
.
.
.
Pagi hari...
Sikembar sudah terbangun dari tidurnya, mereka ingin joging dulu sebelum pergi berziarah ke makam ibu mereka. Karena baru pukul 5 pagi, mereka sudah siap dengan pakaian olahraga mereka dan Hoodie yang biasa mereka pakai.
"Jam berapa kita ke makam Mama?" tanya Ram.
"Nanti setelah sarapan kata Mommy kita langsung berangkat. Karena malam ini akan ada tamu spesial." jawab Roy.
"yuk keliling mansion, ajak Opa dan Oma juga," ucap Ram.
Akhirnya mereka pun pergi joging bersama Oma dan Opanya, Vera dan Jordan hanya bisa berjalan karena untuk lari mereka sudah kelelahan. Mungkin faktor usia juga. Meskipun begitu mereka masih terlihat tetap bugar dan sehat. Beberapa tahun belakangan ini mereka sering berolahraga untuk menjaga stamina mereka.
Sikembar berlari mengelilingi mansion keluarga Henderson, para pengawal juga ikut joging karena dipaksa oleh sikembar, biar sehat itulah kata sikembar.
Awalnya pengawal agak malas malasan, tapi setelah dimulai mereka jadi keasikan. Mereka beristirahat sejenak sambil menggerak-gerakkan anggota tubuh mereka agar tidak terlalu kaku.
"Gimana paman? Asik kan?" tanya Ram.
"Iya tuan muda, ternyata sangat menyenangkan," jawab si B pengawal mansion tersebut.
Setelah kurang lebih 30 menit mereka berlarian, sikembar pun kembali masuk dan berniat untuk mandi. Saat didalam mansion sikembar berpapasan dengan Diva yang baru keluar dari dalam lift.
"Kalian dari mana?" tanya Diva.
"Joging Mom, keliling mansion," jawab Ram sambil mencium pipi Diva.
"Uhh, bau keringat," ucap Diva tapi ia tidak mengelak dicium oleh Ram.
"Masih wangi kok, Mom." jawab Ram. Kemudian berlalu begitu saja.
Diva langsung kedapur untuk menyiapkan sarapan, ternyata pelayan sudah menyiapkan semuanya. Karena perintah dari nyonya besar sebelum ia pergi joging tadi.
"Maaf bik, aku terlambat bangun," ucap Diva.
"Tidak apa-apa nyonya, semua sudah kami siapkan," jawab Aida pelayan di mansion ini.
__ADS_1
Selang beberapa menit sikembar sudah turun kembali, dan langsung duduk dikursi meja makan, Vera dan Jordan juga sudah ada dimeja tersebut, kini mereka sudah berkumpul. Cuma triple A yang tidak turun karena mereka masih tidur. Sebelum pengumuman hari kelulusan triple A libur.
"Setelah sarapan kita pergi berziarah," ucap Diva, sikembar mengangguk.
"Apa Daddy sering berziarah ke makam Mama?" tanya Ram.
"Tidak juga, tahun ini ada sekitar 4 kali Daddy bersama Mommy kalian kesana," jawab Darmendra.
"Maafkan Daddy karena merahasiakan semuanya," ucap Darmendra lagi.
"Sudah, makan dulu nanti baru ngobrol," Diva menyela.
Setelah selesai sarapan, mereka sudah bersiap siap untuk pergi. Darmendra membawa mobil besar karena mereka hanya akan menggunakan satu mobil saja. Mereka semua masuk kedalam mobil, dan tidak lama mereka pun berangkat. Perjalanan cukup jauh sekitar 2 jam dari mansion.
"Nanti kalian beli bunga mawar dulu ya, nanti dekat dekat sana ada orang menjual bunga yang sudah disediakan dalam kantong plastik." perintah Diva.
"Baik Mom," jawab Ram.
Akhirnya mereka tiba diarea pemakaman, Ram membeli bunga yang sudah diracik agar mudah ditaburkan diatas makam tersebut. Mereka berjalan menelusuri jalan setapak. Dan kini mereka sudah berada di depan makam tersebut. Namanya sudah diganti dengan Monalisa sejak pertama kali Darmendra mendatangi makam tersebut.
"Inilah makam ibu kalian," ucap Darmendra.
"Berdoalah untuk beliau, karena hanya doa yang bisa melapangkan kuburnya," ucap Diva.
