengan membabi buta. Para pengunjung pun berlarian untuk menyelamatkan diri masing-masing. Ada juga yang tertembak karena tidak sempat menyelamatkan diri.
"Apa yang terjadi? Dan siapa mereka?" tanya Ren.
"Mereka kelompok mafia the dragon, terlihat dari tato mereka," jawab Ram.
"Jangan bilang yang kamu hajar kemarin adalah anggota mereka?" tanya Ren lagi, Ram mengangguk.
"Kenapa gak bilang sejak awal?" tanya Ray.
"Aku juga tidak menyangka bakal seperti ini," jawab Ram.
"Pasti mereka ingin balas dendam," kata Rakha.
"Kau tau kelompok the dragon mempunyai penembak jitu?" tanya Ray. Ram pun mengangguk.
"Kita gak akan bakalan tenang, kemana mana selalu berurusan dengan mafia," ucap Roy.
"Tidak ada cara lain, kita harus melawan mereka." kata Ren.
"Bagaimana dengan penembak jitu?" tanya Rasya.
"Kalian bawa senjata?" tanya Ray. Ren, Rakha, Rasya, Raffa, Roy dan Ram mengeluarkan senjata mereka masing-masing.
"Kalian pakai ini," kata Ray sambil menyerahkan pistol bius.
"kami sudah ada ini," ucap Cahaya yang sudah punya senjata tidak terduga oleh musuh.
"Kami juga punya, semua ini buatan adek triple A," kata Aisyah.
"Bagus, sekarang kita berpencar dan sembunyi," perintah Ray. Mereka pun berpencar dengan posisi masing-masing. Sedangkan Ram pergi kebangunan sebelah tempat penembak jitu itu berada.
Tembakan terus berlanjut, menghancurkan apa saja yang ada. Para pengunjung, pelayan hotel dan yang lainnya semua berlarian untuk menyelamatkan diri. Ada yang keluar dari pintu belakang ada juga yang bersembunyi. Yang penting mereka bisa selamat, begitulah pikiran mereka saat ini.
Musuh semakin mendekat dengan mereka, Cahaya sudah bersiap siap untuk menggunakan eyeliner, satu orang jatuh tak sadarkan diri setelah ditembak oleh Cahaya. Kemudian Cahaya kembali bersembunyi.
"Hati hati, mereka sangat ramai," bisik Ren pada Aisyah.
"Aish ngagetin aja," kata Aisyah pelan. Ren membawa pulpen sebagai senjata, begitu juga sikembar yang lain.
__ADS_1
"Ada yang mendekat," kata Ren. Aisyah mengangguk.
"Tembak," bisik Ren, Aisyah pun menembak satu orang, kemudian orang itu pun pingsan. Temannya pun heran saat melihat temannya pingsan. Lalu ia menembak membabi buta. Ren segera menembak orang itu.
Disudut lain, Ray dengan Nadine pun mengendap-endap. Ray menembak salah satu dari mereka. Dan orang itu pun pingsan.
"Bagianku," ucap Nadine pelan agar tidak terdengar oleh musuh.
"tenang masih banyak," kata Ray.
Musuh masih terus mencari orang yang mereka maksud, yaitu sikembar. Sebenarnya hanya Ram yang menjadi sasaran mereka, tapi karena mereka bersaudara otomatis saudaranya juga ikut terlibat. Tidak mungkin mereka membiarkan Ram sendiri menghadapi musuh.
Nadine menembak salah satu musuh yang mendekat. melihat temannya pingsan, yang lain pun mendekat. Ray dan Nadine pun menembak mereka satu persatu.
Begitu juga dengan Raffa dan Prita, kebetulan musuh yang mendekat kearah mereka banyak. Jadi mereka pun menembak satu persatu saat mereka lengah.
"Bagaimana?" tanya Raffa, Prita tersenyum.
"Apakah mereka akan mati?" tanya Prita balik. Raffa menggeleng.
"Tidak, mereka hanya pingsan dalam jangka waktu yang cukup lama." jawab Raffa. Prita pun mengangguk mengerti.
Rakha dengan Keyla bersembunyi dibalik meja yang ditumbangkan. Kemudian mereka bergerak perlahan untuk mendekati musuh.
"Hati hati Sayang, jangan jauh jauh dariku," kata Rakha. Keyla mengangguk.
"Tembak sayang," perintah Rakha saat musuh mendekat. Keyla pun menembak musuh tersebut. Karena bentuknya seperti eyeliner jadi walau tidak pandai menembak pun bisa tepat sasaran. Musuh akan pingsan walaupun terkena tangan atau tempat tempat lainnya.
"Kamu hebat sayang," kata Rakha pada Keyla, sedangkan Keyla hanya tersenyum.
"Ternyata benda ini sangat berguna kalau lagi terdesak," kata Keyla.
Keyla dan Nadine sama sama masuk kelas taekwondo jadi mereka bisa beladiri. Karena mereka bertekad jadi perempuan itu harus kuat agar tidak diremehkan atau dilec*hkan.
"Itu ada lagi sayang," kata Rakha. Tanpa menunggu lama Keyla kembali menembak musuh. Satu persatu musuh pingsan.
.
.
__ADS_1
.