Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Pembuat onar


__ADS_3

.


.


.


Beberapa pria berbadan besar menghampiri mereka, tapi triple A, Ethan, Felix dan Gibran masih tenang tenang saja, berbeda dengan Bahar yang sudah nampak ketakutan. Sedangkan pemilik rumah makan tersebut sudah bersembunyi ditempat yang dia rasa aman.


"Heh bocah, mengapa kalian tidak lari?" tanya salah satu dari mereka.


"Jangan ganggu kami Paman," kata Ethan dengan beraninya.


"Ooh berani kalian?" tanyanya lagi.


"Kami kesini cuma ingin makan, Paman. Dan Paman jangan membuat onar ditempat ini," kata Felix. Triple A masih tetap tenang tanpa bicara apa-apa.


"Berani sekali kalian, bicara? kalian tidak tahu siapa kami?" tanya pria itu.


"Kami tidak ada waktu untuk mengetahui itu semua, dan juga Paman bukan orang penting yang harus diketahui," jawab Gibran.


Braak.... pria itu menggebrak meja. Sehingga Bahar terkejut dan wajahnya semakin pucat. Kawanan pria itu mendekat. mereka berjumlah 5 orang, terlihat sangar dan tato dimana mana. Ditangan dileher mungkin ditubuh mereka juga ada.


"Jangan cuma menggertak Paman, kalau benar benar kuat ayo lawan kami," ucap Ethan menantang.


"Berani sekali kalian bocah...!" hardik pria itu.


"Mengapa kami harus takut? Paman makan nasi, kami juga makan nasi. Beda hal nya kalau Paman makan sandal baru kami takut, berarti Paman tidak waras," jawab Ethan. Pria itu semakin marah.


Pria itu melayangkan tinjunya kearah Ethan, tapi dengan santainya Ethan menangkap tangan itu dan memelintirnya.


"Aaakh," pria itu berteriak saat tangannya dipelintir.


"Br*ngs*k...!" umpat pria itu.


"Kalau mau lawan jangan disini Paman, lebih baik kita keluar agar tidak merugikan orang lain, karena kalian pembuat onar," ucap Felix.


"Baik, jangan menangis kalian kalau ku pukul," ucap pria itu. kemudian mereka semua bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari rumah makan tersebut.


"Sebenarnya apa mau Paman membuat onar disini?" tanya Gibran.

__ADS_1


"Kami hanya disuruh menakut nakuti orang yang makan ditempat ini," jawab pria itu dengan bod*hnya.


"Apa untungnya buat Paman?" tanya Felix.


"Kami dibayar mahal untuk membuat kekacauan," jawab salah satu dari mereka.


"Hey... kalian mau bertarung apa diskusi hah?" tanya Lina. ketiganya hanya nyengir tanpa ada rasa takut sedikitpun.


"Kalau ada popcorn sama minuman ringan enak nih buat nonton mereka," Ucap Lica.


"kau pikir ini bioskop?" tanya Lita.


"Habisnya kita cuma jadi penonton saja tanpa ikut bertarung," jawab Lica tanpa beban.


"Kalau mau bertarung silahkan, hajar mereka si pembuat onar," ucap Lina tanpa menoleh kearah saudaranya.


"Serius?" pekik Lica girang seolah mendapatkan mainan baru. kemudian ia pun maju mendekati pria pembuat onar tersebut.


"Wah sok jagoan kalian," ucap pria itu yang berbadan paling besar diantara mereka.


"Cih, kelamaan," umpat Lica. Lalu Lica melakukan tendangan tipuan kepada salah satu dari mereka, sontak pria itu mengelak. Dan saat pria itu mengelak Lica memutar tubuhnya dan mengangkat kakinya tinggi dan tendangan berikut menyusul, tendangan itu tepat mengenai sasaran, dada pria itulah sasaran Lica hingga tubuh pria itu terhuyung kebelakang dan tumbang ketanah. Pria itu mengusap dadanya yang terasa nyeri akibat tendangan dari Lica.


Dengan kemampuan yang mereka miliki tentu saja mereka tidak takut walaupun tubuh lawan mereka lebih besar. Satu persatu mereka tumbang dan jatuh ketanah.


