Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Siapa yang mengajari kalian?


__ADS_3

.


.


.


Akhirnya Ren dan Aisyah pulang duluan, mereka juga tidak tega melihat wajah pucat Ren. Ren membayar semua makanan mereka.


Diantara sikembar hanya Ren yang paling parah ngidamnya. Yang lain juga ngidam tapi tidak sampai seperti itu. Hanya ingin bermanja-manja dan ingin makan keinginan mereka. Sedangkan Ram hanya sensitif terhadap bau obat obatan. Sewaktu di rumah sakit sebisa mungkin ia menahan diri. Beruntung masih bisa ditahan. Sedangkan Ren lebih sensitif kepada bau bauan seperti bau badan yang menggunakan parfum dan masakan yang mengandung bau lemak.


Setelah selesai makan mereka semua juga pulang dengan mobil masing-masing. Ram dan Cahaya rencananya akan singgah di supermarket dulu.


Ren dan Aisyah sudah tiba di mansion, setelah keluar dari mobil Ren kembali berlari menuju kamar mandi yang ada didekat dapur. Orang tua mereka yang ada disitu merasa heran dengan sikap Ren, terutama orang tua Aisyah.


Lalu Aisyah menjelaskan bahwa Ren sedang mengalami kehamilan simpatik. Fatimah dan Sofian sangat bahagia mendengar berita ini.


"Jaga baik-baik kandunganmu nak, karena trimester pertama masih sangat rentan," pesan Fatimah.


"Apa kata dokter?" tanya Sofian.


"Dokter bilang semua baik baik saja, kemungkinan kembar. Sebab dokter belum bisa memastikan apakah benar kembar atau tidak. Nanti tunggu bulan depan baru bisa dipastikan, begitu kata dokter," ucap Aisyah menjelaskan.


"Tidak heran sih kalau kembar, karena mengikuti gen dari suamimu," kata Sofian.


"sebaiknya kamu istirahat dulu, nanti baru ngobrol lagi dengan ayah dan ibumu," kata Diva menyuruh Aisyah istirahat.


"Ayah, ibu...!" panggil Ren kemudian mencium tangan kedua mertuanya itu. dengan wajah pucat ia duduk didekat istrinya.


"Kamu belum makan sayang? Tadi tidak jadi makan," tanya Ren.


"Iya, aku lupa," jawab Aisyah lalu pergi kedapur. Sedangkan sop yang tadi ia beli sudah lebih dulu dibawa oleh pelayan untuk dipanaskan supaya kandungan lemak dalam sop tersebut tidak beku. Aisyah makan dengan lahap, seperti orang tidak makan beberapa hari. Padahal baru beberapa jam yang lalu ia makan.


Kemudian keluarga yang lain juga datang, seperti orang tua Prita, orang tua Adira dan orang tua Nadine juga Danita. jadi semakin ramai berkumpul diruang keluarga. Ditambah lagi kedatangan sikembar bersama istri istri mereka.

__ADS_1


"Hebat ya, kalian bisa hamil berbarengan," ucap Diana.


"Kebayang gak sih kalau lahirannya juga barengan," Wardina menimpali. Kemudian mereka semua tertawa membayangkan jika benar itu terjadi.


Para wanita berkumpul sesama wanita dan pria berkumpul sesama pria. Mereka membicarakan topik mereka masing-masing.


"Gimana usahanya Fian?" tanya Jordan.


"Alhamdulillah, berkat dukungan dari cucu anda tuan, semua berjalan dengan baik dan lancar," jawab Sofian.


Sementara yang wanita membicarakan soal mengadakan acara selamatan dan mengundang anak anak panti, dan usulan itu mendapat sambutan hangat dari yang lain mereka sangat setuju dengan usulan tersebut.


...****************...


Sementara dipihak lain, Felix sedang berada didalam kamar. kedua orang tuanya sedang berada diruang tamu.


Braak... bunyi pecahan sesuatu dari dalam kamar Felix. Jhon dan Aryana terkejut dan segera berlari kecil menuju kamar putranya. Dan saat pintu dibuka ternyata Felix sedang memecahkan celengan hasil tabungan dengan sisa uang jajan setiap hari.


