
.
.
.
Prita tersenyum karena Raffa mengkhawatirkannya, ya jelaslah kalau Raffa khawatir, itu karena Raffa sangat mencintai Prita.
"Tenang saja calon suamiku, aku bukan gadis lemah lagi." jawab Prita. Lalu kemudian mengecup bibir Raffa, Raffa terdiam sejenak dalam situasi seperti ini sempat sempatnya mereka kecup kecupan.
"Itu adalah hadiah karena mengkhawatirkan aku," ucap Prita enteng. Raffa semakin bersemangat seperti ponsel yang dayanya terisi 100% full baterai.
Musuh mendekat kearah keduanya, Prita bersalto menendang dada musuh sehingga musuh terpental menabrak apa saja yang ada disekitar situ.
"Yee...aku bisa, aku bisa," teriak Prita. Untuk pertama kalinya ia melakukan hal itu setelah ia belajar. Karena terlalu senang Prita tidak menyadari kalau ada satu orang musuh berlari kearahnya dengan memegang pisau dan siap untuk menusuk.
"Sayang awas...!" teriak Raffa, Raffa saat ini juga sedang melawan musuhnya. Prita menoleh kearah musuh, dengan secepat mungkin ia memutar tubuhnya untuk menghindari pisau tersebut. Dan dengan sekuat tenaga ia menyikut dada musuhnya itu, kemudian Prita menendang tangan musuh sehingga pisau itu terlepas. Prita menendang lagi dada musuh sehingga musuh terjatuh kelantai. Prita yang sudah emosi menjatuhkan dirinya ketubuh lawan dan sikunya tepat menghujam kedada lawan, sehingga muntah darah. Seketika musuh pun tidak berkutik lagi.
"Kamu hebat sayang," ucap Raffa memuji calon istrinya. Prita tersenyum.
"Apa hadiah untuk aku dihari pernikahan kita?" tanya Prita.
"Sebutkan saja, pesawat, pulau pribadi, mansion megah, villa sebut saja aku akan kabulkan," kata Raffa. Prita menggeleng.
"Aku mau bulan madu ke Dubai," jawab Prita.
"Hanya itu? Yang lain apalagi?" tanya Raffa.
"Gak ada, hanya itu saja." jawab Prita.
"Itu mah bukan hadiah," ucap Raffa.
"Kita bantu yang lain," kata Prita sambil bergelayut manja dilengan Raffa.
Duh dua sejoli ini, mau mesra mesraan tidak lihat tempat dan keadaan. Lagi genting begini sempat sempatnya mereka pacaran.
__ADS_1
Kemudian mereka menghampiri yang lain, ternyata mereka sudah berkumpul disatu tempat dan hanya tinggal beberapa orang saja musuh yang tersisa. Dengan kekompakan satu keluarga ini, mereka berhasil menumpas para musuhnya. Bukan kaleng kaleng, satu klan mafia habis dalam waktu beberapa jam saja. Benar benar gak bisa diremehkan keluarga Henderson.
Dari Oma Opa, sampai anak menantu dan cucu serta cucu menantu semuanya kompak kalau diganggu. Ibarat satu kelompok lebah, satu diganggu maka segerombolan lebah akan menjerang dan menyengat. Tapi kalau tidak diganggu mereka juga tidak akan mencari masalah.
"Sekarang sudah selesai," ucap Vera.
"Belum Oma, ketuanya masih disana," ucap Cahaya menunjukkan salah satu kamar. Lalu mereka pun masuk kekamar yang ditunjuk oleh Cahaya.
Ternyata dikamar itu banyak ruang rahasia, mereka memeriksa satu persatu dan menemukan banyak para gadis dibawah umur disekap diruang yang berbeda beda. Sedangkan Cahaya langsung menuju ruangan tempat mereka disekap tadi.
"Bawa mereka semua keluar," perintah Jordan. Roxy diseret dengan tangan dan kaki terlilit lakban. Sedangkan para gadis yang sudah sadar tapi tubuhnya masih lemah. Segera dikeluarkan dari tempat itu. Ada sekitar 20 orang gadis yang disekap. Dan mereka itu korban terbaru. Ram segera menelepon polisi dan juga Ambulans untuk datang ke lokasi. Tapi sebelum polisi dan ambulans datang, Roxy disiksa habis habisan sebagai balasan telah memperlakukan para gadis secara tidak manusiawi.
