Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Makan malam bersama keluarga besar


__ADS_3

.


.


.


Kini mereka sudah berkumpul dimeja makan, karena sekarang sudah ramai meja ditukar dengan yang lebih panjang. Diva melayani suaminya dan 3 Angel, sedangkan sahabat Diva melayani suaminya dan juga anaknya, Vera melayani Jordan. Sedangkan ketujuh gadis melayani pasangan masing-masing.


Diva tersenyum melihat putranya mau dilayani, berarti memang tidak salah pilihan mereka.


Mereka makan dengan lahap, ternyata masakan yang dibuat oleh para gadis sangat enak.


"Ini mengalahkan masakan koki restoran," ucap Diva untuk pertama kalinya ia berbicara disaat makan.


"Benar benar enak," Vera menimpali.


"Benar benar calon istri idaman, saya saja tidak pandai masak," kata Adefa.


"Kamu harus belajar sayang," kata Robert.


Adefa jadi malu disuruh belajar oleh suaminya.


"Kakak ipar, kenapa tidak membuka usaha restoran aja? Ini masakannya benar benar enak loh," tanya Lina.


"Mommy, boleh aku nambah?" tanya Lica.


"Boleh dong sayang," jawab Diva.


"Sayang, aku juga," ucap Darmendra.


Para gadis tersenyum ternyata masakan mereka sangat disukai oleh keluarga calon suaminya.


Sikembar tidak mengeluarkan suara sepatah katapun, hanya mereka makan dengan lahap seolah hanya berfokus pada makanan saja.


Setelah selesai makan malam mereka kembali keruang keluarga, sedangkan sahabat Diva dan Darmendra langsung pulang karena hari sudah malam. Aisyah Cahaya dan yang lainnya ingin mencuci bekas mereka makan, tapi Diva datang mencegahnya.


"Biarkan saja pelayan yang mencucinya, kalian tidak usah mencucinya," ucap Diva.


"Tapi Mom...!" perkataan Aisyah terhenti.


"Sudah, sana temui calon suami kalian, jangan lupa bawa kue yang tadi kalian bikin," perintah Diva.


Akhirnya mereka menuruti Diva, Diva tersenyum senang melihat calon pilihan putra putranya, "semoga kebahagiaan selalu bersama kalian," batin Diva.


Aisyah membawa nampan berisi minuman, Cahaya membawa nampan berisi kue. Yang lain hanya mengikuti dibelakang. Beruntung ruangan itu luas dan juga Sofanya banyak jadi meskipun ramai mereka tetap kebagian tempat duduk.


Sikembar tiga mendekati kakak iparnya, Lina duduk dicelah celah Cahaya dan Aisyah. Lita duduk diantara Nadine dan Keyla, sedangkan Lica duduk diantara Adira dan Prita juga Danita.


"Kalian belum mau tidur? Besok sekolah loh," tanya Diva kepada sikembar tiga.

__ADS_1


"Kami mau tidur dengan kakak ipar Mom," jawab mereka serentak.


"Ha.. tapi...!" Aisyah ingin bicara segera dipotong oleh sikembar tiga.


"Kakak ipar harus nginap,"Ucap mereka serentak.


"Nginap aja, disini banyak kamar," ucap Vera.


"Tidur dikamar kami saja Oma, kamar kami juga besar kok," ucap Lina.


"Iya Oma," ucap Lita.


"Oh ya kakak belum tau nama kalian, siapa?" tanya Aisyah.


"Namaku Angelina kak, putri tertua dari tiga bersaudara." jawab Lina.


"Aku Angelita, putri kedua dari tiga bersaudara," jawab Lita.


"Aku Angelica putri bungsu keluarga Henderson," jawab Lica.


"Wah nama kalian cantik seperti orangnya," kata Cahaya.


"Kakak semua juga cantik kok, sebab itu Abang memilih kakak," ucap Lina.


"Dek sudah, masuk kamar sana," perintah Ray.


"Abang, kami cuma ingin ngobrol dengan kakak ipar," jawab Lina dengan wajah cemberutnya.


"Sudah jangan cemberut nanti kakak tidur bersama kalian," ucap Aisyah, dan yang lainnya mengangguk.


Vera dan Jordan juga pamit untuk beristirahat, sedangkan Darmendra sudah sejak tadi mengajak istrinya untuk masuk kamar, tapi Diva selalu mengulur waktu karena masih ingin bersama calon menantunya.


"Sebentar hubby, aku masih ingin bersama mereka," ucap Diva memelas.


"Jangan ganggu mereka sayang, mereka juga mau berduaan," kata Darmendra.


"Mmm baiklah," lalu Diva bangkit dari duduknya dan berjalan mengikuti Darmendra suaminya.


Ram mengajak Cahaya kebelakang, dimana ada taman bunga, sikembar pun membawa pasangan masing-masing mencari tempat untuk mereka pacaran.


"Indah sekali," ucap Cahaya saat mereka sudah berada ditaman itu.


"Sayang suka bunga?" tanya Ram, Cahaya mengangguk.


