
.
.
.
Hari yang ditunggu tunggu pun tiba, segala persiapan sudah disiapkan semuanya, hanya tinggal menunggu waktunya saja. Para pengawal yang ditugaskan untuk menjemput mereka yang dari panti asuhan serta fakir miskin melaksanakan tugasnya dengan baik.
Juga para pemuka agama yang sudah datang sejak dari subuh tadi karena hendak menyembelih hewan berupa kambing.
Sedangkan pelayan sedang sibuk memasak hewan tersebut yang nantinya akan dibagikan kepada mereka yang diundang.
Para baby sudah diberikan pakaian bagus, karena nanti akan dipotong sedikit rambut kepala mereka.
Kali ini persiapan mereka tidak menggunakan jasa katering, tapi menggunakan jasa pelayan mansion untuk memasak. Diva tentu tidak tinggal diam, dialah yang paling antusias membantu pelayan untuk memasak. dan dibantu juga oleh para wanita yang lain, seperti ibunya Aisyah, ibunya Cahaya, ibunya Adira, ibunya Prita. Sejak mereka menginap di mansion, mereka semakin akrab dengan Vera dan Diva. Karena kedua nyonya rumah tersebut sangat ramah.
"Maaf ya, aku gak bisa bantu banyak," ucap Vera yang sedang duduk dikursi memperhatikan mereka yang sedang sibuk memasak daging tersebut.
"Gak apa-apa Oma buyut, kita semua sudah lebih dari cukup," jawab Wardina. Mereka memanggil Vera Oma buyut karena untuk panggilan cucu mereka nantinya. Itupun atas permintaan Vera untuk dipanggil seperti itu.
"Sebentar lagi juga mau siap kok," ucap Diana.
"Sebaiknya kalian mandi dulu, ini juga sebentar lagi matang, biar bik Marni dan bik Aida serta pelayan yang lain yang menyelesaikan semuanya," perintah Diva.
"Baiklah kalau begitu," jawab ibunya Prita, kemudian iapun mengajak yang lain untuk mandi dan bersiap. Diva juga ingin bersiap siap untuk mandi.
"Sebaiknya Mommy istirahat dulu sebelum mereka datang," perintah Diva.
"Mommy mau kekamar baby kembar saja," ucap Vera. Diva pun mengangguk.
Sekarang semua sudah berkumpul dan sudah bersiap siap. karena acara sebentar lagi dimulai.
Mereka yang diundang pun sudah berdatangan. Termasuk anak anak dari panti asuhan. Pemuka agama pun memulai proses memotong rambut kepala bayi kembar satu persatu kemudian disusul oleh sikembar sebagai orang tua mereka masing-masing.
Kemudian pemuka agama membacakan doa untuk keselamatan bayi tersebut.
Setelah itu mereka dipersilahkan untuk makan, dan kemudian baru membagi bagikan daging kambing yang tadi sudah dimasak untuk mereka bawa pulang.
Triple A, dibantu Ethan, Felix dan Gibran serta Johan, Ansel, Rino dan Gibson membagi bagikan daging tersebut, juga amplop berisi uang untuk mereka.
Akhirnya acara benar benar selesai. Kini semua merasa sangat bersyukur karena acaranya berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan sama sekali.
"Kalian tidak sekolah?" tanya Darmendra pada Johan.
"Kami izin Om," jawab Johan singkat.
__ADS_1
"Apa kalian teman sekelas dengan putriku?" tanya Darmendra lagi.
"Iya Om, sejak kenal mereka kehidupan kami serasa berwarna. Kami yang dulunya nakal sekarang sudah berubah," jawab Gibson.
"Sampai segitunya kalian?" tanya Darmendra lagi membuat mereka terasa disidang.
"Iya Om, banyak pengajaran yang kami dapatkan dari mereka," jawab Ansel. Selama ini Darmendra kurang memperhatikan teman teman putrinya, sewaktu dirumah sakit pun Darmendra kurang memperhatikan mereka. jadi wajar saja Darmendra tidak mengingat satu persatu teman anaknya.
Tidak berapa lama sahabat Diva dan Darmendra pun pamit pulang, karena acaranya pun sudah selesai. Johan, Ansel, Rino dan Gibson pun juga pamit pulang, dengan sikap sopan mereka berpamitan kepada orang yang lebih tua dari mereka. Sebelum mereka kenal triple A, boro boro salaman terkadang lewat pun langsung nyelonong aja.
"Alhamdulillah sayang, acaranya sudah selesai dengan baik," kata Ram kepada Cahaya.
"Iya, aku juga lega," balas Cahaya. Ram memeluk Cahaya dari belakang dan berbisik.
"Masih lama ya sayang?" tanya Ram, Cahaya tersenyum. ia tau arah pembicaraan suaminya itu.
"Masih satu bulan lebih, ayah," jawab Cahaya.
