
.
.
.
Kemudian Vera bangkit dan disusul oleh sahabat Diva, mereka semua memeluk ketujuh gadis itu.
"Cantik sekali," ucap Vera.
"Ayo perkenalkan nama kalian," ucap Diva.
"Aku Cahaya paradina Tante," ucap Cahaya.
"Wah nama yang cantik, kok panggil Tante, panggil Mommy," ucap Diva, Cahaya menjadi kikuk, ia tidak menyangka sambutan hangat dari keluarga terpandang seperti ini. Cahaya mencium tangan Diva.
"Panggil Oma, ingat semuanya harus panggil Oma," kata Vera menekankan, kemudian Cahaya juga mencium tangan Vera dan yang lainnya yang ada disitu.
"Yang ini siapa namanya?" tanya Diva.
"Aku Aisyah, ee mom.. Mommy," jawab Aisyah gugup, kemudian Aisyah mencium tangan Diva lalu berpindah ke Vera dan yang lainnya yang ada disitu.
Ram dan Ren mendekati pasangannya setelah selesai diabsen, dan sekarang giliran yang lain lagi.
"sekarang maju perkenalkan nama kalian masing-masing," ucap Diva.
Mereka saling sikut karena tidak ada yang mau duluan, membuat yang ada disitu tertawa.
"Yang ini siapa namanya?" tanya Diva.
"Nadine Prameswari," ucap Nadine yang langsung mencium tangan Diva dan yang lainnya.
"Yang itu?" tanya Diva. Prita yang tertunduk langsung mendongak.
"Ee.. Prita sari Mommy," jawab Prita.
"Selanjutnya?" Diva.
"Saya Keyla, Tan ehh Mom," jawab Keyla.
"Aku Adira, Mommy," kata Adira.
"Aku Danita Dayana Mommy," ucap Danita.
Lalu mereka yang sudah memperkenalkan diri masing-masing menyalami keluarga yang ada disitu.
"Boys ternyata pilihan kalian Oke oke semua," kata Darmendra. Saat ini mereka berkumpul sesama pria, sedangkan yang wanita sibuk memasak untuk makan malam nanti, beruntung dapurnya besar jadi bisa berkumpul didapur.
"Pastilah Dad," ucap Ram.
"Kalian sudah yakin mau menikah muda?" tanya Robert.
"Yakin Om, rasanya kami sudah menemukan yang cocok untuk dijadikan pendamping hidup," ucap Ram.
"Kalian bagaimana?" tanya Darmendra.
__ADS_1
"Kalau bisa kami mau nikah barengan, resepsi pun barengan agar tidak membuang-buang waktu. jadi hanya sekali pesta," Kata Ren.
"Om dulu seumur kalian masih suka senang senang, maksudnya bukan senang senang main perempuan." ucap Aldo.
"Lama lama pacaran takutnya tidak bisa menahan diri Om, apalagi melihat yang bening begitu," ucap Ray. karena Ray mengukur pada dirinya sendiri yang sudah kecanduan dengan pesona Nadine.
"Ya kalian juga sudah mapan, meskipun umur kalian sangat muda," kata Jhon.
"Gimana pesawatnya Om? Apakah sudah dicoba?" tanya Roy.
"Belum, terasa bermimpi diberi hadiah pesawat," ucap Aldo.
"Om temannya Daddy, gak apa-apa di kasih hadiah," ucap Roy santai.
Sedangkan didapur...
"Siapa yang pandai masak?" tanya Vera.
"Kita semua bisa masak Oma, tapi cuma masakan sederhana dan tidak sepandai koki restoran." jawab Aisyah.
"Kalau begitu Oma ingin kalian yang masak, Oma ingin mencoba masakan kalian," kata Vera.
Lalu mereka pun masak saling membantu agar cepat selesai, sedangkan Diva dan sahabatnya hanya menjadi penonton saja.
"Gue tidak terlalu pandai memasak," ucap Adefa.
"Gue juga," kata Aryana.
"Diantara kita berempat cuma Diva yang pandai masak," ucap Anisa.
Sedangkan para gadis berkutak katik didapur dan sibuk memasak. Beruntung mereka semua bisa masak, hingga tidak terlalu merepotkan bila berkunjung kerumah calon mertua.
"Rasanya baru kemarin bertemu dengan kalian, tau tau udah punya menantu," ucap Anisa.