"fel mau menyumbang uang ini Ma, fel, Gibran dan Ethan sudah sepakat untuk menggunakan uang tabungan sendiri untuk menyumbangkan uang tersebut kepanti asuhan," jawab Felix.


"Siapa yang mengajari kalian, sayang?" tanya Jhon yang juga mendekati Felix.


"Kakak kembar yang ajari Pa, dan akhirnya kami menyadarinya sendiri. Dan semua itu berkat kakak kembar 3." jawab Felix.


"Katanya lagi tidak ada kata terlambat untuk membantu orang, jika kita mampu kenapa tidak? Dan kita anak merasakan indahnya jika berbagi, begitu kata kakak kembar," ucap Felix lagi.


Aryana dan Jhon saling pandang wajah keduanya terasa tertampar. Selama ini mereka hanya memanjakan anak mereka dengan uang uang dan uang. Tidak pernah mengajarkan anak mereka untuk berbagi juga untuk mandiri. Tapi kesadaran anak mereka ternyata dampak dari pengaruh anak anak Diva. Aryana menangis lalu memeluk putranya itu.


"Maafkan Mama, sayang. Selama ini mama sudah lalai," ucap Aryana. Jhon juga melakukan hal sama.


Tidak berapa lama datang Robert bersama istri dan anaknya, kemudian datang lagi Aldo bersama istri dan anaknya.


Mereka berdiskusi tentang masalah anak anaknya. karena beberapa hari ini sikap mereka berubah 180 derajat.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang terjadi pada anak anak kita?" tanya Aldo.


"Sebenarnya tidak ada yang terjadi, hanya saja mengikut pengakuan dari anakku, mereka seperti itu karena pengaruh dari anak anak Diva dan Darmendra. kalian juga tahu kan seperti apa anak mereka itu? mereka hidup mandiri sejak kecil dan sering berbagi kepada sesama. Hanya kita yang lalai dalam mendidik anak-anak, karena kita menganggap uang adalah segalanya, yang bisa menjamin anak anak kita," ucap Jhon panjang lebar.


Mereka semua saling pandang mendengar perkataan Jhon yang memang ada benarnya.


"Aku sebenarnya kagum dengan Diva cara mendidik anak-anak, tapi kenapa aku tidak bisa seperti dia?" tanya Anisa.


"Bukan tidak bisa, sebenarnya kita terlalu melalaikan tanggung jawab kita sebagai orang tua, kita tidak pernah mengajarkan sesuatu yang membuat anak kita untuk hidup mandiri dan lebih menghargai orang lain," jawab Aldo.


"Beberapa hari ini, mereka banyak perubahan. mereka mau menghormati pelayan dan juga supir pribadi yang mengantar mereka. Bahkan mereka juga lebih sering mencium tangan kami saat mau berangkat sekolah. Padahal sebelumnya tidak pernah," ucap Robert.


"Kita yang tidak peka terhadap mereka. Seperti anak anak Diva, mereka lebih menghargai orang lain yang memerlukan bantuan," ucap Adefa.


"Aku akan mendukung anakku untuk menyumbang kepanti asuhan," kata Jhon.


"Aku juga," ucap Robert dan Aldo serentak.


"Kita harus berterimakasih kepada triple A karena sudah memberi pengaruh baik kepada anak anak kita," ucap Anisa dan diangguki oleh yang lain.


Sedangkan didalam kamar, Ethan, Felix dan Gibran sedang mengumpulkan uang dari hasil memecahkan celengan mereka. Sebenarnya uang itu akan mereka gunakan untuk membeli PlayStation keluaran terbaru. Tapi kini mereka berubah pikiran. Dan lebih baik uang itu untuk membantu orang yang susah. Karena begitu yang diajarkan oleh triple A kepada mereka.


Ternyata kata kata itu mereka rekam dalam otak mereka, sehingga mereka berpikir akan lebih baik seperti itu daripada dihambur hamburkan untuk hal yang tidak bermanfaat.


"Kami akan membantu kalian," ucap Jhon.


"Tidak perlu Pa, kalau Papa ingin menyumbang, silahkan Pa. Tapi kami hanya akan menggunakan uang kami sendiri. Kata kak Lina, berapapun uang yang kita sumbangkan maka akan bermanfaat bagi yang memerlukan, dan yang penting kita ikhlas." ucap Felix yang begitu menusuk direlung hati orang tuanya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2