"Sabar ya, gak akan kemana mana kok," ucap Cahaya lagi.
"Hmmm, besok aku ada meeting dengan klien, sayang. Gak apa-apa ya aku tinggal sebentar," kata Ram.
"Gak apa-apa, lagi pula baby Al dan baby Ale tidak rewel, mereka sangat anteng," jawab Cahaya.
Selama ini Ram hanya bekerja di mansion, kecuali ada pertemuan atau ada hal yang sangat penting yang tidak bisa diwakilkan barulah ia ke perusahaan.
Keesokan harinya...
Ram sudah tiba di perusahaan miliknya, sudah lama sekali ia tidak masuk ke perusahaan semenjak Cahaya hamil. Ram berjalan menuju lift, sang asisten yang melihat Ram ingin masuk segera menyusul tuannya itu.
"Tuan...!" panggil Abdy sang asisten.
"Hmmm, bagaimana dengan pertemuan dengan klien nanti?" tanya Ram.
"Sudah diatur tuan, jam 11 siang di restoran xxxx." jawab Abdy.
"Kenapa di restoran? Bukankah klien kita yang akan datang kemari?" tanya Ram. Tidak terasa mereka sudah tiba dilantai atas.
"Maaf tuan, yang datang adalah nona Jessica," kata Abdy, kemudian keduanya pun masuk keruangan Ram. Ram duduk dikursi kebesarannya sedang Abdy hanya berdiri.
"Duduk...!" perintah Ram.
"Siapa Jessica?" tanya Ram yang memang tidak tahu siapa Jessica itu.
"Putri tuan Agam prawira tuan," jawab Abdy.
__ADS_1
"Hmmm kalau begitu kamu harus ikut saya, saya merasa ada sesuatu yang tidak beres," ucap Ram.
"Baik tuan," jawab Abdy dengan menundukkan kepalanya.
Sekarang kembali keruangan mu, dan siapkan berkas yang ingin dibahas nantinya." perintah Ram.
"Baik tuan, permisi," ucap Abdy kemudian berlalu dari hadapan tuannya itu.
"Hmmm, aku harus cari tau latar belakang Jessica itu, aku merasa akan terjadi sesuatu," gumam Ram.
Ram menghidupkan laptopnya, dan mengetik kode rahasia atau kata sandi yang hanya dia sendiri yang tau. Dengan kelincahan jari jarinya bermain di keyboard laptop miliknya. Dan hanya butuh beberapa menit Ram sudah mendapatkan informasi tentang putri dari kliennya tersebut. Ram tersenyum karena berhasil mengantongi informasi tentang Jessica. Kemudian ia menghubungi Agam prawira.
"Halo tuan Ram," ucap tuan Agam saat dirinya menjawab panggilan tersebut.
"Tuan Agam, bagaimana pertemuan kita nanti?" tanya Ram pura pura tidak tahu.
"Maaf tuan Ram, saya tidak bisa hadir. Dan putri saya yang akan mewakili saya nantinya," jawab tuan Agam.
"Hmmm, baiklah tuan Agam. Saya akan menemui putri anda nantinya," ucap Ram. Tuan Agam tersenyum, ia merasa rencananya akan berhasil. Dia tidak tahu kalau Ram seorang jenius.
"Maksudmu sudah terbaca, tuan Agam," batin Ram.
"Kalau begitu saya tutup teleponnya Tuan Agam," ucap Ram. Tanpa menunggu jawaban dari tuan Agam, Ram segera menutup panggilan tersebut.
"Aku ingin lihat, trik apa yang ingin engkau mainkan denganku, tuan Agam?" monolog Ram dalam hati.
Ram pun mengerjakan berkas berkas yang ada dimeja kerjanya. meskipun ia bekerja di mansion tapi selalu saja banyak berkas yang harus dikerjakan. Apalagi permintaan obat obatan semakin meningkat.
Ram tersenyum melihat Poto bayinya dilayar ponselnya. Sepasang bayi kembar mungil cantik dan tampan.
.
.
Alhamdulillah, sampai juga ke bab ini. Meskipun pelan pelan menulisnya.
Walaupun kadang juga pusing mikirin alur ceritanya gimana agar para readers tidak bosan. Agar ceritanya tidak berbelit belit.
Aku hanya bisa menulis dan merangkai alur ceritanya, yang menentukan bagus tidaknya adalah para pembaca. tanpa kalian aku bukan siapa siapa. Dan aku tidak akan bosan bosannya mengucapkan terimakasih.
Baca terus ya, semoga suka. mungkin cerita ini akan disingkat, karena aku ingin menceritakan sedikit tentang anak anak mereka. Tapi maaf untuk triple A bila mereka sudah kuliah nanti tidak akan diceritakan lagi. Tapi mereka akan muncul kembali di novel berikutnya yang belum aku tulis karena masih dalam rencana.
.
.
__ADS_1
.