
.
.
.
Setelah selesai makan mereka berniat untuk pulang, dengan mengendarai mobil masing-masing.
Ram dengan perasaan senang terus mengelus perut istrinya.
"Dedek sudah kenyang ya," tanya Ram seolah berbicara dengan sang anak. Cahaya pun hanya tersenyum melihat kebahagiaan suaminya itu, jujur ia sendiri juga sangat bahagia. Apa yang ia impikan untuk hidup bersama dengan dewa penolongnya sudah terwujud.
Ram mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, karena Cahaya sedang hamil besar ia tidak ingin terjadi sesuatu pada keluarga kecilnya itu.
"Kamu senang sayang?" tanya Ram.
"Sangat...!" jawab Cahaya singkat.
"Fokus kedepan ayah," ucap Cahaya pemeringkatkan.
"Iya sayang," jawab Ram.
Akhirnya mereka pun tiba di mansion, Ram memarkirkan mobilnya di garasi mobil, begitu juga dengan yang lainnya. Diva sudah menunggu pesanannya dimeja makan, tadi mendengar suara mobil, Diva segera kedapur untuk menyiapkan mangkok,
"Mom, ini baksonya," ucap Ram sambil menyerahkan 20 bungkus bakso tersebut.
"Sedang apa sayang?" tanya Darmendra yang kebetulan juga kedapur.
"Hubby mau?" tanya Diva sambil menuangkan kuah bakso tersebut kedalam mangkuk.
"Mau banget sayang," jawab Darmendra.
Diva pun menyiapkan untuk suaminya dan tidak lupa juga untuk mertuanya. Kemudian selebihnya Diva berikan kepada pelayan.
Pelayan di mansion ini tersenyum senang karena dibelikan bakso oleh majikannya itu. Sebenarnya kalau mereka mau beli sendiri juga bisa, tapi bila diberi alangkah senangnya. Berbeda dengan beli sendiri.
"Mommy mau?" tanya Diva sambil menyodorkan mangkuk berisi bakso, karena Vera dan Jordan juga sedang kedapur.
"Pasti enak nih," ucap Vera dengan berbinar.
"Kebetulan sudah lama tidak memakan bakso," Jordan menimpali. Akhirnya mereka pun makan bakso bersama.
Malam hari...
__ADS_1
Cahaya begitu gelisah, perasaannya tidak tenang. Ram yang sedang tertidur pun terbangun melihat Cahaya yang gelisah ia pun panik.
"Sayang ada apa?" tanya Ram.
"Ayah, aku ngompol," jawab Cahaya. Ia tidak merasakan sakit tapi celananya basah. Ram berlari keluar kamar, ia menggedor gedor pintu kamar Darmendra.
Darmendra yang sedang naik gunung pun terganggu padahal sebentar lagi akan mencapai puncak.
"Siapa sih ganggu aja malam malam," ucap Darmendra emosi karena acara naik gunungnya terganggu. Darmendra segera memakai pakaian begitu juga dengan Diva.
Ram masih terus menggedor gedor pintu kamar. Saat Darmendra membuka pintu satu telapak tangan mendarat sempurna diwajah Darmendra, karena Ram yang panik tidak memperhatikan kedepannya.
"Aww," teriak Darmendra pelan.
"Ahh Daddy maaf, Aya. Mana Mommy?" tanya Ram.
"Ada apa?" tanya Ram.
"Aya," ucap Ram karena untuk bicara rasanya sangat sulit. Diva pun menghampiri keduanya.
"Ada apa sayang?" tanya Diva.
"Mom Aya, ngompol." jawab Ram. mendengar hal itu Diva segera berganti pakaian, karena tadi ia hanya memakai piyama tidur.
Jam satu malam, mereka dibuat panik. Dan ternyata hal itu bukan hanya terjadi kepada Cahaya, tetapi juga pada Aisyah. Ren yang panik melihat Aisyah mengeluh kesakitan pun segera berlari menuju kamar Mommynya.
"Kenapa bisa barengan sih? Cepat bawa kerumah sakit," tanya Diva.
Sedangkan Cahaya sudah didalam mobil, walaupun Cahaya tidak mengeluhkan sakit tapi sepertinya air ketu*an sudah pecah.
"Kalian juga ikut kerumah sakit, untuk berjaga-jaga takutnya nanti kalian melahirkan juga," ucap Diva. Mereka pun bersiap siap untuk kerumah sakit.
