
.
.
.
Setelah melewati beberapa ujian nasional, hari ini adalah hari terakhir mereka melaksanakan ujian. Johan juga sudah seperti sedia kala dan mengikuti ujian seperti biasa.
"Selamat pagi anak anak..!" sapa Bu Tessa.
"Selamat pagi Bu guru," jawab siswa siswi serentak.
"Hari ini adalah hari terakhir kalian mengikuti ujian, setelah itu kalian akan libur selama satu Minggu penuh, dan setelah itu akan diadakan acara perpisahan sekolah dan pengumuman kelulusan." ucap Bu Tessa.
"Ibu harap kalian bisa lulus semuanya dan menjadi kebanggaan orang tua kalian, dan kalian bisa melanjutkan ke perguruan tinggi," ucap Bu Tessa lagi.
"Baiklah, untuk menyingkat waktu ibu akan membagikan kertas ujian dan lembar jawaban," ucap Bu Tessa.
Kemudian Bu Tessa membagikan kertas ujian tersebut kepada seluruh siswa kelas 12.
"Sekarang kalian bisa mengerjakan soal-soal tersebut dan waktu yang diberikan adalah 90 menit dari sekarang. Karena ujian kali ini cukup sulit," ucap Bu Tessa.
Kemudian siswa siswi pun mengerjakan soal-soal tersebut, mereka semua berfokus pada kertas dan pensil yang mereka pegang.
"Sulit banget sih," gumam Ansel pelan, karena takut didengar oleh Bu Tessa.
"Kan Bu Tessa sudah bilang, soalan kali ini cukup sulit," jawab Gibson yang kebetulan dekat dengan Ansel.
Ansel menoleh ke kiri dan kanan, ternyata semua murid sedang fokus pada kertas jawaban dan kertas ujian.
20 menit berlalu...
Triple A bangkit dari duduknya dan berjalan kearah meja guru sambil membawa kertas jawaban.
"Kami sudah selesai Bu," ucap triple A serentak.
"Hmmm, bagus. kalian memang kompak selalu bersama sama dalam hal apapun. Dan juga menjawab soal-soal ujian yang paling tercepat," ucap Bu Tessa. Triple A hanya tersenyum.
"Karena hari ini hanya satu pelajaran saja, jadi kalian boleh pulang. Dan mulai besok kalian libur sekolah satu Minggu sampai pengumuman kelulusan dan perpisahan sekolah," ucap Bu Tessa.
"Baik Bu, terimakasih," jawab triple A serentak.
Lalu mereka mengambil tas ransel milik mereka dan keluar dari kelas tersebut. Sedangkan yang belum selesai hanya bisa menghela nafas panjang karena mereka masih banyak yang harus mereka jawab.
Ada yang berkeringat ada pula yang mengeluh karena pertanyaan kali ini memang sulit bagi mereka, tapi tidak bagi triple A.
"Sebenarnya otak mereka terbuat dari apa sih?" tanya Gibson. Mereka yang dimaksud adalah triple A.
"Dari bahan bahan berkualitas tanpa bahan pengawet tentunya," jawab Ansel.
__ADS_1
"Emang makanan?" tanya Johan.
"Gibson, Ansel, Johan...!" panggil Bu Tessa. Ketiganya pun tertunduk dan melanjutkan menjawab soal-soal tersebut.
"Waktu terus berjalan, kalian malah asik ngobrol," tegur Bu Tessa.
"Baik Bu, tidak lagi," jawab Gibson.
"Kamu sih, ucap Ansel.
"Ehhem," suara deheman dari Bu Tessa membuat mereka terdiam.
Sedangkan triple A sedang duduk ditaman, karena mereka masih belum ingin pulang.
"Apa rencana kita selanjutnya?" tanya Lica.
"Rencana apa maksudmu?" tanya Lita balik.
"Rencana untuk Minggu depan acara perpisahan sekolah," jawab Lica.
"Loh, kenapa kita? Bukankah acara kelulusan dan perpisahan sekolah itu acara bersama?" tanya Lita.
"Iya, tapi kita juga harus punya ide untuk konsepnya nanti, kalau ada ide gak salahnya kan kita berpendapat?" tanya Lica.
"Kita akan buat persembahan, puas?" tanya Lina yang sejak tadi diam mendengar perdebatan kedua adiknya.
"Haah..." Lita dan Lica melongo.
"Maksudmu kita akan menyanyi?" tanya Lica.
