
Awan menyenderkan punggungnya di head board ranjang setelah pergumulannya dengan Mega tertunaikan. Tetes-tetes peluh masih bercucuran di wajah lelaki itu. Seolah menjadi bukti jika sebelum detik ini, telah terjadi pertarungan di atas ranjang yang begitu menguras tenaga. Hingga membuat tubuhnya terasa begitu lunglai setelah puncak kenikmatan itu berhasil ia dapatkan.
Awan melirik ke arah samping tubuhnya. Sang kekasih gelap terlihat masih memejamkan mata. Setelah pergumulan itu terjadi sepertinya rasa lelah juga memeluk raga Mega sehingga membuat wanita itu tak lagi sanggup menahan rasa kantuknya.
Awan menatap langit-langit kamar. Senyum pun mengembang di bibir Awan kala pada akhirnya ia bisa membujuk Mega untuk tidak lebih dulu meminta dinikahi. Setelah bernegosiasi yang cukup panjang, akhirnya pernikahan siri itu tidaklah terjadi di hari ini. Hal itu yang membuat Awan bisa sedikit bernapas lega.
"Pokoknya setelah acara ulang tahun perusahaan kamu harus segera menceraikan istrimu kemudian menikahiku Mas. Aku tidak mau menunggu terlalu lama lagi!"
Awan terhenyak kala tiba-tiba ada gelombang suara yang merembet masuk ke dalam indera pendengarannya. Lelaki itu kembali menoleh ke arah samping dan ternyata Mega sudah bangun dari tidurnya.
"Iya Han, aku janji. Setelah acara ulang tahun perusahaan, aku akan menceraikan istriku dan segera menikahimu. Kamu tenang saja, Han," ucap Awan seraya membelai wajah Mega.
Mega tersenyum penuh arti. Karena pada akhirnya jalan untuk menjadi istri dari pengusaha sukses di bidang ekspedisi bisa segera terwujud. Itu artinya sebentar lagi taraf hidupnya juga akan semakin meningkat.
Mega memeluk pinggang Awan dengan erat seraya meletakkan kepalanya di dada bidang lelaki ini. "Terima kasih banyak Mas. Aku sungguh bahagia sekali mendengarnya."
"Sama-sama Han. Tapi kamu benar-benar tulus mencintaiku kan?"
"Setelah semua yang sudah aku berikan untukmu, kamu masih mempertanyakan hal itu, Mas? Sungguh sebuah pertanyaan yang tidak perlu aku jawab. Karena semua sudah terlihat jelas di depan matamu."
Awan terkekeh pelan. "Hanya untuk memastikan saja, Han. Kamu benar-benar tulus mencintaiku kan?"
"Aku sangat-sangat tulus mencintaimu, Mas. Setelah menjadi istrimu, aku akan setia berada di sisimu untuk mendampingimu."
Awan tersenyum lega karena Mega pun juga begitu tulus mencintainya. "Terima kasih banyak ya Han. Aku sungguh beruntung memilikimu."
"Akupun juga begitu Mas."
Pasangan mesum itu larut dalam obrolan-obrolan ringan yang membuat suasana intim semakin terasa. Sedangkan di depan kamar Mega, terlihat dua paruh baya yang mondar-mandir seperti setrikaan. Siapa lagi jika bukan Lastri dan Kardi.
"Pak, sebenarnya apa yang dilakukan oleh anak kita dengan lelaki itu di dalam kamar seperti ini, Pak? Mengapa hampir dua jam mereka tidak keluar kamar juga?"
Guratan yang dipenuhi oleh tanda tanya tergambar jelas di wajah Lastri. Sejak kedatangan lelaki asing itu, ia langsung masuk ke dalam kamar sang anak dan sampai dua jam belum juga keluar.
"Bapak pun juga tidak tahu siapa dia dan apa yang dia lakukan di kamar anak kita Bu. Tapi sudahlah, mereka sudah sama-sama dewasa jadi tersisa mereka mau melakukan apa," ucap Kardi seakan tidak ingin ikut campur tentang urusan pribadi sang anak.
__ADS_1
Lastri terperangah. "Bapak ini bicara apa? Bisa-bisanya Bapak mengatakan hal seperti itu. Bagaimana kalau anak kita berbuat hal yang tidak senonoh di dalam sana, Pak? Bagaimana?"
"Ya mau bagaimana lagi Bu. Mereka sudah sama-sama dewasa. Bisa saja lelaki itu adalah kekasih anak kita. Jadi biarkan mereka dengan urusan mereka sendiri."
"Bapak ini benar-benar keterlaluan ya. Ada keburukan yang terjadi di depan mata kita, dan Bapak hanya diam saja? Terlebih lagi dia anak kita, Pak!"
Kardi hanya mengedikkan bahunya. Sebagai orang tua, ia tidak mau terlalu ikut campur dengan urusan pribadi sang anak. Toh semua dosa juga anaknya yang menanggung, pikir lelaki itu.
Cekleekkkk...
"Iihhhhh ... Bapak sama Ibu apa-apaan sih? Mengapa kalian berisik sekali di depan kamarku? Ganggu orang saja!"
Mega sedikit kesal karena kemesraannya dengan Awan begitu terusik kala mendengar suara yang begitu berisik dari depan kamar. Setelah ia datangi, ternyata kedua orang tuanya yang sedang adu mulut. Hal itulah yang membuat Mega gemas sekali.
Lastri melongok ke arah dalam kamar sang anak. Terlihat seorang laki-laki sedang berbaring di atas ranjang dengan bertelanjang dada. Pikiran wanita paruh baya itu tiba-tiba dipenuhi oleh prasangka buruk tentang apa yang dilakukan oleh sang anak di dalam kamar bersama lelaki itu.
