
"Semangat kerjanya ya Han, and have a nice day!"
Di dalam mobil, Awan memagut bibir merah milik Mega disertai dengan tatapan teduh yang terasa menghangatkan jiwa. Lelaki itu tiada henti tersenyum lebar merasakan kebahagiaan yang luar biasa.
Efek bercinta dengan sang kekasih ternyata membawa dampak positif bagi tubuhnya. Tubuh lelaki berusia tiga puluh tahun itu seakan dibanjiri oleh hormon endorfin yang membuatnya selalu merasa bahagia. Bahkan kepenatan yang seringkali ia rasakan tiba-tiba hilang seketika saat otaknya mengingat-ingat sensasi er*otis yang diberikan oleh Mega.
"Terima kasih banyak ya Mas. Oh iya ingat ya, tiga hari ke depan kamu tidak perlu mengantar jemput aku. Aku tidak ada di kosan."
"Iya Han, iya. Tapi janji hanya tiga hari saja ya. Ingat jangan lama-lama perginya!"
Mega terbahak seketika. Namun melihat wajah Awan yang seperti tidak rela ditinggalkan ini sungguh membuat hatinya berbunga-bunga. Ia semakin yakin jika Awan sudah tidak bisa lepas dari jerat cintanya.
"Iya Mas, aku janji. Kalau begitu aku masuk kantor dulu ya!"
"Oke Han!"
Mega keluar dari dalam mobil untuk kemudian ia langkahkan kakinya memasuki kantor. Ia melambaikan tangan kala mobil yang dikemudikan oleh Awan bergerak pelan dan mulai hilang dari pandangan Mega.
Sedangkan di dalam mobil, Awan masih menunggu kabar dari Ardi tentang pengusaha properti yang akan dikenalkan. Awan sudah sangat tidak sabar untuk segera mendapatkan rumah itu. Dengan begitu, ia bisa lebih bebas saat menghabiskan waktu bersama sang kekasih.
Jeritan suara ponsel yang ada di atas dashboard, membuat perhatian Awan terpecah. Ia sedikit mengintip nama siapa yang ada di layar ponselnya. Awan pun tersenyum simpul karena seseorang yang ia tunggu-tunggu akhirnya menelpon juga.
"Halo pak Ardi. Bagaimana? Apakah saya sudah bisa bertemu dengan pengusaha properti yang baru itu?"
"Tentu bisa Pak. Pak Langit mengajak bertemu Anda siang hari ini di Restoran Pondok Bambu."
"Baiklah kalau begitu Pak. Nanti saya akan kesana. Pak Ardi ikut juga kan?"
"Mohon maaf Pak Awan, saya tidak bisa menemani. Saya harus menemani istri saya yang sedang terbaring di rumah sakit. Semalam HB istri saya menurun drastis, jadi saat ini sedang opname di rumah sakit."
"Oh seperti itu? Baiklah Pak, nanti biar saya ke sana sendiri."
"Baik Pak!"
Senyum manis kembali terbit di bibir Awan. Kabar yang disampaikan oleh Ardi ini sudah cukup membuatnya bahagia. Bisa segera bertemu dengan Langit, maka kesempatannya untuk merasakan kenikmatan yang lebih bersama Mega akan dapat segera terealisasi.
"Sebentar lagi kamu akan mendapatkan rumah baru yang secara khusus aku berikan untukmu, Han. Rumah itu akan menjadi salah satu cara untuk membuktikan betapa aku mencintaimu!"
__ADS_1
Awan melajukan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi. Rasa-rasanya ia ingin memangkas waktu agar bisa segera bertemu dengan pengusaha properti itu.
***
Seusai menjemput Alina dan Malika, Cahya membawa kedua putrinya itu untuk mendatangi kantor Langit. Di perjalanan menjemput dua buah hatinya tadi, ia baru ingat jika STNK milik Langit masih ia bawa. Cahya masih merasa tidak enak hati jika teringat perihal STNK itu. Gegara sikap sang putri yang tidak mudah percaya dengan orang asing, Langit sampai menjadikan STNK mobilnya sebagai jaminan.
Tiba di depan kantor, Cahya dan kedua putrinya menatap lekat sebuah gedung perkantoran yang berdiri kokoh. 'PT Langit Biru Sejahtera' itulah nama yang tertera di bagian lobby kantor.
"Bunda, ini kantor siapa? Ini bukan kantor ayah kan?" tanya Malika yang merasa asing dengan suasana kantor ini.
"Bukan Sayang, ini bukan kantor ayah. Coba di baca tulisan yang ada di sana!" tunjuk Cahya di bagian atas pintu kaca.
Alina yang juga dibuat penasaran, bergegas mengeja huruf-huruf yang terangkai di sana.
"PT Langit Biru Sejahtera. Apakah ini kantor milik om baik tadi Bun?" tebak Alina.
"Benar Sayang, ini adalah kantor milik om Langit. Bunda mengajak kalian kemari untuk mengembalikan STNK mobil om Langit. Bunda lupa belum mengembalikannya."
"Selamat siang Ibu, mohon maaf apa ada yang bisa saya bantu?"
Kedatangan Cahya sudah disambut oleh security kantor. Dengan ramah, security itu menawarkan bantuan kepada Cahya.
