Wanita Idaman Lain

Wanita Idaman Lain
Bab 106. Pernikahan Ke - Dua


__ADS_3


"Mas Langit, apakah sudah siap untuk melaksanakan prosesi ijab-qabul?" Tanya bapak penghulu yang duduk di samping Candra.


Langit menghela nafas dalam kemudian ia hembuskan perlahan. "Bismillah, saya sudah siap Pak."


Penghulu itu mengangguk. "Pak Candra dan mas Langit silakan berjabat tangan!"


Keduanya kemudian berjabat tangan. Saat menjabat tangan Langit, dada Candra terasa begitu sesak, matanya memanas. Ia merasakan ada sesuatu yang bergejolak di dalam tubuhnya.


Sebentar lagi, putri bungsunya akan menjadi milik lelaki yang ada di hadapannya ini. Sebentar lagi, hidup putrinya akan diserahkan untuk berbakti kepada suaminya. Dan sebentar lagi, surga anaknya akan berpindah kepada laki-laki yang ada di depan matanya ini.


"Bisa kita mulai, Pak?" Tanya penghulu yang seketika membuyarkan tatapan Candra yang sedikit menerawang.


Candra mengangguk. "Bismillahirrahmanirrahim." Ia kemudian menghela nafas sejenak. "Saudara Langit Biru bin Cakra Adi Buana!"


"Saya!"


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak kandung saya Cahaya Kamila binti Candra Birawa dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan Al-Qur'an dibayar tunai!"


Langit menarik nafas dalam. "Saya terima nikah dan kawinnya Cahya Kamila binti Candra Birawa dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan Al-Qur'an dibayar tuuuuunaaiii!!!"


"Bagaimana para saksi? Sah?" Seru penghulu di dalam ruangan ini.


"Saaahhhh!" Jawab semua para tamu yang menjadi saksi pernikahan Langit dan Cahya secara bersamaan.


"Alhamdulillahirobbil 'alaamiin."


Dengan sekali tarikan nafas, Langit terdengar begitu lancar dan lantang mengucap kalimat qabul. Mulai detik ini ia resmi menjadi suami dari Cahya Kamila, wanita yang dulu pernah menolak kehadirannya. Tanpa terasa setitik kristal bening lolos begitu saja dari pelupuk mata Langit. Hal yang sama juga terjadi pada Candra, seluruh rasa sesak dalam dadanya kini berubah menjadi kelegaan yang luar biasa.


Cahya yang saat ini tengah berada tak jauh dari tempat Langit melangsungkan akad, juga terlihat meneteskan air mata. Dengan pungkasnya Langit mengucap kalimat qabul, kini ia telah resmi menjadi seorang istri dari lelaki bernama Langit Biru. Hatinya masih diselimuti sedikit kekalutan, namun ia selalu percaya jika Allah pasti akan menitipkan kebahagiaan untuk keluarga kecilnya.


Bintari dan Wulan yang saat ini mendampingi Cahya juga dipenuhi oleh keharuan yang luar biasa. Hal itu nampak dari air mata yang mengalir deras dari sudut mata keduanya.


Bintari dan Wulan memeluk Cahya bersamaan. "Alhamdulillah, semua berjalan lancar, Sayang."

__ADS_1


Cahya mengangguk sambil berusaha mengusap air mata yang sudah membasahi pipi.


"Ayo kita susul Langit, Sayang!" ucap Wulan pula.


Cahya berdiri dari posisi duduknya. Ia kemudian berjalan diapit oleh kedua mamanya menuju tempat dilangsungkan akad nikah. Tak ketinggalan, Alina, Malika dan Nawang juga ikut mengiringi pengantin wanita itu.


Cahya berdiri tidak jauh di belakang punggung Langit. Langit yang sudah tidak sabar untuk melihat istrinya sedikit membalikkan badannya. Ia tersenyum simpul kemudian mulai beranjak dari posisi bersimpuhnya. Tanpa menunggu waktu lama, pemuda tampan nan rupawan itu menghampiri Cahya.


Kini keduanya saling berhadapan. Kedua pasang netra itu bertemu dan saling mengunci. Langit meraih jemari wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu dan perlahan mengecupnya.


"Mashaallah... Kamu terlihat sangat cantik Sayang!"


Jantung Cahya berdegup kencang mendapatkan perlakuan begitu manis seperti ini. Hari ini untuk kali pertama Langit memanggilnya dengan panggilan 'sayang' yang rasanya begitu menyejukkan jiwa.


