Tujuh CEO Muda

Tujuh CEO Muda
Hanya ingin berbagi


__ADS_3

.


.


.


Triple A bermain bersama anak anak panti, sedangkan Ethan, Felix dan Gibran menemui ibu penjaga panti.


"Ada gerangan apa anak anak datang kemari?" tanya ibu.


"Kami ada sedikit uang Bu, hanya ingin berbagi," ucap Felix.


"Apakah kalian sudah mendapatkan izin dari orang tua kalian? Ibu tidak mau nanti malah dituntut karena kalian tidak izin dulu," tanya ibu panti.


"Tapi ini hasil uang tabungan kami bertiga Bu, dan orang tua kami juga sudah memberi izin," jawab Ethan.


"Ini Bu, terimalah niat ikhlas dari kami. Tidak banyak sih Bu, tapi kami ikhlas dunia akhirat," ucap Gibran.


Ibu panti merasa terharu mendengar perkataan tiga bocah didepannya. meskipun mereka masih kecil-kecil tapi niat mereka untuk berbagi sangatlah tulus.


"Baiklah ibu terima, banyak atau sedikit tidak menjadi tolak banding untuk kita berbuat kebaikan. malah ibu sangat berterimakasih anak anak seperti kalian sudah peduli terhadap sesama," ucap ibu panti sambil mengusap air matanya.


"Boleh kami memeluk ibu?" tanya Gibran.


"Oh boleh," jawab ibu panti. Kemudian ketiganya memeluk ibu panti.


"Jadilah anak yang baik, berbakti kepada orang tua dan menolong sesama, karena sekecil apapun kebaikan yang kalian berikan akan bermanfaat besar bagi mereka yang membutuhkan," pesan ibu panti sambil meleraikan pelukannya.


"InsyaAllah Bu, selagi kami mampu kami akan menolong orang yang membutuhkan," jawab mereka serentak.


"Menolong bukan hanya berupa uang atau barang atau harta, bisa juga dengan tenaga. Contohnya ada orang kena rampok dan sebagainya kita bisa menolong mereka semampu kita, ada orang kecelakaan misalnya kita juga bisa menolong mereka," pesan ibu panti. ketiganya mengangguk.


"kalau begitu kami pamit pulang Bu, tadi dari sekolah langsung kemari," kata Ethan.


Kemudian mereka pamit kepada ibu panti, ketiganya mencium tangan ibu panti dan tidak lama datang triple A juga mau pamit dan juga menyalami sambil mencium tangan ibu panti tersebut.


Mereka melambaikan tangan kepada anak anak panti yang kelihatan sangat bahagia meskipun hidup dipanti asuhan.


"Kami pakai skuter aja," kata Lina.


"Naik aja kak, nanti dipersimpangan baru kakak pakai skuter," kata Gibran.


"Yuk lah," ajak Lica pada saudaranya. Akhirnya mereka pun masuk kedalam mobil.


"Aku lapar tadi gak sempat makan,' kata Lina.


"Kalau begitu kita singgah ditempat tadi kakak beli nasi," kata Felix.


"Boleh deh, paman singgah ditempat tadi ya," perintah Lina. mobil mereka pun mulai berjalan dengan kecepatan sedang. Tiba tiba telepon Lina berdering.

__ADS_1


"Halo Mom," jawab Lina, ternyata yang menelpon adalah Diva.


"Kalian kemana? Kok belum pulang?" tanya Diva.


"Kita baru dari panti Mom, sekarang sudah jalan pulang, tapi nanti singgah dulu dirumah makan," jawab Lina apa adanya.


"Ethan, Felix dan Gibran ada bersama kalian?" tanya Diva.


"Iya Mom, justru itu kami kepanti asuhan untuk mengantarkan mereka. Memangnya ada apa Mom?" tanya balik Lina.


"Tadi Mama mereka telepon menanyakan mereka, karena ponsel mereka tidak bisa dihubungi," jawab Diva.


"Oh, Mommy tenang saja mereka baik baik saja katakan pada aunty mereka baik baik saja," ucap Lina, kemudian Lina mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Lalu ia ketawa cekikikan.


"Kenapa kamu? kesambet?" tanya Lita.


"Mommy pasti menggerutu karena teleponnya keburu dimatikan," jawab Lina.


"Kebiasaan," kata Lica.


"Ada apa kak?" tanya Ethan.


"ponsel kalian mana?" bukannya menjawab Lina malah balik bertanya.