"Hmmm, kita bertiga dengan menggunakan alat musik seadanya kita bisa membuat persembahan," jawab Lina.
"Aku bisa nyanyi bisa main musik dan kalian juga begitu. Lalu apa yang kurang?" tanya Lina, Lita dan Lica menggeleng.
"Mari kita menemui Pak Udin," ajak Lina.
Kemudian mereka pun masuk kembali kedalam sekolah, para siswa siswi masih mengerjakan soal-soal ujian tersebut. Triple A dengan santainya pergi keruang kepala sekolah.
Tok...
Tok...
Tok...
"Masuk," perintah suara dari dalam. Triple A pun membuka pintu dan masuk.
"Selamat pagi Pak," ucap triple A serentak.
"Pagi," jawab Pak Udin lalu menoleh ke sumber suara.
__ADS_1
"Loh, kalian kok sudah disini? Apa kalian tidak mengikuti ujian?" tanya Pak Udin.
"Sudah selesai Pak, hanya satu mata pelajaran saja," jawab Lina.
"Kami kemari ada yang ingin kami diskusikan dengan Bapak," ucap Lita.
"Duduklah, gak sopan kalau bicara sambil berdiri," ucap Pak Udin. Ketiganya pun duduk dikursi yang telah disediakan.
"Katakan...!" perintah Pak Udin.
"Begini Pak, mengenai acara perpisahan sekolah dan pengumuman kelulusan apa saja acara yang akan diadakan?" tanya Lina.
"Tarian tradisional dan persembahan yang lain dari siswa siswi SMA ini. Kalau kalian mau buat persembahan sendiri nanti juga bisa, akan lebih bagus malah," jawab Pak Udin.
"Seperti tahun tahun sebelumnya, demi menghibur para tamu undangan yang hadir maka kami akan mengadakan acara yang lebih meriah lagi. Apa kalian punya ide lain?" tanya Pak Udin.
"Kami hanya ingin menyanyi Pak, kebetulan kami juga bisa sedikit sedikit bermain alat musik, jadi kami akan membuat persembahan seperti itu untuk menambah kemeriahan acara tersebut," jawab Lina.
"Bagus, Bapak sangat bangga dengan kemampuan kalian, ternyata keturunan keluarga Henderson tidak ada yang bisa menandingi," ucap Pak Udin bangga.
"Terimakasih Pak, kalau begitu kami permisi." ucap Lina sopan.
"Hmmm. Sama sama, silahkan." kata Pak Udin.
Triple A pun keluar dari ruangan Pak Udin, dan berjalan menyelusuri lorong sekolah tersebut. Tiba tiba mereka ingin ke toilet, saat mereka berjalan di lorong menuju toilet, samar samar ia mendengar suara. Triple A mendekati suara tersebut ternyata suara seorang siswi yang dilec*hkan oleh seorang siswa. Siswi tersebut tidak berani melapor karena sudah diancam akan dibunuh.
Triple A mengendap-endap mendekat kearah mereka, kemudian Lina mengeluarkan ponselnya dan merekam aksi mereka untuk dijadikan bukti. Setelah itu barulah Lina turun tangan.
Buugh...satu pukulan mendarat sempurna diperut siswa tersebut, hingga ia meringis menahan rasa sakit. Sedangkan siswi itu terkejut dan segera membenahi seragamnya yang hampir terlepas.
Lina terus menghajar siswa tersebut sampai pingsan, karena Lina membenci perbuatan siswa tersebut.
"Kenapa kamu ada disini?" tanya Lita pada siswi yang bernama Emely.
"Tadi selesai ujian aku ingin ke toilet. Tapi ternyata aku diikuti olehnya dan ditarik kebelakang," jawab Emely.
"Kenapa kamu tidak melawan?" tanya Lica yang juga geram.
"Dia mengancam akan memb*n*hku kalau aku melawan atau melaporkan nya," jawab Emely. Sambil menangis ia menceritakan semuanya.
"Sudah, sekarang kamu sudah aman. kembalilah." titah Lina setelah menghajar siswa tersebut.
Seorang siswa yang terlihat polos dan lugu ternyata punya niat tidak baik, tidak ada yang menduga dibalik keluguan yang ia miliki ternyata hanya kedok untuk menutupi dirinya.
Kemudian mereka pun pergi dari situ dan meninggalkan siswa tersebut yang masih tergeletak pingsan.
.
.
__ADS_1
.