
Cahya membonceng di belakang tubuh Langit yang saat ini sedang mengendarai vespa jadul berwarna biru telur asin. Selesai melaksanakan acara akad nikah, Langit memilih menggunakan vespa jadul yang dipinjam dari tetangga Cahya untuk membawa mereka kembali ke kediaman Cahya. Tidak lupa, Alina dan Malika juga ikut bersama sepasang pengantin baru itu.
"Horee... Malika punya ayah baru!!"
Malika, gadis kecil itu tiada henti berteriak lantang dengan perasaan bahagia yang membuncah. Ia seperti memberikan kabar kepada dunia, bahwa saat ini ia telah memiliki ayah baru. Sosok seorang ayah yang sudah lama tidak hadir di dalam hidupnya.
"Malika senang?"
Masih fokus pada laju kendaraannya, Langit mencoba mengajak berkomunikasi Malika. Meski siang hari ini terasa begitu terik, namun hatinya tetap terasa teduh. Rasa panas itu seolah menguap begitu saja. Berganti dengan perasaan lega. Lega, karena ia telah berhasil mempersunting seorang wanita yang sempat ia damba ketika masih menjadi istri orang.
Malika mengangguk mantap. "Tentu Ayah, Malika senang sekali. Karena mulai hari ini, Malika ada yang menemani tidur."
"Pokoknya nanti malam, Alina dan adek tidur di tengah. Ayah dan Bunda di pinggir," timpal Alina memberikan usul akan posisi di saat tidur.
Langit dan Cahya hanya terkekeh mendengar celotehan polos dua gadis kecil itu. Mungkin keduanya sama-sama membatin, 'bagaimana bisa kikuk-kikuk kalau kamu tidur dengan ayah Langit, Nak'. Cahya hanya terkikik geli.
"Apa yang kamu tertawakan Sayang?"
"Tidak Mas. Bukan apa-apa kok!"
"Hemmmm, aku tahu apa yang ada di dalam pikiran kamu, Sayang."
Cahya terkesiap. "Memang apa yang sedang aku pikirkan Mas?"
Langit hanya tertawa lirih. "Pasti kamu bertanya-tanya bagaimana caranya kita melakukan itu jika anak-anak tidur bersama kita, bukan?"
"Hahahaha.. Bukan seperti itu Mas!"
"Tenanglah Sayang, aku sudah memiliki banyak cara!"
Cahya mencubit pinggang Langit.
"Aaaawwww sakit Sayang. Nyubitnya jangan keras-keras dong!" pekik Langit setelah mendapatkan cubitan dari sang istri.
"Ayah Langit kenapa? Kok teriak?" tanya Alina penasaran.
"Hmmmm..... enggak apa-apa Sayang. Itu Bunda nakal, masa perut Ayah dicubit sama Bunda!"
"Bunda jangan nakal sama ayah Langit ya, nanti ayah Langit bisa kesakitan!"
Cahya terhenyak. Sungguh terkesima dengan sikap putri sulungnya ini. Ahh... Betapa putrinya ini sangat menyayangi Langit. Sampai ia berpesan agar tidak menyakiti ayah barunya itu.
Cahya tersenyum simpul. "Iya Sayang. Bunda janji tidak akan nakal lagi sama ayah Langit."
"Ayah, Bunda tidak akan nakal lagi. Jadi Ayah tenang saja ya!"
__ADS_1
Langit semakin terkiki geli. "Siap Sayang!"
Cahya mengeratkan pegangan tangannya dengan melingkar di pinggang Langit. Kepalanya ia sandarkan di punggung sang suami. Ia pejamkan mata, mencoba merasakan begitu nyamannya punggung suaminya ini. Semilir angin yang berhembus seolah ikut membawa kedamaian yang mengalir dalam aliran darahnya. Ia melangitkan sebuah doa, semoga kedamaian seperti inilah yang akan mewarnai hari-harinya bersama sang suami.