"Iya bahkan bukan cuma satu tapi tujuh sekaligus, tidak dapat gue bayangkan kalau nanti mereka juga punya anak kembar, pasti sangat ramai," kata Aryana.
"Kita kapan ya dapat menantu, anak aja masih kecil-kecil," ucap Adefa.
Vera mendekat dan mencium aroma masakan yang dibuat oleh para gadis-gadis, ada juga yang membuat kue untuk cemilan.
"Hmmm, sepertinya enak nih," ucap Vera.
"Tapi belum matang Oma," ucap Aisyah.
"Beruntung banget cucuku mendapatkan kalian," kata Vera lagi.
"Kami yang beruntung Oma, kami hanya dari golongan bawah tapi dapat diterima keluarga ini," ucap Cahaya, Vera pun tersenyum.
"Kami tidak memandang kasta rendah atau tinggi, yang penting ketulusan hati kalian dalam mencintai cucu cucuku, kebahagiaan mereka adalah yang utama." ucap Vera.
"Terimakasih Oma, telah menerima kami dengan baik," ucap Prita.
"Sudah jangan mellow begitu, Oma sudah lapar karena mencium aroma masakan kalian," ucap Vera.
"Setelah masak kalian ganti pakaian ya," perintah Diva.
__ADS_1
"Tapi kami tidak bawa pakaian ganti Mom," ucap Aisyah.
"Sepertinya calon suami kalian sudah menyiapkan pakaian ganti untuk kalian," kata Diva lagi.
Mereka jadi blushing mendengar kata calon suami, lalu mereka saling pandang karena Diva mengatakan sudah disiapkan pakaian ganti. Ram pergi kedapur melihat keadaan disana, Ram melihat Cahaya yang sedang sibuk membuat kue.
"Sedang apa sayang," tanya Ram, Cahaya menoleh tidak sengaja hidung mancung Ram bersentuhan dengan bibir Cahaya.
Deg...
Jantung keduanya berdetak kencang, walaupun mereka pernah berci*man tapi detak jantung mereka tidak bisa berbohong.
"Aku kesana dulu ya," ucap Ram menetralkan perasaannya. Cahaya pun mengangguk, wajahnya sudah memerah.
"Kamu kenapa Ram?" tanya Ren, Ram hanya menggeleng.
"Jangan bohong, pasti kamu lagi dekati Cahaya masak kan?" tanya Roy.
"Iya, karena aku sudah lapar," ucap Ram.
"Masih sore begini, alasanmu aja bilang lapar," ucap Rakha.
Sementara para orang tua, sedang berbincang bincang masalah bisnis dan lain sebagainya.
"Jadi benar sikembar sudah mendapatkan gelar profesor?" tanya Jhon.
"Iya, selama delapan tahun di London dan kuliah disana mereka langsung mendapatkan gelar profesor." jawab Darmendra bangga.
"Aku heran anak kamu bisa sejenius itu," ucap Aldo.
"Mereka sudah diberi otak jenius karena itulah kodratnya," ucap Darmendra.
"Aku juga sempat terkejut saat mengetes IQ mereka, ternyata mereka lebih pintar dari yang aku pikirkan," Jhon.
"Kita yang sudah dewasa saja kalah total dengan kepintaran mereka," Robert.
Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 6:30 WIB. Para gadis baru selesai masak, lalu mereka diantar kekamar kekasih mereka masing-masing. Tentu saja sikembar merasa sangat senang.
"Mari sayang," ajak Ray, mereka semua membawa kekasih mereka masing-masing untuk mandi dan berganti pakaian.
Sikembar benar benar sudah menyiapkan semuanya, dari pakaian luar sampai pakaian d*l*m.
"Bagaimana Ren tau ukuran d*l*man ku?" Batin Aisyah, jujur ia sangat malu, Aisyah mengira yang memilih adalah Ren, tapi sebenarnya Ren meminta pada pelayan toko untuk memilihkan pakaian tersebut, Ren hanya menyebutkan ciri-ciri orangnya saja.
Begitu pula dengan yang lain, saat mereka mencoba pakaian yang disediakan, mereka menduga yang bukan bukan.
"Gimana cocok gak?" tanya Ram membuat Cahaya begitu malu.
"Tenang, bukan aku yang pilih, tapi pelayan toko, aku cuma menyebutkan ciri-ciri orangnya terus pelayan toko langsung mengerti," ucap Ram membuat Cahaya merasa lega.
.
.
.
__ADS_1