"ponsel kami kehabisan daya, lupa mau bawa power Bank," jawab Ethan.


"Jangan bohong kalian, kalian pasti takut Mama kalian nelpon kan?" tanya Lita. mereka tertunduk.


"Jangan biasakan sikap seperti itu, kalian tidak tahu betapa khawatirnya orang tua bila anaknya tidak bisa dihubungi," ucap Lina sedikit meninggi.


"Kalau kalian berbohong lagi, kami tidak akan membantu kalian lagi," ucap Lica.


"Jangan," jawab mereka serentak. Sedangkan Bahar hanya terdiam, tadi tuannya nelpon kepada Bahar jadi Bahar menjawab jujur pada majikannya. Setelah itu barulah Diva menelepon Lina. Karena Anisa menelpon Diva menanyakan keberadaan anaknya.


"Baiklah kami mengaku salah," kata Ethan.


"Bukan pada kami kalian minta maaf, tapi pada orang tua kalian," ucap Lina. Lina memang tegas. Tapi sebenarnya hatinya lembut.


Mereka pun tiba dirumah makan pinggir jalan yang mereka maksud. Bahar memarkirkan mobilnya ditempat parkir. kemudian mereka pun keluar dari mobil. Bahar juga ikut keluar karena didesak oleh mereka. mau tidak mau Bahar juga bergabung dengan mereka. Sejujurnya Bahar sangat lapar, tapi ia tidak mungkin mengatakan itu.


"Mari Paman," ajak Lica. Bahar hanya menurut saja.


Mereka duduk dikursi panjang karena mereka tujuh orang. Bahar begitu kikuk karena belum pernah makan bersama majikan kecilnya.


"Jangan malu Paman, kita sama sama manusia," ucap Lina.


"Pak pesan...!" Lica melambaikan tangannya kepada Bapak pemilik rumah makan tersebut.


"Iya Nak mau pesan apa?" tanya Bapak itu setelah menghampiri mereka.

__ADS_1


"Apa saja menu yang ada Pak?" tanya Lita.


"Hmmm, ada ayam panggang dan bebek panggang, ada seblak ceker dan ayam penyet serta pecel lele," jawab Bapak itu.


"Aku bebek panggang satu porsi," jawab Lina.


"Samain deh," jawab Lica.


"Kalian mau pesan apa?" tanya Lina.


"Samakan saja," jawab Ethan dan diangguki oleh yang lain.


"Ya sudah, bebek panggang ya Pak," kata Lina.


"Baik Nak, Mohon ditunggu sebentar," jawab Bapak itu.


Sekitar 30 menit pesanan mereka pun sampai, terlihat dalam piring yang berlapis daun pisang diatas piring kemudian barulah diisi dengan bebek panggang diatas daun pisang tersebut. Serta saus sambal dimangkok kecil untuk pelengkapnya.


"Silahkan Paman," ucap Lina. merekapun mulai makan dengan lahap, kebetulan mereka sangat lapar, waktu makan siang juga sudah terlewati beberapa jam yang lalu, karena mereka setelah selesai sekolah mereka langsung kepanti.


"Enak gak makan dipinggir jalan?" tanya Lita pada Ethan, Felix dan Gibran. mereka hanya mengangguk karena mulut mereka masih mengunyah makanan.


"Lain kali jangan meremehkan makanan dipinggir jalan," ucap Lina. Mereka pun tetap mengangguk karena mereka makan begitu lahap.


Setelah selesai makan, Lina hendak bangkit untuk membayar makanan tersebut, tapi para pengunjung sudah berlarian keluar dari rumah makan tersebut, mereka berlarian tanpa membayar makanan yang mereka makan. Ternyata ada beberapa orang berbadan besar datang ketempat itu.


"Ada apa?" tanya Felix.


"Tuh lihat," Lina menunjuk kearah beberapa pria berbadan besar itu.


"Cih, bikin rugi saja mereka." kata Ethan.


"Kalian bereskan mereka," perintah Lina.


"Tunggu mereka membuat ulah dulu, kita lihat apa mau mereka?" tanya Gibran.


"Baik, kita tunggu apa yang akan mereka lakukan?" tanya Lita.


"Tapi kalian berani kan?" tanya Lica seolah olah meragukan kemampuan mereka.


"Kami anak laki laki harus berani dong," kata Ethan.


"Buktikan," tantang Lina.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2