Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Awal kehancuran


__ADS_3

.


.


.


Roger kalang kabut saat mendapatkan kabar bahwa data perusahaan yang dimilikinya telah bocor. Bobby datang dengan tergopoh-gopoh karena perusahaan mereka akan mengalami kebangkrutan kalau terus dibiarkan seperti ini.


"Bagaimana data perusahaan kita bisa bocor, hah." bentak Roger.


"Ti tidak tahu tuan, saat kami kembali saya mendapatkan kabar dari tim IT perusahaan kita bahwa ada seseorang yang telah membobol data perusahaan. Dan tim IT tidak dapat mengenandingi pembobol tersebut. Sepertinya ia bukan hacker sembarangan tuan," jawab Bobby sang asisten.


"B*doh, begitu saja tidak becus? Apa saja pekerjaan kalian?" teriak Roger marah.


Zeline yang mendengar suara papanya berteriak segera masuk keruangan itu.


"Ada apa pa?" tanya Zeline. Roger mengusap wajahnya dengan kasar, didepan anaknya dia tidak ingin memperlihatkan kemarahannya.


"Kenapa kamu masuk kesini?" tanya Roger dengan lembut sambil memberi kode kepada asistennya untuk segera pergi. Bobby pun segera keluar dan kembali keperusahaan.


"Apa yang terjadi pa? Kenapa papa marah marah dengan Om Bobby?" tanya Zeline.


"Nak, perusahaan Papa bakal bangkrut kalau tidak ada yang bisa memulihkan data perusahaan yang telah diambil." jawab Roger lembut.


"Apa? Gak mungkin pa? Perusahaan papa adalah perusahaan raksasa bagaimana bisa bangkrut?" tanya Zeline yang mulai menangis.


"Mungkin ini awal kehancuran kita, sebenarnya siapa yang telah kamu singgung Nak?" tanya Roger.


"Di dia... mereka adalah anak dari keluarga Henderson pa," jawab Zeline gugup.


"APA?" tanpa sadar suara Roger meninggi dan membuat Zeline kaget. Tubuh Roger seketika melemah dan jatuh tidak sadarkan diri.


"Pa papa..!" panggil Zeline sambil mengguncang tubuh Papanya. Zeline berlari keluar mencari ibunya. Dengan cepat Zarina menghampiri suaminya yang sudah tergeletak dilantai. Zarina segera menyuruh pelayan untuk memanggil Ambulans. Dalam waktu 20 menit Ambulans pun datang. Roger segera dibawa kerumah sakit.


Sejak dulu, walaupun Roger adalah ketua gangster tapi keluarga Henderson tidak pernah ia singgung. Sekarang karena ketidak tahuannya telah menyinggung keluarga tersebut.


Roger sudah tiba dirumah sakit, suster segera mendorong brankar keruang UGD, kemudian dokter pun masuk untuk menangani pasien. Sedangkan Zarina baru sampai dan sedang mengurus administrasi lebih dulu. Kemudian ia menelpon Bobby sang asisten suaminya untuk segera datang kerumah sakit.


Zarina mondar-mandir didepan ruang UGD, menunggu kabar dari dokter yang menangani suaminya. Tidak berapa lama Bobby datang dengan tergopoh-gopoh bersama 4 orang anak buah Roger.


"Apa yang terjadi nyonya?" tanya Bobby.

__ADS_1


"Saya tidak tahu, suami saya pingsan diruang kerjanya," jawab Zarina sambil menangis.


Tidak berapa lama dokter pun keluar. Zarina dan Bobby segera menghampiri dokter tersebut.


"Gimana keadaan suami saya dok?" tanya Zarina.


"Suami anda mengalami penyakit jantung ringan, mungkin karena ada yang membuatnya syok," jawab dokter tersebut.


Zarina menoleh kearah Bobby yang tertunduk tidak berani menatap istri dari tuannya itu. Suster mendorong brankar keluar dari ruangan UGD dan membawa pasien kekamar perawatan. Saat dikamar perawatan, Bobby masih tidak berani menatap Zarina.


"Jelaskan ada apa sebenarnya?" tanya Zarina.


"Mmm, per.. perusahaan, da data perusahaan ada yang membobolnya, dan sampai sekarang tim IT belum bisa memulihkannya. Dan jika itu berlanjut maka bisa dipastikan perusahaan akan mengalami kebangkrutan," jawab Bobby sambil tertunduk. Zarina menghela nafas.


"Selama ini perusahaan baik baik saja, apa ada orang yang lebih berkuasa yang kalian singgung?" tanya Zarina.


"Tid...!" belum sempat Bobby menjawab, ponselnya sudah berdering. Bobby segera keluar untuk menjawab telepon tersebut.


"Halo...!" sapa Bobby lewat telepon.


"Halo paman, bagaimana dengan hadiah dari kami?" ucap suara dari seberang sana.


