
"Apa? Jadi dia perempuan?" pekik Mega dengan dua bola mata yang membulat sempurna karena begitu terkejutnya.
Awan mengangguk santai. "Iya Han, dia perempuan. Memang kenpa Han kalau dia perempuan? Lagipula mau laki-laki atau perempuan sama saja kan. Asal mereka mumpuni pasti banyak dicari."
Mega seakan kesusahan menelan salivanya. Meskipun saat ini benda cair yang masuk ke dalam kerongkongan namun sepertinya aliran itu tercekat dan tertahan. Mendengar nama Mentari saja sudah cukup membuat hatinya sedikit risau.
"Aku keberatan Mas. Lebih baik kamu cari manajer pemasaran seorang laki-laki saja. Jangan perempuan!"
Mega memberikan sebuah usulan yang terdengar menggelitik telinga Awan. Bagi Awan lelaki ataupun perempuan memiliki kesempatan yang sama di dalam dunia kerja. Yang paling penting track record yang dimilikinya.
"Ya ampun Han. Ini oh di depan mata kita sudah tersedia salah satu kandidat yang begitu mumpuni. Masa iya kita harus sibuk mencari lagi?" tanya Awan balik dengan nada retoris. Ia sungguh tidak mengira jika sang istri tidak menyetujuinya untuk mengangkat Tari menjadi manajer pemasaran di restonya.
Mega menatap Awan dengan tatapan sinis. Rasa manis air kelapa muda yang sebelumnya mengaliri kerongkongan, kini seakan berubah menjadi pahit karena sang suami terlihat begitu mengagumi sosok Mentari.
"Mengapa kamu bisa seyakin itu Mas? Kamu sepertinya sangat mengenal dia?"
"Jelas aku mengenal dia Han. Dia merupakan teman SMA ku. Itu artinya selama tiga tahun aku bersama dengannya."
"Yakin hubunganmu hanya sekedar teman Mas? Tidak lebih dari itu?" tanya Mega semakin curiga.
"Sumpah Han. Aku dan dia hanya berteman, tidak lebih dari itu."
Awan terpaksa menyembunyikan cerita tentang Mentari yang pernah menyatakan cinta kepadanya di hadapan Mega. Ia tidak ingin jika istrinya ini berpikir yang macam-macam tentang Mentari. Cukup dia dan Tari lah yang mengetahui cerita itu.
"Baiklah Mas, aku percaya padamu. Tapi tolong pertemukan aku dengannya terlebih dahulu. Aku ingin melihat secara langsung wanita bernama Mentari itu."
"Itu hal yang mudah Han. Nanti aku akan pertemukan kamu dengan Mentari. Aku yakin, kamu pasti terkesima dengan kepintaran yang dimilikinya. Dan aku yakin tidak salah pilih untuk memberikan posisi itu kepadanya."
Isssshhhh .... Sepandai apa sih perempuan bernama Mentari itu? Sampai-sampai Mas Awan begitu memujinya? Apa Mas Awan lupa kalau aku ini juga pandai? Dulu aku kan juga pernah mendapatkan beasiswa karena berprestasi?
Mega hanya bisa menahan kekesalannya di dalam hati. Ia seakan tidak mau tersaingi dengan perempuan bernama Mentari itu.
__ADS_1
"Baiklah. Tapi nanti seandainya dia tidak masuk dalam kriteria, aku harap kamu tidak keberatan jika aku tidak menerimanya Mas."
"Itu artinya kita biarkan Mentari menjalani masa percobaan terlebih dahulu kan Han? Bagaimana kita bisa tahu dia masuk dalam kriteria yang mumpuni atau tidak jika tidak melalui masa training dulu?"
"Tidak harus seperti itu. Aku bisa tahu dia itu mumpuni atau tidak hanya dengan melihat sekilas wajahnya Mas."
"Hah, serius?" tanya Awan sedikit terkejut. "Sudah seperti paranormal saja kamu Han!" sambungnya dengan kekehan lirih dari bibir.
"Coba nanti aku buktikan Mas. Aku bisa tahu wanita bernama Mentari itu mumpuni atau tidak hanya dengan melihat wajahnya."
"Aahhh... Terserah kamu saja Han. Nanti akan aku pertemukan kamu dengan Mentari."
Awan beranjak dari posisi duduknya yang seketika membuat dahi Mega berkerut dalam.
"Mau kemana lagi kamu Mas? Baru saja sampai di rumah, sudah mau keluar lagi?" protes Mega yang seakan tidak terima jika sang suami pergi ke luar lagi.
"Astaga Han, siapa juga yang mau ke luar lagi? Aku ini mau ke kamar mandi. Tubuhku gerah dan ingin segera mandi. Tahu kan kalau aku kegerahan karena terjebak jalanan yang macet?"