Kebahagiaan yang terasa berbeda dari pernikahan sebelumnya. Saat menikah dengan Awan, hatinya seakan tidak merasakan kebahagiaan yang seutuhnya di mana kala itu sang ayah sama sekali tidak berkenan menjadi wali. Sedangkan saat ini, hatinya terasa begitu ringan tanpa beban kala seluruh anggota keluarga memberikan restu.


Cahya mengulas sedikit senyumnya. "Terimakasih banyak mas Langit!"


Langit sedikit terperangah tatkala mendengar Cahya memanggilnya. "Kamu memanggil aku apa Sayang? Bisa kamu ulangi sekali lagi?"


"Mas Langit...!"


Langit tersenyum lebar. "Mashaallah... Ternyata jauh berbeda rasanya. Setelah menikah, panggilan mas itu terdengar manis sekali, Sayang."


Cahya hanya tersipu malu. Ternyata hal-hal kecil seperti ini sudah bisa membahagiakan sang suami.


Tanpa basa-basi, Langit mencondongkan tubuhnya untuk lebih dekat ke arah Cahya. Ia kecup kening sang istri dengan intens, yang seketika mengalirkan kehangatan di sekujur tubuh keduanya.


"Terimakasih banyak sudah bersedia menjadi pendamping hidupku, Sayang. Mari kita sama-sama meraih jannah-Nya pernikahan kita ini."


Cahya mengangguk. Ia raih telapak tangan Langit kemudian mengecupnya.


"Aku lah yang seharusnya berterima kasih kepadamu, Mas. Terimakasih sudah memilihku untuk menjadi pendamping hidupmu. Wanita penuh luka yang gagal dalam mempertahankan rumah tangganya. Bimbing aku pula untuk bisa senantiasa menghadirkan surga di dalam pernikahan kita."


Eheemmm... Eheemmm.. Eheemmmm...

__ADS_1


Suara deheman bapak penghulu seolah membuyarkan suasana romantis yang tercipta diantara kedua mempelai itu.


"Mas Langit.... Sampai kapan mas Langit berdiri di sana? Ayo bawa mbak Cahya kemari. Acara penyematan cincin belum terlaksana loh!"


Ucapan pak penghulu hanya membuat semua orang yang berada di tempat ini terkekeh pelan. Sedangkan Langit, ia hanya bisa tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ternyata ia lupa jika acara penyematan cincin belum terlaksana.


Langit dan Cahya berjalan bergandengan tangan. Mereka melangkahkan kaki menuju depan mimbar tempatnya melangsungkan akad, tentunya untuk acara penyematan cincin kawin.


Keduanya saling bergantian menyematkan cincin di jemari masing-masing. Setelahnya, Langit mengecup jemari sang istri dan kembali mengecup pucuk kepalanya.


"Aku mencintaimu, Cahya Kamila. Aku mencintaimu!"


"Begitu pula denganku mas Langit. Aku mencintaimu!"


Dunia seakan milik mereka berdua. Tanpa mereka pedulikan jika orang-orang yang ada di tempat ini sudah sama-sama melting dengan keromantisan yang tercipta.


"Bunda, Bunda! Alina juga mau dipeluk ayah Langit Bunda!"


"Malika juga mau Bunda!"


Begitu larut dalam keromantisan yang tercipta, sepasang suami-istri sampai lupa jika ada dua malaikat kecil yang sedari tadi ingin cepat-cepat dipeluk oleh kedua orang tuanya. Langit dan Cahya sama-sama terkekeh.


Langit merentangkan kedua tangannya. Ia tersenyum lebar ke arah dua putri sambungnya ini.


"Sini Sayang, Ayah peluk!"


"Yeaayyyyyy .... Ayah baru!!!!"


Kedua gadis kecil itu seketika mendekap tubuh Langit. Mereka peluk erat tubuh sang ayah sambung seakan tidak ingin mereka lepaskan. Sepertinya, mereka tidak ingin kehilangan sosok seorang ayah seperti yang pernah mereka alami.


Langit kembali tersenyum simpul kala melihat Cahya yang terdiam dan termangu. Tanpa basa-basi, ia menarik tubuh Cahya dan kini ke empat orang itu saling berpelukan. Langit melabuhkan kecupannya di dahi tiga orang ini secara bergantian.


"Mulai saat ini, kalian bertiga adalah hartaku. Akan aku jaga kalian semua sampai aku menghembuskan napas terakhirku!"


.

__ADS_1


.


__ADS_2