
.
.
.
Setelah 2 jam berlalu sejak Adam keluar untuk mencarikan pesanan dari Ren. Adam pun kembali ke perusahaan dengan menenteng plastik berisikan martabak manis dan buah ceri. Adam masuk kedalam ruangan bosnya itu dan mendapati Ren sedang tertidur di sofa.
"Tidak biasanya tuan seperti itu? Biasanya tuan paling rajin dalam bekerja dan tidak pernah tidur di kantor. Apalagi jam segini?" Batin Adam. Ren terbangun saat mencium bau martabak, karena penciumannya sangat sensitif.
"Sudah sampai?" tanya Ren langsung mengambil plastik tersebut dan berbinar senang melihat isinya.
"Sana pergi, nanti selera makanku hilang bila didekati kamu," ucap Ren pedas sambil menyerahkan satu martabak pada Adam. Karena Adam membeli lebih dari satu. Bahkan Adam membelinya 3.
"Oh ya Dam, aku mau pulang, rasanya gak mood mau kerja, aku kangen dengan istriku," kata Ren enteng. Padahal baru jam 10 pagi tapi Ren sudah mau pulang, biasanya tidak pernah Ren seperti itu. Adam hanya mengangguk.
Kemudian Ren pun keluar dari ruangannya dan berjalan menuju lift, karena ruang kerjanya terletak dilantai paling atas.
"Tuan kenapa ya?" tanya Adam pada Rina.
"Gak tau, tadi saya masuk keruangan nya tuan langsung menutup hidungnya," jawab Rina. Mereka baru berani berbincang setelah bos mereka pergi.
"Tadi juga saat aku masuk tuan sedang tidur, aneh banget tidak biasanya tuan begitu," kata Adam lagi.
"Tuan sudah seperti orang ngidam saja," ucap Rina.
"Hah... memang ada laki laki ngidam?" tanya Adam.
"Ada, dulu suami saya juga mengalaminya. saya yang hamil dia yang ngidam," jawab Rina. Adam pun manggut-manggut.
"Tapi tuan baru menikah seminggu yang lalu, masa langsung hamil?" tanya Adam.
"Biasanya tanda tanda seperti yang dialami suami saat istri baru hamil, bisa saja pas mereka melakukan itu diwaktu subur. Kalau Tuhan sudah berkehendak tidak ada yang mustahil," jawab Rina. Adam pun akhirnya mengerti.
Ren melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sesekali ia mencomot ceri kemudian martabak lalu menyuapkan kemulut nya, sehingga dalam mulutnya rasa ceri dan rasa martabak saling bertabrakan.
Tanpa mengalihkan pandangan kearah depan, Ren terus makan sambil sebelah tangannya memegang setir mobil.
__ADS_1
Tidak berapa lama Ren pun tiba di mansion, pintu gerbang pun terbuka dan Ren segera masuk. Ren memarkirkan mobilnya di garasi mobil. lalu keluar dari mobil dan langsung masuk kedalam rumah. Diruang keluarga ternyata mereka semua berkumpul. Hanya triple A dan Darmendra saja yang tidak ada.
"Ehh sudah pulang juga?" tanya Diva heran.
"Iya Mom, rasanya lesu banget kalau bekerja." kata Ren.
Itu kalian kenapa ikut ikutan tidak bekerja?" tanya Ren yang melihat saudara saudaranya sedang bermanja-manja dengan istri mereka. Ren kemudian menghampiri Aisyah, dan meletakkannya plastik yang ia bawa diatas meja.
Spontan saudara saudaranya mengambil plastik tersebut hingga mereka berebut satu sama lain. Diva hanya geleng-geleng kepala melihatnya.
"Dad, baru Mommy ingat. Bukankah sikap sikembar saat ini sama dengan sikap Daddy sewaktu Mommy baru saja hamil?" tanya Vera. Diva menoleh kearah Vera saat mendengar kata hamil.
"iya ya, Daddy kok bisa lupa," jawab Jordan.
"Apa Mom? Mereka hamil?" tanya Diva yang tanpa sadar suaranya meninggi. Mungkin karena kaget atau tidak menyangka kalau anak dan menantunya diberikan kepercayaan seperti itu. Sikembar dan istrinya semua menoleh. Mereka mengerjap ngerjapkan matanya.