"Oh, aku kira kamu mau ke luar lagi Mas!"
Awan melenggang pergi memasuki kamar mandi. Ia basahi tubuhnya dengan air shower yang seketika menghadirkan sensasi kesegaran di tubuhnya. Lelaki itu melakukan ritual mandi sembari bersiul dan bernyanyi.
"Tidak biasanya mas Awan mandi sembari bersiul dan bernyanyi. Sepertinya dia bahagia sekali hari ini. Apakah dia bahagia karena bertemu dengan kawan lamanya saat SMA?"
Mega hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mendengar sang suami yang bernyanyi riang di dalam kamar mandi. Ia daratkan bokongnya di depan cermin sembari menatap lekat bayang wajahnya yang terpantul di sana.
"Aku masih terlihat cantik kok. Tidak mungkin aku bersaing dengan kawan lama mas Awan itu. Sudah jelas, dia bukan lawan yang sepadan denganku. Toh di wajahku ini sudah terpasang susuk yang sampai kapanpun akan membuat mas Awan terpikat kepadaku."
Setelah sejenak dilanda kerisauan, hati Mega kembali tenang saat teringat bahwa di wajahnya terpasang susuk yang begitu hebat. Dapat ia pastikan jika selamanya Awan hanya akan terpikat dengan pesonanya. Bukan dengan wanita lain.
***
"Mau ke mana sih Mas? Kok tumben pagi-pagi seperti ini kamu mengajakku keluar?"
__ADS_1
Ketentraman dan ketenangan Mega dalam mengarungi lautan mimpi terpaksa harus terganggu setelah Awan mengguncang-guncang tubuhnya dan memaksanya untuk segera bangun. Dengan malas, wanita itu menuruti keinginan Awan untuk segera bangun dari lelap tidurnya.
Mega masih dipenuhi oleh tanda tanya besar ketika Awan mengajak untuk segera bersiap-siap di hari yang masih pagi seperti ini. Matahari saja belum sepenuhnya menampakkan wajah, namun sang suami seperti tidak sabar untuk segera mengajaknya keluar. Entah apa yang menjadi rencananya.
"Aku ingin mengajakmu bertemu dengan Mentari, Han. Bukankah kamu ingin bertemu dengannya?" ucap Awan seraya menyisir rambut hitamnya.
"Tapi ini masih pagi Mas. Kenapa tidak nanti siang saja sih? Aku masih ngantuk sekali," protes Mega seakan tidak terima kala kualitas tidurnya diusik.
"Justru kata Mentari semakin pagi maka semakin baik Han. Katanya saat pagi-pagi seperti ini merupakan waktu yang tepat untuk merealisasikan mimpi juga mencari rezeki agar tidak keduluan oleh ayam."
Bibir Mega mencebik. Bisa-bisanya wanita itu mengaitkan rezeki dengan ayam. Sungguh tidak nyambung sama sekali.
"Issshhh ... Itu sih bisa-bisanya dia saja Mas. Lagipula kita ini kan nantinya sebagai bos. Jadi bebas mau pergi jam betapapun."
"Sepertinya ada benarnya juga yang dikatakan oleh Mentari, Han. Selama ini kita selalu bangun siang, alhasil rezeki untuk kita dipatok oleh ayam lebih dulu. Mulai sekarang, aku akan belajar untuk mengubah pola hidup. Aku akan bangun pagi dan mulai beraktivitas sebelum kedahuluan ayam."
Mega memasang wajah sinis kala menatap punggung Awan dari tempatnya saat ini. Ia semakin merasa dongkol karena belum apa-apa sang suami sudah mulai menuruti apa kata wanita lain. Ia semakin risau jika keberadaan Mentari bisa membuatnya tersisih.
"Berangkat pagi sih berangkat pagi. Tapi jangan sampai lupa rutinitas pagimu dong Mas!"
Awan berbalik punggung seraya menatap penuh tanya istrinya ini. "Rutinitas pagi? Rutinitas apa itu Han?"
"Nah kan, belum apa-apa kamu sudah lupa. Jangan-jangan kehadiran Mentari yang membuatmu lupa segalanya, Mas!"
"Eh bukan begitu Han. Serius, aku benar-benar lupa. Rutinitas pagi apa sih?"
"Cium perutku dan buatkan susu untukku, Mas!"
Awan tergelak lirih. Gegas, lelaki itu mencium perut Mega yang sudah terlihat sedikit membuncit. Mengucapkan selamat pagi untuk anak yang masih berada di dalam kandungan Mega.
Sedangkan Mega, mengusap lembut rambut suaminya ini. Kehadiran wanita bernama Mentari itu tidak dapat ia pungkiri mampu mengusik ketentraman batinnya.
.
__ADS_1
.
.