"Ma, kami datang. Maafkan kami karena baru mengetahui kebenarannya," ucap Ram.
"Kak, maafkan aku baru memberitahu mereka tentang kakak," ucap Diva.
"Mona, sekarang anak anak kita sudah besar, semoga kamu bisa tenang dialam sana." ucap Darmendra.
"Ma, sebentar lagi kami akan menikah, kami mohon izin dari Mama, restui kami ma." ucap Raffa.
Asap putih samar samar mengepul di area makam tersebut, perlahan lahan seperti membentuk sosok seseorang, sikembar, Darmendra Diva Vera dan Jordan memperhatikan dengan seksama. Asap tersebut semakin jelas terlihat tapi tidak bisa disentuh. Sikembar hendak menggapai karena asap itu seperti ingin menggapai sikembar. Sikembar semakin mendekat ke asap putih tersebut, dan asap itu seperti melambaikan tangan lalu kemudian menghilang.
Sikembar tidak menangis sedikitpun, karena mereka sudah ikhlas hanya saja mereka akan terus mendoakan ibunya agar tenang dialam sana.
Malam hari...
Semua sudah berkumpul diruang keluarga, orang tua dari kekasih sikembar semua sudah datang, tadi dijemput oleh supir dan pengawal.
"Terimakasih atas kedatangan calon besan semua, dan mohon maaf bila sambutan kami kurang menyenangkan. Dan untuk pertama kalinya pihak perempuan yang mendatangi pihak laki laki. Bukan karena apa? Karena kalau kami yang datang maka akan merepotkan tentunya," ucap Darmendra.
__ADS_1
"Tanpa membuang waktu, saya sebagai orang tua dari sikembar ingin melamar putri Bapak dan ibu untuk anak saya," ucap Darmendra lagi.
"Saya sebagai orang tua setuju saja, tapi semua keputusan ada pada putri saya karena yang akan menjalaninya adalah putri saya," ucap Sudibyo.
"Betul saya sangat sependapat dengan Pak Sudibyo," ucap Sofian.
"Bagaimana dengan kalian? Apakah kalian setuju bila anak saya meminta kalian untuk menjadi pendamping hidupnya?" tanya Darmendra. Sikembar hanya diam saja mendengarkan.
"Kami setuju," jawab para gadis serentak.
"Alhamdulillah kalau begitu," ucap Darmendra.
"Sekarang kalian boleh bertukar cincin," ucap Diva. Mereka pun menghampiri pasangan masing-masing.
Orang tua para gadis sangat bahagia anak mereka akan menikah dengan keluarga terkaya, yang membuat mereka bahagia adalah keluarga ini tidak memandang kasta.
Setelah selesai memasangkan cincin dijari pasangan masing-masing, para orang tua berbincang bincang. Sedangkan para gadis sudah diculik oleh sikembar.
"Sepertinya mereka tidak bisa kalau harus berlama-lama," ucap Sofian pada Darmendra.
"Iya Pak, anak anak saya juga sudah siap kapanpun mereka akan menikah," jawab Darmendra.
"Tapi putri kami masih kuliah tuan," ucap Fatimah.
"Kuliah tidak menghalangi untuk menikah, banyak orang yang kuliah setelah menikah," jawab Diva.
"Benar Bu, yang penting mereka bisa membagi waktu antara suami dan kuliah," Vera menimpali.
Pelayan datang menghidangkan makanan untuk makan malam, karena memang sudah waktunya makan malam tidak apa-apa terlewat sedikit. Mereka duduk lesehan diruang tersebut. Tadinya mau makan dimeja makan tapi mereka menolak, biarkan saja duduk seperti ini kata mereka. Sikembar dan para gadis kembali keruang keluarga untuk makan.
"Maaf Pak jadi lesehan seperti ini," ucap Diva.
"Tidak apa-apa," jawab Wardina yang sejak tadi diam. ia masih belum percaya kalau anaknya akan menikah dengan orang kaya.
"Sedikit saja sayang," ucap Ray pada Nadine, Nadine yang dipanggil sayang oleh Ray hanya tersipu.
"Assalamualaikum," ucap salam dari luar pintu. Pelayan segera membukakan pintu, ternyata sahabat Diva yang datang.
"Maaf kami terlambat," ucap Anisa.
.
__ADS_1
.
.