Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Gara gara daster


__ADS_3

.


.


.


Cahaya nampak berbinar melihat daster yang begitu cantik dimatanya. Entahlah sebelumnya ia tidak begitu menyukai pakaian yang bernama daster tersebut. Paling ia hanya memakai kaos oblong dan celana. Tapi sekarang sepertinya kesukaannya berpindah, mungkin karena ia akan menjadi seorang ibu.


"Silahkan tuan dan nona, dan selamat datang ke toko kami," ucap pelayan dengan sopan.


"Terimakasih," jawab Cahaya. Prita dan Cahaya sedang sibuk memilih daster. mereka mempersiapkan pakaian tersebut untuk mereka nanti kalau kehamilan mereka sudah besar.


"Ini sepertinya bagus," kata Cahaya dan Prita pun mengangguk.


"Kak model yang seperti ini masih ada gak?" tanya Prita karena ia juga menginginkannya.


"Ada nona, banyak," jawab pelayan itu.


"Nona mau berapa?" tanya pelayan itu.


"Aku sepuluh, warnanya dan coraknya lain lain ya kak," kata Prita.


"Baik nona," pelayan itu segera mengambilkan baju yang Prita mau.


"Kamu yang mana?" tanya Prita pada Cahaya.


"Aku mau lihat lihat dulu," jawab Cahaya.


Sementara Ram sedang duduk di sofa bersama dengan Raffa. keduanya membiarkan saja istri mereka berbelanja sepuasnya, mau borong daster juga gak apa-apa.


Cahaya melihat lihat pakaian daster tersebut, dan ada satu yang tergantung di hanger menarik perhatiannya. Cahaya segera menghampirinya. Tapi saat ia mengambil pakaian tersebut ada tangan merampas daster ditangan Cahaya, Cahaya menoleh yang ternyata seorang ibu ibu bertubuh gempal.


"Maaf Tante ini punyaku," kata Cahaya.


"Saya lebih dulu melihatnya, jadi ini punya saya," jawab wanita itu.


"Tapi aku yang lebih dulu mengambilnya," kata Cahaya lagi.


"Heh, kamu tidak tahu, siapa saya? Tanya wanita itu.


"Memangnya Tante hilang ingatan sehingga tidak tahu dengan diri sendiri," jawab Cahaya.


"Apa maksudmu hah," bentak wanita itu.

__ADS_1


"Kamu orang miskin sok sokan belanja ditempat seperti ini, sana belanja di pasar karena itu yang cocok untukmu," ucap wanita itu.


"Tante, aku tidak ingin ribut ya, cepat kembalikan pakaian itu," ucap Cahaya.


"Pakaian ini sudah ada ditangan saya, maka ini milik saya. Kau tidak akan mampu membeli ini, dengar baik baik saya nyonya di keluarga Pratama, dan saya mantan istri Aditya Pratama orang terkaya ke 20 di negara ini," ucap wanita itu.


Mendengar keluarga Pratama disebut, dan wanita itu mengatakan mantan istri Aditya Pratama membuat Cahaya berang. Ia segera menelepon suaminya.


Ya wanita itu adalah orang yang telah membuat keluarganya hancur, sehingga Cahaya dan ibunya diusir karena hasutan dari wanita itu. Dan kebetulan Nenek dari Cahaya juga begitu antusias ingin menjodohkan ayahnya dengan wanita itu. Kali ini Cahaya tidak akan memberi ampun pada orang yang telah merampas harta kekayaan keluarga mereka.


"Halo sayang, ada apa?" tanya Ram.


"Honey bisa kemari gak? aku ingin honey bereskan tikus," tanya Cahaya. Ram bergegas menghampiri istrinya, tidak terlalu jauh sih. Hanya saja Cahaya malas untuk berpindah dari tempat itu makanya ia menelpon suaminya.


Wanita itu tentu saja tidak mengenal Cahaya, karena sewaktu Cahaya dan ibunya diusir dari rumah Cahaya masih kecil. Tapi ia mengingat betul perlakuan mereka terhadap dirinya dan ibunya.


"Ada apa sayang?" tanya Ram saat Ram sudah menghampiri Cahaya, Ram belum menyadari ada seorang wanita yang sedang memegang daster yang mereka perebutkan tadi.


"Honey, aku ingin kamu hancurkan keluarga wanita itu," tunjuk Cahaya.


"Memangnya ada apa sayang?" tanya Ram yang memang tidak mengerti permasalahannya.


"Wanita ini yang menghancurkan keluargaku, sehingga aku dan ibu diusir," jawab Cahaya. Ram menoleh kearah wanita tersebut yang dikiranya pelayan toko ini.