"Nanti dirumah baru kita, aku buatkan taman bunga yang indah," ucap Ram.


"Kalau kita pindah rumah, bagaimana dengan ibu? Ibu tinggal sendiri." tanya Cahaya.


"Ibu akan ikut bersama kita, siapa lagi yang akan menjaganya kalau bukan kita. Setelah kita menikah nanti ibumu adalah ibuku juga." ucap Ram.

__ADS_1


Lalu kemudian Ram mengeluarkan kotak kecil berwarna biru, dan membukanya didepan Cahaya, terlihat sebuah cincin berlian yang dipesan khusus oleh Ram.


"Maaf karena aku bukan orang yang romantis, Cahaya paradina maukah kau menikah denganku? Menjalani hubungan serius, menjalani hidup bersama sama sampai tua nanti? Sampai kita memiliki anak dan cucu, sampai kita menutup mata," tanya Ram to the point.


"Apakah kamu sudah mantap dengan pilihanmu? Aku tidak mau kejadian yang ibu alami terulang lagi kepadaku," tanya Cahaya balik.


"Apa kamu tidak lihat bagaimana perlakuan keluargaku? Mereka begitu antusias saat aku bilang ingin memperkenalkan dirimu, dan mereka sudah merestui hubungan kita. Masalah ibu, aku akan jamin tidak akan terulang lagi kepadamu," tanya Ram.


"Kalau begitu aku akan terima, hatiku juga sudah memilihmu sejak dulu," ucap Cahaya.


Lalu Ram memasangkan cincin dijari manis Cahaya, dan mengecup tangan Cahaya. Kemudian Ram perlahan mendekatkan bibirnya ke bibir Cahaya lalu menci*mnya. Cahaya pun membalasnya.


Sedangkan disudut lain, Roy yang sampai saat ini masih belum mengungkapkan perasaannya kepada Danita, tapi sinyal sinyal 5G cinta mereka sudah menjalar dihati keduanya. Hanya menunggu ungkapan kata cinta.


"Gimana perasaanmu?" tanya Roy yang memang kurang fasih dalam merayu cewek.


"Maksudnya?" tanya Danita balik.


"Setelah bertemu orang tuaku, gimana rasanya?" tanya Roy lagi.


"Jujur, aku grogi malu dan takut bercampur jadi satu. Intinya tidak menduga akan secepat ini dikenalkan dengan orang tuamu." jawab Danita.


"Sedangkan hubungan kita hanya sebatas teman," ucap Danita lagi.


"Iya teman, tapi aku mau sebagai teman hidupku, aku belum berani mengungkapkan perasaanku padamu. Sebenarnya sejak awal kita bertemu aku sudah jatuh hati padamu." ucap Roy. Danita menoleh dan ditatapnya wajah Roy untuk melihat ketulusan disana.


"Apa kamu yakin? Sedangkan aku hanya manusia biasa dan dari keluarga biasa maksudku keluargaku tidak terlalu kaya, perusahaan Papaku hanya perusahaan kecil saja." tanya Danita.


"Dan satu lagi, kamu bukan orang yang pertama, aku sudah pernah pacaran awalnya kami saling mencintai. Tapi suatu hari ia berubah hanya karena aku tidak mau ia cium dan diajak tidur seranj*ng. Aku hanya ingin menjaga kehormatanku sebagai seorang gadis. Aku ingin kesucianku akan aku persembahkan untuk suamiku dimalam pertama kelak, karena hanya itu yang bisa aku banggakan. Tapi ia berubah dan terakhir aku melihat dengan mataku sendiri dia berhubungan intim dengan sahabatku sendiri. Aku tidak mau diselingkuhi aku tidak mau diduakan jadi aku memilih mundur." ucap Danita panjang lebar.


"Tapi hatiku sudah memilihmu, dan secara sadar ternyata aku mencintaimu." ucap Roy. Danita menoleh menatap mata Roy, Danita melihat keseriusan disana.


"Sebenarnya aku juga mencintaimu, sejak kita selalu bersama aku merasa nyaman berada di dekatmu," jawab Danita.


"Terimakasih telah menerimaku, aku belum pernah jatuh cinta, jadi aku harap jangan bunuh cintaku yang baru tumbuh ini," ucap Roy.


"Kalau kita saling menjaga aku yakin kita akan bisa, tapi bagaimana dengan mantanku dia selalu mengejar ngejar aku dan ingin balikan kepadaku, tapi aku selalu menolaknya. Aku takut ia melakukan berbagai macam cara untuk membuat kita berpisah," ucap Danita.


"Apa kamu bisa beladiri? Semacam taekwondo dan karate misalnya?" tanya Roy, Danita menggeleng.


"Aku terlalu lemah dan tidak bisa apa-apa," ucap Danita jujur.


"Kalau begitu aku akan memasukkan mu kekelas taekwondo atau karate. Agar Kamu bisa menjaga diri sendiri, karena aku tidak mungkin 24 jam ada disisimu." ucap Roy.


"Aku mengerti," jawab Danita.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2