Mendengar keributan, Vera dan Jordan pun terbangun. Melihat sikembar yang panik Vera tidak bertanya lagi langsung berganti pakaian dan ikut juga kerumah sakit bersama Jordan.
Diva membangunkan triple A untuk berpamitan, takutnya nanti putri putrinya mencarinya. Para pelayan pun juga terbangun. Tapi mereka tidak ikut kerumah sakit.
Ram dan Ren sudah membawa istrinya lebih dulu, yang lain menyusul belakangan.
Dirumah sakit, para dokter dan suster sudah menunggu karena tadi Darmendra sudah meneleponnya.
Tujuh dokter kandungan sudah siap siap karena yang akan lahir penerus keluarga Henderson. Ram dan Ren sudah tiba di rumah sakit, suster segera mendorong brankar, Cahaya dan Aisyah pun dibawa keruangan persalinan. mereka satu ruangan hanya tertutup oleh tirai hijau.
Diperjalanan menuju rumah sakit, Keyla tiba tiba nengeluh kesakitan, Rakha yang disamping Keyla pun mencoba untuk menenangkan istrinya.
__ADS_1
"Hubby cepat sedikit," perintah Diva yang juga terlihat panik, Darmendra berlagak tenang padahal ia juga tidak kalah paniknya. meskipun tidak sepanik waktu Diva mau melahirkan.
"Sabar sayang, sebentar lagi kita akan sampai." ucap Darmendra.
mereka satu mobil 6 orang, Darmendra yang menjadi supirnya, sedangkan dimobil belakang Jordan yang menjadi supirnya.
Sedangkan Agus menjadi supir Ram dan Ren.
Mereka tiba di rumah sakit, Keyla segera dibawa keruangan persalinan.
"Hubby, orang tua mereka sudah dihubungi, belum?" tanya Diva.
"Aku lupa sayang," jawab Darmendra. Darmendra pun segera menghubungi besannya satu persatu, mendengar kabar tersebut mereka pun langsung kerumah sakit.
Kemudian Darmendra menyuruh Agus untuk menjemput Wardina. karena yang lain tidak perlu dijemput lagi, mereka sudah punya mobil masing-masing pemberian menantu mereka.
Agus pun segera pergi menjemput Wardina karena Wardina tidak bisa mengendarai mobil.
Didalam ruangan persalinan, tiga pasangan itu pun masing-masing menunggui istrinya. Satu ruangan ada tiga ranjang, dan hanya disekat oleh tirai. Dokter dan suster pun sudah siap siap untuk menyambut penerus keluarga Henderson. Cahaya yang lebih dulu melahirkan bayi bayinya.
"Selamat nyonya, bayinya sepasang," ucap dokter, lalu dokter pun menyerahkan bayi tersebut ke suster untuk dibersihkan.
Sedangkan Aisyah masih menunggu pembukaan lengkap, begitu juga dengan Keyla. karena mereka semua akan melahirkan normal.
Wardina sudah sampai dirumah sakit, ia juga sangat cemas mendengar kabar kalau putrinya akan melahirkan.
Begitu juga dengan orang tua Aisyah, orang tua Nadine, orang tua Adira, orang tua Prita, orang tua Danita juga sudah tiba dirumah sakit. Diana memeluk Nadine yang sedang duduk dikursi tunggu.
"Kamu gak apa-apa Nak?" tanya Diana.
"Aku baik baik saja ma, jangan khawatir." jawab Nadine. Baru saja Diana melepaskan pelukannya, Nadine tiba tiba merintih kesakitan. Beruntung mereka sudah siap sedia, jadi tidak perlu repot-repot lagi. Dokter segera menangani Nadine. Suster membawa Nadine keruangan persalinan yang lain, karena diruang satunya masih ada Cahaya, Aisyah dan Keyla.
Tidak berapa lama terdengar lagi suara tangis bayi, kali ini Keyla yang ternyata lebih dulu melahirkan, setengah jam kemudian baru Aisyah.
Ren menangis melihat perjuangan Aisyah melahirkan bayi kembarnya. Begitu juga dengan Rakha, Keyla melahirkan bayi kembar 4, hanya beda beberapa menit saja. Aisyah melahirkan bayi kembar 2, juga beda beberapa menit saja.
Diluar ruangan, orang tua mereka mengucapkan syukur karena anak anaknya melahirkan bayi dengan selamat.
.
.
.
__ADS_1