***
"Alhamdulillah ya Allah akhirnya acara hari ini berjalan lancar. Selamat ya Sayang, akhirnya kalian telah sah menjadi suami istri."
Wulan tak henti-hentinya menyunggingkan senyum. Sedari tadi ia menggelayut mesra di tubuh sang menantu, seperti tidak ingin terlepas sedetikpun darinya.
"Alhamdulillah, segala niat baik pasti selalu mendapatkan jalan yang mudah dari Allah, Bu," ucap Bintari menimpali ucapan sang besan.
"Betul sekali itu bu Besan. Alhamdulillah."
Seluruh keluarga Cahya dan Langit terlihat sedang berkumpul di ruang tamu. Gurat kebahagiaan nampak terpancar jelas dari wajah mereka. Bahagia, karena mulai hari ini kedua keluarga itu telah resmi menjadi keluarga besar.
"Can, akhirnya mimpi kita untuk besanan terlaksana juga ya. Sebuah niat yang sempat gagal namun pada kenyataannya berhasil. Memang benar apa yang berada di dalam kitab kita, bahwa Allah lah sebaik-baik penulis skenario hidup. Dia yang lebih tahu kapan waktu terbaiknya."
Cakra, sejak selesai dilangsungkannya akad nikah, tiada henti mengucap rasa syukur atas segala karunia yang telah Allah berikan. Pada akhirnya, semua niatan baik untuk besanan dengan sahabat bisa terlaksana jua. Hal ini juga sebagai salah satu balas budi karena dulu Candra pernah menjadi penolong saat ia berada di dalam kesulitan.
"Aku juga teramat bersyukur Kra. Sungguh, bagiku bisa melihat Aya bersanding di pelaminan bersama putramu merupakan satu anugerah terindah yang aku nantikan. Dan ternyata saat ini aku bisa melihatnya," ucap Candra yang juga tiada henti bersyukur atas pernikahan sang putri.
"Semoga hubungan keluarga kita semakin solid ya Can!"
"Aamiin, aamiin."
Langit dan Cahya saling melempar pandangan dan kemudian sama-sama mengangguk.
"Baiklah kalau begitu Bu. Cahya ke kamar dulu. Mas Langit biar ke masjid karena sepertinya sudah masuk waktu Jumatan."
"Ahhh iya, Papa kok jadi lupa ya kalau hari ini hari Jumat. Ayo Lang, pak Besan, kita bersiap ke masjid," ujar Cakra sambil bangkit dari duduknya dan terkekeh setelah memanggil Candra dengan sebutan besan.
Pada akhirnya para kaum lelaki bersiap diri untuk pergi ke masjid memenuhi panggilan sang Maha Kuasa untuk melaksanakan kewajibannya.
***
Cahya masuk ke dalam kamar setelah selesai menemani seluruh keluarga besarnya berkumpul di ruang tamu. Acara masih belum berakhir, selepas sholat Isya' akan dilanjutkan dengan acara resepsi, sehingga saat ini ia memilih untuk beristirahat di kamar.
Tak bisa dibayangkan bagaimana lelahnya acara nanti malam. Di mana ia harus berdiri berjam-jam sambil tersenyum untuk menyalami seluruh tamu undangan. Pastinya tidak hanya lelah namun juga otot-otot bibirnya menjadi kebas karena senyum yang tak henti-henti ia sunggingkan di bibirnya.
Cahya membersihkan diri. Aliran air dari kamar mandi seolah membuat tubuhnya segar sekali. Ia memakai daster tanpa lengan sembari mengusap-usap rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil.
Cekleek...
Pintu kamar Cahya terbuka. Terlihat Langit dengan sarung, baju koko dan kopiahnya memasuki kamar. Perlahan, ia membuka semua pakaiannya, ia ganti dengan pakaian yang sedikit santai.
"Sudah pulang Mas?"
__ADS_1
"Sudah Sayang. Kamu mandi?"