"Oh pak Langit? Beliau ada di tempat Bu. Maaf, apakah Ibu sudah membuat janji?"
Cahya menggelengkan kepala. "Belum Pak. Apakah harus membuat janji terlebih dahulu jika ingin bertemu dengan beliau?"
"Biasanya seperti itu Bu. Tapi...."
"Loh, mbak Cahya?"
Kalimat si security terpangkas kala tiba-tiba terdengar suara bariton yang merembet masuk ke dalam indera pendengaran masing-masing. Mereka sama-sama menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Langit berjalan setengah tergesa-gesa keluar dari dalam kantor.
"Halllo Om, aku dan adikku datang kemari untuk mengembalikan STNK milik Om," ucap Alina menjelaskan bahkan sebelum ditanya oleh Langit ada acara apa mereka sampai di kantor ini.
Langit tergelak pelan. Kini ia bisa melihat bagaimana respon positif yang ditampakkan oleh Alina setelah ia berhasil meyakinkan gadis kecil itu bahwa dia bukanlah seorang penjahat. Sungguh berbeda jauh dari saat pertama mereka jumpa.
"Wah, wah, wah, mengapa kalian repot-repot mendatangi kantor Om untuk mengembalikan STNK ini? Bukankah Om bisa mendatangi rumah kalian?"
"Loh, tapi Om Langit kan belum tahu rumah kami? Lalu bagaimana Om bisa sampai rumah kami jika belum tahu alamatnya?" protes Malika yang sepertinya merasa sedikit aneh dengan perkataan Langit.
__ADS_1
Langit semakin tergelak. Ia usap pucuk kepala dua gadis kecil ini secara bergantian. "Pintar sekali gadis-gadis cantik Om ini. Kalau begitu, ayo masuk dulu. Kita bicara di dalam ruangan Om!"
Kini giliran Cahya yang terhenyak. Ia merasa jika Langit sedang sibuk. Hal itu terlihat dari gestur tubuh Langit yang tergesa-gesa saat menuju lobi.
"Eh, lain waktu saja ya Mas. Saya datang kemari hanya untuk mengembalikan STNK. Saya rasa mas Langit juga sedang terburu-buru karena ada sesuatu yang ingin segera diselesaikan."
"Memang benar Mbak, saya ada janji bertemu dengan relasi. Tapi apakah pantas jika ada tamu yang datang ke kantorku tapi tidak aku persilahkan untuk masuk terlebih dahulu?"
"Tidak apa-apa Mas. Anak-anak juga sepertinya sudah lelah sekali, ingin segera tiba di rumah." Cahya mengambil STNK dari dalam tas yang ia bawa. Ia serahkan STNK itu untuk bisa kembali kepada pemiliknya. "Ini STNK nya ya Mas. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas pertolongan Mas Langit tadi pagi."
"Ini Mbak Cahya dan anak-anak yakin tidak mau mampir terlebih dahulu?" tanya Langit sekali lagi untuk memastikan.
"Iya Mas, lain kali saja saya datang kemari lagi. Barangkali bisa sekalian saya ajak suami saya. Siapa tahu Mas Langit dan suami saya bisa menjadi rekan bisnis."
"Wah, ide yang bagus itu Mbak. Suami Mbak Cahya ini kerja di bidang apa? Apakah sama di bidang properti juga?"
"Bukan Mas, suami saya Awan Surya Atmaja. Pemilik ekspedisi N3P. Jadi bidang yang digeluti oleh suami saya adalah jasa pengiriman barang."
Kedua bola mata Langit terbelalak dan membulat sempurna. Nama yang diucapkan oleh Cahya sama persis dengan nama yang disebutkan oleh Ardi. Di mana orang bernama Awan Surya Atmaja itu yang akan bertemu dengannya sebentar lagi di resto Pondok Bambu.
Langit hanya tersenyum tipis. Sebisa mungkin ia sembunyikan terlebih dahulu rencananya bahwa ia akan bertemu dengan Awan Surya Atmaja. Barangkali saja Awan Surya Atmaja yang akan bertemu dengannya berbeda dengan Awan Surya Atmaja yang merupakan suami Cahya.
"Boleh Mbak. Lain waktu Mbak Cahya bisa ajak suaminya kemari. Seperti yang Mbak Cahya ucapkan tadi, barangkali kita bisa menjadi rekan bisnis."
"Baiklah kalau begitu Mas. Saya dan anak-anak pamit terlebih dahulu. Maaf sudah mengganggu kesibukan Mas Langit." Cahya menautkan pandangannya ke arah dua putrinya. "Ayo Sayang, pamit sama om Langit!"
"Kami pulang dulu ya Om. Besok di depan kantor Om ini disediakan freezer es krim ya. Jadi, kami bisa sambil menikmati es krim kalau main ke kantor Om Langit!" celoteh Alina asal.
Langit dan si security dibuat terbahak dengan celotehan Alina itu. Sedangkan Cahya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala seraya mengurut dada. Ada saja polah tingkah dan perkataan putri sulungnya ini yang membuatnya merasa tidak enak hati.
"Siap! Akan Om sediakan freezer di kantor Om ini. Tapi janji ya, setelah Om sediakan freezer es krim, kalian harus sering-sering main kemari," ucap Langit dengan kekehan kecil.
"Janji Om!"
.
.
.
__ADS_1