
.
.
.
Saat ini mereka sedang berada didepan minimarket untuk membeli sesuatu. Tapi pemandangan Lica tertuju pada 4 orang yang sedang menggedor gedor pintu kaca mobil.
"Sepertinya mereka perampok," ucap Lina yang diangguki oleh saudaranya.
"Mari kita tolong," ajak Lina. Mereka pun berjalan menyebrang jalan karena posisi mereka berseberangan dengan perampok tersebut.
Perampok berjumlah 4 orang itu masih dengan aksinya ingin merampok pria tersebut. Perampok tersebut menodongkan pistol kearah supir pribadi, hingga dengan terpaksa sang supir pun membuka pintu mobil. Dan supir itupun diseret keluar dari mobil. Begitu juga dengan pria tersebut diseret dan keduanya pun dihajar.
Orang orang yang berada disekitar situ tidak ada yang berani menolong, apalagi mereka bersenjata api. Bahkan mereka ada yang merekam aksi perampok tersebut untuk dijadikan cuan.
"Hentikan....!" teriak Lina dengan suara datar dan dingin.
Keempat pria yang ingin masuk kedalam mobil pun menoleh. Mereka pun tidak jadi untuk memasuki mobil tersebut. Salah satu dari mereka menodongkan pistol kearah triple A.
"Kalian pikir kami takut?" tanya Lita yang berubah seperti seekor serigala menemukan mangsanya.
Gleek... pria pria itu menelan ludah melihat tiga bocah didepannya. Dengan aura yang begitu kuat terpancar dari sorot mata mereka.
"Bos, mengapa mereka seperti singa yang sedang kelaparan?" tanya anak buah dari bos perampok tersebut.
"Jangan mendekat kalau ingin selamat," ucap bos tersebut dengan nada ancaman.
Triple A tersenyum devil, mereka paling benci dengan orang seperti itu. Bos itu masih menodongkan senjata api kearah mereka.
Dor... satu tembakan melesat kearah Lina, dengan gesit Lina mengelak dari peluru tersebut. Bos itu tercengang, dan orang orang yang melihatnya pun terkejut. Mereka pikir bocah itu sudah tertembak. Begitu juga pria paruh baya yang sudah terduduk ditanah karena dihajar.
Masih dalam mode tercengang bos perampok tersebut ingin menembak sekali lagi, tapi usahanya kini gagal. karena Lita sudah lebih dulu menendang tangan bos itu. Orang yang sedang merekam aksi mereka semakin bersemangat.
"S*al," umpat bos perampok itu. Lita malah tersenyum, tapi senyuman itu malah membuat mereka merinding. keempat perampok tersebut masuk kedalam mobil dan melarikan diri dengan mobil milik pria paruh baya tersebut.
__ADS_1
Entah kebetulan atau memang takdir, Johan dan teman temannya datang ketempat kejadian tersebut. Triple A yang melihat sasaran mereka kabur, dengan cepat mengambil pistol yang ada ditanah kemudian berlari kearah Johan. Johan yang baru saja memarkirkan motornya langsung dibanting oleh Lina.
"Maaf," hanya itu yang terucap dari bibir Lina. Sedangkan Lita dan Lica merebut motor Ansel dan Gibson, mereka semua tercengang ditempat. Johan yang masih terduduk di tanah pun masih terbengong bengong.
Triple A menunggangi motor masing-masing, ketiganya mengejar mobil yang dibawa oleh perampok tersebut. Aksi kejar-kejaran pun terjadi.
Oh ya, untuk pengetahuan readers semua, triple A diam diam belajar naik motor dan mobil, karena mereka masih dibawah umur jadi belum diperbolehkan mengemudi sendirian. Karena ini adalah urgent jadi mereka pun tidak berpikir ulang lagi. Mobil yang mereka kejar pun melaju dengan kecepatan tinggi, Lina, Lita dan Lica juga tidak mau kalah, mereka terus menambah kelajuan motor mereka.
"Susul mereka," perintah Johan pada Rino. Karena hanya motor Rino yang tersisa. Johan segera melompat ke motor Rino dan mereka menyusul triple A. Sedangkan Ansel dan Gibson menolong pria dan supir nya tadi yang sudah babak belur karena dihajar.