Cahya menyunggingkan senyum. Ia berdiri di depan cermin masih sambil mengusap rambutnya yang basah.
"Iya Mas. Rasanya gerah. Setelah mandi jadi segar."
Langit tersenyum. Ia langkahkan kakinya untuk mendekati Cahya. Lelaki itu membalikkan tubuh sang istri hingga kini mereka saling berhadapan. Langit sedikit mengangkat dagu Cahya dan menatapnya dengan intens.
"Apakah kamu tahu Sayang, jika hari ini aku sangat bahagia?"
Cahya tersenyum seraya mengangguk. "Begitupun aku Mas. Aku juga sangat bahagia. Aku bersyukur karena Allah telah mengirimkanmu untukku. Terimakasih banyak sudah menerimaku, Mas."
"Sejak awal bertemu denganmu, entah apa yang terjadi dalam diriku. Aku begitu ingin melindungimu. Dan ternyata ini adalah jawaban dari Allah. Aku memang tercipta untuk menjadi pelindungmu Sayang."
Hati Cahya menghangat. Ia peluk tubuh Langit dengan erat. "Terimakasih banyak Mas. Terimakasih."
Langit merenggangkan pelukannya. Ia tatap lekat netra Cahya yang bening itu. Ia dekatkan wajahnya ke wajah Cahya. Ia kikis jarak keduanya hingga kini hanya menyisakan satu inchi saja.
Cup...
Sebuah kecupan lembut Langit daratkan di bibir Cahya. Cahya sedikit tersentak mendapat serangan dadakan dari lelaki di depannya ini. Perlahan, ia membuka bibirnya, seakan mempersilakan lidah Langit untuk menjelajahi isi rongga mulutnya. Ciuman yang sebelumnya lembut, kini berubah menjadi ciuman penuh hasrat yang menggelora.
Tangan Langit mulai menjelajahi bagian dada Cahya dan menyentuh sesuatu yang nampak indah di sana. Bibir lelaki itu turun ke leher sang istri yang membuat Cahya seperti terkena sengatan aliran listrik. Tidak dapat ia ingkari, setelah sekian lama tidak merasakan sensasi rasa nikmat seperti ini, hari ini ia kembali merasakannya. Dan rasanya jauh berbeda dari yang pernah ada.
Sssshhhhhhh...
Lolos sudah de*sahan lirih dari bibir Cahya yang membuat sang suami semakin terbakar oleh api gairah. Langit masih menyapu seluruh bagian leher Cahya dengan intens, dengan mata terpejam. Meresapi segala kenikmatan yang baru pertama ia rasakan. Namun tiba-tiba....
Ceklek....
Langit dan Cahya seketika menghentikan aktivitas mereka kala tiba-tiba terdengar suara pintu yang dibuka dari arah luar. Mereka tautkan pandangan ke arah pintu dan terlihat Malika dan Alina masuk ke dalam kamar.
"Ayah... Kami ingin bobok siang sama ayah Langit..."
Dua gadis kecil itu kemudian menghambur ke pelukan Langit. Dua manusia dewasa itupun hanya saling melempar pandangan sembari tergelak pelan.
"Siap tuan Puteri. Ayo kita bobok!"
Pada akhirnya usaha awal lelaki bergelar suami itu gagal untuk menikmati tubuh sang istri. Ia pun memilih untuk tidur bersama kedua putri sambungnya siang hari ini. Sedangkan Cahya, hanya tergelak dibuatnya.
Langit melirik ke arah pintu yang masih dalam posisi terbuka. Ia lihat sosok Angkasa yang berdiri di sana. Angkasa memasang ekspresi yang sepertinya sulit untuk diartikan. Namun Langit dapat sedikit menyimpulkan jika raut wajah orang kepercayaannya itu seakan berkata.
"Maafkan aku Boss. Aku tidak bisa mengkondisikan keponakan-keponakanku ini!"
.
.
__ADS_1
.