
Butir-butir embun masih terlihat bergelayut manja di permukaan dedaunan. Membiaskan sinar mentari yang nampak berkilauan. Layaknya kilau mutiara yang berada di dasar lautan.
Cicit anak burung pipit mulai terdengar. Begitu pula dengan kokok ayam jantan yang juga bersahutan. Membangunkan para penduduk bumi yang sebelumnya larut dalam buaian mimpi mereka.
"Bunda .... Ini di mana?"
Alina sedikit kebingungan ketika melihat suasana sekitar yang nampak asing di penglihatannya. Gadis kecil itu memilih untuk duduk di tepian ranjang sembari mencoba mengingat-ingat kamar siapa ini.
Cahya yang baru saja membuka tirai jendela, bergegas menghampiri sang anak. Ia duduk di samping Alina seraya tersenyum simpul. Meskipun hati dan juga raganya telah remuk redam namun ia harus bisa kembali menyusun serpihan-serpihan yang berserakan itu untuk bisa terbentuk lagi demi kedua buah hatinya.
"Ini rumah om Angkasa, Sayang. Untuk sementara waktu kita tinggal di sini terlebih dahulu ya."
"Om Angkasa? Siapa itu Bunda? Kok Alina belum pernah mendengar nama om Angkasa?"
"Om Angkasa itu om nya Alina, kakaknya Bunda!"
Suara bariton yang tetiba terdengar memenuhi ruangan, membuat perhatian Alina teralihkan. Gadis kecil itu menoleh ke arah pintu di mana sumber suara itu berasal.
Cahya tersenyum simpul. Rasanya sungguh bahagia bisa memperkenalkan sang anak dengan salah satu anggota keluarganya.
"Itu namanya om Angkasa, Sayang. Kakak Bunda."
Angkasa mengayunkan tungkai kakinya, mendekat ke arah sang keponakan yang saat ini masih nyaman duduk di tepian ranjang.
"Hallo Cantik! Ini Om nya Alina. Salam kenal ya!"
Angkasa merentangkan kedua tangan. Ingin rasanya ia menggendong keponakan yang baru pertama kali ia jumpai ini.
Alina menatap lekat wajah Angkasa dalam diam dan tak selang lama, gadis kecil itupun tersenyum. Ia rentagkan kedua tangannya, menyambut Angkasa.
"MashaAllah ... Ternyata keponakan Om sudah besar! Kelas berapa ini?"
Alina nampak begitu nyaman di dalam gendongan Angkasa. Ia bergelayut manja di sana. "Kelas TK B, Om."
"MashaAllah... Sebentar lagi sudah mau SD ya."
Alina menggelengkan kepala. "Kata Bunda, Alina masih harus di TK satu kali lagi." Alina makin mengeratkan pelukannya. Meski baru pertama berjumpa namun gadis kecil itu terlihat begitu nyaman dengan Angkasa. "Om kok tidak pernah ke rumah Alina? Memang om tinggal di mana?"
"Om tinggal di Kalimantan, Sayang."
"Kalimantan? Di mana itu Om? Apakah jauh dari rumah Alina?"
__ADS_1
"Tentu Sayang. Untuk bisa sampai di Kalimantan, kita harus naik pesawat dulu. Bagaimana? Apa Alina mau ke Kalimantan?"
"Waahh... naik pesawat? Mau Om, mau, mau!!"
"Oke, kalau libur sekolah, kita ke Kalimantan ya!"
"Malika juga ikut!!!"
Pekikan nyaring Malika sukses membuat semua orang yang ada di kamar ini menoleh. Terlihat, gadis kecil itu sudah bangun dari lelap tidurnya sembari mengucek-ucek mata.
"Sini Sayang, ada om Angkasa ini!" titah Cahya.
Tanpa bertanya tentang siapa lelaki yang baru pertama ia lihat, Malika langsung mendekat ke arah Angkasa. Seperti sang kakak, ia pun juga ingin digendong oleh Angkasa.
"Malika ikut ke Kalimantan ya Om. Malika juga ingin naik pesawat!"
Hati Angkasa menghangat. Sungguh, masih seperti mimpi bisa bertemu dengan dua keponakan yang cantik-cantik dan pintar seperti ini.
"Siap Sayang. Nanti ketika libur sekolah kita ke Kalimantan semua ya. Di sana sudah ada kakek dan nenek yang menunggu."
"Kakek dan Nenek?" Alina menautkan pandangannya ke arah Cahya. "Apakah nenek Marni, Bunda?"
"Bukan Sayang. Yang di Kalimantan namanya nenek Bintari dan juga kakek Candra."
"Beda Sayang. Sekarang Kakak sama Adek mandi dulu ya sama bik Asih. Setelah itu kita makan."
"Iya Bunda."