"Siapa yang membayar kalian?"tanya Lica sambil menginjak dada pria salah satu dari mereka.


"Pemilik rumah makan seberang sana, karena rumah makan miliknya selalu sepi pengunjung jadi ia iri dengan pemilik rumah makan disini yang selalu ramai. Bahkan ia juga memfitnah bahwa pemilik rumah makan yang disini pakai pesugihan," jawab pria itu.


"Kalian harus ku laporkan ke polisi biar kalian mempertanggung jawabkan perbuatan kalian," ucap Lica.


"Jangan... tolong jangan laporkan kami, kami juga punya keluarga," jawab salah satu dari mereka yang masih berbaring diatas tanah.


"Kalau kalian sayang keluarga kalian, berhentilah bekerja seperti ini. Dan ini ambil untuk mengobati luka kalian." Lica menyerahkan uang seratus ribu sepuluh lembar.


"Dan datanglah kealamat ini, aku akan memberikan kalian pekerjaan yang lebih baik," ucap Lica sambil menyerahkan kartu nama perusahaan milik Daddy nya.


"J H company?" tanya pria itu kaget. Keempat temannya juga kaget. Siapa yang tidak kenal dengan perusahaan tersebut. Seluruh negara ini mengenal perusahaan tersebut.


"Ta.. tapi kami tidak punya pendidikan?" tanya salah satu dari mereka.

__ADS_1


"Kalian bisa bekerja sesuai kemampuan kalian. kalian bisa karate tapi kalian salah gunakan kemampuan kalian," jawab Lina menyela.


"Ja.. jadi kami harus kerja apa?" tanyanya lagi.


"Jadi satpam atau sekuriti bisa juga cleaning service, yang penting tidak membuat onar ditempat orang lain," jawab Lita.


"Baiklah, kami akan bekerja dengan serius. Kami juga akan menjadi orang baik," ucap pria itu.


"Sekarang kalian pergi dari tempat ini sebelum polisi datang," kata Lina menakuti mereka. Mereka pun lari tunggang langgang mencari aman. kemudian mereka mendatangi rumah makan yang telah membayar mereka untuk berbuat onar dan menghajar pemilik rumah makan tersebut, Lalu memperingatinya agar tidak menggangu rumah makan seberang.


Sedangkan triple A dan yang lainnya kembali masuk kedalam rumah makan tersebut dan membayar biaya kerugian pemilik rumah makan tersebut. karena tadi yang belum sempat bayar cukup ramai juga. Pemilik rumah makan tersebut sangat berterimakasih kepada mereka yang sudah menolong. Tapi pemilik rumah makan tersebut hanya mengambil separuh dari kerugiannya hari ini.


Kemudian mereka semua pun pulang, Ethan, Felix dan Gibran pulang menggunakan mobil karena hari sudah mulai sore, sedangkan triple A pulang menggunakan skuter milik mereka.


"aku merasa sangat senang setelah kita ikut berbagi dengan orang yang memerlukan," ucap Ethan. Saat ini mereka sudah berada didalam mobil dan berjalan menuju kediaman mereka.


"Iya aku juga, pantas saja Abang kembar dan kakak kembar suka sekali menolong orang ternyata sangat menyenangkan," ucap Gibran.


Diam diam Bahar tersenyum melihat majikan kecilnya sudah banyak perubahan dari menolong orang menghormati yang lebih tua meskipun itu pelayan atau supir mereka.


Sementara triple A sedang berlomba dengan skuter mereka masing-masing karena mereka ingin cepat tiba di mansion. Karena waktu sekarang sudah menunjukkan pukul 5 sore.


"Kalau aku menang apa hadiahnya?" tanya Lina sambil berteriak.


"Gak ada hadiah," teriak Lica.


"Cih, katanya ngajak lomba, setiap lomba harus ada hadiahnya dong biar semangat," ucap Lina lagi.


"Baik, kalau kamu menang uang jajan kami berdua selama tiga hari untukmu, begitu juga sebaliknya," ucap Lita.


"Deal...?" tanya Lina.


"Deal...!" jawab Lita dan Lica serentak.


"Siapa yang sampai mansion duluan dialah yang menang," teriak Lina lalu melajukan skuternya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2