
Semburat sinar keemasan nampak di ufuk timur menggantikan gelap yang dipeluk oleh hujan semalaman. Menyisakan tetes-tetes air di permukaan dedaunan yang membiaskan kilau sinar mentari. Burung-burung keluar dari dalam sangkar, mencoba mencari kehangatan dari sinar sang surya yang menembus celah-celah ranting dan dedaunan.
"Wan, bangun!"
Kardi yang melintas di depan kamar pribadi sang anak dan menantu sedikit terkejut saat melihat Awan yang tertidur di depan pintu kamar. Lelaki itu menyenderkan punggungnya di dinding dengan kaki selonjoran di lantai.
Suara yang cukup nyaring di telinga, membuat lelap tidur Awan sedikit terusik. Kelopak matanya perlahan terbuka dan kesadarannya mulai pulih sepenuhnya.
"Pak, ngapain Bapak ada di sini?" tanya Awan keheranan.
Kardi berdecak mendengar pertanyaan Awan. "Seharusnya yang bertanya itu aku Wan. Kamu mengapa bisa tidur di depan kamar seperti gelandangan begini? Kamu bertengkar dengan Mega?"
Awan memperhatikan sekelilingnya. Ternyata kesedaran sebelumya belum kembali utuh sempurna. Namun untuk saat ini ia sudah bisa mengingat apa yang terjadi semalam.
"Iya Pak, sejak aku pulang, Mega tidak mau membukakan pintu kamar. Alhasil aku tidur di luar seperti ini."
"Mengapa bisa sampai seperti itu Wan? Kamu membuat kesal Mega lagi?" tanya Kardi sedikit mengintimidasi.
"Aku tidak merasa membuat Mega kesal Pak..."
Cekleekkkk..
"Tidak membuat kesal bagaimana? Kamu ngapain saja sama wanita itu semalam? Sampai lupa ada istri di rumah yang nungguin kamu?"
Ucapan Awan terpangkas kala pintu kamar terbuka dan muncul sosok Mega yang keluar dari dalam. Wanita itu langsung menyembur sang suami dengan amarah yang sudah tidak dapat terbendung lagi.
"Astaga Han, bisa-bisanya kamu menanyakan hal itu? Aku sejak kemarin fokus sama persiapan opening resto kita Han. Kok kamu malah menuduhku yang bukan-bukan?"
"Halahhh ... Ngaku saja kamu Mas. Aku tahu kalau kamu mengantar Tari pulang terlebih dahulu. Iya kan?" tembak Mega yang langsung membuat tubuh Awan terkesiap.
"Eh, iya itu benar Han. Tapi aku hanya mengantar saja kok, tidak lebih. Aku hanya kasian karena dia tidak membawa kendaraan Han. Terlebih malam-malam seperti itu ditambah hujan lebat."
"Halahhh, mengantar saja atau sambil minum kopi juga Mas? Bisa-bisanya kamu masih belum mau mengaku!"
Tubuh Awan semakin terperanjat setengah mati kala menyadari bahwa sang istri sudah bisa mengendus apa yang sudah ia kerjakan.
Heran, apa semua wanita itu mempunyai ajian sakti mandraguna? Sampai-sampai Mega tahu kalau aku ngopi dulu?
Awan tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia merasa tidak ada gunanya lagi untuk berbohong di depan Mega.
__ADS_1
"Hehehe hehehe iya Han, aku mampir ngopi sebentar. Tapi itu semua juga demi kebaikanku Han. Kamu tidak mau sampai terjadi sesuatu kepadaku kakau aku mengantuk kan?"
"Ngeles saja kamu Mas. Sudah persis bajaj!"
"Hahahaha iya Han, aku minta maaf. Toh aku tetap pulang kan meskipun sampai larut malam? Daripada aku tidak pulang, pasti kamu lebih kesal lagi. Iya kan?"
Kedua bola mata Mega terbelalak dan membulat sempurna. Tidak berupaya untuk menenangkan hati, Awan justru semakin membuat Mega kesal yang tiada bertepi.
"Awas saja kalau kamu sampai gak pulang karena menginap di rumah wanita itu Mas. Aku potong burungmu!"
"Ahahahahahaha...." Gelak tawa Awan terdengar menggema. Ia dekati istrinya yang masih menampakkan wajah masam ini.
"Jangan macam-macam kamu Mas!" ancam Mega namun dengan seutas senyum tipis yang mulai terbit di bibir. Meskipun kesal, tapi ia tetap tidak bisa untuk berlama-lama marah di hadapan Awan.
"Sudahlah Han, jangan marah-marah lagi. Lebih baik kamu sekarang bersiap-siap karena hari ini kita akan ke resto untuk memastikan persiapan opening berjalan lancar."
"Aku sedang malas Mas. Aku mau di rumah. Kamu saja yang ke sana."
"Benar kamu tidak mau ikut Han?"
"Tidak Mas. Aku ke sana besok saja pada waktu opening saja. Seharian ini aku ingin beristirahat di rumah."
"Isssshhhh ... Siapa bilang kamu ke sana sendirian Mas?" tanya Mega yang membuat Awan sedikit mengernyitkan dahi.
"Loh maksudmu bagaimana Han?"
