Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Jajanan pinggir jalan


__ADS_3

.


.


.


Betapa senangnya triple A karena diizinkan untuk ikut. Mereka masuk kedalam kamar untuk mengambil tas ransel milik mereka.


"Kenapa bawa ransel?" tanya Roy.


"Buat persiapan aja," jawab Lina enteng.


"Ya udah kita berangkat sekarang," ucap Roy.


Kalau Lina sudah menjawab buat persiapan, Roy tentu sudah mengerti maksudnya, karena mereka waktu kecil juga begitu. membawa tas ransel kemana mana untuk persiapan.


Mereka pun masuk kedalam mobil Pajero, karena mobil itu bisa muat beberapa orang.


Saat Roy mengemudikan mobilnya keluar dari garasi, Ram melihat hal itu.


"Mau kemana mereka?" tanya Roy pada Vera.


"Katanya mau cari jajanan pinggir jalan, Danita pengen makan bakso beranak katanya," jawab Vera.


"Ayah, aku juga mau," rengek Cahaya.


"Kita pesan sama mereka aja ya?" tanya Ram, Cahaya menggeleng.


"Aku maunya ikut mereka," jawab Cahaya.


"Sayang, tapi Kamu lagi hamil besar loh," kata Ram.


"Lalu Danita tidak?" tanya Cahaya. Ram seketika terdiam, ibarat main catur Ram terkena skakmat.


"Ya sudah kalau begitu, sayang tunggu disini aku mau ambil dompet dulu," jawab Ram akhirnya. Ram kembali naik keatas untuk mengambil dompetnya dan jaket kalau kalau nanti mereka kemalaman.


Saat Ram keluar dari kamar setelah mengambil dompet dan jaket ia bertemu dengan Diva.


"Mau kemana sayang?" tanya Diva.


"Cahaya mau makan bakso Mom, dan harus pergi ketempat jualannya," jawab Ram.


"Mommy nitip ya, mendengar bakso Mommy jadi kepengen juga, Oya jangan lupa bakso beranak ya." titah Diva.


"Baik Mom," jawab Ram. Ternyata pembicaraan mereka didengar oleh Adira, Adira yang ingin keluar pun mengurungkan niatnya dan kembali masuk, Adira merengek ingin ikut juga bersama mereka.


"iya iya, baiklah baiklah," jawab Rasya saat Adira meminta ikut makan bakso juga.


Akhirnya Rasya pun ikut dengan Ram tapi dengan mobil yang berbeda.

__ADS_1


Sedangkan Roy bersama Danita dan juga adik adiknya sudah tiba ditempat yang mereka tuju yaitu sebuah warung tenda yang menjual bakso beranak, tempat ini cukup terkenal dan selalu ramai pengunjung. meskipun jajanan pinggir jalan tapi rasanya tidak kalah dengan restoran.


(jadi ngiler aku bayangin nya)


"Silahkan mas, mbak," ucap pemilik warung tenda tersebut.


"Bakso nya kang 5," ucap Roy.


"Minumnya mas?" tanya pria itu.


"Air mineral kemasan botol ada kang?" tanya Roy.


"Ada mas," jawab pria itu sebut saja kang Ghani.


"Itu aja mas, terimakasih." ucap Roy sopan.


"Mari," jawab kang Ghani dan berlalu untuk melayani mereka.


Tidak berapa lama kemudian datang Ram bersama Cahaya, dan disusul Rasya bersama Adira.


"Kalian kemari gak ngajak ngajak," ucap Ram kemudian duduk di bangku kayu yang sudah disediakan.


"Gak diajak pun kalian nyusul sendiri," jawab Roy.


Kang Ghani pun mengantarkan bakso pesanan mereka. Karena 5 porsi jadi ia menggunakan nampan.


"Silahkan mas, mas mas ini mau bakso juga?" tanya kang Ghani.


Roy, Danita dan triple A mulai menyantap bakso tersebut, meskipun pedas tetapi rasanya sangat enak. Cahaya menelan ludah melihat mereka makan.


"Sabar ya sayang, sebentar lagi kok," ucap Ram sambil mengelus perut Cahaya. Elusan lembut tangan Ram mendapatkan respon dari calon bayinya.


"Sepertinya dedek sudah tidak sabar ya," ucap Ram. Cahaya hanya tersenyum.