"Coba diperiksa dulu, siapa tau beneran hamil?" tanya Vera dengan semangat. Kemudian Vera menyuruh salah satu dari sikembar untuk membeli testpack.
"Biar aku saja," ucap Ram dengan semangat.
Ram pun berlari kecil menuju mobil untuk pergi ke apotik terdekat.
"Kita tes dulu ya sayang, nanti setelah di tes baru kita tahu jawabannya." jawab Vera.
"Sayang..!" panggil Ray, Lalu berbaring dipangkuan Nadine. Nadine mengelus rambut hitam Ray. Ray dengan perlahan memejamkan matanya.
"persis seperti Opa kalian dulu," kata Vera, sedangkan Jordan hanya nyengir bila diingatkan tentang masa lalu sewaktu ia ngidam.
Marni datang membawa buah strawberry dan menghidangkan diatas meja. Ray membuka matanya kala mendengar Marni menyebut buah strawberry. Tanpa menunggu lama Ray segera memakan buah tersebut.
"Sayang aku juga mau," pinta Raffa pada Prita, kemudian Prita pun mengambil satu dan memberikannya kepada Raffa.
"Didapur masih ada tuan muda," kata Marni.
Raffa segera bangkit dan berjalan menuju dapur, Ren, Rakha, Rasya dan Roy pun bangkit untuk mengambil buah tersebut.
"Untung aku beli lebih dari sekilo," batin Marni. Marni pun berlalu dari situ dan melanjutkan pekerjaannya dibelakang.
__ADS_1
Ram datang dengan membawa banyak testpack. Ada sekitar 20 buah, kemudian Ram menyerahkannya kepada Vera.
"Loh kok diberikan kepada Oma?" tanya Vera.
"Terus pada siapa? Kan Oma yang suruh aku beli ini," jawab Ram.
"Periksa istri istri kalian, apa benar mereka hamil?" tanya Vera. Ram garuk-garuk kepala. Melihat buah strawberry hanya tinggal satu didalam piring, dengan cepat Ram mencomotnya. tangan Ray menggantung tidak jadi mengambil buah strawberry karena keduluan Ram. Ray menatap tajam kearah Ram, tapi Ram cuek cuek saja.
"Cepat periksa, sayang," kata Diva.
"Yuk...!" ajak Ram lalu menggandeng tangan Cahaya. Ray pun membawa Nadine keatas menuju kamar mereka.
Ketujuh pasangan tersebut pun naik keatas menuju kamar mereka. mereka masuk kedalam kamar mandi untuk mencoba testpack tersebut.
Ram sedang duduk disisi ranjang dengan gelisah. Sebentar duduk sebentar berdiri bahkan mondar mandir didalam kamar tersebut. Begitu juga dengan yang lain, mereka juga sudah tidak sabar ingin mengetahui hasilnya. Selang 10 menit, Cahaya keluar dengan wajah murung.
"Gak apa-apa kalau belum berhasil, kita bisa berusaha lebih giat lagi," ucap Ram sambil memeluk tubuh Cahaya.
"Garis dua," bisik Cahaya ditelinga Ram.
"Hah... Artinya?" tanya Ram.
"positif hamil," jawab Cahaya.
"Aaaaaakkh... benarkah?" tanya Ram sambil berteriak kencang, beruntung kamar mereka kedap suara. Saking senangnya Ram mengangkat tubuh Cahaya hingga wajah Ram berada diperut Cahaya. Ram mencium perut Cahaya bertubi tubi.
"Kita beritahu semua orang," ucap Ram sambil menggandeng tangan Cahaya.
Ram membuka pintu kamar dan ajaibnya mereka juga membuka pintu secara bersamaan. Wajah mereka menggambarkan suasana hati mereka saat ini. Dengan hati hati Ram menuntun Cahaya menuruni anak tangga, karena lift sedang dipakai oleh yang lain.
"Bagaimana, sayang?" tanya Diva saat mereka sudah tiba dibawah. Mulai dari Nadine menyerahkan testpack tersebut, kemudian disusul oleh Aisyah, setelah itu Keyla. Dan dilanjut oleh Prita, Adira, Danita dan yang terakhir Cahaya.
"Kalian benar benar hamil?" tanya Diva, Vera pun tidak kalah terkejut dan sekaligus senang.
"iya Mom," jawab mereka serentak.
.
__ADS_1
.
.