
.
.
.
Hari pun berlalu, kini tiba saatnya hari pengumuman kelulusan sekolah. Triple A sudah bersiap siap untuk pergi Karena hari ini juga merupakan hari perpisahan sekolah bagi yang sudah tamat. Dan mereka nanti akan melanjutkan kesekolah menengah atas.
"Mommy sama Daddy akan datang kan?" tanya Lica pada saudaranya.
"Datanglah, Mommy sudah bilang dari kemarin kemarin," jawab Lita.
"Yuk keluar, setelah sarapan kita langsung berangkat," ajak Lina. Mereka pun keluar dari kamar dan masuk kedalam lift untuk turun kebawah.
Dimeja makan sudah berkumpul keluarga mereka untuk bersarapan.
"Mari makan, nanti kita berangkat sama sama," ucap Vera.
"Oma ikut?" tanya Lica.
"Ikut dong, Oma juga mau lihat cucu cucu Oma menerima penghargaan atas prestasinya," jawab Vera.
Vera dan Jordan juga ikut kesekolah triple A. Sikembar juga tidak mau ketinggalan, karena mereka akan meramaikan acara tersebut.
"Jam berapa acaranya dimulai, sayang?" tanya Diva pada triple A.
"Jam 9 pagi Mom, semua orang tua murid diundang, bahkan kalau keluarganya mau ikut juga boleh," jawab Lica. Lica sifatnya lebih cenderung seperti Ram, sedangkan Lina lebih mirip Ray, Lina selalu serius dan jarang sekali tersenyum. Sedangkan Lita netral saja.
Setelah sarapan mereka semua pun berangkat. Darmendra membawa mobil besar untuk mereka. Sedangkan sikembar dengan mobil masing-masing, semenjak mereka punya kekasih, mereka membawa mobil sendiri sendiri.
"Apa rencanamu!" tanya Ren pada Ram.
"Apa? Gak ada?" tanya Ram balik.
Masih ada satu jam lebih untuk mereka menghadiri acara kelulusan tersebut. Kini mereka tidak lagi diam diam untuk menjadi sponsor acara itu.
Darmendra, Diva Vera Jordan dan triple A sudah berangkat lebih dulu, karena triple A tidak ingin datang terlambat. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan.
"Bagaimana keadaan teman kalian waktu itu yang masuk rumah sakit?" tanya Vera, karena Vera dan Jordan hanya mendengar cerita dari Diva.
__ADS_1
"Baik Oma, hanya terkena tendangan sedikit saja," jawab Lina.
"Ceroboh sekali anak itu," ucap Jordan menimpali.
"Dia keasikan main pistol pistolan," jawab Lica.
"Biasalah, masa kecil kurang bahagia," kata Lina enteng.
"Wajarlah, ia belum pernah nemuin yang seperti itu, mungkin kejadian waktu itu pengalaman pertamanya," kata Diva.
Tidak terasa mereka sudah sampai disekolah. Darmendra memarkirkan mobilnya ditempat parkir khusus, saat mereka keluar dari mobil. Mereka disambut baik oleh Pak Fredi dan guru lainnya.
"Suatu kehormatan bagi kami karena keluarga terhormat bisa datang ke acara ini," ucap Pak Fredi.
"Terimakasih, biasa saja Pak jangan terlalu diistimewakan, kita sesama manusia biasa kok," ucap Darmendra. Hal itu semakin membuat Pak Fredi kikuk.
"Pantas saja dulu sikembar sangat rendah hati, ternyata orang tuanya juga seperti itu," batin Bu Renita.
"Silahkan tuan, acaranya sebentar lagi akan dimulai," ucap Pak Fredi.
Saat mereka masuk kedalam Aula, ternyata sudah sangat ramai disana. Darmendra dan keluarganya diantar kekursi yang paling depan.
Zeline tidak berkedip melihat sikembar yang begitu tampan.
"G*la ganteng banget," ucap si A salah satu murid yang dekat dengan Zeline.
"Sudah punya pacar gak ya?" tanya si B temannya si A.
"Jangan ngarep deh kalian, cowok seperti itu mana suka sama ABG, ya pasti cewek yang dewasalah," ucap si C. Meskipun ia juga mengagumi sikembar tapi ia sadar diri.
Melihat sikembar datang, Pak Fredi dan Pak Rahmat segera menghampiri sikembar.