"Silahkan mas," ucap kang Ghani setelah meletakkan 4 mangkok bakso diatas meja panjang tersebut. Cahaya segera menyantapnya.


"Kang, bakso lagi 20. Dibungkus ya," perintah Ram, dan kang Ghani pun mengangguk senang. Mereka begitu menikmati bakso tersebut, jarang jarang mereka makan bakso.


"Danita, kamu disini juga?" tanya Gita teman satu kampus Danita.


"Iya, lagi pengen makan bakso," jawab Danita tanpa menoleh kearah Gita. Sebenarnya Danita kurang suka dengan cewek itu. Karena dikampus selalu memanfaatkan dirinya dulu.


Dengan berkedok teman tapi hanya untuk memanfaatkan. Awalnya Danita menyukai Gita dan menganggap teman baik, tapi setelah tahu kebusukan Gita yang suka menjelek-jelekkan dirinya dibelakangnya. Dan lagi Danita tanpa sengaja mendengar percakapan Gita kepada teman lainnya, bahwa dia tidak benar benar tulus berteman dengan Danita.


Sejak saat itu Danita mulai menjauhkan diri dan pertemanan mereka pun merenggang.


"Gak nyangka ya bertemu disini, boleh dong traktir teman," ucap Gita tanpa rasa malu. Danita repleks menoleh dan tersenyum, tapi senyuman itu mengandung ejekkan.


"Apa gunanya pacar kamu kalau tidak dimanfaatin?" tanya Danita begitu menohok.

__ADS_1


"Baper banget sih, becanda doang," ucap Gita menahan malu. kemudian Gita dan pacarnya pun menjauh dan mencari bangku kosong lainnya.


"Kenapa sayang?" tanya Roy.


"Gak apa-apa, cuma gak suka aja sama dia," jawab Danita.


Kemudian datang lagi Ray bersama Nadine, Rakha, Raffa, Ren bersama istri istri mereka. Mereka tidak mau ketinggalan, karena saudaranya keluar mencari jajanan mereka juga tidak mau kalah.


Akhirnya meja tempat mereka penuh. Beruntung meja dan bangku tersebut panjang, jadi mereka tidak harus berpencar duduknya.


"Kalian juga ikut ikutan," ucap Roy, yang tadinya mereka cuma berlima sekarang malah jadi beramai.


'Lihat tuan muda Henderson, mereka juga tidak memilih tempat kalau mau makan," ucap pengunjung A.


"Iya, biasanya orang kaya pasti takut kalau makan dipinggir jalan," ucap si B.


"Aku sering melihat mereka makan dipinggir jalan, katanya biar bisa membantu perekonomian keluarga mereka yang berjualan dipinggir jalan," ucap si C.


"Itu artinya orang kaya yang rendah hati, tidak sombong dan tidak memilih tempat makan," ucap si D. Gita yang mendengarnya kupingnya terasa sangat panas. dari dulu ia iri dengan Danita, itu sebabnya Gita memanfaatkan Danita.


Pesanan mereka pun datang, mereka pun mulai makan dengan lahap, apalagi bumil, bahkan Cahaya dan Danita nambah, Adira juga tidak mau kalah. Satu porsi belum cukup bagi mereka.


"Sayang, apa tidak apa-apa!" tanya Roy.


"Tidak, anakmu masih belum kenyang jadi wajar dong kalau nambah," jawab Danita enteng. Akhirnya Roy kalah juga.


"Aku khawatir dengan istriku, takutnya sewaktu dijalan tiba-tiba mau melahirkan," ucap Ram.


"Jangan ngomong sembarangan," jawab Ren.


"Cuma khawatir saja, mereka sudah hamil 9 bulan hanya tinggal menunggu waktunya," ucap Ram lagi.


Mereka sudah selesai makan, dan yang dibungkus pun sudah siap. Ram hendak membayar tapi dicegah oleh Lina.


"Biar aku saja bang, sekali sekali," kata Lina.


"Banyak duit mu dek?" tanya Ram.


"Gak juga, lagian hanya bakso dan minum doang," jawab Lina.


"Ya sudah bayar sana, setelah itu kita pulang," kata Roy. Lina pun segera membayar bakso yang mereka makan.


"Terimakasih ya dek, jangan kapok datang kesini, buka dari jam 11 siang sampai jam 1 malam," ucap kang Ghani.


"Sama sama Paman," jawab Lina.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2