***
"Jadi, langkah apa yang saat ini akan kamu ambil Ay? Apakah kamu akan tetap mempertahankan pernikahanmu?"
Di taman belakang, kakak beradik yang sudah tidak bertemu selama tujuh tahun itu berbincang-bincang sembari menikmati semilir angin pagi. Segelas teh hijau lengkap dengan camilan singkong rebus menemani mereka.
Cahya menatap nyalang dedaunan yang berjatuhan kala tertiup angin. Mereka melepaskan pelukannya dari dahan ketika tak mampu lagi untuk memeluknya. Daun-daun kering itu mungkin layaknya dirinya saat ini. Ia memilih untuk melepaskan sesuatu yang memang sudah tidak bisa lagi ia genggam.
"Aku sudah mengajukan gugatan cerai melalui pengacara keluarga, Kak. Sejak aku mengetahui mas Awan berselingkuh, aku memutuskan untuk berpisah. Mungkin dua minggu lagi, akan ada panggilan dari pengadilan."
"Apapun jalan yang kamu ambil, Kakak dukung Ay. Selama itu untuk kebahagiaanmu."
Air mata wanita itu kembali menetes. Dalam keadaan seperti ini memori tentang masa-masa yang telah lalu seakan kembali berputar dalam ingatan.
"Aku sungguh malu jika harus bertemu dengan Ayah, Kak. Aku malu karena telah menentang ucapannya menjadikan hidupku hancur seperti ini. Apakah Ayah akan memaafkan anak durhaka seperti aku ini?"
__ADS_1
Angkasa menanggapi pertanyaan Cahya dengan senyum simpul. Sampai detik ini, ia masih belum mau untuk menceritakan perihal keadaan sang ayah yang tengah depresi hebat sejak tiga tahun terakhir.
"InshaAllah Ayah akan memaafkanmu Ay. Bagaimanapun juga ayah tetaplah ayah kandung kita. Tidak mungkin ada seorang ayah yang tidak memaafkan putrinya sendiri."
"Tapi aku sungguh malu Kak."
"Kamu tidak perlu malu. Tujuh tahun sudah cukup bagi kamiu dan ayah untuk sama-sama saling mengerti bahwa sejatinya tidak ada yang bisa memisahkan ikatan darah."
Cahya menghela napas panjang untuk kemudian ia hembuskan perlahan. Bukan hal buruk juga jika ia kembali ke Kalimantan untuk memperbaiki hubungannya dengan sang ayah.
"Baiklah, setelah selesai semua urusanku di sini, aku akan terbang ke Kalimantan, Kak."
"Itu akan jauh lebih baik Ay. Semoga di tanah kelahiranmu, luka batinmu bisa pulih kembali."
"Selain mengajukan gugatan cerai, aku juga berencana untuk mempidanakan perselingkuhan mas Awan, Kak."
"Mempidanakan?" tanya Angkasa memastikan.
"Iya Kak, kata pengacaraku kasus perselingkuhan bisa dipidanakan. Bagaimana menurut Kakak?"
Angkasa berpikir sejenak. Sejatinya rencana adiknya ini sungguh sempurna untuk membuat hidup Awan berantakan. Namun ada satu hal yang mengganjal di hatinya.
"Aku rasa tidak perlu Ay. Gugatan cerai sudah cukup membuat hidup Awan berantakan."
"Mengapa kak Angkasa tidak setuju jika aku mempidanakan perselingkuhan mas Awan?"
"Aku hanya memikirkan psikologis kedua anakmu, Ay."
"Psikologis Alina dan Malika? Maksud Kakak bagaimana?"
"Biarkan Alina dan Malika hanya tahu bahwa kedua orang tuanya tidak bisa bersama-sama lagi karena sudah tidak sejalan. Jangan sampai kamu tambah dengan menunjukkan Awan sebagai narapidana yang tinggal di balik jeruji besi. Hal itu pasti akan jauh membuat psikologis anak-anak semakin buruk."
Ucapan Angkasa sekan menampar pipinya. Karena amarah dan dendam yang memuncak, sampai-sampai membuat wanita itu lupa akan psikologis kedua buah hatinya.
Cahya membuang napas sedikit kasar. Ia urungkan niatnya untuk mempidanakan Awan. "Baiklah Kak, aku tidak akan mempidanakan mas Awan. Biarlah aku fokus ke sidang perceraianku saja."
"Itu jauh lebih bijak, Ay. Percayalah, apa yang sudah dilakukan oleh Awan tidak akan pernah luput dari balasan Allah. Tinggal menunggu waktu saja. Apakah dalam waktu yang cepat atau lambat."
.
.
.
__ADS_1
Mohon maaf baru bisa update ya Kak.. Ini author sedang kurang sehat. Semoga besok bisa rutin update lagi.... ☺☺☺