Siapa yang berani protes dengan keluarga Henderson? Polisi saja tidak berani. Akhirnya para gadis yang disekap pun dibebaskan dan akan dilarikan kerumah sakit. Setelah itu mereka semua akan dikembalikan kepada keluarga mereka masing-masing.
Tidak lama mobil polisi dan mobil ambulans pun datang. Setelah semuanya selesai keluarga Henderson pun kembali kekediaman nya.
"kamu tidak apa-apa sayang?" tanya Ram pada Cahaya saat mereka sudah didalam mobil.
"Aku baik baik saja, beruntunglah aku bisa beladiri." jawab Cahaya.
Dimobil yang berbeda, Rasya menghentikan mobilnya dipinggir jalan, Adira sedikit heran kenapa Rasya menghentikan mobilnya.
"Aku begitu khawatir denganmu, sayang," kata Rasya sambil memeluk Adira.
"Aku bisa jaga diri, sayang. Aku dan Aya sering berlatih agar lebih kuat," ucap Adira. Ia merasa bahagia diperlakukan dengan baik oleh sang kekasih dan juga keluarganya.
"Kalau saja ini adalah mimpi, maka aku tidak akan bangun," batin Adira. Ia merasa semua ini adalah mimpi. Tidak pernah terpikirkan olehnya untuk hidup berdampingan dengan orang-orang kaya, yang begitu mencintainya tanpa memandang status sosial.
"Sayang...!" panggil Rasya.
"Ehh iya, ada apa?" tanya Adira.
"Kamu Kok melamun?" tanya Rasya balik.
"Aku cuma tidak menyangka sebentar lagi kita akan menikah," jawab Adira.
__ADS_1
"Kamu menyesal?" tanya Rasya, Adira menoleh menatap wajah tampan calon suaminya itu, lalu menggeleng.
"Aku cuma tidak menyangka saja, seorang upik abu bakal bersama pangeran." jawab Adira.
"Dan semua ini seperti mimpi, kalau benar ini mimpi tolong jangan bangunkan aku. Biarkan aku tetap dalam mimpi ini," ucap Adira lagi. Rasya kembali memeluk Adira, lalu mengecup keningnya.
"Ini bukan mimpi sayang, ini adalah kenyataan. Bukan ilusi bukan pula fiksi seperti didunia novel." ucap Rasya. Adira melepaskan diri dari pelukan Rasya.
"Bukankah hanya menghitung hari saja kita akan menikah?" tanya Rasya. Adira mengangguk. Kemudian Rasya menc*um bibir merah milik Adira. Tidak ada perlawanan, sehingga Rasya memperdalam c*umannya itu.
Adira sedikit terbuai tanpa sadar membalasnya, Rasya pun m*l*m*t bibir tersebut. Dan setelah dirasa cukup Rasya melepas c*uman tersebut. Adira seakan tidak rela melepasnya.
"Apakah ini juga mimpi?" tanya Rasya, Adira tertunduk malu. Meskipun mereka sudah sering berc*uman, tapi Adira tetap saja malu.
"Sekarang kita jalan ya," kata Rasya dan dijawab anggukan oleh Adira.
Mobil mereka pun kembali bergerak meninggalkan perkampungan tersebut. Ya tadi mereka berhenti masih dikawasan perkampungan. Setelah mobil polisi dan ambulans lewat dan mobil mobil yang lain juga lewat. Rasya sengaja memilih untuk jalan paling belakang.
"Kita sudah tertinggal jauh dari mereka," ucap Adira.
"Tidak apa-apa, yang penting kita akan sampai juga nantinya." kata Rasya.
"Bagaimana dengan biaya rumah sakit mereka?" tanya Adira yang masih penasaran dengan nasib gadis gadis tersebut.
"Daddy yang akan urus semuanya, dan nanti rencananya aku mau rundingkan masalah ini ini lagi pada saudara saudaraku." jawab Rasya.
"Apa yang akan kalian bincangkan?" tanya Adira.
"Tentang kampung itu, rencananya ingin membantu mereka membangun kembali perkampungan tersebut. Agar mereka bisa hidup lebih layak," jawab Rasya.
"Aku semakin kagum dengan kalian, membantu orang yang susah tanpa pandang bulu dan tanpa pamrih sedikitpun. Aku teringat cerita Aya, yang selalu menyebut nyebut dewa penolong, yang ternyata adalah kalian," kata Adira.
.
.
__ADS_1
.