
.
.
.
Di mansion...
Semua orang berkumpul diruang keluarga, mereka juga cemas saat mendengar kabar bahwa Wardina diculik. Terutama Diva dan Vera. Tapi keduanya merasa lega setelah mendengar dari sikembar bahwa Wardina selamat dan tidak kenapa-kenapa.
"Apa masalahnya sampai Dina diculik?" tanya Vera.
"Hanya karena iri dengki, padahal mereka dulu bersahabat tapi semua hancur hanya karena sifat dengki." jawab Ren.
"Kok ada sih sifat seperti itu?" tanya Aisyah.
"Ada dong sayang, malahan sangat banyak. Terkadang kita tidak bisa membedakan mana yang benar benar tulus dan tidak, karena orang yang bermuka dua lebih pandai berperan seperti orang baik," jawab Ren.
Semua terdiam sejenak, karena apa yang dikatakan Ren benar adanya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang, Ram dan Cahaya serta ibunya sudah tiba di mansion. Wardina digiring menuju kamar tamu untuk beristirahat. Ram dengan telaten merawat luka ibu mertuanya. Karena Ram menganggap seperti ibu kandung sendiri.
"Terimakasih banyak Nak, Kamu sudah begitu baik mau mengobati luka ibu," ucap Wardina merasa terharu.
"Tidak perlu berterimakasih Bu, berbakti kepada ibu mertua sama derajatnya dengan berbakti kepada ibu sendiri." ucap Ram, Cahaya yang ada disamping ibunya pun merasa terharu. Tidak salah ia memilih pria ini untuk menjadi pendamping hidupnya.
Kemudian Ram membawa Cahaya kekamar mereka dan memberi waktu untuk ibunya istirahat.
Sementara diruang keluarga hanya tinggal Vera, Diva dan Jordan. yang lain juga sudah masuk kedalam kamar masing-masing.
"Mommy merasa iba dengan nasib Dina setelah tahu cerita masa lalunya," ucap Vera.
"Iya Mom, ternyata nasibnya sangat buruk. Difitnah, diusir oleh suami dan mertuanya. Gak bisa dibayangkan bagaimana nasibnya dulu," jawab Diva.
"Beruntung kamu punya anak dengan sifat dan jiwa penolong yang tinggi. Hidup mereka berubah setelah bertemu sikembar," ucap Vera. Karena ia mendengar cerita bahwa Ram yang menolong Wardina dan Cahaya dulu.
"Iya, semoga mereka tetap rendah hati dan suka menolong. Dan semoga anak anak mereka nanti akan mengikuti jejak orang tuanya," ucap Diva.
"Aamiin," jawab Vera dan Jordan bersamaan.
"Sifat seperti itu yang patut untuk dicontoh." Jordan menimpali.
"Semua berkat didikan mu sayang," ucap Vera sambil mengelus rambut panjang Diva.
__ADS_1
"Aku hanya mengajarkan mereka hal hal baik, karena memang mereka punya sifat seperti itu, tapi kalau anak tidak mau menurut diajarkan 1000 kebaikan pun mereka akan tetap menjadi jahat." jawab Diva.
Sementara Ethan, Felix dan Gibran sedang menunggu kakak mereka didepan sekolah.
"Ngapain sih kalian kemari?" tanya Lina saat triple A sudah keluar dari sekolah. Hari ini banyak pelajaran jadi mereka pulang terlambat.
"Hanya ngajak pulang bareng," jawab Felix.
"Buang waktu saja," kata Lita ketus. Tapi ketiganya tidak tersinggung sama sekali.
"Kami sudah tidak dijemput supir lagi," ucap Ethan.
"Terus?" tanya Lica.
"Kami sudah pakai ini, ini pemberian Abang kembar dan dibuat khusus untuk kami," kata Felix sambil memperlihatkan skuter pemberian sikembar.
"Paling kalian yang minta kan?" tanya Lina, ketiganya hanya nyengir karena memang benar adanya.
"Udah ketebak, karena memang itu sifat kalian," ucap Lica.
"Yuk jalan, sudah hampir sore nih," ajak Ethan.
Akhirnya mereka bersama sama menaiki skuter masing-masing. Sedangkan Johan, Rino, Ansel dan Gibson mengikuti mereka dari belakang.