"Siapa kamu?" tanya Bobby.


Deg... jantung Bobby langsung berdegup kencang, bukan karena jatuh cinta tapi karena terkejut. Tubuhnya seketika mematung.


"Si.. siapa sebenarnya kalian?" tanya Bobby gugup.


"Mengapa bertanya lagi paman, bukankah ketua, maksudku mantan ketua gangster menginginkan nyawa kami?" tanya Lina diseberang telepon.


"Makanya paman, kalau tidak ingin hancur jangan berurusan dengan kami, itu baru hadiah kecil Paman, bila paman dan ketua paman masih berurusan dengan kami, kehancuran markas kalian yang menjadi sasarannya," ucap Lina lembut tapi yang mendengar itu adalah sebuah ancaman.


Gleek... Bobby menelan silivanya dengan susah payah. Kemudian telepon pun terputus secara sepihak. Bobby masih melongo ditempat ia berdiri. Memikirkan dengan siapa mereka berurusan?. Tiba-tiba suara Zarina mengejutkan Bobby karena ia sedang melamun.


"Bobby...!" panggil Zarina.


"Ehh, iya nyonya," jawab Bobby.


"Tuan ingin bertemu denganmu," ucap Zarina.


"Baik nyonya," jawab Bobby yang kemudian masuk, Zarina pun menyusul dibelakang.

__ADS_1


"Tuan, tuan sudah sadar?" tanya Bobby.


"Perintahkan anak buah kita untuk tidak menggangu anak itu," titah Roger.


"Tuan, saya dapat telepon dari anak yang hendak kita b*nuh," ucap Bobby. Zarina terkejut mendengar suaminya bertindak sejauh itu.


"Apa?" tanya Roger sedikit meninggikan suaranya, Zarina segera menghampiri suaminya dan mengelus dada suaminya agar tenang.


"Katanya itu adalah hadiah kecil, dan kalau kita masih mengganggu mereka maka mereka tidak segan segan menghancurkan markas kita dan keluarga tuan," jawab Bobby takut takut. Takut tuannya marah.


"Aku tidak tahu kalau mereka itu adalah cucu Jordan Henderson, anak dari Darmendra Henderson." kata Roger. Bobby semakin terkejut. Hingga mulutnya terbuka lebar.


"Jadi rumor itu benar? Bahwa keluarga Henderson bisa menghancurkan siapa saja?" batin Bobby.


Bobby pernah mendengar rumor tentang tujuh anak kembar yang menghancurkan markas mafia terbesar di London, tapi ia menganggap bahwa itu hanya rumor. Karena menurutnya itu tidak mungkin dilakukan oleh anak kecil. Sekarang ia percaya bahwa rumor itu bukan sekedar rumor biasa. Ternyata semua adalah kenyataan.


"Tuan, jadi rumor itu benar?" tanya Bobby. Roger mengangguk.


"Iya, keluarga Henderson punya monster kecil yang bisa menghancurkan siapa saja yang mengusiknya. Kalau saja aku tau dari awal, aku tidak akan menggangu mereka," jawab Roger.


"Sekarang bagaimana tuan?" tanya Bobby.


"Lakukan seperti yang aku perintahkan tadi. Aku tidak mau hancur, kalau mereka sudah membuat perusahaan kita seperti itu, berarti mereka tidak akan main-main, ancaman mereka nyata," bentak Roger.


"Baik tuan," ucap Bobby lalu pergi dari tempat itu untuk ke markas mereka. Meskipun Roger sudah pensiun, tapi markas mereka masih tetap ditinggali oleh bawahannya yang tidak punya rumah. Bahkan Roger sesekali datang ke markas mereka itu untuk membicarakan bisnis dan sebagainya.


"Sabarlah suamiku, kamu masih sakit. Kata dokter kamu terkena serangan jantung ringan mungkin karena syok," ucap Zarina membelai lembut rambut suaminya.


"Aku tidak tahu sayang, kalau yang putri kita usik itu cucu Jordan Henderson, orang paling berkuasa di negara ini. Kita tidak ada apa-apanya dibanding kekuasaan mereka," ucap Roger.


"Hentikan semuanya suamiku, sebelum semuanya hancur." ucap Zarina.


"Pikirkan masa depan putri kita, jangan terlalu dimanja nanti malah membuat ia semena mena." pesan Zarina kepada suaminya.


"Tapi aku sangat menyayangi anak kita, sayang..!" kata Roger.


"Siapa sih yang tidak sayang anak? aku juga sayang. Tapi aku tidak ingin mendidik nya dengan memanjakannya secara berlebihan. Sayang anak tidak harus dimanja secara berlebihan. Ajari anak kita hidup mandiri sejak dini, maka masa depannya akan baik." ucap Zarina. Roger terdiam mendengar perkataan istrinya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2