"Lebih cepat lagi...!" teriak Johan. padahal Rino sudah melakukan semaksimal mungkin untuk mengejar mereka.
Aksi kejar-kejaran masih berlanjut, beruntung jalanan cukup senggang jadi tidak menggangu pengendara lain. Tapi beberapa pengendara lain yang melihat aksi tersebut pun merasa heran.
Mobil yang mereka kejar menerobos lampu merah, triple A juga ikut menerobos lampu merah karena mereka tidak ingin kehilangan jejak.
Terjadilah kekacauan di lampu merah tersebut, beruntung hanya sebentar. Kebetulan ada mobil polisi yang melihat kejadian tersebut pun segera menyusul mereka.
Triple A tidak menggunakan helm jadi rambut panjang mereka berkibar ditiup angin. Mereka tidak peduli semua itu, yang penting mereka bisa menangkap perampok tersebut.
"Biarkan saja, yang penting kita dapatkan perampok itu dulu," jawab Lina yang juga berteriak.
"Kita berpencar, ada jalan pintas didepan sana sekitar 200 meter," teriak Lica. Mereka semua pun mengangguk. Lita dan Lica memilih jalan lurus, sedangkan Lina memilih jalan pintas. Sebelum Lina berbelok ke kiri mereka saling memberi kode, entah kode apa hanya triple A yang tahu.
Lina mempercepat laju motornya, dan benar saja ternyata jalan itu tembus kejalan yang lurus tadi. Lina berhenti ditengah jalan menghadang mobil tersebut.
"Sekarang waktunya kalian ku tangkap," gumam Lina sambil menyeringai.
Lina dengan beraninya mengarahkan pistol yang sempat ia ambil tadi.
"Bos kita dikepung," ucap salah satu dari mereka.
"Hmmm, sepertinya bocah itu ingin mengantarkan nyawanya sendiri," gumam bos tersebut. Bos itu menambah kecepatan mobilnya. Sedangkan Lina sudah mengarahkan pistol tersebut kearah mobil mereka.
Dor...
__ADS_1
Satu tembakan tepat pada ban mobil tersebut, mobil itu pun hilang keseimbangan dan menabrak pembatas jalan. Lina masih berdiri dengan gagahnya sambil memegang pistol tersebut.
Kemudian Lita dan Lica pun berhenti didekat Lina. Polisi juga berhenti didekat mobil yang sudah hancur depannya.
"Tangkap mereka," perintah salah satu polisi tersebut.
Keempat pria tersebut pun ditangkap, polisi memeriksa mobil tersebut. Terdapat uang tunai yang begitu banyak, serta dokumen penting milik perusahaan pria paruh baya tadi.
Sedangkan perampok tersebut telah digiring kedalam mobil polisi, ada yang pingsan karena benturan keras.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Johan yang baru tiba ditempat itu. Salah satu polisi pun menghampiri triple A.
"Terimakasih, ini adalah buronan yang kami cari selama ini," ucap polisi tersebut.
"Kalian bocah yang viral itukan?" tanya polisi itu lagi.
"Iya Pak, mereka yang viral itu," bukan triple A yang menjawab tapi Rino.
"Hmmm, istri saya sering bercerita tentang kalian, karena saya bertugas diluar kota jadi tidak begitu mengenal kalian," ucap polisi itu
"Oh ya, nama saya Irwan dan istri saya mungkin kalian sudah kenal, dia seorang guru yang mengajar di SMA xxxx kelas 12.
triple A, Johan dan Rino saling pandang.
"Jangan bilang kalau Bapak ini suaminya Bu Tessa?" tanya Rino, Irwan pun mengangguk.
"Wah ternyata kota ini sangat sempit, entah kebetulan apa sehingga kami bertemu dengan Bapak?" tanya Johan.
"Tadinya saya ingin pulang kerumah. Terus dilampu merah ada yang tidak beres, lalu saya dan rekan saya pun ikut mengejar. Ternyata apa yang diceritakan istri saya memang benar adanya. Bukan hanya sekedar omong kosong belaka, kalian benar benar hebat. Teruskan perjuangan kalian untuk memberantas orang jahat," ucap Irwan.
"InsyaAllah Pak," jawab mereka serentak.
.
.
__ADS_1
.