"Gak apa-apa kami jadi bodyguard kalian walau tanpa gaji," jawab Johan tanpa rasa bersalah.
"Tapi kami jengah tau gak? Selalu diikuti seolah olah kami ini cewek lemah," ucap Lita.
"Tapi kami tidak," entah kebetulan atau disengaja jawaban mereka berempat bisa bersamaan. Lina menarik nafas panjang, percuma mereka melarang kalau ujung ujungnya berdebat.
"Aku tidak tahu apa yang ada di otak kalian," ucap Lina lalu kembali menaiki skuter nya dan berlalu dari tempat itu. Mereka masih saja mengikuti triple A.
"Setelah mengenal mereka, aku rasanya punya adik cewek," ucap Johan.
"Iya, dan gak nyangka kita yang semula nakal bisa berubah setelah mengenal mereka," kata Ansel, kemudian mereka pun kembali memacu motor mereka.
Sifat badboy yang dulu ada pada diri mereka sekarang sudah hilang, bahkan kini mereka dipuja puja oleh kalangan siswi. Memang keempat pemuda itu tergolong pria tampan. Meskipun uang masih minta sama orang tua, toh orang tua mereka sangat kaya. Setiap siswa siswi yang bersekolah disekolah ini termasuk orang orang kaya, karena sekolah ini adalah sekolah elit. Biar bagaimanapun mereka masih tetap kalah dengan triple A yang sudah bisa menghasilkan uang sendiri sejak usia dini.
Semakin mengenal triple A, Johan dan para sahabat semakin kagum dengan kehebatan mereka. Setiap hari ada saja yang membuat mereka kagum terutama jiwa penolong triple A yang jarang orang miliki. Apalagi sebagai anak anak.
"Bang es campur 10 bungkus," ucap Lina pada penjual es campur dipinggir jalan. karena saat ini mereka berhenti istirahat dibawah pohon besar yang rindang, berdekatan dengan penjual es campur.
"Baik neng, mohon ditunggu ya neng," jawab Abang penjual es campur dengan senang hati. Karena selama ia berjualan belum ada yang beli sebanyak itu.
__ADS_1
Tidak menunggu lama es pesanan mereka pun siap. Johan, Ansel, Rino dan Gibson sekarang jadi terbiasa dengan makanan dan minuman pinggir jalan. Perubahan itu semenjak mereka makan di warung pinggir jalan waktu itu.
"Ternyata minuman pinggir jalan gak kalah enak sama yang di restoran," ucap Ansel.
"Iya ya, kalau tahu dari dulu begini, sudah sejak dulu aku mencoba jajanan pinggir jalan," kata Gibson.
"Ada hikmahnya juga kita kenal dengan triple A," kata Rino.
Mereka ngobrol apa saja yang menurut mereka asik, ketika mereka sedang asik ngobrol samar samar triple A mendengar suara Abang penjual es campur itu berbicara pada istrinya.
"Aku belum dapat uangnya, mau cari dimana?" tanya Abang itu sebut AA.
"Aa, pengobatan anak kita sudah ditagih oleh pihak rumah sakit. kalau tidak dapat uangnya sore ini terpaksa anak kita dibawa pulang," ucap istri Aa dari seberang telepon. Triple yang pendengarannya tajam dan insting mereka yang kuat tentunya mengerti kesulitan AA itu.
Lina memberi kode kepada kedua saudaranya untuk sedikit menjauh. Johan, Ansel, Rino dan Gibson merasa heran, begitu juga dengan Ethan, Felix dan Gibran.
"Ada apa kak?" tanya Felix.
"Sepertinya Abang itu dalam kesulitan deh," jawab Lina.
"Kita bantu Abang itu kak," kata Gibran.
"Aku juga mau bantu," Johan menyela.
"Hmmm, tadi kami dengar Abang itu perlu uang untuk biaya rumah sakit, mungkin anaknya sedang sakit," ucap Lita.
Lina membuka tas ransel miliknya dan mengeluarkan uang sekitar 2 jutaan.
"Aku cuma ada segini," ucap Lina memperlihatkan uang yang ada ditangannya.
.
.
Aku sempat kebingungan untuk membuat alur cerita selanjutnya. kemudian timbul ide untuk memunculkan triple A aja dulu.
Dan mungkin bab selanjutnya ada sedikit ketegangan.
.
.
.
__ADS_1