"Nyonya Agnesia, mantan istri Aditya Pratama dan sekarang sudah menikah lagi bersama selingkuhannya," ucap Ram menatap tajam kearah Agnesia.


"Dari mana kamu tahu?" tanya Agnesia.


"Apa yang tidak diketahui oleh keluarga Henderson?" tanya Ram. Mendengar nama Henderson seketika wajah wanita itu pucat.


"Ini saya kembalikan, saya tidak jadi beli." kata Agnesia.


"Tunggu kehancuran keluargamu, nyonya. karena nyonya sudah berani menyinggung istriku," ucap Ram dengan nada lembut tapi penuh dengan ancaman. Agnesia semakin pucat dan segera pergi dari tempat itu.


"Kamu tidak apa-apa sayang?" tanya Ram. Cahaya menggeleng.


"Aku ingin honey menghancurkan keluarga wanita itu, aku tidak rela ia menikmati kekayaan keluarga Pratama yang sudah mereka rampas." kata Cahaya yang seketika Menangis. Ram panik melihat istrinya menangis dan langsung memeluknya.


Sementara Prita sudah selesai berbelanja, dan membayar belanjaan tersebut. Lalu mengajak suami untuk ketempat lain lagi.


Pelayan tadi menghampiri Cahaya kembali setelah selesai melayani Prita.


"Maaf nona, tadi saya sedang melayani nona itu, bagaimana nona apa ada yang cocok?" tanya pelayan itu.

__ADS_1


"Aku mau yang seperti ini 20 helai. Warna lain lain ya," kata Cahaya. Suasana hatinya berubah ubah. kali ini suasana hatinya sudah membaik setelah mendengar bahwa suaminya akan menghancurkan keluarga wanita tadi.


Tidaklah sulit bagi Ram untuk menghancurkan perusahaan Pratama corporation yang kini berganti nama menjadi Agnesia corporation.


Didalam mobil Agnesia mendapat kabar bahwa perusahaan yang ia rampas dari mantan suaminya merosot drastis, harga saham menurun dengan cepat. Beberapa investor ada yang menarik saham mereka sebelum semuanya hancur.


"Aaaaahh....S*al...S*al....S*al." teriak Agnesia memukul mukul setir mobil.


"Gara gara kamu gadis s*alan, tapi tunggu, kenapa wajahnya tidak asing? Dia mirip Wardina," gumam Agnesia.


"Berarti mereka ingin balas dendam, hahaha tidak akan aku biarkan kalian hidup bahagia," kata Agnesia sambil tertawa jahat.


Sementara perusahaan nya sudah diambang kebangkrutan tapi dia sendiri masih punya rencana jahat, benar benar wanita jahat.


"Kenapa banyak sekali sayang?" tanya Ram yang heran dengan Cahaya berbelanja banyak baju, biasanya Cahaya paling sulit kalau diajak berbelanja.


"Untuk persiapan honey, nanti aku mau beli perhiasan juga," jawab Cahaya. Ram tersenyum, mungkin bawaan wanita hamil, pikirnya.


"Terserah kamu aja sayang, toh sebanyak apapun kamu belanja tidak akan membuat suamimu ini bangkrut." kata Ram.


"Cih, mentang mentang orang kaya," kata Cahaya dan langsung menuju ke kasir karena ingin membayar belanjaannya.


"Ia dong," ucap Ram dengan narsis. Ram memberikan blackcard untuk Cahaya, dulu Cahaya tidak mau diberi blackcard oleh Ram dengan alasan belum menikah. Sekarang tidak ada alasan bagi Cahaya dan terpaksa menerima pemberian suaminya itu.


Tiba tiba telepon Ram berdering, Ram merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Dan melihat nama pemanggil tersebut. Yang ternyata dari sang Mommy.


"Halo Mom, ada apa?" tanya Ram.


"Kalian masih di mall? Tanya Diva.


"Iya, masih ada apa Mom?" tanya Ram lagi.


"Tolong Mommy belikan daster, nanti biar Cahaya yang pilih," pesan Diva.


"Baik Mom...!" jawab Ram


"Bang belikan boneka Pikachu," teriak suara cempreng si adik bungsu mereka, siapa lagi kalau bukan Lica?.


"Iya nanti Abang belikan," jawab Ram lalu mematikan sambungan teleponnya.


Ram memberitahukan kepada istrinya bahwa sang Mommy juga ingin daster. Tentu saja Cahaya dengan senang hati memilihkan daster tersebut.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2