"Bapakku yang akan ikut kamu ke resto. Biar sekalian menjadi mata-mata agar kamu tidak keganjenan di depan wanita itu!"
"Astaga Honey... Sampai segitunya kamu," cicit Awan yang merasa sikap istrinya ini sedikit berlebihan.
"Biar saja. Daripada kamu berbuat yang macam-macam!"
Helaan napas kasar keluar dari bibir Awan. Mau tidak mau lelaki itu harus mengalah dan menuruti permintaan Mega. Ia tidak ingin jika sampai mood Mega kembali buruk sehingga berdampak pada calon anak yang ada di dalam kandungannya.
"Ya sudah, aku mandi dulu. Kamu siapkan sarapan pagi ya Han!"
"Oke siap. Hari ini aku masakkin telur orak-arik untukmu, Mas!"
Awan hanya bisa nyengir kuda mendengar menu yang akan disiapkan oleh Mega. Dalam hati, lelaki itu berbisik lirih...
Kemarin telur ceplok, kemarinnya lagi telur dadar, kemarinnya lagi telur rebus dan sekarang telur orak-arik. Kalau setiap hari telur bisa-bisa aku bisulan. Ya Tuhan .... Apa tidak ada menu lain selain telur?
__ADS_1
***
"Eh Bu Sri, memang tetangga kita yang baru beberapa bulan tinggal di rumah besar itu tidak pernah keluar rumah ya? Sepertinya aku jarang sekali melihat dia berbaur dengan tetangga."
Di kios sayur yang ramai oleh kumpulan ibu-ibu, terjadi sebuah pembicaraan dengan tema yang cukup menarik. Setelah beberapa bulan mereka hanya diam, namun untuk kali ini mulut-mulut mereka sudah tidak tahan lagi untuk membahas perihal tetangga baru yang tinggal di salah satu rumah besar itu.
"Sebenarnya kalau disebut baru tidak sih Bu. Bukankah dia sudah hampir setengah tahun tinggal di sana? Hanya saja dulu dia masih hidup sendiri sedangkan beberapa bulan terakhir ini dia sudah menikah. Tapi sejak dulu memang tidak pernah keluar rumah," jawab seorang ibu bernama Sri itu.
"Iya juga ya. Dulu dia kan yang pernah di grebek warga karena menjadi wanita simpanan itu kan? Kok tidak tahu malu ya masih tinggal di sini," ucap seorang ibu yang bernama Tutik.
"Ah biarkan saja lah Bu. Biarkan menjadi urusan pribadi mereka. Kita sebagai tetangga tidak usah ikut campur. Toh katanya ia sudah menikah dengan lelaki itu kan?" pesan ibu Sri sedikit bijak.
"Haaaahhhh .... Di mana-mana mengapa pelakor selalu menang ya Bu? Mereka selalu saja berhasil merebut suami orang dan berhasil menghancurkan rumah tangga wanita lain," cicit ibu Tutik yang seakan prihatin kala melihat fenomena pelakor yang selalu menjadi pemenang.
"Hmmmmmm... Kalau aku lebih mendukung apa yang dilakukan oleh mantan istri dari lelaki itu, Bu. Dia memilih untuk melepaskan suaminya untuk ia berikan kepada pelakor. Karena memang dasarnya pelakor itu pantas mendapatkan barang bekas. Hahahaha," ucap Ibu Sri dengan gelak tawa yang cukup membahana.
"Itulah perbedaan antara laki-laki dan wanita ketika berada di puncak kesuksesan, Bu Ibu..," timpal seorang ibu yang ingin ikut larut dalam tema obrolan.
"Maksud bu Salim bagaimana?"
"Ketika di puncak kesuksesan, kebanyakan lelaki memiliki hasrat untuk punya banyak wanita. Sedangkan wanita, ketika berada di puncak kesuksesan, ia sama sekali tidak membutuhkan sosok laki-laki."
"Wah iya, benar juga ya. Banyak kita lihat wanita sukses yang memilih tetap sendiri tanpa didampingi seorang laki-laki. Sedangkan seorang laki-laki baru diberi kesuksesan sedikit saja sudah belagu ingin mencari banyak wanita. Memang laki-laki di mana-mana itu sama saja," ucap Ibu Tutik dengan kesal. Sepertinya ia juga memiliki kisah pahit dengan makhluk bernama lelaki.
"Sudahlah Bu, tidak perlu dibahas lagi. Lebih baik kita datangi tetangga baru yang tinggal di rumah besar itu sebagai ucapan selamat datang. Bagaimanapun juga kita harus bersikap baik dalam bertetangga," usul ibu Sri.
"Wah usulan yang bagus itu Bu. Enaknya kita bawakan apa ya?" tanya Bu Salim meminta pendapat.
"Bawakan pisang mas ini saja Bu. Lihatlah pisang mas ini. Terlihat menggoda sekali kan?" timpal si pemilik kios sayur.
"Wah boleh juga tuh Bu, Ibu. Setelah ini kita ke rumah tetangga baru itu dengan membawa pisang mas ini ya," ajak ibu Salim.
"Siap Bu."
.
.
.
Dari episode 100 ini, apakah para pembaca ada yang tahu maksud yang tersimpan di dalamnya? Silakan tulis di kolom komentar ya Kak... 😘😘😘
__ADS_1