"Nak, sebenarnya apa yang telah kamu perbuat di dalam kamar bersama lelaki itu? Mengapa dia ada di atas ranjangmu dan bertelanjang dada?"
Mega memainkan kuku-kuku jemarinya. Ia tanggapi remeh pertanyaan ibunya ini. Seakan tidak peduli jika sedari tadi sang ibu begitu mengkhawatirkan apa yang dilakukannya di dalam kamar berasama seorang laki-laki.
"Lalu, apa yang kalian lakukan berdua di dalam kamar seperti ini Nak? Apa?" tanya Lastri dengan sedikit meninggikan intonasi suaranya. "A-Apakah kamu berbuat hal yang tidak senonoh di dalam kamar? Apakah kalian telah berzina?" sambung Lastri dengan suara sedikit bergetar.
"Memang kenapa sih Bu, jika aku dan kekasihku melakukan hal itu? Toh di zaman sekarang hal seperti ini sangatlah wajar. Kami sudah sama-sama dewasa dan sebentar lagi kami juga akan menikah. Jadi, apa yang perlu diributkan?"
"Astaghfirullahalazim.... Kenapa kamu lakukan perbuatan terkutuk seperti ini Nak? Ini dosa, ini semua merupakan larangan Allah," ucap Lastri memperingatkan sembari mengurut dadanya. Ia sungguh tidak percaya jika sang anak tidak merasa berdosa sama sekali.
"Haha... Hari gini mikirin dosa? Bisa tidak kenyang kita, Bu. Lagipula urusan dosa adalah urusanku, jadi Ibu tidak perlu ikut campur," jawab Mega dengan lantang.
Tak ingin berdebat lebih lama lagi dengan sang ibu, wanita itu bergegas menutup pintu kamar dengan kasar yang menimbulkan suara yang cukup memekakkan telinga. Hal itulah yang membuat tubuh Lastri sedikit terperanjat.
"Astaghfirullahalazim ... Mengapa putri kita jadi berubah seperti itu Pak? Dan mengapa Bapak juga hanya bisa diam saja?"
"Sudahlah Bu, jangan ikut campur urusan anak kita. Biarkan mereka melakukan apa yang mereka mau. Toh jika berdosa, merekalah yang menanggung dosa itu."
"Ya Allah Pak .... Bapak juga kenapa bisa berubah seperti ini? Bapak itu masih memiliki kewajiban untuk menasihati Mega. Mengarahkan dia agar berada di jalan yang lurus."
"Aaahhhh sudahlah Bu. Tidak perlu kita pikirkan. Yang penting anak kita bahagia bersama calon suaminya."
__ADS_1
Bibir Lastri semakin menganga lebar. Tidak ia sangka ternyata hanya karena harta dunia membuat suami dan anaknya lupa akan yang halal dan yang haram.
"Astaghfirullahalazim.... Ampuni anak dan juga suamiku, ya Allah..."
***
"Baik Pak, untuk semua persiapannya sudah seratus persen. Lusa, bisa kita mulai pembangunan proyek perumahan bersubsidi itu."
Angkasa mengakhiri pembicaraannya dengan seorang kontraktor melalui sambungan telepon. Meski hari sudah memasuki waktu Maghrib, namun lelaki yang barua saja tiba di kota ini masih berada di kantor. Menyelesaikan semua hal yang berkaitan dengan proyek perumahan bersubsidi yang akan dimulai lusa. Ia menyenderkan punggungnya di punggung kursi untuk sedikit merileks-kan tubuhnya.
Terdengar suara pintu yang diketuk dari arah luar. Angkasa membenahi posisi duduknya dan mempersilakan seseorang yang mengetuk pintu itu. Terlihat sang security memasuki ruangan Langit yang saat ini ditempati oleh Angkasa.
"Pak Angkasa, mohon maaf mengganggu sebentar," ucap sang security dengan sopan.
"Iya Pak tidak apa-apa. Saya juga sedang santai."
Security itu mengulurkan sebuah undangan ke arah Angkasa. "Ini ada undangan ulang tahun perusahaan PT N3P. Undangan ini sebenarnya untuk Pak Langit, tapi mungkin pak Angkasa bisa mewakili untuk hadir mengingat saat ini pak Angkasa yang meng-handle perusahaan."
Angkasa menerima undangan yang diberikan oleh si security. "Baiklah Pak, besok akan saya usahakan untuk datang."
"Kalau begitu saya permisi, Pak!"
Angkasa mengangguk. "Terima kasih Pak!"
Angkasa mulai membaca undangan yang ada di tangan. "PT N3P? PT yang bergerak di bidang apa itu? Kok sepertinya begitu asing di telingaku."
Angkasa dengan seksama membaca rangkaian huruf-huruf yang ada di dalam undangan ini. Ia baru paham jika PT N3P adalah perusahaan yang bergerak di bidang ekspedisi. Angkasa masih membaca dengan seksama isi undangan ini. Hingga kedua matanya terbelalak sempurna kala membaca sebuah nama yang tertanda di undangan ini.
"Awan Surya Atmaja???" Tubuh Angkasa mendadak bergetar hebat dan terasa begitu lemas seketika. "Ya Allah .... Apakah ini jalan yang Engkau berikan untukku bisa bertemu dengan adikku?"
.
.
.
Hehehehe sabar ya Kak.. Untuk part selanjutnya inshaAllah akan ada beberapa kejutan. Tepatnya di acara ulang tahun perusahaan. Ini author sedang sibuk di acara nikahan saudara. Jika memungkinkan akan double update, namun jika tidak, kita lanjutkan besok ya kak.. ☺☺☺☺🥰🥰
__ADS_1