"Sudah besar kalian sekarang?" tanya Pak Fredi.
"Apa kabar Pak?" bukannya menjawab sikembar malah balik bertanya secara serentak.
"Baik, sangat baik. Masih kompak aja kalian?" jawab dan tanya Pak Fredi.
"Masih ingat saya?" tanya Pak Rahmat, sikembar tersenyum.
__ADS_1
"Masih dong Pak, gak mungkin lupa," jawab Ram. Kemudian mereka bersalaman dengan mantan guru mereka.
"Mari nak, maaf bapak tidak bisa membedakan kalian. Yang mana Ray? yang mana Ram kelihatannya sama?" tanya Pak Rahmat. Sikembar tersenyum sangat tampan.
Sebut saja nama kami, pasti kami menyahut." jawab Ram.
"Mari silahkan duduk," kata Pak Fredi.
sikembar duduk dikursi yang telah disediakan, mereka tidak berdekatan dengan keluarga mereka. mereka sengaja sedikit menjauh.
Acara pun dimulai, Pak Fredi segera naik keatas panggung untuk mengumumkan kelulusan para murid.
"Baiklah untuk menyingkat waktu maka segera saya umumkan kelulusan para murid dan siapa saja yang menjadi juara 1 sampai 4." ucap Pak Fredi.
"Sebelumnya saya ingin mengucapkan terimakasih kepada keluarga Henderson, karena acara ini terselenggara berkat sponsor dari mereka." ucap Pak Fredi. Semua orang bertepuk tangan.
"Disini saya akan umumkan kelulusan para murid adalah 100% lulus. Selamat untuk semua murid karena tidak mengecewakan. Dan selanjutnya saya akan umumkan peringkat 4 sampai 2. Untuk juara 4 disandang oleh Davina, silahkan Davina untuk naik keatas panggung. Dan selanjutnya juara 3 disandang oleh Zaidan, selamat untuk Zaidan karena telah mempertahankan prestasinya. Dan untuk juara 2 disandang oleh Randy, selamat untuk dan silahkan naik keatas panggung.
Randy berjalan keatas panggung dengan perasaan lesu, karena hanya mendapatkan juara 2 maka sudah pasti Lina akan menolaknya. Tapi semangatnya masih terus berkobar dan tekadnya tetap kuat untuk memperjuangkan cinta sepihak nya itu. Randy berharap suatu saat nanti akan bisa memenangkan hati Lina sang pujaan hatinya.
"Sekarang waktunya kita akan mengumumkan juara 1 dan nilai tertinggi dari semua murid yang ada." ucap Pak Fredi. Kemudian Pak Fredi menyuruh orang untuk menampilkan nilai ujian semua murid, agar tidak terjadi kesalahpahaman. Dari nilai yang tertinggi sampai nilai terendah.
Zeline hanya peringkat ke 5, biasanya ia selalu peringkat 2 dibawah Randy. Zeline menangis menyesali dirinya yang begitu sombong dulu, sekarang kesombongan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan triple A.
"Maafkan Zeline Pa, karena tidak bisa menjadi juara kelas," ucap Zeline sambil menangis dipelukan Papanya.
"Tidak apa-apa Sayang, masuk 10 besar sudah sangat bagus," ucap Roger. Roger kini sudah belajar untuk tidak merendahkan orang lain, sejak insiden waktu itu memberi pengajaran pada dirinya dan keluarganya. kalau tidak ingin hancur kedua kalinya, begitulah ancaman Lina yang tidak main-main.
"Dan untuk juara 1 sudah bisa anda tebak, karena dilayar monitor sudah terpampang tiga nama yang menjadi juaranya. Untuk Angelina Angelita dan Angelica dipersilahkan naik keatas panggung. Dan dipersilahkan kepada tuan Darmendra untuk naik keatas panggung memberikan hadiah kepada juara tahun ini," ucap Pak Fredi.
Darmendra pun naik keatas panggung untuk memberikan hadiah kepada sang juara.
"Untuk kedua kalinya dalam sejarah juara 1 dimenangkan oleh 3 murid jenius, kalau dulu kakak mereka yang mendapatkan juara 1, untuk sikembar tujuh silahkan naik keatas panggung." ucap Pak Fredi.
.
.
.
__ADS_1